
Sebelum baca jangan lupa vote yak...
makasih... 😊😊
****
Pak Herdi menendang Kang Ujang dan menarik lengan Dita dengan kasar.
"Sialan Kau Herdi kalau tau begini tak akan kubiarkan kau coba-coba keluar lagi." ucap Pak Herdi yang kini dikuasai Jordi kembali.
"Aaaaarrghhh lepas kan...!!"
Dita menatap Tania memohon pertolongan darinya.
Tak ada jawaban dari Tania yang hanya diam menatap Dita.
Jleb...
Jordi menusuk perut Dita lalu menyeret Dita ke arah meja. Dita melihat kotak yang tadi ditunjuk Tania itu lalu menggesernya jatuh ke lantai dengan tenaga nya yang tersisa menahan sakit diperutnya.
"Apa yang kau lakukan gadis bodoh...?!!"
Jordi terlihat sangat kesal dan mencekik Dita dengan kuat.
Tenggorokan nya terasa tercekat membuat nafas seakan terhenti disana, air mata Dita sampai menetes mencoba melepas tangan Jordi yang melingkar di lehernya.
Bug...
Anan memukul Jordi dengan kursi membuatnya jatuh tak sadarkan diri.
Ternyata Tania sudah membuka kotak yang dijatuhkan Dita tadi demi membebaskan Anan dan Andri yang terkurung di dalamnya.
"Kamu gak papa Ta?" tanya Anan.
"Anan....huhuhu... perut aku sakit Nan" Dita memeluk Anan dengan erat tangisannya tak dapat terbendung lagi sambil menahan Sarah yang keluar dari perutnya.
Andri hendak menancapkan pisau pada dada Jordi.
"Jangan Ndri, Pak Herdi gak salah, Jordi yang salah."
"Sama aja Ta, ******** ini harus mati hiaaaattt."
"Andri jangaaaaann...!!!
"Ikat dia Ndri." sahut Anan.
Andri menuruti perintah Anan mengikat kaki dan tangan Jordi.
"Kita harus melepas cincinnya." ucap Dita sambil menarik cincin yang melingkar ditangan Pak Herdi.
"Bantu aku Nan, susah banget ini aarrghhh."
"Tak akan bisa dilepas Ta." sosok Herdi sudah kembali di tubuhnya.
"Kamu...?"
Andri sudah bersiap dengan kursi ditangannya jika sosok Jordi tiba-tiba hadir ditubuh Herdi.
"Aku Herdi, Ta. Kamu harus melepas cincin ini dengan bagian tubuhku sebagai medianya."
"Maksud bapak?"
__ADS_1
"Potong tanganku, hanya itu jalan satu-satunya. Lalu bakarlah untuk menghilangkan iblis itu."
Ucapan Pak Herdi persis seperti yang di ucapkan Kang Ujang untuk membakar cincinnya.
"Tapi bagaimana aku bisa Pak, aku tak akan bisa."
"Cepat Dita lakukan...!!"
Andri dan Anan melepas ikatan tangan Pak Herdi.
"Tak akan kubiarkan kalian melakukannya." sosok Jordi kini hadir lagi ditubuh Pak Herdi dan mencekik leher Andri dengan tangan kanannya dan mencekik leher Anan dengan tangan kirinya.
Tenaga nya sangat kuat kali ini sehingga membuat Anan dan Andri terangkat saat tercekik.
"Lakukan Dita, ini cepatlah...!!" Tania membawakan pisau menyerahkan ke tangan Dita sambil berbisik.
"Baiklah... Hai Jordi si Iblis... Ini untuk Anita...!!!"
Blasssss....
Dita menebas tangan kiri Pak Herdi. Membuat Anan dan Andri terlepas.
"Argghhhhh dasar kau gadis sialan...!!"
Jordi memegangi tangannya yang menyemburkan darah segar.
Anan dan Andri menahan tubuh Pak Herdi segera.
"Lakukan Ta, bakar sekarang...!!"
Dita lalu mengambil potongan tangan Pak Herdi dari lantai membawanya menuju anak tangga keluar dari ruang bawah tanah itu mencari pemantik api dan membakarnya bersama tumpukan kertas yang dia temukan untuk membuat apinya membesar.
Dita menghubungi kantor polisi dengan sisa tenaganya lalu tak sadarkan diri jatuh ke lantai.
***
Dita membuka matanya perlahan, kini dirinya berada diatas kasur tandu yang dibawa petugas.
Di wahana itu sudah ramai berdatangan tim polisi dan tim medis.
"Untung lukanya gak dalem mba cuma ada dipinggir, namun mbak harus tetap dirawat untuk mendapat jahitan di rumah sakit."
ucap perempuan salah satu tenaga medis itu.
"Makasih ..." ucap Dita lirih meringis menahan sakit di perutnya.
"Selamat sore Nona, saya Kapten Jihan, apa anda yang tadi menelpon ke kantor polisi?"
"Iya Kapten, tolong evakuasi semua kawan saya."
"Kami menemukan dua jasad satu perempuan dengan leher tergorok, dan laki-laki dengan tikaman pisau, rekan anda selamat berada disana akan segera di evakuasi ke rumah sakit karena lukanya sangat parah, begitu juga dengan anda yang harus mendapat perawatan medis."
Kapten Jihan menunjuk Kang Ujang yang sudah masuk ke dalam mobil ambulance.
"Syukurlah Kang Ujang masih hidup." gumam Dita.
"Anda kenal dengan orang itu?" Kapten Jihan menunjuk Pak Herdi.
"Iya dia bos saya kapten."
"Dia mengakui semua ini perbuatannya apa benar begitu?"
__ADS_1
Dita melihat ke arah Pak Herdi yang tersenyum memandang Dita. Pak Herdi mengangguk kan kepalanya memohon Dita melakukan hal yang sama. Rupanya Pak Herdi akan mempertanggung jawabkan perbuatan Jordi hari ini, mana mungkin juga polisi akan percaya dengan cerita sosok Jordi yang merasuki tubuhnya itu.
"Iya Kapt, dia pelakunya." ucap Dita akhirnya.
"Baiklah kalau begitu saya akan menemui anda kembali di rumah sakit, semoga anda lekas sembuh yak." Kapten Jihan mengusap kaki Dita.
"Kapten tunggu, masih ada teman saya Anita yang terkubur di dinding bawah tanah dan juga teman saya satu lagi Tania yang sudah lama terkubur didasar kolam besar itu." ucap Dita.
"Baiklah terima kasih atas informasinya kami akan langsung menindaklanjuti pencarian jasad berikutnya."
Ucap Kapten Jihan segera mengerahkan anak buahnya mengeringkan kolam dan membongkar dinding di bawah tanah.
Tania memandang Dita tersenyum tulus kali ini. Wajah cantik Tania terpancar meski pucat namun cantik khas perempuan blasteran Jepang sangat terlihat berbeda dengan sosok seram yang selalu ia tampilkan dihadapan Dita.
"Terima kasih Dita, temanku... kini aku bisa pergi dengan tenang. Tolong jaga suamiku Herdi."
Tania memeluk Dita dan mengecup kedua tangan Dita lalu pergi memeluk suaminya dan menghilang.
Petugas medis memasukkan Dita ke dalam ambulance.
"Ah.... akhirnya kelar juga misteri tumbal di wahana ini, padahal sayang banget yak, lagi renovasi permainan baru, mana gede kaya gini eh tutup." ucap Andri yang sudah berada di bangku ambulance menemani Dita.
"Kamu kenapa sih Nan, malah nangis gitu?"
ucap Dita.
"Kenapa mbak? saya gak nangis kok." ucap petugas medis yang menemani Dita.
"Enggak mbak, saya masih pusing kali rada halu hehehe." Dita menepuk kepala Anan yang masih menangis diatas perutnya itu.
"Buat tidur aja mbak." perintah petugas medis itu.
Andri tertawa melihat kelakuan Anan yang masih menggosok gosokan air matanya.
"Sakit ya Ta...?" tanya Anan sambil sesenggukan.
Perlu aku jawab apa, ya sakit tau.
Batin Dita sambil melotot ke arah Anan.
"Maafin aku ya gak bisa jaga kamu hiks hiks hiks..."
Udah ah diem, masa cengeng banget jadi cowok.
Anan langsung menyeka air matanya dan duduk dengan tegak membusungkan dadanya.
"Aku gentle kok, aku gak cengeng." sahut Anan.
"Ah lontong kisut kelakuan lho." ledek Andri.
"Diem loh tempe angus gue suapin alat picu jantung nih."
"Husssttt..." Dita menyuruh keduanya diam.
"Mbaknya nakutin nih lama-lama." bisik petugas medis itu pada rekan satunya melihat kelakuan Dita.
***
To be continued...
Happy Reading...
__ADS_1