
Dear pembaca tercinta yang selalu setia menunggu Pocong Tampan up. Vie mohon dong, mohon banget, jangan bosen buat VOTE ya... pokoknya vote vote vote...
Di like juga tiap babnya, terus komen, terus kasih vote deh.
Mampir ke 9 Lives ya sama Diculik Cinta.
Butuh dukungan viewer, like, dan komen di sana. Bintang lima juga jangan lupa hehehe...
Happy Reading...
******
Malam itu, saat Tasya memandang bulan penuh di langit, Logan mendekatinya.
"Kok, belum tidur?" tanya Logan mengejutkan Tasya.
"Ya ampun, aku pikir pocong main nyeletuk aja deket-deket sini," ucap Tasya.
Padahal Pak Herdi baru saja akan menemani Tasya menikmati sinar bulan. Sosok pocong itu hanya melihat Tasya dari arah belakang.
"Kamu lihat bulan apa bintangnya?" tanya Logan.
"Aku mau lihat bintang yang bergaris-garis gitu, apa deh ummm..."
"Rasi bintang," celetuk Pak Herdi.
"Iya bener rasi bintang." Tasya sadar suara barusan bukan dari Logan, ia lalu melirik ke arah Pak Herdi dengan tajam.
"Kamu kenapa, Sya?" tanya Logan.
"Enggak, enggak kenapa-kenapa." Tasya meringis menunjukkan deretan giginya yang rapih. Anta kecilnya terlihat bagaikan sebuah garis saat tersenyum.
"Kamu tau enggak kalau waktu terbaik untuk melihat panorama bintang adalah pada saat musim panas," ucap Logan.
"Enggak tau, tuh!" celetuk Pak Herdi membuat Tasya menoleh lagi ke arahnya dengan sinis.
"Kamu kenapa sih, Sya?" tanya Logan.
"Enggak, aku kayak denger suara tikus, gede banget!" sahut Tasya membuat Pak Herdi melompat mendekat ke arahnya.
"Lanjut lagi, tadi kamu kan lagi bahas bintang," ucap Tasya tersenyum pada Logan.
"Oke aku lanjut, nih. Bahkan jika beruntung nih kamu bisa lihat komet melintas, malahan seperti hujan meteor."
"Wah benarkah, terus sekarang bisa tampil gak, hujan meteor?" tanya Tasya.
"Kayaknya enggak deh, apalagi bulan purnama, jadi cahaya bulan lebih dominan dibandingkan cahaya bintang," ucap Logan.
"Hadeh, gak guna banget penjelasannya, kirain penting," celetuk Pak Herdi lagi.
"Kita pindah ke sana, yuk! di sini agak panas," ucap Tasya mendorong bahu Logan.
__ADS_1
"Anta mana, sudah tidur?" tanya Logan.
"Sudah, sepertinya dia lelah jadi dia bisa tidur dan tak terganggu dengan makhluk lain di sekitarnya," ucap Tasya, ia tak sengaja keceplosan dengan penglihatannya.
"Maksud kamu? makhluk lain?" tanya Logan.
"Makanya kalau punya mulut dijaga, syukurin tuh asal ceplos aja, kan?" celetuk Pak Herdi seraya melompat mondar-mandir di hadapan Tasya dan Logan.
Tasya menarik nafasnya sejenak berfikir kemudian.
"Oke, begini, aku harus cerita ini sama kamu, tapi aku harap kamu bisa merahasiakan ini," pinta Tasya.
"Apa itu, Sya?" tanya Logan.
"Sebenarnya Anta memang bisa melihat makhluk dari alam lain, semacam hantu."
"Wow, berati saat kejadian di sekolah itu memang benar adanya kalau Anta berteman dengan hantu?" tanya Logan mulai antusias.
Tasya mengangguk menjawab mengiyakan.
"Apa karena Anta masih kecil ya, makanya masih bisa lihat hantu, kata nenek ku dulu begitu, anak kecil rata-rata bisa lihat hantu," ucap Logan.
"Tapi, Dita dan Anan, juga aku, juga bisa lihat hantu," ucap Tasya dengan lirih.
"Astaga, ini benar-benar menakjubkan. Kalian satu keluarga bisa melihat hantu. Lalu apa terasa mengerikan?"
"Awalnya iya, tapi lama-lama terbiasa, kalau aku sih masih agak takut ya," ucap Tasya.
"Ada, tuh. Tapi, kalau kamu mau lihat, biasanya Dita yang bisa menunjukkannya sama kamu. Oh iya apa aku boleh bertanya tentang Samanta?" tanya Tasya.
"Maksud kamu?"
Tasya menceritakan sosok hantu Samanta di dalam kamar Nenek Rose pada Logan. Dan Tasya ingin Logan menceritakan hubungan dan kematian Samanta pada Tasya.
"Aku... Aku sebenarnya tak ingin teringat kembali pada kematian Samanta," ucap Logan seraya menundukkan kepalanya.
"Apa terjadi?" tanya Tasya.
***
Sepuluh tahun yang lalu, Logan mengantarkan Samanta pulang ke rumahnya, setelah selesai latihan balet. Rumah yang berada di seberang rumah Om Kevin, sebelum di tempati Nyonya Kate dan keluarganya.
"Jangan lupa minggu depan, kau harus ke pesta bersamaku," ucap Logan.
Samanta tersenyum dan mengiyakan.
"Apa kau tahu dengan siapa Mitha pergi?" tanya Samanta.
"Aku belum tau, coba saja kau tanya padanya besok," ucap Logan.
"Hmmm... siapa ya kira-kira, aku ingin sahabatku itu juga punya pasangan ke pesta minggu depan," ucap Samanta.
__ADS_1
"Pasti, aku akan pastikan itu, kau sekarang pergi tidur ya, selamat malam."
Logan memberi kecupan pada Samanta sebelum ia pergi.
"Cie..." tegur Laura yang sedang menggandeng tangan Mark di hadapan Logan dan Samanta.
Logan dan Samanta tersenyum malu lalu Samanta masuk ke dalam rumah, sementara Logan menaiki motor skutiknya lalu pergi dengan melambaikan tangannya.
Laura melepas genggaman tangan Mark.
"Aku mau bicara, tapi sebelumnya maafkan aku," ucap Laura.
"Apa yang hendak kau bicarakan?" tanya Mark mencoba mencium Laura tapi wanita itu langsung menghindar.
"Aku harus pergi, orang tuaku berniat menjodohkanku dengan pria lain."
"Tapi kau milikku, hanya milikku," sahut Mark.
"Aku tahu, tapi perbedaan usia kita cukup jauh, kau masih sekolah dan usiaku akan makin tua jika menunggumu bekerja, maafkan aku Mark, ini keinginan ibuku yang sedang sakit keras," ucap Laura lalu pergi meninggalkan Mark.
Semenjak itu Mark berubah menjadi lebih pendiam dan menyendiri. Sampai pertemuannya dengan Tuan Worm saat dia memergoki pria paruh baya itu sedang bersama monster cacing, Mark memutuskan untuk menjadi sekutu Tuan Worm dan cacingnya.
Satu bulan bergabung, Mark harus mencari tumbal untuk membantu Monster Cacing bertahan. Dan sialnya ia malah memilih Samanta. Ia tak sengaja membuat Samanta memakan ramuan dari sang cacing. Padahal yang Mark incar adalah neneknya Samanta yang sudah tua.
Samanta terkena racun dan tewas seketika. Sialnya lagi Logan datang tepat menjemput Samanta untuk pergi ke pesta sekolah. Ayah dan ibu Samanta sempat menuduh Logan sebagai pembunuh putrinya. Namun, rekaman cctv menolong Logan yang terlihat tidak melakukan apapun pada Samanta.
Bahkan gadis itu terlihat menyayat pergelangan tangannya sendiri seperti hendak melakukan percobaan bunuh diri pada rekaman cctv tersebut. Padahal kejadian sebenarnya, rasa gatal yang teramat sangat menjalar di pergelangan tangan gadis itu yang ternyata belatung-belatung kecil yang menggeliat di dalam kulitnya.
Samanta berusaha menggaruk bahkan mencongkel dengan pisau untuk mengeluarkan para belatung itu. Sampai akhirnya ia tewas begitu saja. Melihat kondisinya yang penuh belatung dan menjijikkan, orang tuanya memilih untuk mengkremasi Samanta di bandingkan dengan menguburnya.
Setelah pemakaman Samanta, keluarganya memilih untuk pindah. Desas-desus mulai terdengar tentang kematian Samanta. Gosip beredar bahwa Logan yang telah membuat Samanta mati bunuh diri. Padahal hubungan keduanya baik-baik saja.
Logan memilih pergi dari kota itu untuk melupakan kenangannya pada Samanta.
*******
Bersambung...
Mampir juga ke :
- 9 Lives (Jilid II - On Going)
- Diculik Cinta (On Going)
- With Ghost (END)
- Gue Bukan Player (END)
- Kakakku Cinta Pertamaku (END - Musim Kedua hiatus 😁)
Vie Love You All... 😘😘😘
__ADS_1