
Sebelum membaca klik like yak...
let's vote for me boleh yak...
apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...
Rate bintang lima jangan lupa...
thank u so much... love u all... 😘😍
****
"Ta, i...i...itu apa Ta." Tasya menunjuk agak takut.
"Astagfirullah itu siang-siang kenapa muncul gitu ya?" Dita bergidik ngeri lalu penampakan itu menghilang.
"Aku mau tanya ah kepo." ucap Dita menghampiri tukang cilok di depan sekolah.
"Bang cilok yak sepuluh ribu di bungkus." ucap Dita. Tasya menggandeng Andi menghampiri Dita.
"Bang mau nanya emang disini sering terjadi kecelakaan ya?" tanya Dita mulai ingin tahu dan penasaran.
"Ya cuma lagi apes aja kali neng yang kecelakaan." sahut Abang cilok.
"Tapi kok sering banget pak kayak ada yang sengaja gitu."
"Ya saya mah cuma katanya ya neng, tiap tanggal tiga belas tiga bulan sekali ya ada aja gitu kecelakaan di area sini, apalagi di gang itu tuh sering banget ada yang ngeliat kuntilanak, ini pedes gak neng?" tanya Abang cilok.
"Pedes bang, eh kalian mau cilok gak?" tanya Dita ke Tasya dan Andi yang langsung mengangguk.
"Buat lagi bang sesuai selera mereka." pinta Dita.
Dita memandangi gang sempit tempat menghilang nya hantu kuntilanak tadi sampai...
"Hayo liatin apa?" Anan menepuk bahu Dita.
"Haduh ayang mbeb ku ngagetin aja, ini lagi dag-dig-dug tau gak." sahut Dita.
"Emangnya liatin apa?"
"Tadi ada hantu dari situ dan dia ngejilatin darah bekas kecelakaan barusan." bisik Dita.
"Kecelakaan?"
"Iya nan, tadi anak sekolah itu kecelakaan tapi udah dibawa kerumah sakit, cuma bekas darahnya di jilatin hantu kuntilanak peyot kerutannya banyak banget deh kayak belom di setrika."
"Hahaha kurang perawatan kali hantunya sampai banyak kerutan." ledek Anan.
__ADS_1
"Nah itu dia, katanya gang itu angker selalu minta korban makanya ada kecelakaan tiap tanggal tiga belas tiga bulan sekali."
"Terus mau kamu apain?"
"Gak tau, aku cuma kepo aja sih, cuma kalau sering makan korban aku kan jadi khawatir sama Andi." Dita menoleh ke Andi yang lahap dengan cilok nya.
"Ya semoga gak terjadi apa-apa selama Andi sekolah disini, sekolahnya juga bagus, muridnya juga banyak, nih seragam buat Andi ada lima seragam tiap hari ganti sesuai jadwal, buku dan alat tulis disediakan, kita beli tas baru sama sepatu, kaus kaki aja buat Andi." ucap Anan menenteng bungkusan seragam dari sekolah.
"Ya udah yuk ke toko sepatu sama tas." ajak Dita menuju mobil Anan.
"Neng maaf ini siapa yang bayar?" Abang cilok menegur Dita.
"Eh lupa sampai ciloknya habis belum bayar hehehe maaf ya bang." Dita menyerahkan selembar uang lima puluh ribu lalu menarik Tasya yang masih asik menuang saus dan kecap ke bungkusan ciloknya.
"Kembalinya neng..."
"Gak usah ambil aja bang." sahut Dita masuk ke dalam mobil.
Anan melajukan mobilnya ke sebuah pertokoan untuk membeli sepatu dan tas untuk Andi.
"Aku ke toko baju ya Nan, kamu sama Andi disini, aku mau beliin Tasya baju, habisnya baju aku dipakai mulu." Dita melirik Tasya yang malu memandang Dita karena memakai bajunya sedari kemarin.
"Jangan lama-lama." ucap Anan.
Anan dan Andi sudah selesai berbelanja kebutuhan sekolah besok namun Dita dan Tasya masih belum selesai dengan urusannya.
"Cewek itu ribet ya kak." sahut Andi yang juga asik menikmati es krim cokelat di tangannya.
"Iya ribet, tapi kalau udah sayang kita gak bakal bisa lepas Ndi." ucap Anan.
"Aku mau ketemu mama kak, aku mau cerita besok Andi udah sekolah." pinta Andi.
"Beres, kakak juga mau ke rumah sakit urus kerjaan, Oi sayang cepetan dong!" teriak Anan membuat semua wanita yang berburu diskon di toko pakaian itu memandangnya sambil tersenyum ke Anan bahkan ada yang membalas sapaan Anan. Anan jadi menunduk malu dan risih.
"Cakep tuh cowok tapi sayang udah ada buntutnya yak." ucap salah satu wanita di toko itu pada temennya.
"Jangan-jangan duda say hihihi." sahut wanita satunya.
"Dia kan tadi manggil sayang, ke siapa hayo, yang mana istri nya ya?"
"Saya mbak istrinya." sahut Dita yang sedari tadi menyimak pembicaraan dua wanita di sampingnya itu, ada kebanggaan di ucapan Dita barusan.
Dita dan Tasya saling tertawa saat melewati ke dua wanita tersebut.
"Sayang udahan yuk kita pulang." ucap Dita sengaja dengan nada lebih keras agar terdengar ke dalam toko.
"Mau ke rumah sakit Ta, Andi mau lihat mamanya, aku juga mau cek kantor dulu." ucap Anan.
__ADS_1
"Oh ya udah, ayo kita ke rumah sakit, eh Andi suka sama tas nya keren banget ih ada lampunya di mata robotnya." Dita mengacak - acak rambut Andi dengan gemas.
"Suka kak, pilihan kak Anan emang keren." sahut Andi dengan senangnya.
"Iya dong Anan gitu lho." Anan membusungkan dadanya bangga.
***
"Hai pak bos hai Dita." sapa Shinta saat bertemu Anan dan Dita di lobby rumah sakit.
"Hmmm... pelakor jaman now." gumam Tasya.
"Kalian duluan gih ke ruang Tante Dewi dulu." ucap Dita ke Tasya.
Tasya membawa Andi ke ruangan Tante Dewi.
"Kak pelakor itu apa sih?" tanya Andi ingin tahu.
"Oh sejenis telur dadar di ceplok pakai kecap sama kasih cabe hehehe." jawab Tasya asal.
"Oh pedes ya kak? ah gak enak kayak nya ya?"
"Emang Ndi pedes dan gak enak." Tasya menoleh pada Shinta dengan wajah kesal.
"Gak usa basa basi kamu mau apa?" tanya Dita ke Shinta.
"Mau kasih hadiah pernikahan, selamat ya ini hadiahnya." Shinta menyerahkan paperbag batik ke tangan Dita.
"Kamu kan gak di undang ko repot-repot kasih hadiah sih?" tanya Dita mengintip isi hadiahnya.
"Gak apa-apa kok, aku yakin Doni belum kasih kado jadi anggap aja itu perwakilan kado dari Doni." jawab Shinta dengan senyumnya yang penuh kelicikan.
"Tapi kan..."
"Udah Ta, bilang makasih sama Shinta." sahut Anan segera.
"Hmmm oke deh makasih ya Shinta." ucap Dita akhirnya.
"Sama-sama dah semua..." Shinta berlalu meninggalkan Anan dan Dita segera. sempat menoleh ke arah Anan dan Dita dengan senyum liciknya penuh kepuasan karena hadiah pemberiannya berhasil diterima.
***
To be continued....
Happy Reading...
Selamat menjalankan ibadah puasa...😘😘😘
__ADS_1