
Sebelum membaca klik like yak...
let's vote for me boleh yak...
apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...
Rate bintang lima jangan lupa...
thank u so much... love u all... 😘😍😊
***
"Opor ayam sudah siap, tinggal on the way deh ke Pak Herdi." gumam Dita sambil menyiapkan bekal untuk Tante Dewi dan Anan.
"Hmmmm jadi sebenarnya perasaan kamu gimana sih Ta, katanya sayangnya sama Anan tapi suka juga sama Pak Herdi." sahut Anita yang duduk di meja makan.
"Aku sayang dua duanya wleeekk..."
Dita menjulurkan lidahnya ke Anita.
"Enggak boleh gitu Ta harus pilih salah satu."
"Aku memang sayang dua-duanya kok emang gak boleh? tapi kalau pilih salah satu ya aku pilih Anan, aku cuma sayang sama Pak Herdi seperti kakakku sendiri gitu lho."
"Tapi kalau Pak Herdi suka sama kamu gimana?"
"Ya biar lah itu hak dia suka sama aku, dan artinya aku cantik eeeyyaaaa."
"Dih pede lebay abies cih."
"Udah ah berisik yuk temenin ke rumah sakit."
"Mau ngapain aku disana?"
"Godain Doni." Dita menoleh ke Anita dengan senyum tipisnya.
"Oh iya yak hahahaha." sahut Anita senang.
***
Di parkiran rumah sakit Dita menuju pohon besar tempat om item bersemayam. "Om ini aku bawa opor ayam buat om."
"Hahahahha... terima kasih anak cantik." tawa genderuwo itu menggelegar dari atas pohon besar itu.
"Udah Ta?" tanya Anita.
"Udah, yuk masuk!" Dita dan Anita menuju ruang Tante Dewi.
__ADS_1
"Hai kak, bawa apa tu wangi banget?" sapa Doni dari meja resepsionis rumah sakit.
"Bawa opor ayam buat Anan dan Tante Dewi." sahut Dita.
"Hai Doni!" sapa Anita.
Doni masih tersenyum agak takut dengan Anita. "Hai kak."
"Mereka ada diruangan gak Don?" tanya Dita.
"Lagi pada meeting kak di lantai lima."
"Oh yudah aku taruh ini di dalam sana ya, awas kalau kamu cicipi!" ancam Dita.
"Yah aku gak kebagian ya kak?"
"Enggak!" Dita masuk ke dalam ruangan Tante Dewi. Doni menatap Dita sedih. "Yang sabar ya Don." Anita menepuk bahu Doni namun tiba-tiba Doni menghindarinya agak takut.
Keluar dari ruangan Tante Dewi Dita membuat tiga susun lunch box ditangannya. "Becanda Don, ini buat kamu." Dita menyerahkan satu lunch box untuk Doni."
"Wah makasih ya kak, emang paling terbaik Kakak Dita ini, cantik, jago masak, baik hati dan tidak sombong, pantas saja bos Manan bisa jatuh cinta sama kakak." puji Doni.
"Ah bisa aja kamu, aku keatas dulu yak." senyum Dita berlalu menuju lift ke lantai atas tempat pak Herdi di rawat.
"Kalau aku Don?" tanya Anita mengedip-ngedipkan kedua matanya di hadapan Doni.
"Ah Doni bisa aja." Anita mendorong bahu Doni pelan, rambut halus ditangan Doni meremang, merinding seketika.
***
"Pagi pak Herdi." ucap Dita saat masuk ke dalam kamar perawatan pak Herdi, Dita langsung berbalik badan tak mau menoleh ke Pak Herdi.
"Pagi Dita, bentar Ta bisa bantuin aku gak?"
ucap pak Herdi yang bertelanjang dada hanya memakai celana piyama seragam pasien sedang duduk di atas ranjangnya kesulitan memakai atasan piyamanya karena infus di tangan kanannya.
"Aduh, cobaan berat ini mah pak." gumam Dita lirih, lalu menaruh kotak bekal untuk pak Herdi diatas meja kabinet, dan membantu pak Herdi memakai piyamanya.
"Maaf ya Ta."
"Iya pak enggak apa-apa."
wangi banget sih badan pak Herdi duh tahan Ta, tahan Ta, jangan liat roti sobeknya.
Dita berusaha menahan kedua matanya agar tak melirik ke badan pak Herdi sambil memasangkan kancing - kancing piyama Pak Herdi.
"Oke selesai, makasih banyak ya Ta." ucap pak Herdi menepuk pelan kepala Dita.
__ADS_1
"Iya pak sama-sama, oh iya aku bawa opor ayam buat bapak." Dita mengambil kotak makannya dan membukanya di hadapan Pak Herdi.
"Wangi banget ini pasti enak." Pak Herdi segera menyantap habis masakan buatan Dita.
"Laper apa doyan pak?" ucap Dita tertawa kecil pada Pak Herdi.
"Doyan Ta, ini enak banget soalnya."
"Aku jadi terharu nih."
"Enak yak kalau kamu jadi istri saya, bisa tiap hari nih aku makan masakan mu, hehehee."
Pak Herdi tersenyum manis ke arah Dita.
"Ah bapak bisa aja." sahut Dita.
"Dah selesai, kenyangnya."
Dita membantu pak Herdi meletakkan Lunchbox nya di atas meja kabinet samping ranjang pak Herdi.
"Saya serius Ta." ucap pak Herdi menyentuh lengan Dita dan menggenggam nya.
"Serius gimana pak?" tanya Dita heran.
"Saya serius mau kamu jadi istri saya, saya akan mengurus pengurangan masa tahanan saya, lagi pula saya bisa membayar beberapa pejabat tahanan agar mengeluarkan saya dari penjara untuk berlibur dan menemui kamu."
"Wah bapak licik juga, itu namanya menyuap pak."
"Habis nanti saya bakal rindu berat sama kamu."
"Hahahaha kaya judul lagu pak." senyum Dita.
"Ta, gimana?" tanya pak Herdi dengan wajah seriusnya.
"Gimana apanya pak?"
"Hmmm harus ya diulang, baiklah, Anandita Mikhaela maukah kamu menjadi istriku?" tanya pak Herdi dengan nada lebih serius menggenggam kedua tangan Dita.
Hening seketika hanya detak jam dinding yang berbunyi di ruangan itu dengan suara stabil. Berbeda dengan detak jantung Dita dan pak Herdi yang berdetak lebih cepat dan kencang.
***
To be continue...
Happy Reading...😘😘
Terima kasih untuk pembaca setia Anan dan Dita, dan Vie mohon terus dukung novel ini yak...
__ADS_1
I love you all...😘😘😘