
Dear pembaca tercinta yang selalu setia menunggu Pocong Tampan up... Vie mohon dong, mohon banget... jangan bosen buat VOTE ya... pokoknya vote vote vote...
Di like juga tiap babnya, terus komen, terus kasih vote deh...
Happy Reading...
******
Tasya yang selesai merapihkan sisik ular itu langsung ikut mengikuti kegiatan Anta mengumpulkan mutiara hitam yang berjatuhan tersebut.
"Aku ditinggalkan karena sudah tak lagi kuat dan menghasilkan mutiara seperti ini," ucap Ratu Sanca yang terkejut dengan mutiara yang dia hasilkan.
"Lah ini ternyata kamu masih bisa menghasilkan," sahut Dita.
"Karena kamu mendapat para manusia yang tulus hadapan kamu iniz bukan yang ingin memanfaatkan," sahut Pak Herdi.
Ratu Sanca mengamati Dita, Anta dan Tasya di hadapannya.
"Kau bisa menjualnya untuk menghasilkan uang," ucap Ratu Sanca.
"Tak usah, di kumpulkan saja, nanti kita jual kalau ada yang membutuhkan seperti korban bencana alam atau lainnya," sahut Dita.
"Apa ku bilang."
Pak Herdi merebahkan dirinya duduk di ekor Ratu Sanca.
"Eh maaf pegel soalnya terus empuk buat di dudukin pantas aja Anta suka naik ke sini hehehehe," ucap Pak Herdi sambil meringis saat pandangan tajam Ratu Sanca tertuju padanya.
Dita menceritakan perihal kejadian yang menimpa Anan pada Ratu Sanca sementara Tasya memasak telur dadar untuk Anta yang mengeluh lapar.
"Istri pemilik Restoran ini sebelumnya juga mengalami hal yang sama, tapi sayangnya dia mati karena larva tersebut sampai menggerogoti jantung dan paru-parunya, dan kau tahu itu perbuatan siapa?" tanya Ratu Sanca.
Dita menggeleng bersamaan dengan Pak Herdi yang melakukan hal yang sama.
"Yang melakukannya itu pemilik restoran pizza yang terkenal itu, tuan Worm." ucap Ratu Sanca.
"Astagfirullah... tak kusangka dia sampai sekeji itu untuk mengusir pesaingnya." Dita mengelus dadanya sendiri tak percaya.
"Saya sih sudah menduganya, Ta." sahut Pak Herdi.
"Lalu bagaimana dengan Anan ya? aku takut sakitnya lebih parah," ucap Dita dengan raut wajah sedih.
"Bersihkan sesuatu yang di buat tuan Worm, aku yakin dia berulah kali ini, mungkin dia taburkan tanah atau semacamnya yang berhubungan dengan cacing, dan tadi juga cacing bertanduk itu datang ke sini."
"Apa yang dia lakukan?" tanya Dita.
"Dia mengotori seluruh restoran ini, tapi dia terkejut saat tau aku masih menjaga di sini. Namun, maaf aku kalah karena aku sedang ganti kulit." Ucap Ratu Sanca dengan wajah sedih.
"Sudahlah yang penting kau tak apa, baiklah kita akan membersihkan restoran ini sekarang juga, karena besok pembukaan, kalian bantu aku ya?" pinta Dita.
"Tunggu bentar, cara bersihinnya gimana ya masa iya cuma pakai desinfektan?" tanya Dita.
"Coba aku berkeliling dulu ya," ucap Ratu Sanca.
"Oke, aku mau lihat Tasya dulu sama Anta di dapur," ucap Dita.
"Duh sakit perut, Anta mau ke toilet dulu ya tante," ucap Anta langsung pergi menuju toilet.
__ADS_1
"Hmmm... dasar, belum makan udah mules aja," gumam Tasya.
Ia mengecek nasi yang ia masak menggunakan alat pemasak nasi super cepat berkisar hanya lima belas menit.
"Aaaa...!!!"
Tasya berteriak saat membuka tutup rice cooker tersebut dengan sangat terkejut.
Dita dan Pak Herdi langsung menghampiri Tasya.
"Kenapa Sya?" tanya Dita.
"Itu... di dalam situ ada..." Tanya menunjuk ke arah rice cooker dengan penuh ketakutan.
"Apaan sih, Sya?" tanya Dita penasaran lalu menghampiri pemasak nasi tersebut dan membuka tutupnya.
Dita melihat kepala seorang pria yang tanpa rambut tertawa menyeringai ke arah Dita.
"Astagfirullah... kamu ngapain di dalam situ, emangnya gak panas?" tanya Dita dengan nada datar tak lagi takut dan terkejut karena sudah mulai terbiasa melihat penampakan tersebut.
"Apaan Ta?" tanya Pak Herdi.
"Ada kepala tutup nih di dalam sini, hmmm jelas-jelas mau buat nasi gak enak nih biar besok gak bisa jualan," gumam Dita.
"Kok gak ada?" tanya Pak Herdi yang melongok ke arah dalam pemasak nasi tersebut tapi tak menjumpai kepala botak tadi.
"Eh Anta nemu bola nih," ucap Anta seraya memegang kepala botak tadi yang menggelinding ke arahnya.
"Ih Anta itu kan..." Tasya menunjuk ketakutan.
"Oh ini kepala, kirain bola basket kayak di sekolah hehehe." Anta memantulkan kepala tersebut ke lantai berulang-ulang seperti mendribble sebuah bola basket di tangannya.
"Ampun... ampun..." ucap kepala tersebut.
"Tunggu bentar ada yang minta ampun ya?" ucap Dita.
"Kepala itu Ta, yang minta ampun." ucap Tasya lirih masih ketakutan bersembunyi di balik tubuh Dita.
"Coba sini Anta, bunda pinjem bolanya, eh kepalanya." Pinta Dita.
Anta langsung menyerahkan kepala tersebut pada ibundanya.
"Kenapa kamu bisa masuk ke sana?" tanya Dita menaruh kepala tersebut di atas tungku kompor gas dan menginterogasinya.
"Saya juga gak tau kenapa bisa masuk kesana," ucap Hantu kepala tersebut.
"Jangan bohong..."
Klik.
Dita menyalakan tungku perapian di hadapannya tersebut.
"Awww panas... panas...!!!" pekik hantu tersebut.
Dita mematikan kompor itu lagi.
"Kenapa kalian manusia bisa menyakitiku, bahkan kalian tak takut padaku huhuhu?" tanya hantu kepala tersebut sambil menangis.
__ADS_1
"Bunda, Anta mau dong nyalain kompornya," pinta Anta.
"Nah ini anak manusia macam apa dia yang tak takut padaku, biasanya anak kecil macam ini pasti menjerit, menangis ketakutan melihat ku," ucap hantu itu dengan raut takjub bercampur sedih.
"Anta gak takut kok, B aja ya kan bunda...?" Anta melirik pada Dita.
"Yo Anta B aja, minggir jangan main api, bunda lebih takut kamu kena api dari pada sama hantu itu," Dita menggeser tubuh Anta dan membawanya ke Tasya yang masih ketakutan berlindung di balik tubuh Pak Herdi kali ini.
"Nah sekarang karena kau sudah tau aku dan anakku tak takut padamu, katakan siapa yang menyuruh kamu datang untuk menakuti di sini?"
Tangan Dita sudah bersiap untuk menyalakan tungku mengancam hantu kepala tersebut.
"Huh... kenapa sih aku harus takut pada manusia seperti kalian, kan biasanya kalian yang takut padaku," keluhnya.
"Satu, dua..."
"Oke, aku hanya suruhan tuan Worm, dia ingin aku membuat nasi kalian tak matang, makanan kalian tak enak, dia juga sudah menyebarkan tanah parasit di sekitar restoran mu agar pengawas makanan menutup restoran ini nantinya."
Hantu kepala buntung itu menjelaskan juga siapa dalang penyebab Anan yang punggungnya di penuhi belatung dari kemarin.
"Tuh kan bener, Ta. Si tuan Worm itulah dalangnya." sahut Pak Herdi seraya menjentikkan jarinya.
"Hmmm sepertinya aku harus membatalkan pembukaan restoran ini besok." gumam Dita lalu ia bertanya lagi pada di hantu kepala di hadapannya.
"Kau tahu bagaimana menghilangkan tanah parasit itu?" tanya Dita.
"Mutiara hitam, hancurkan mutiara hitam sampai menjadi bubuk lalu taburi sekeliling restoranmu. Rendam juga dalam air garam kasar untuk membersihkan lantai dan dinding restoran ini," ucapnya.
"Mutiara hitam, pantas saja Ratu Sanca bisa mengeluarkan mutiara itu kembali, mungkin tujuannya agar membantu kita ya pak," Dita menoleh pada Pak Herdi yang tersenyum dan mengangguk.
"Oh iya, bisakah bubuk mutiaranya mengobati luka di tubuh suami ku yang di tumbuhi belatung?" tanya Dita.
"Tentu bisa." Sahut hantu kepala itu dengan yakin.
"Baiklah kalau begitu terima kasih banyak atas infonya," ucap Dita.
Hantu kepala botak itu lalu menghilang begitu saja.
"Baiklah tuan Worm aku akan ladeni tantangannya," gumam Dita.
******
Masih bersambung ya guys...
Jangan lupa main ya ke cerita ku lainnya.
- WITH GHOST (UP)
- Kakakku Cinta Pertamaku
season 1 END
- 9 Lives (END)
- Gue Bukan Player (END)
Vie Love You All 😘😘😘
__ADS_1