
Jangan lupa klik Like and Vote ya 😊😉
***
Sore itu Dita diperbolehkan pulang dan karena ia sudah memutuskan untuk menerima tawaran dokter Dewi akhirnya Dita pindah ke apartemen dokter Dewi.
"Ckckckkc ini apartemen mewah banget, Dok, pasti dokter tajir banget nih"
Dita masih berdecak kagum saat masuk ke dalam parkiran bawah tanah apartemen itu.
"Ah biasa aja kok, Ta, sama kaya yang punya apartemen di sini."
"Iya semua yang di sini tajir, Dok."
"Hahahaha biasa aja dong, panggil saya Tante."
"Eh iya, Tante."
Dita melihat sosok perempuan yang sedang menangis dengan gaun seksinya berwarna merah.
"Mulus banget tuh paha," gumam Dita.
"Paha apa, Ta?" tanya dokter Dewi heran mencari sesuatu yang dilihat Dita diparkiran.
Sosok perempuan itu menoleh ke arah Dita, dari mata perempuan itu mengeluarkan tetesan air mata darah, lehernya seperti patah berbunyi krek saat dia memiringkan ke kanan dan kiri, kakinya yang mulus berubah menyeramkan dengan urat hijau yang terlihat di kaki jenjang nya. Perempuan itu tersenyum menyeringai pada Dita.
"Ayo, Tante buruan."
"Kamu pasti lihat sesuatu deh."
"Buruan Tante masuk lift."
Hantu perempuan itu mengejar Dita masuk ke lift namun Anan menghalanginya.
"Ah selamat... tapi entar ada yang lain lagi nongol di sini."
"Kenapa sih, Ta, biasa aja dong Tante jadi takut nih deket kamu kalo kamu kayak gini."
"Maaf Tante, kebiasaan."
"Iya kebiasaan kamu itu lama-lama nanti dikira gila tau nggak."
Dita tersenyum meringis ke arah Tante Dewi.
Akhirnya mereka sampai dilantai dua puluh nomer 205 apartemen Tante Dewi.
"Masya Allah cakep banget ini Tante view nya... itu tuh aku boleh berenang di situ Tante?" Dita menunjuk kolam renang dibawah yang terlihat dari jendela ruang tamu Tante Dewi.
"Suka, Ta?" tanya Tante Dewi merebahkan tubuhnya di sofa.
"Suka banget Tante, eh iya Tante cuma sendirian disini?"
"Tadinya sama suami, eh dia selingkuh terus Tante cerai deh."
"Eh maaf Tante Dita nggak ada maksud buat emmm..."
"Its okay, Ta, aku mandi dulu ya, kamar kamu yang di situ, cuma ada dua kamar di sini, yang di belakang sofa ini kamar aku."
"Siap Tante makasih banyak ya, Tante udah mau nampung anak yatim piatu kaya Dita."
"Kamu nggak boleh ngomong kaya gitu ah."
Tante Dewi lalu masuk ke kamarnya karena di kamarnya juga terdapat kamar mandi shower dan toilet duduk dalam kotak kaca.
"Makasih banget yaa Allah aku masih diberi kemudahan seperti ini."
Dita masih memandangi langit-langit indah penuh bintang dari jendela apartemen Tante Dewi.
__ADS_1
"Ta.. sini deh," bisik Anan menarik Dita.
"Apaan sih?"
"Udah ikut aja, nih kenalin Jennifer."
"Aaaaaaa ini kan hantu yang tadi, Nan," pekik Dita.
Dita bersembunyi di balik tubuh Anan meski perempuan itu sudah berubah cantik tetap saja kalau penampakannya seperti tadi Dita takut juga.
"Ta,kenalan dong."
"Enggam mau, aku takut..!"
"Hai, aku Jennifer, aku temennya Anan,"
ucap hantu perempuan itu mengulurkan tangan kanannya.
"Temen Anan?" tanya Dita penuh keingintahuan.
"Iya Ta, dia bilang dia kenal aku, nah siapa tau dia tau kejadian di club house tentang aku."
Ucap Anan mencoba melepaskan pelukan Dita dibelakang tubuhnya.
Dita menoleh perlahan ke arah perempuan blasteran bule itu. Kini Dita memberanikan diri memperhatikan hantu itu dari atas ke bawah.
"Hai, aku Dita." Dita akhirnya memberanikan diri menjabat tangan Jennifer.
"Panggil aku Jen aja." ucap nya.
"Oke, Jen aja sejak kapan kamu kenal Anan?"
"Jen Ta, Jen... cukup Jen... bukan Jen aja," sahut Anan.
"Iya iya Jen, sejak kapan kenal Anan?"
Jen melingkarkan tangannya di lengan Anan.
"Maaf tolong ya gak usah pake pegang."
Dita menarik Anan mendekat ke arahnya.
"Upss sorry apa kalian nge-date?"
Anan dan Dita saling menoleh dan berpandangan.
"Coba Ta, jawab!" ucap Anan.
"Enggak penting kita nge-date apa enggak, yang jelas jangan pegang Anan!"
"Hahahaha that's funny, kamu sama hantu ngedate hahahaha."
Jen masih tertawa sambil menempelkan bokongnya di sofa.
"Nan, bisa gak liatnya gak ke arah bawahnya? apa perlu aku pake rok semini itu?"
Dita menarik kerah kafan Anan.
"Emang berani pake rok mini gitu, coba aku mau lihat."
"Huuu modus."
"Sooo... Aku seneng banget akhirnya ada yang bisa liat aku disini."
"Kamu kenapa bisa jadi hantu disini?"
tanya Dita duduk disamping hantu Jen sambil menutup paha Jen dengan bantal sofa.
__ADS_1
"Aku...? Aku jatuh dari lantai tiga puluh paling atas, keren ya hehehe?"
"Gila, bunuh diri dibilang keren." sungut Dita.
"Aku live IG lho pas lompat buat nunjukin sama si Shane kalo aku nggak bisa hidup tanpa dia dan berani mati demi dia."
"Otak nya gesrek nih cewe pas jatoh apa sebelum jatoh udah gesrek ya hmmm...."
"Tapi kamu cek deh IG aku yang view pas aku live banyak lho terus viral gitu."
"Iya kamu terkenal tapi udah mati tau nggak, mana bisa kamu dapetin hati Shane aishhh."
Dita menepuk jidatnya.
"Iya sih Shane masih jadi playboy nggak ngerasa kehilangan aku."
Jen menangis menutup wajahnya dengan bantal.
"Hmmmm cewe bego kayak gini nih."
"Eh jaga ya omongannya aku tuh nggak bego tapi.."
"Tapi apa? Bucin akut parah gitu?"
"Hahaha cewek kalo pada ngobrol seru ya," sahut Anan.
"Ta... kamu ngobrol sama siapa? sama Anan yak?"
Tante Dewi keluar dari kamarnya.
"Iya Tante," sahut Dita dan hantu Jen menghilang.
"Laper gak, Ta, mau pesen makan apa?"
"Emang nggak ada bahan yang bisa dimasak Tante?"
"Ada nasi nih, coba cek kulkas."
Dita melangkah menuju kulkas
"Ini sih banyak banget Tante ada sayur, telor, daging, ayam potong kenapa nggak masak sih Tante?"
"Pas beli sih pengen masak, udah sampai rumah terus capek males masak hehehe.."
"Tante istirahat gih biar aku yang masak, tiga puluh menit dari sekarang." Dita menuju meja dapur Tante Maya.
"Oke deh, aku nonton tv yak." ucap Tante.
"Mau nasi goreng,Ta," ucap Anan.
"Emang aku mau buat itu, eh perasaan ada yang kurang deh, Nan."
"Maksudnya?"
"Kok kuping aku agak sepi ya biasanya rame ada yang berantem."
Anan dan Dita saling menoleh dan tersadar mengucapkan kata itu bersamaan.
"Andri...!!"
***
To be continued...
Happy Reading...
semoga suka... 😘😘😘
__ADS_1