
Happy Reading...
******
Kembali ke Gunung Hijau tempat perkemahan rombongan sekolah Anta, mereka sedang mengadakan acara permainan kekompakan antara orang tua dan anak.
"Anta gak mau ah sama Tante Tasya," protes Anta.
"Kenapa, sih?" tanya Tasya.
"Kan judulnya kekompakan antara orang tua dan anak, sedangkan Tante Tasya bukan orang tua Anta," ucap Anta merajuk seraya bersedekap.
"Astaga, Anta. Bunda sama Yanda kamu kan lagi di kota jagain Tante Dewi yang lagi sakit, lagian Bunda kamu juga lagi hamil, perjanjiannya kan Tante Tasya yang gantiin orang tua kamu," ucap Tasya berusaha menenangkan Anta.
"Ya, tapi Anta gak mau, muka Tante Tasya beda sama Bunda, cakepan Bunda, gak mirip sama Anta," sahut Anta.
"Hadeh... Kalau bukan anaknya Dita udah aku unyeng-unyeng nih dari tadi, nyebelin banget nih bocah, tapi terlanjur sayang, gimana dong?"
Tasya mencubit kedua pipi Anta yang meringis kesakitan.
"Ayo, Anta kita mulai permainan melukis wajah orang tua, yuk!" ajak Logan.
"Oh tau lombanya main salon-salonan begitu mah dari tadi juga Anta mau coret-coret muka Tante Tasya, hehehe."
Anta langsung mengikuti Logan.
"Hadeh... jangan di coret-coret juga tapi melukisnya di hayati," sahut Tasya.
Perlombaan pun di mulai, Anta dengan semangatnya melukis wajah Tasya dengan hiasan wajah harimau. Berkali-kali Anta sengaja menusuk hidung Tasya sementara kedua mata Tasya di tutup dengan kain. Namun, Pak Herdi yang tak tega dengan penderitaan Tasya, pelan-pelan ia ikut membantu mengarahkan tangan Anta agar berhasil melukis wajah harimau dengan baik di wajah Tasya.
Bukan hanya lomba melukis wajah saja, di perlombaan yang lain juga, Pak Herdi terus membantu Anta memenangkan lomba. Hanya perlombaan makan bakpau yang Anta berhasil menang karena usaha sendiri.
"Perutnya besar ya, apa aja masuk di perut Anta," celetuk Logan yang tertawa di samping Tasya.
"Ho oh sama banget sama mamanya, apa aja di makan di lahap hahahaha," sahut Tasya.
Setelah perlombaan para peserta diberi tugas untuk mengumpulkan tiga jenis tanaman berbeda di sekitar perkemahan mereka.
Ketika menyusuri jalan setapak yang mengarah menuju air terjun, Anta dan Tasya dikejutkan oleh sosok perempuan paruh baya yang tersenyum ke arahnya.
"Hai, nenek!" sapa Anta.
"Jangan sok akrab deh, Nta. Nanti kalau kakinya gak napak gimana?" tanya Tasya.
"Ya suruh napak, hehehe..." sahut Anta asal.
"Mau kemana, Cu, boleh nenek minta tolong?" tanya sang nenek.
"Mau cari tanaman yang lucu-lucu nek," sahut Tasya dengan nada ketakutan berusaha mendekati Pak Herdi berlindung di sampingnya.
"Dia manusia, Sya. Buktinya gak bisa lihat saya," ucap Pak Herdi.
"Yang bener?" tanya Tasya dengan nada berbisik.
"Betul..., nih kalau gak percaya," ucap Pak Herdi meyakinkan Tasya lalu melompat ke arah Nenek yang menggunakan pakaian daster warna putih dan rambutnya keriting di sanggul.
Pak Herdi melompat mengelilingi sang nenek sambil menepuk-nepukkan tangannya di hadapan wajah nenek tersebut.
__ADS_1
"Pak Herdi ngapain sih, Tante?" tanya Anta.
"Tau, tuh. Kata dia mau buktiin kalau nenek itu gak bisa lihat dia, dan nenek itu ternyata manusia," ucap Tasya.
"Oh begitu," sahut Anta.
Tiba-tiba terdengar suara anak kecil tertawa dari dalam rumah nenek tersebut. Perlahan suara tawa anak kecil itu makin mendekat dan ke luar ke arah sang nenek menunjukkan parasnya yang berantakan.
Bola mata sebelah kirinya menggantung hampir copot. Di bagian hidungnya hanya tinggal tengkorak tanpa daging. Ia berjalan terseok-seok karena kakinya patah.
"Kalau yang ini, pasti hantu," ucap Tasya lirih.
Pak Herdi langsung menjawab dengan anggukan kepala, sementara Anta bertepuk tangan kegirangan sambil menyapa hantu anak perempuan berkepang dua itu.
"Boleh aku minta tolong?" tanya nenek itu sekali lagi membuyarkan pandangan Tasya yang sedang mengamati hantu anak perempuan tadi.
"Mau minta tolong apa, Nek?" tanya Tasya.
"Silahkan masuk, aku butuh bantuan untuk membetulkan lampu tidur di kamarku," pintanya.
Tasya memandang Anta yang sedang sibuk mengikuti hantu anak perempuan tadi.
"Anta, Tante Tasya ke dalam dulu, ya. Kamu jangan jauh-jauh!" seru Tasya.
"Iya..." Anta menjawab seraya mengejar hantu anak perempuan tadi.
Pak Herdi yang bingung mau mengikuti Anta atau Tasya, akhirnya memilih mengikuti Anta untuk menjaganya.
Tasya masuk ke dalam rumah nenek itu.
"Perkenalkan namaku Nenek Eleanor," ucapnya memperkenalkan diri.
"Apa tadi itu anakmu?" tanya Nenek itu.
"Bukan, dia keponakanku."
Tasya lalu mengamati sebuah kuali besar di atas tungku kayu yang terletak di dapur yang lantainya masih terbuat dari tanah.
"Wow, besar sekali tungku itu, apa kau masih memasak dengan itu, Nek?" tanya Tasya.
"Ya, benar."
"Nenek, tinggal sendiri di sini?" tanya Tasya.
"Aku tinggal bersama suamiku, dia sedang mencari mangsa di Hutan Hijau sana dekat perkemahan," jawabnya.
"Dekat perkemahan? memangnya ada buruan seperti hewan yang bisa di buru?" tanya Tasya.
"Tentu saja ada, aku saja sekarang sedang berusaha untuk berburu," ucap si nenek tua itu.
"Ummm... maksud nenek?"
"Dari mana asalmu?" tanya sang nenek.
"Dari Kota Flower, Nek."
"Kau membawa banyak anak kecil ke sini?"
__ADS_1
"Iya, tentu saja, aku kan sedang mengikuti perkemahan dari sekolah anak tadi dalam rangka pengenalan orang tua dan murid terhadap alam,"
jawab Tasya.
"Oh seperti itu, baiklah tunggu di sini ya, aku akan ambilkan kau minuman. Oh iya itu lampu kamarnya, mataku kurang awas untuk memasang lampu tersebut." Nenek itu menunjuk ke arah lampu kamarnya lalu meninggalkan Tasya pergi menuju dapur untuk mengambil air minum.
Tasya mengamati potongan kertas koran yang ditempel di dinding kamar Nenek Eleanor. Ia membaca isi berita yang terpampang di sana. Di kertas koran di hadapannya tertulis,
"Rombongan sekolah dasar kehilangan dua muridnya saat mengadakan perkemahan di Gunung Hijau"
Di kertas satunya lagi tertulis,
"Tiga anak menghilang di Gunung Hijau saat mengikuti perkemahan pengenalan alam dari sekolahnya"
"Semua anak menghilang, semua berita di sini bertuliskan kehilangan anak," gumam Tasya.
Lalu pandangannya terhenti pada foto anak perempuan berkepang dua yang sedang bermain bersama Anta tadi.
"Ini kan, hantu anak tadi..." gumam Tasya.
Tangan Tasya berpindah menunjuk ke arah anak laki-laki bertubuh gempal yang menggemaskan dengan rambut keriting. Tiba-tiba anak yang ada di foto itu sudah hadir di samping Tasya menarik ujung kausnya.
"Astagfirullah... ka-kamu mau apa?" tanya Tasya yang terkejut melihat penampakan hantu anak kecil tersebut.
Perut anak itu berongga, semua organ ususnya tak ada lagi terlihat. Tasya hanya melihat tulang punggung dan rusuk yang tampak di sana. Mata hantu anak kecil itu berwarna merah. Ia menunjuk ke arah pintu kamar lalu berteriak, "PERGI...!"
Sontak saja Tasya langsung ketakutan dan membalikkan tubuhnya berniat keluar dari kamar Nenek Eleanor. Akan tetapi sang Nenek langsung memukul wajah Tasya. Gadis itu jatuh ke lantai tak sadarkan diri.
*******
Bersambung...
Mohon maaf Vie mau tanya nih... bolehkah aku melanjutkan kisah Pocong Tampan season 2 ini?
Jika boleh, biarkan alurnya kupanjangkan dan ditambahkan ya dengan konflik-konflik bikin greget hehehe...
Kalau gak boleh... Cuss mau aku tamatkan saja, nih tapi mengandung eh salah menggantung maksudnya. Hehehe...
Yuk, Komentarnya nanti Vie baca satu-satu buat tau jawaban kalian, jangan lupa Votenya buat pemenang pulsa awal bulan besok.
1 pemenang tiap minggu yang aku kumpulkan jadi satu di awal bulan, jadi ada 4 pemenang seperti biasa dengan hadiah pulsa @25rb.
Follow IG aku ya @vie_junaeni
(Sekalian promo 😁)
Mampir juga ke :
- 9 Lives (Jilid II)
- Diculik Cinta (On Going)
- With Ghost (END)
- Gue Bukan Player (END)
- Kakakku Cinta Pertamaku (END - Musim Kedua hiatus 😁)
__ADS_1
Vie Love You All... 😘😘😘