Pocong Tampan

Pocong Tampan
Musim Kedua - Pamit


__ADS_3

Sebelum membaca jangan lupa ya di Like, Vote, and rate bintang lima ya...


Happy Reading semoga makin suka 😊😊😊


******


Setelah memeluk Anta dengan erat, Maria memeluk Dita dan Tasya.


"Terima kasih ya, berkat kalian kini aku bisa tenang, oh iya aku punya hadiah untuk Tasya dan Jerry, nanti akan ada yang mengirimkan paket untuk kalian. Aku bertemu dalam mimpi ayahku semalam, dan ternyata ia percaya dan mau menuruti apa mau ku," ucap Maria.


"Hadiah apa itu?" tanya Tasya.


"Nanti kau juga akan tahu, sampaikan salamku pada Jerry ya," ucap Maria lalu pergi masuk ke dalam cermin yang berkilauan dan tak kembali lagi.


Anta masih menangis sesenggukan, keinginannya bertemu dengan Maria kan karena ia ingin bermain dengan Maria.


"Terus kalau kak Maria gak ada, Anta main salon-salonan sama siapa?" tanya Anta.


"Anta lupa ya, kan kita bawa oleh-oleh buat Pak Herdi," ucap Anan.


"Oleh-oleh, buat Pak Herdi?" tanya Tasya.


"Iya bentar ya aku panggil tadi kayanya masih keliling deh di koridor," ucap Anan lalu dia keluar dari apartemen. Dita menahan tawanya lalu ia panggil Pak Herdi.


"Kenapa Ta?" tanya Pak Herdi.


"Aaahhhh bapak apa kabar?" Tasya tiba-tiba memeluk Pak Herdi.


"Ih si Tasya tumben banget coba itu," ledek Dita.


Tasya buru-buru melepas pelukannya dan entah kenapa hatinya merasa degdegan saat memeluk Pak Herdi.


"Oh iya ini dia kejutan untuk Pak Herdi tersayang..." ucap Anan sambil tertawa memperkenalkan Lili ke semua orang.


"Hai..." Lili melambaikan tangannya pada semua yang menatapnya.


"Aahhhhh wanita kardus, ngapain coba ke sini?" PAK Herdi menunjuk Lili yang langsung berlari menghampiri Pak Herdi tapi berhubung panjang rambutnya sampai lantai, ia pun terjatuh karena terantuk rambutnya sendiri.


"Hahahaha tantenya lucu, asik... Anta punya temen baru..." Anta menarik rambut Lili seketika.


"Awwwww sakit, ini anak siapa sih, dimana-mana tuh anak kecil kalau liat aku nangis lah ini nyiksa, awww!!!" pekik Lili.


"Dita jangan panggil saya kalau gak penting!" ancam Pak Herdi.


"Cie cuma begitu doang marah, nih Anan yang ngajarin hehehe," Dita menunjuk Anan.


"Kok aku? emang aku ngajarin apa?" tanya Anan.


"Mengajari ku untuk mencintaimu, eyaaak!!!" sahut Dita dengan wajah senangnya sambil mencubit kedua pipi Anan.


"Hah...." helaan nafas panjang Pak Herdi membuatnya menghilang seketika.


"Dih... garing banget...!" Tasya mencibir lalu menghampiri Anta yang sedang menggunting paksa rambut Lili.


***


Malam itu tante Dewi mengadakan makan malam bersama di restoran milik Sahid. Ada sesuatu yang ingin ia bicarakan bersama. Sahid terlihat murung saat ia mengantarkan pesanan makanan ke meja Tante Dewi.


"Kenapa wajahmu di tekuk gitu sih gak jelas deh!" ucap Tante Dewi.


"Saya kehilangan Arga, Laila mantan istri saya sudah membawa Arga pergi, dulu saya memang gak suka jika Arga berada di dekat saya, tapi kini saat saya merasa sudah dekat dengan Arga, saya malah kehilangan dia," ucap Sahid dengan raut wajah sedih.

__ADS_1


"Mending kamu susul aja deh!" Om Kevin menepuk punggung Sahid sebelum duduk.


"Tapi saya gak tau dia ada dimana," ucap Sahid.


"Mantan istri kamu kan model, dia pasti hits banget si sosial media, kamu cari tahu aja dari sosial media punya dia, tanya teman-temannya, masa iya gak ada yang kamu kenal," ucap Om Kevin mencoba memberi saran.


"Iya juga ya, coba deh saya cari tahu," ucap Sahid.


Tak lama kemudian Dita, Anan, Anta dan Tasya datang ke dalam restoran.


"Hai..." Sahid memeluk Dita tiba-tiba saat sampai ke dalam restoran. Dita yang kaget tak merespon pelukan tersebut.


"Hmmm cari ribut nih..." Anan mulai menarik lengan Sahid.


"Maaf aku terlupa, maaf ya kelepasan," sahut Sahid.


"Kelepasan sama modus beda tipis nih," ucap Anan.


"Udah yanda, udah gak enak tuh di depan Anta," Dita mencoba melerai.


"Ya habisnya aku gak suka ya bunda di peluk sama orang lain kecuali Anta, di peluk Tasya aja aku cemburu!" ucap Anan dengan wajah cemberut.


"Lah bisa gitu... tenang pak, saya mah normal kok!" sahut Tasya.


"Hmmm mulai nih, sifat asli Anan ya kaya gitu tuh," ucap Tante Dewi.


"Emang tante, dia tuh udah inget siapa dirinya, ya kan?" Dita melirik Anan saat menarik kursi meja tersebut. Sementara Anta sudah sibuk dengan ayam panggang di hadapannya.


"Serius, si macan udah inget siapa dirinya?" tanya Tante Dewi.


"Iya udah!" jawab Anan. "Eh Doni kemana tante?" tanya Anan.


"Doni pamit sama kamu Sya?" tanya Dita menoleh ke Tasya.


Tasya mengangguk pelan, ia menyeruput jus jeruk di hadapannya dengan berpura-pura santai walaupun sebenarnya ia ingin menangis.


"Kok tumben datar banget, kamu gak sedih Sya?" tanya Dita lagi.


"Enggak!" sahut Tasya.


"Udah kalau mau nangis, nangis aja!" celetuk Anan yang langsung di beri pukulan pelan di bahunya oleh Dita.


Tasya menoleh ke Dita lalu menatap tante Dewi, Om Kevin, Anan bahkan Anta yang sibuk dengan makanannya sedari tadi, satu persatu ia tatap. Lalu dia akhirnya tak tahan juga menangis.


"Huaaaaaa sedih lah, habis gimana emang Doni harus pulang, kan dia udah sembuh jadi keluarganya minta dia pulang, apalagi orang tuanya kecelakaan, ya aku sedih lah hiks hiks..." Tasya menyeka air matanya dengan kaus yang ia pakai.


"Sya jangan mulai deh!" Tante Dewi menatap Tasya tajam.


"Oh iya lupa maaf, hampir aja kelepasan buang ingus, saya ke kamar mandi dulu ya," ucap Tasya lalu beranjak pergi menuju kamar mandi.


"Eh iya tante, ada apa undang kita makan malam gini?" tanya Dita.


"Om Kevin di terima bekerja di Negara Flower, tante mau pindah kesana, lalu karena di sana juga ada restoran milik keluarganya jadi dia mau kamu dan Anan yang urus restoran tersebut, ya gak besar sih seukuran gini lah," ucap Tante Dewi.


Dita teringat dengan mimpinya saat bertemu Ratu Kencana Ungu, mungkin inilah jalan yang disediakan Tuhan baginya agar segera pergi dari negara ini demi menghindari suku Ro. Toh Arga juga sudah dipindahkan oleh ibunya untuk menghindari suku jahat tersebut, batin Dita.


"Bunda gimana?" tanya Anan mengejutkannya.


"Aku sih mau banget yanda, yang penting keluarga kita sama-sama terus," jawab Dita.


"Oke deh, tapi ada tabungan buat ganti uang Hyena gak bunda?" tanya Anan.

__ADS_1


"Ada kok tenang aja, kan nanti di sana kita cari uang lagi sama-sama," ucap Dita.


"Ya udah nanti kita ketemu Andri biar dia yang ketemu Hyena buat bayar utang aku ya," ucap Anan.


"Sekolah Anta gimana bunda?" tanya Anta.


"Kita cari sekolah lagi ya, nanti Anta ketemu temen baru lagi," ucap Dita.


"Tapi boleh bawa Lili ya?"


"Boleh..." sahut Dita.


***


Dita dan Anan beranjak menuju kediaman Andri dan ibunya. Sementara Anta dan Tasya pulang bersama Tante Dewi. Saat ini Andri bekerja di kantor pajak tempat Yoona berkerja. Berkat Yoona dia bisa bekerja di sana saat tak lagi membuka kedai bersama Anan.


Sesampainya di sana, ibu Andri sudah menangis saat tau Anan dan Dita akan pergi.


"Maafin saya ya bu, tapi saya dan keluarga memang harus pergi," ucap Anan.


"Iya ibu mengerti nak, tapi sering-seringlah mampir ke sini ya, jangan lupain ibu," ucapnya sambil terisak.


"Iya bu, pasti... masa kita lupa sama ibu, malah kalau bisa nanti ibu kita kirimin tiket buat main kesana," ucap Dita dengan senyum manisnya.


"Iya ibu mau banget, doain aja ibu sehat selalu," ucap Ibunya Andri.


"Ndri ini kunci mobil buat kamu, aku titip ya, jaga mobil ini baik-baik, ini hadiah dari aku dah Anan," ucap Dita.


Kedua mata Andri berkaca-kaca saat menerima kunci mobil tersebut. Lalu ia memeluk Anan dengan eratnya.


"Makasih banyak ya cong, gue turut bahagia banget elu bisa nemuin perempuan sebaik Dita." ucap Andri.


"Gak usah lebai ah, gue juga makasih karena berkat elo dan ibu, gue bisa selamat saat gue hilang ingatan," ucap Anan.


Setelah itu, Anan dan Dita pamit pergi.


"Semoga ini bukan perpisahan selamanya ya, gue bakal datang ke tempat elo!" Andri menepuk bahu Anan saat mengantarnya ke luar dari gedung apartemen.


Dita dan Anan memutuskan untuk naik taxi menuju apartemen keluarga miliknya.


"Bu, pak, itu mobil di belakang kenapa ngikutin kita terus ya?" tanya supir taxi itu saat melihat sedan hitam yang sedari tadi mengikuti Dita dan Anan.


"Ah masa sih pak," Dita mencoba menoleh ke belakang begitu juga dengan Anan.


"Aku panggil Pak Herdi ya, aku mau cari tau siapa yang mengikuti kita di belakang," bisik Dita pada Anan yang di jawab anggukan.


*****


Bersambung ya, hayo abis baca jangan lupa bayar pakai VOTE ya...


Jangan lupa main ya ke cerita ku lainny


- WITH GHOST (UP)


-          Kakakku Cinta Pertamaku (Season 2)


-          9 Lives (END)


-          Gue Bukan Player (END)


Vie Love You All 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2