Pocong Tampan

Pocong Tampan
Ke Rumah Cindi


__ADS_3

Sebelum membaca klik like yak...


let's vote for me boleh yak...


apalagi koin seikhlasnya juga boleh...


Rate bintang lima jangan lupa...


thank u so much... love u all... 😘😍


*****


Ponsel Anan berdering namun dimatikan segera begitu juga ponsel Dita. Doni dan Tasya menghubungi keduanya berkali-kali.


"Telpon rumahnya aja Don." perintah Tasya.


"Oke deh." Doni langsung menghubungi rumah besar milik Anan.


"Halo selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" tanya Bu Mey yang mengangkat telepon di rumah besar Anan.


"Bu Mey ini Doni, pak bos ada gak?" tanya Doni.


"Ada sih tapi... eh sebentar nak Doni tuh pak bos baru turun sama non Dita." sahut Bu Mey.


"Non Dita, ini ada telpon dari nak Doni." ucap Bu Mey menyerahkan gagang telepon pada Dita.


"Ngapain dia nelpon kesini nan?" tanya Dita menoleh pada Anan.


"Oh tadi kan hape kita matiin biar gak ganggu kita hehehe." bisik Anan.


"Oh iya hehehe, sini Bu telponnya makasih ya." ucap Dita meraih gagang telepon lalu Bu Mey pamit menuju dapur kembali.


"Ya halo ada apa Don?" tanya Dita.


"Kak Dita suster Cindi meninggal tadi pagi." ucap Doni dari seberang sana.


"Inalillahi wa innailaihi rojiun, dapat kabar dari mana Don?" tanya Dita .


"Dari temennya suster Cindi, gimana kak mau melayat gak?" tanya Doni.


"Kamu tahu alamatnya gak Don?" tanya Dita.


"Aku nanti tanya kak Shinta, aku kirim alamatnya via wa ya, tolong di hidupin hapenya." sahut Doni dari seberang sana.


"Iya iya, ya udah kita langsung ketemu di rumahnya ya." ucap Dita lalu menutup sambungan teleponnya dan menaruh gagang teleponnya kembali.


"Kenapa-kenapa siapa yang meninggal bunda?" tanya Anan.

__ADS_1


"Cindi Nan, cindi meninggal tadi pagi." ucap Dita lalu menghidupkan ponselnya.


"Nih alamatnya udah di wa sama Doni, yuk kita kesana." ajak Dita.


"Ya udah aku kabarin Tante Dewi dulu ya." Anan menghidupkan ponselnya lalu menghubungi Tante Dewi untuk memberikan kabar kematian Cindi.


***


Sesampainya di rumah Cindi, ternyata jasad Cindi sudah di kebumikan saat Dita dan rombongan sampai disana.


Pihak keluarga Cindi menceritakan kejadian-kejadian aneh yang menimpa Cindi sebelum meninggal.


"Saya gak ngerti non tentang penyakitnya anak saya Cindi, kami udah berobat ke Dokter kesana kemari bahkan orang pinter seperti paranormal pun tak bisa menyembuhkan Cindi." ucap ibu nya Cindi menjelaskan pada Dita dan Tasya di ruang tamu rumah Cindi.


Sementara Anan dan Doni berada di luar rumah berbincang-bincang bersama bapak-bapak yang lain.


"Memang yang dirasa Cindi apa Bu sebelum meninggal?" tanya Dita.


"Kakinya sakit non, berat kalau jalan terus lama kelamaan membusuk, kan kata orang mah kayak penyakit gula ya jadi disuruh amputasi, udah di amputasi dua-duanya malah gak sembuh-sembuh sampai dia meninggal non hiks hiks." ucap ibunya Cindi dengan raut wajah yang sedih sampai air matanya tak bisa terbendung lagi.


Dita jadi teringat penampakan yang berada di kaki Cindi tempo hari.


"Apa jangan-jangan yang waktu itu ya." gumam Dita sampai suara menggumamnya terdengar oleh ibunya Cindi.


"Jangan-jangan kenapa non?" tanya ibunya Cindi.


"Eh enggak Bu, bukan apa-apa." sahut Dita.


"Iya nanti ibu kesana, non diminum dulu ya silahkan, ibu tinggal ke depan sebentar." ucap ibunya Cindi lalu berlalu ke depan rumah.


"Sya, sebelum Cindi meninggal, dia tuh di ikuti sama penampakan nenek-nenek yang ada di kakinya gak mau lepas jadi jalannya nyeret gitu." ucap Dita.


"Yang bener Ta? terus kenapa kamu gak ngebilangin ke Cindi soal penampakan yang kamu lihat?" tanya Tasya.


"Aku udah coba bilang tapi kayanya dia gak percaya hal kaya gitu." sahut Dita.


"Ta itu siapa ya kok jalannya ngesot mana pakai baju daster ngesotnya?" Tasya menunjuk sosok perempuan yang bergerak dengan cara ngesot di ruang tengah rumah Cindi.


"Astagfirullah itu Cindi tau Sya, gini nih kita pura-pura gak lihat ya." ucap Dita pada Tasya.


"Gimana caranya pura-pira gak liat kalau dia jalan ke arah kita." Tasya menutup matanya berusaha menyembunyikan wajahnya di balik baju Dita.


"Tenang Sya, santai aja." bisik Dita.


Hantu Cindi bergerak ke arah Dita sambil tersenyum menyeringai dengan tatapannya yang nakal mau menggoda Dita.


"Nah ada Dita akhirnya datang juga, godain ah." ucap Cindi bergerak ke arah Dita.

__ADS_1


Dita pura-pura tak melihat dan memainkan layar ponsel di tangannya sambil berbincang dengan Tasya yang sebenarnya sangat takut.


"Hai Dita hai ini siapa ya namanya, duh aku lupa lagi, namanya siapa ya?" tanya Cindi di hadapan Dita dan Tasya.


"Tasya." spontan Tasya langsung menyahut saat di tanya namanya.


"Dih kok bisa jawab pertanyaan dari gue sih?" tanya Cindi pada Tasya sambil menatapnya lekat-lekat.


"Tasya, kamu tahu gak ini bagus banget yah." Dita langsung berpura-pura menyodorkan ponselnya pada Tasya agar tak menoleh pada hantu Cindi.


"Oh gitu namanya Tasya ya, eh jadi elo yang namanya Tasya ya?" tanya Cindi yang diberi balasan anggukan oleh Tasya.


"Aduh aku gak bisa cuek Ta sama dia." bisik Tasya pada Dita.


"Kok gue ngerasa kalian semua bisa liat gue ya?" tanya Cindi


Dita berusaha makin cuek pada Cindi dan mengacuhkan nya tapi tidak dengan Tasya karena sulit baginya tidak mengakui keberadaan hantu Cindi di hadapannya.


Cindi menghampiri Dita dengan cara mengesot, wajahnya kini berada di hadapan wadah Dita sambil meniupkan udara ke wajah Dita. Dita mati-matian menahan bau mulut hantu Cindi yang terasa busuk dan membuatnya pusing.


"Dita kamu bisa lihat aku kan?" tanya Cindi namun Dita mencoba untuk tak menoleh.


Tasya makin takut dan berusaha untuk menghindar. Ia berdiri lalu mengucap ingin keluar pada Dita dengan bibir yang gemetar.


"Ta... Ta... sa...sa...saya mau ke depan dulu ya cari Doni." ucapnya sampai terbata-bata karena takut.


"Ia Sya silahkan, aku disini aja main hape." ucap Dita mencoba untuk tenang.


Karena masih penasaran akhirnya sosok hantu Cindi memangil nama Tasya yang hendak keluar dari rumahnya.


"Tasya..." ucap hantu Cindi yang langsung dibalas oleh Tasya dengan kata


"IYA..." sambil menoleh ke arah Cindi.


Dih si Tasya pakai keceplosan lagi disuru tahan dulu juga jangan kepancing.


Dita menepuk dahinya sendiri.


*****


To be continued


Jangan lupa mampir ke novel ku lainnya ya guys...


- Kakakku Cinta Pertamaku


- 9 Lives

__ADS_1


- Gue Bukan Player


Ku tunggu like dan komen kalian disana dan Vie mau ngadain Giveaway lho di novel Kakakku Cinta Pertamaku jangan lupa ikutan ya pembaca tersayang ku 😘😘😘


__ADS_2