Pocong Tampan

Pocong Tampan
Musim Kedua - Di Panti Asuhan (Part 3)


__ADS_3

Dear pembaca tercinta yang selalu setia menunggu Pocong Tampan up... Vie mohon dong, mohon banget... jangan bosen buat VOTE ya... pokoknya vote vote vote...


Di like juga tiap babnya, terus komen, terus kasih vote deh...


Happy Reading...


*****


"Perasaan aku kok gak enak ya?" gumam Anan saat menata kembali restoran milik keluarga Om Kevin bersama Rick dan anak buahnya.


Anan meraih ponsel di sakunya dan menghubungi Dita.


"Halo bunda kamu dimana?" tanya Anan merapatkan ponselnya di telinganya.


"Telepon yang anda tuju sedang sibuk atau berada di luar jangkauan."


"Ah... operator sialan! kirain bunda yang angkat, kok mati sih hapenya, coba telpon tante Dewi," gumam Anan.


Jawaban operator yang sama terdengar dari seberang sana di ponselnya.


"Aarghhhh ini pada kenapa sih, kok gak ada yang bisa aku hubungi," gumam Anan dengan kesalnya.


Anan mencari alamat Panti Asuhan Ceria pada aplikasi peta di ponsel pintanya.


"Bagus... aku susul aja kesana, perasaan aku gak enak banget," gumam Anan lalu menghubungi Tasya untuk menjemput Anta di sekolah.


***


Altar pemujaan tertata rapih di sebuah ruangan yang penuh dengan anak-anak dan beberapa remaja. Tante Dewi dan Tina terbaring di ranjang penuh bunga. Sebuah layar besar menampilkan gambar-gambar kelucuan anak-anak yang membuat siapapun akan menyukainya.


Tante Dewi tersenyum senang meskipun kedua matanya tertutup. Pikirannya terbuka dan menyukai suara anak-anak tersebut. Sementara itu, wajah Tina tampak berkeringat. Ia berusaha untuk menolak menyukai anak-anak tersebut. Dan untungnya di satu sisi ia tak menyukai kehadiran anak-anak.


Dita melihat Nyonya Elizabeth mengenakan sebuah kalung besar dengan simbol kepala anji*g. Dita teringat dengan ucapan Anta.


"Bunda, nanti kalau ada yang jahat sama bunda, bunda harus tarik kalungnya terus di bakar ya bunda," bisik Anta menarik leher Dita agar telinganya mendekat ke arahnya.


Bayangan suara Anta kembali terdengar, perintah anak itu terngiang di pikiran Dita bahwa dia harus membakar sebuah kalung yang terletak di leher orang jahat. Dan orang jahat itu adalah Nyonya Elizabeth.


"Aawww....!!!" teriak Dita saat seorang anak menarik paksa rambutnya, lalu menyeret Dita menuju ke hadapannya nyonya Elizabeth.


"Bagaimana bisa dia lepas, bukankah tadi sudah ku ikat dengan kencang," gumam Leona menghampiri Dita dengan wajah marahnya.


"Kenapa sih kau tak sabar sama sekali, nanti akan datang juga giliran mu bahkan lebih parah dari kematian," ucap Leona di telinga Dita sambil menarik rambut perempuan itu.

__ADS_1


"Leona tahan! biar kan dia menikmati suasana sakral ini, toh kita masih membutuhkannya," ucap Nyonya Elizabeth.


"Dasar kalian perempuan iblis! kenapa kalian cemari anak-anak yang tidak bersalah ini untuk menjadi pembunuh!" Dita berteriak ke arah Leona dan Elizabeth.


"Ckckkckc jaga ucapan mu Nak, lihatlah... mereka itu ditelantarkan, ditinggalkan, di letakkan begitu saja di halaman rumah ini. Para orang dewasa itu merenggut kebahagiaan mereka!" ucap Leona membalas makian Dita.


"Tapi tidak dengan mengajari mereka sebagai pembunuh...!!!"


"Kau bilang kami pembunuh?! mereka lah yang pembunuh, mereka mengabaikan kebahagiaan kami demi kebahagiaan mereka!" pekik Leona.


"Mereka siapa? mereka orang tua asuh kalian yang baru itu sesungguhnya tidak mengenal kalian. Mereka hanya ingin mencari kebahagiaan juga dengan cara membahagiakan kalian, jangan samakan orang tua asuh kalian yang baru dengan orang tua kalian yang meninggalkan kalian. Kalian hanya diperalat oleh wanita iblis ini agar menjadi pembunuh dan menguras harta orang tua asuh kalian!" Dita menunjuk nyonya Elizabeth yang membalas Dita dengan tertawa.


"Kau terlalu banyak bicara!" ucap Nyonya Elizabeth lalu melangkah menghampiri Dita. Namun, pak Herdi yang sedari tadi menahan untuk diam agar mereka tak sadar dengan keberadaannya, akhirnya gak tahan juga. Ia menginjak jubah nyonya Elizabeth membuat wanita tua itu jatuh tersungkur ke lantai. Wajahnya mencium lantai dengan keras. Pak Herdi juga melompat di atas tubuh wanita tua itu.


"Saya urus dia kamu urus si Leona!" ucap Pak Herdi.


Leona tak mengerti dengan penglihatannya. Nyonya Elizabeth terus saja berteriak kesakitan padahal tidak ada apapun dan siapapun yang menyakitinya. Dita menarik tangan Leona dengan kencang sampai kepalanya terbentur ranjang kayu temoat tante Dewi berbaring. Leona jatuh tak sadarkan diri.


Masih ada Cintya yang bersiap menyerang Dita. Mereka berkejar-kejaran berkeliling memutari ranjang Tante Dewi dan Tina.


"Haduh tunggu, capek tau! dek ambilin tante air putih dingin dong dari kulkas!" ucap Dita pada salah satu anak yang berusia lima tahun itu. Anak itu pergi menuju dapur.


Cintya kembali mengejar Dita yang terus berlari dan melempari Cintya dengan barang-barang yang ia temukan. Anak tadi membawa sebotol air mineral dan memberikannya kepada Dita.


"Tunggu bentar, minum dulu ya," ucap Dita menahan pergerakan Cintya.


Tante Dewi dan Tina tersadar.


"Kamu ngapain Ta, kejar-kejaran gak jelas gitu?" tanya Tante Dewi.


"Ah syukurlah sadar juga, nyonya Tina saya tau anda tak akan pernah bisa menyukai anak-anak, tapi selamatkan anak-anak itu mereka tidak bersalah mereka hanya di cuci otaknya untuk menjadi pembunuh orang tua asuh mereka dan merebut harta orang tua asuhnya, ku mohon selamatkan mereka! Pak Herdi kalung nyonya tua itu berikan padaku " ucap Dita memberi perintah. Semua yang melihat kalung dari leher nyonya Elizabeth terlepas dan melayang ke arah Dita langsung ketakutan.


"Ini terimalah, mereka akan menurut kepadamu!" ucap Dita melempar kalung tersebut pada Tina yang masih melongo tak percaya.


"Tina....!!!" bentak Dita menyadarkan Tina.


"Baiklah, ayo kalian semua ikut dengan ku!" ucap Tina membawa anak-anak itu keluar dan mereka benar-benar menurutinya.


Sementara itu, tante Dewi malah menangis memeluk Leona yang dahinya terluka serta tak sadarkan diri.


"Tante lepaskan Leona!" pinta Dita.


"Gak mau huhuhu... Leona bangun nak, jangan tinggalkan aku," ucap Tante Dewi masih menangisi Leona karena sudah terlanjur sayang pada gadis itu.

__ADS_1


"Tunggu...!!!" Dita menjulurkan tangannya ke hadapan Cintya untuk berhenti.


Dita meraih sebuah vas bunga dan memukul kepala Cintya debgan keras. Perempuan itu jatuh tak sadarkan diri.


"Ini aku gak paham deh, aku yang bodoh apa kamu yang bodoh banget sampai nurut banget aku suruh berhenti ya berhenti, rasakan deh, maafin yak."


Dita menarik tangan Tante Dewi. Sementara pak Herdi sudah berhasil membuat nyonya Elizabeth pingsan karena kesakitan dan terkejut melihat penampakan Pak Herdi yang melompat-lompat di atas tubuhnya.


"Lepasin Ta, tante mau nolong Leona," pinta Tante Dewi.


"Enggak! Tante harus lihat ini dulu!" Dita membawa tante Dewi ke ruang hipnotis bagi anak-anak panti.


"Itu video tentang pembunuhan, anak-anak itu di ajarkan untuk membunuh orang tua asuhnya tante, dan Leona itu, dia bukan anak umur delapan tahun melainkan dia gadis berumur lima belas tahun. Dia berniat merebut Anan dariku. Dia mencoba membunuhku tadi tante, sadarlah...!!!" pekik Dita.


"Enggak mungkin Ta! enggak mungkin!" Tante Dewi masih berusaha menyangkalnya.


Tiba-tiba rumah itu bergerak mengguncang Dita dan Tante Dewi di dalamnya.


"Kita harus keluar Ta, sekarang!" ucap Pak Herdi sambil melompat dengan cepat ke arah luar rumah.


"Ada apa di rumah ini pak?" tanya Dita berteriak.


"Kamu tadi bilang iblis kan? ya ternyata rumah ini memang ada iblisnya...!!!" ucap Pak Herdi yang sudah menjauh dari Dita.


"Astagfirullah... kejadian juga kan ketemu iblis, ayo tante Dewi, aku gak mau ketemu iblis..." Dita menarik tangan Tante Dewi.


"Iblis apa sih?" tanya Tante Dewi.


"Aku juga gak tau, dan aku juga gak mau tau, dan gak mau ketemu..." Dita menarik tante Dewi dan berlari lebih kencang sambip bertahan dengan guncangan rumah tersebut.


******


Masih bersambung ya guys...


Jangan lupa main ya ke cerita ku lainnya.


- WITH GHOST (UP)


-          Kakakku Cinta Pertamaku


season 1 END


-          9 Lives (END)

__ADS_1


-          Gue Bukan Player (END)


Vie Love You All 😘😘😘


__ADS_2