
Sebelum membaca klik like yak...
let's vote for me boleh yak ... apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget yak... thank u so much... love u all... 😘😍😊
***
Mobil dokter Dewi sudah sampah di sebuah gerbang emas bersimbolkan kepala singa di bagian tengah gerbang.
Gerbang itu terbuka sendiri setelah dokter Dewi berbicara pada sebuah interkom. Mobil dokter Dewi melaju ke dalam halaman yang luas itu.
"Ini halaman rumah apa joging track Tante luas banget." Dita berdecak kagum.
"Kayanya Anan tajir nih ckckckck." sahut Anita.
"Ah biasa aja, rumah gue juga bisa kaya gini kalo gue belom mati." gerutu Andri.
Barisan pelayan sudah berjejer rapih mengenakan seragam berwarna biru navy hanya satu orang wanita yang memakai seragam rok berwarna hitam dengan list putih dibagian kemejanya.
"Ini kayanya kepala pembantunya nih." gumam Dita.
Wanita itu tersenyum menyambut dokter Dewi dan betapa ia terkejut saat melihat Anan yang turun dari mobil.
"Siang Bu Mey apa kabar?" sapa dokter Dewi.
"Baik Nyonya kami semua baik di sini. Ini aden Mananta? benarkah ni aden...?" Wanita paruh baya yang bernama Bu Mey itu mengitari Anan memperhatikannya sambil menyentuh bahu Anan.
"Hai Bu." sapa Anan.
"Aden udah sehat?"
Anan mengangguk.
"Bu Mey si Manan mungkin tidak akan mengingat kalian dan rumah ini dengan baik jadi saya harap kalian maklum yak dengan kondisinya, oh iya perkenalkan ini Dita." dokter Dewi memperkenalkan Dita kepada Bu Mey.
"Halo saya Bu Mey, saya kepala pelayan di sini." Bu Mey menjabat tangan Dita.
"Halo Bu, aku Dita."
"Bu Mey Dita ini pacar aku." sahut Anan merangkul Dita.
"Awww.." Dita menginjak kaki Anan.
"Dasar bucin... Yuk Nit kita traveling rumah Anan." ajak Andri ke Anita berkeliling rumah Anan dengan leluasa tanpa terlihat.
"Mari masuk, saya sudah menyiapkan masakan kesukaan Nyonya dan Aden." ucap Bu Mey seraya menuntun mereka menuju ruang makan.
"Gak usah di copot nona sandalnya pake aja." sahut pelayan perempuan di belakang Dita.
"Eh malu aku sandalnya kotor, sayang lantai marmernya nanti ikut kotor." sahut Dita membuat semua yang ada disitu tertawa karena kepolosannya.
__ADS_1
"Pake aja Ta sandalnya." sahut dokter Dewi menyunggingkan tawa di bibirnya.
***
Di meja makan rumah Anan sudah tertata rapih aneka makanan layaknya di sebuah restaurant mewah.
"Ini dendeng balado kesukaan den Manan buatan mbok Pinah khusus buat Aden." ucap Bu Mey menyodorkan dendeng ke arah Anan.
"Ini kepiting saus padang kesukaan Nyonya Dewi silahkan nyonya."
"Makasih ya Bu Mey, makasih mbok Pinah masakannya emang the best." sahut Tante Dewi.
"Non Dita mau yang mana saya ambilkan?" tanya Bu Mey.
"Gak usah Bu, aku ambil sendiri kayanya kepitingnya enak." ucap Dita seraya mengambil kepiting di hadapan Tante Dewi.
"Aku juga mau ah enak nih." ucap Anan memakan kepiting yang diambil Dita.
"Jangan Den, nanti alergi, Aden kan alergi seafood duh lepehin den." Bu Mey menepuk punggung Anan namun daging kepitingnya terlanjut tertelan.
"Kenapa sih Bu orang enak kok." sahut Anan.
"Nanti badan Aden pada gatel bentol gede - gede terus bibirnya doer." sahut Bu Mey khawatir.
"Gak papa Bu aku tanggung resikonya ini enak banget." ucap Anan dengan mulut asik mengunyah.
"Udah Bu, gak papa biar aja." ucap dokter Dewi menenangkan.
"Saya sudah makan di meja belakang sama pembantu yang lain." sahut Bu Mey.
"Jadi tiap hari kalian pada berdiri disini ngeliatin Anan eh Manan pada makan?" tanya Dita.
"Memang tugas kami seperti ini." sahut Bu Mey tersenyum.
"Kan gak enak yak lagi makan di liatin gitu, uhuk uhuk.." Dita tersedak.
Bu Mey langsung menuangkan air putih ke gelas Dita. Dita langsung menenggak air putihnya. "Makasih ya Bu Mey." ucap Dita.
"Kalau Nyonya Aiko liat nona makan kaya gini habis kita semua yang ada di sini, ya nyonya Dewi?" Bu Mey menoleh pada dokter Dewi.
"Udah santai aja itu kan kalo ada kak Aiko sama kak Arjuna, sama aku mah santai aja Ta." sahut dokter Dewi.
"Psssttt... Ta... woi bagi lah..." Anan dan Dita menoleh pada panggilan Anita.
"Cuekin aja." ucap Anan.
"Kasian Nan, mereka lapar, gimana cara kasihnya?" bisik Dita.
"Gimana ya?"
__ADS_1
"Aha aku punya ide, Tante Dewi aku boleh bungkus nasi sama kepitingnya gak? tambah dendeng juga?" pinta Dita.
"Hahahhaha.... si Dita ih ada-ada aja, emang enak banget yak?" sahut Tante Dewi.
"Buanget, boleh ya Tante, boleh ya Bu Mey, jarang kan aku makan enak kaya gini hehehe."
"Ambilkan kotak makan di dapur Santi nanti kamu isi dengan makanan di meja ini ya!" perintah Bu Mey pada salah satu pelayan di situ dan pelayan itu langsung mengerjakan perintah Bu Mey.
Setelah selesai makan Bu Mey menunjukkan kamar Manan. Dita mencari cara menuju halaman depan rumah Anan dan menaruh kotak makan itu di mobil Tante Dewi.
"Makan yang anteng yak disini." ucap Dita ke Anita.
"Mau Ndri? udah jangan malu-malu." goda Anita ke Andri yang masih menjauh dan akhirnya mendekat teegoda dengan wangi kepiting di kotak itu.
Di lantai atas tiba-tiba seekor ****** golden retriever langsung menubruk Manan.
"Maaf tuan muda si Molly terlepas dari kandangnya." ucap pelayan pria yang mencoba menarik Molly menjauhi Anan namun tak bisa karena Molly asik bersama Anan.
"Ba ba bagaimana bisa, Molly itu ****** peliharaan nya Den Anan kenapa dia bisa nurut sama Den Manan." ucap Bu Mey dengan herannya.
"Lucu banget ini anjingnya sini deh Ta lucu banget siapa namanya Bu?" tanya Anan.
"Molly namanya Den." sahut Bu Mey.
"Aku mau sih pegang tapi takut Nan gede banget terus najis." ucap Dita takut.
"Di belakang di sediakan pasir suci tempat biasa Den Anan bersuci dari Molly non." ucap Bu Mey membantu pelayan pria itu menarik Molly.
"Enggak ah takut ." sahut Dita.
Molly akhirnya bisa di kendalikan dan di kembalikan ke kandangnya.
"Aden langsung mandi yak, Aden kan alergi bulu binatang apalagi Molly." ucap Bu Mey khawatir dan langsung mendorong pelan Anan menuju kamarnya untuk mandi.
"Ribet banget sih banyak banget alerginya Manan." ucap Dita.
"Dari kecil Aden Manan memang rentan sakit beda sama den Anan yang lebih kuat, kenapa ibu jadi kangen Anan ya non." mata Bu Mey berkaca-kaca mengucapkan nama Anan.
Seandainya aja ibu tau kalo yang tadi itu Anan.
Dita menatap Tante Dewi yang juga merasa sedih mendengar ucapan Bu Mey.
"Kok badan aku gatel ya Tante aduh ini gatel banget aku gak tahan." Dita makin menggaruk seluruh badannya yang sudah muncul bercak merah sekujur tubuhnya. Mata Dita terlihat bengkak dan pada bagian bibirnya juga membengkak memerah.
"Kualat sih ngatain Manan taunya alergi kepiting juga kan." ucap dokter Dewi mencoba menahan tawanya dan membawa Dita ke kamar tamu yang disiapkan Bu Mey.
Andri dan Anita asik menertawakan Dita diujung sana.
***
__ADS_1
To be continued...
Happy Reading...😘😘