
Sebelum membaca klik like yak...
let's vote for me boleh yak...
apalagi koin seikhlasnya juga boleh...
Rate bintang lima jangan lupa...
thank u so much... love u all... 😘😍
*****
"Pak buka pak!" Tasya menggedor-gedor kaca jendela mobil Anan.
"Kamu kenapa sih? terus mana Dita?" tanya Anan yang melihat Tasya panik.
"Di sana sama genderuwo guueeeede banget," sahut Tasya.
"Oh om item, lah terus kenapa kamu ikutan lari Sus?" Anan menunjuk Susi.
"Syok gue kak, itu tadi cowok cakep banget lah masa berubah jadi makhluk serem gitu sih hiyyy..." sahut Susi.
"Heh kamu tuh setan, masa takut setan!" Tasya menepuk bahu Susi.
"Yah namanya juga masih syok, gue kan baru jadi setan belum beradaptasi hehehe..." sahut Susi.
Anan segera menghampiri Dita.
"Bunda ayo pulang!" ajak Anan menegur Dita.
"Yanda sini deh, kenalin ini Lee." ucap Dita sambil tertawa.
"Lee?" Anan mengernyitkan dahinya tak mengerti.
"Iya Lee pacarnya Shinta hahahaha."
"What...? pacarnya Shinta yang kayak oppa Korea itu?" tanya Anan.
Om item hanya tersenyum malu mendengar pertanyaan Anan lalu mengangguk.
"Hahahaha kocak, kocak parah." Anan gantian tertawa terbahak - bahak sampai sakit perut.
"Eh tapi om, bukannya bawa mobil keren ya dapet dari mana?" tanya Dita.
"Ah itu mah hanya ilusi saja, makanan yang dia makan aja makananku juga hehehe." sahut om item.
"Astaga... aduh aku gak bisa bayangin deh mau muntah."
"Tapi aku mohon ya Ta, jangan bilang sama Shinta, aku udah terlanjur cinta nih sama Shinta hehehe." ucap om item.
"Hahahaha kocak, gue dukung lho om." Anan menepuk lengan om item yang besar.
"Aduh tajem juga bulu Lo om." Anan mengusap tangannya ke celananya terasa perih juga seperti jarum saat menepuk lengan om item tadi.
"Iya aku gak akan bilang, kalau kalian berjodoh pun aku mah setuju aja, eh baru inget ucapan aku di kabulin pas ngatain Shinta semoga berjodoh sama genderuwo." Dita menutup mulutnya.
"Hehehe iya doain aja berjodoh." sahut om item.
"Udah ah, yuk pulang! udah malem nih, sakit perut aku ketawa mulu kalau disini bayangin dia sama Shinta." ucap Anan merangkul kan tangannya di bahu Dita.
"Ya udah, aku pulang dulu ya om, have fun sama Shinta ya." Dita melambaikan tangannya menuju mobil Anan lalu pergi.
***
"Pak bos tadi hapenya bunyi terus." ucap Tasya saat Anan masuk ke dalam mobil.
Anan meraih ponselnya yang terletak di dashboard mobil.
"Mami, ada apa ya nelpon berkali-kali." ucap Anan lirih.
"Aku telpon mami dulu ya bentar." Anan keluar dari mobilnya dan menghubungi mami Aiko.
Ponsel Dita juga berdering, Tante Dewi menghubunginya.
Dita mendengarkan penjelasan Tante Dewi mengenai kejadiannya hari itu, Tante Dewi juga memberitahukan keberadaannya yang sedang bersembunyi di tempat terpencil di sebuah desa xx demi keamanan Arjuna.
Anan masuk ke dalam mobilnya.
"Tante Dewi menghubungi kamu gak?" tanya Anan.
Dita mengangguk.
"Sekarang Tante Dewi dimana?" tanya Anan yang ponselnya masih menyala. Dita tahu hubungan teleponnya Anan dan maminya belum terputus.
"Matiin telponnya." bisik Dita.
__ADS_1
"Mi, nanti Anan telpon lagi ya." ucap Anan lalu menutup hubungan ponselnya.
"Ada apa sih? emangnya Tante Dewi kemana sampai mami nyariin?" tanya Anan.
"Yanda ada hal yang harus aku ceritakan sama kamu, dan kurasa sekarang lah saatnya." ucap Dita.
"Kenapa sih, kok aku gak ngerti?" tanya Anan.
"Nanti aku ceritakan setibanya kita di rumah." ucap Dita.
***
Sementara itu di kediaman Aiko, ia terlihat gusar dan sangat kesal.
(Dalam bahasa Jepang yang sudah di traslate.)
"Bagaimana bisa kau membiarkan Diki membawa suamiku?" tanya Aiko penuh kemarahan dan gusar.
"Maafkan saya nyonya, pak Diki bilang dia membawa tuan Arjuna atas perintah nyonya, apalagi ada adik nyonya yang membuat saya yakin dan tak curiga." jawab si pelayan dengan perasaan sangat takut.
"Aku tak punya adik! dia itu adik suamiku! hah menyebalkan sekali bagaimana nanti kalau Anan tau semuanya dari Arjuna, aku harus meminta bantuan pada Miyako." ucap Aiko lalu memakai mantel tebalnya menemui Miyako kawan satu sektenya.
Di rumah Miyako.
"Kau ceroboh Aiko!" bentak Miyako saat menceritakan kejadian yang terjadi tadi di rumahnya.
"Aku minta maaf aku benar-benar tak tau jika adik Arjuna akan sampai ke rumahku," ucapnya.
"Bagaimana jika kita kehilangan apa yang ratu inginkan?"
Miyako mengguncang bahu Aiko dengan kesal.
"Aku akan berusaha menyediakan apa yang Baginda ratu inginkan, besok aku akan pulang ke rumah besar untuk memastikan Arjuna tak menceritakan semuanya."
Aiko hendak pergi dari hadapan Miyako namun wanita paruh baya itu menahannya.
"Tunggu sebentar Aiko, ketua sudah berada di ibukota negara suamimu, dia ingin memantaunya secara langsung, kau bisa menemuinya." Ucap Miyako.
"Ketua? sudah sampai disana? bagaimana...? aahhh harusnya dia bersabar dulu, semoga saja ini tidak akan mempengaruhi rencana kita, aku pamit."
Aiko menundukkan kepalanya sebentar lalu pamit keluar rumah Miyako. Ia menggunakan aplikasi pemesanan tiket online di ponselnya. Hati itu dia memutuskan untuk terbang kembali ke rumah besar milik Arjuna.
***
"Aku tahu ini sulit bunda memilih, walaupun sebenarnya aku akan pilih bunda ketimbang anak kita jika berada di posisi kamu, karena rasa cinta aku sama kamu tak akan tergantikan oleh siapapun bahkan anak kita, maaf kalau aku jahat berpikir seperti itu. Namun, jika memang sekarang harus memilih bunda pilih korbankan aku aja."
Pinta Anan dengan raut wajah yang meneduhkan Dita.
"Tapi Yanda..."
"Ketemu bunda itu adalah keajaiban buat aku, dan aku bersyukur banget sampai gentayangan, karena kalau aku mati dengan tenang aku gak mungkin ketemu sama kamu." Anan mencium kedua punggung tangan Dita bergantian.
"Waktu aku tinggal beberapa hari aja kan? cepat atau lambat juga aku akan kembali seperti semula tanpa raga Manan."
"Yanda ...." Dita memeluk Anan dengan eratnya sambil menangis.
"Apa aku bisa bertemu dengan Ratu Kencana Ungu Ta?" tanya Anan.
"Memangnya kamu mau ngomong apa sama dia?"
"Nanti aku omongin langsung, yang penting aku ketemu dulu." ucap Anan
"Aku coba ya."
Dita menggabungkan gelang yang ada di tangan Anan dan dirinya dan berharap bisa masuk ke gua tempat nyai ratu Kencana Ungu.
"Aku tak bisa membiarkan kalian berdua disini jadi siapa yang sebaiknya pergi?" tanya sang ratu.
Anan dan Dita saling berpandangan dna memutuskan untuk berpisah.
"Suamiku lebih membutuhkan mu untuk menanyakan sesuatu." ucap Dita.
Ratu Kencana Ungu meniupkan udara di hadapan Dita, lalu membuat Dita tak sadarkan diri di atas kasur kamarnya.
"Ada gerangan apa kau ingin menemui ku?" tanya sang Ratu.
"Biarkan Dita dan anak-anak ku hidup!"
pinta Anan.
"Lho aku akan membiarkan mereka hidup kok, hanya saja aku menginginkan si bayi perempuan kalian agar tinggal bersama ku, karena jika dia berada di tangan yang salah maka dunia kegelapan akan menghampiri sekitarnya."
Ratu kencana Ungu menjelaskan dengan bermain air telaga.
"Lagipula apa kau siap dengan pengorbanan mu? bahkan sampai kau tak bisa bertemu Dita lagi?" tanya sang Ratu.
__ADS_1
"Saya siap, toh saya akan tetap bisa menemaninya kan meski tidak dalam bwntuj manusia." ucap Anan dengan perasaan yakin.
"Apa kau yakin?"
"Maksud Ratu? bukankah saya hanya menggunakan raga Manan?" tanya Anan masih tak mengerti.
"Ya itu benar, hanya saja saat kau kembali jasad mu akan benar-benar hilang kecuali, kau bisa menghancurkan ibumu sendiri. Kau tak perlu raga kembaran mu lagi karena aku akan mengembalikan tubuhmu."
"Bagaimana jika aku tak melakukannya?" tanya Anan.
"Kau akan menghilang." ucapnya lalu menghilang dan mengembalikan Anan kembali ke dunia nyata, ke tempatnya semula.
Anan yang tersadar langsung mengguncang tubuh Dita untuk menyadarkannya. Dita langsung memeluk Anan.
***
"Den tadi nyonya Aiko telpon cari nyonya Dewi memangnya kemana ya?" tanya Bu Mey pada Anan.
"Saya juga gak tau Bu Tante Dewi kemana." sahut Anan yang duduk di kursi makannya bersama Dita dan Tasya.
"Oh iya den, nyonya Aiko akan datang besok." ucap Bu Mey yang langsung terkejut kala mendengar Anan membanting sendok dan garpunya ke atas meja kaca itu.
"Serius Bu? mama mau kesini besok?" tanya Anan.
"Itu yang saya denger gitu den."
Anan saling berpandangan dengan Dita.
Di teras belakang rumah besar milik Anan.
"Gimana ini Ta? mami pasti nyari papi nih, terus mau ambil aku juga dan membahayakan kamu."
Anan mondar-mandir sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangannya dengan raut wajah kesal.
"Kita bisa bantuan nyai yang dalam lukisan papi." ucap Dita.
"Bagaimana kita bisa minta bantuan sama dia soal papi?"
"Bisa, tapi... dia kan selalu minta darah perawan, terus aku harus mendapatkannya dimana?" tanya Dita dengan raut wajah tak bersemangat.
"Kita gak bisa akalin lama darah apa gitu?"
Dita menggelengkan kepalanya.
"Dia hanya butuh darah perawan, Nan."
"Pakai darah aku aja Ta." Tasya datang dari balik jendela karena sudah dari tadi mendengar pembicaraan Dita dan Anan.
"Maksud kamu Sya?" tanya Dita.
"Iya maaf sebelumnya, tapi tadi aku nyimak pembicaraan kalian, dan aku pikir pakai darah aku aja, toh gak butuh banyak dan bikin mati kan? hehehe." Tasya meringis sambil menggaruk jidatnya dengan jari telunjuk.
"Aku gak bisa lakuin itu Sya, aku gak tega nyakitin kamunya." ucap Dita.
"Bisa, pasti bisa, sediain mangkok aja terus aku keluarin darah aku ya?" tanya Tasya lalu menuju ke dalam mencari mangkuk dan cutter tajam.
"Nih dapet nanti darahnya di taro di dalam mangkuk yang depan lukisan kan?" tanya Tasya.
"Iya Sya." sahut Dita lalu terkejut kala melihat Tasya yang nekat melukai tangannya sendiri dan menaruhnya pada mangkuk.
"Sakit Sya?" tanya Dita.
"Cuma nenek-nenek gila yang bilang gak sakit, saat tau tangan kita ke iris, lagian itung - itung .
"Aduh mending saya donor darah deh dari pada perih gini..." ucap Tasya sambil tertawa.
*****
Bersambung ya...
Mohon maaf jangan komplen sekarang up satu ya, tapi biarpun Vie up satu cuma isi bab ini dengan porsi tulisan yang lebih dari biasanya buat episodenya gak kebanyakan banget maaf ya....
jangan lupa mampir ke
With Ghost
mampir juga ke
- Kakakku Cinta Pertamaku
- 9 lives
- Gue Bukan Player....
Ku tunggu saran, kritik, like dan vote kalian 😘😘😘
__ADS_1