
Sebelum membaca klik like yak...
let's vote for me boleh yak...
apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...
Rate bintang lima jangan lupa...
thank u so much... love u all... 😘😍😊
***
"Halo neng cantik..." Sapa Pak Untung pada Shinta yang sedang joging di area villa.
"Hai Pak, oh iya aku mau tanya deh pak apa benar di area sini horor ya pak?"
"Ah neng bisa aja sih, emang ada kejadian apa?"
"Itu semalam si Dita sama pak Anan lihat makhluk pemakan bayi manusia di hutan terus ada kuntilanak juga."
"Hahahaha lucu si neng, makhluk pemakan bayi hahaha kalau kuntilanak ya namanya di sebrang sana hutan yak mungkin bisa aja ada namanya di dunia ini kita berdampingan sama makhluk dunia lain, tapi neng gak digangguin kan?"
"Enggak si pak, saya cuma denger aja dari temen saya semalam."
"Ya sudah yang penting tidak menggangu ya abaikan saja yak." Pak Untung lalu pergi meninggalkan Shinta yang melanjutkan lari paginya lagi.
***
"Semua udah siap kan?" tanya Tante Dewi pada Johan dan Joni.
"Siap beres Bu bos." sahut Johan.
"Itu si Joni kenapa kaya orang takut gitu sih keder dia bolak balik aja?" tanya Tante Dewi.
"Tau tuh semalem ngigo dia Bu katanya di peluk sama kuntilanak." jawab Johan.
"Jangan-jangan kuntilanak semalam lagi."
"Ah masa sih Bu beneran ada kuntilanak?"
"Ada Jo hiyy tanya deh Dita tuh orangnya dateng."
"Ada apaan sih bawa-bawa nama Dita?" sahut Dita menggamblok tas ranselnya.
"Semalam kan ada kuntilanak ya Ta, tuh katanya gangguin Joni."
"Iya kah? diapain si Joni?" tanya Dita.
"Tau tuh, saya ke mobil dulu ya Bu, sini Ta tasnya saya bawain."
"Oh iya makasih ya Bang Jo." Dita menyerahkan tas ranselnya pada Johan.
"Parah si Joni semalem ngigo tuh di gerayangin si mbak Kunti pas aku lihat lagi di jilatin sama mbak Kunti hiyyy." sahut Anan dari dalam villa.
"Hah di jilatin wkwkwkwkw." sahut Dita bersamaan tersenyum bersama Tante Dewi.
"Ya udah yuk kita ke mobil." ajak Tante Dewi.
"Nan kok dia ngintip sih di balik pohon." Dita berbisik ke Anan.
"Siapa Ta?"
"Makhluk yang semalam, yah dia cilukba tuh."
"Wah lucu juga Ta dasar bocah dia ngajakin main tuh."
"Somplak... kaya gitu di bilang lucu makanannya aja bayi manusia coba tuh."
"Ya kali di ganti sama kambing guling doyan hehe."
"Itu mah kamu yang doyan huuuu, Anita mana sih sama Andri?"
"Jangan-jangan si Anita mojok lagi sama Andri." Celetuk Anan.
"Sembarangan...!" Andri menoyor kepala belakang Anan tiba-tiba.
__ADS_1
"Sompret...!"
"Makanya ngomong tuh di jaga gak semua cewek gue embat." sahut Andri.
"Sembarangan... segitu jeleknya apa aku gak mau kamu embat?" Anita datang ke hadapan Andri.
"Eh Anita... emangnya kamu mau aku embat...?" goda Andri.
"Huuuuu modus dasar tempe angus." ucap Anita yang mendapat tepukan toz dari Anan.
"Gue suka gaya elo Ta." sahut Anan sambil tertawa.
"Lah itu ngapain tu bocil cilukba dari balik pohon?" Anita menunjuk makhluk kecil yang di bilang Dita tadi.
"Iya kan dia masih ngajak cilukba, masa kata Anan dia lucu Nit ih aneh yak." ucap Dita.
"Lucu sih Ta tapi serem kalau lagi makan."
"Yah ini lagu bilang lucu." Dita menepuk jidatnya.
"Jangan-jangan dia mau ikut Ta?" sahut Andri.
"Idih ikut kamu aja, aku mah ogah jagain kaya gitu hiyy." Dita bergegas pergi dari situ menuju mobil Anan.
"Baiklah saya hanya bisa mengantar sampai sini ya, kalian hati-hati dijalan." ucap Pak Untung menjabat tangan semuanya. Sang sekretarisnya memberi kotak bekal yang berisi makanan untuk mereka ber enam di jalan ke tangan masing-masing.
"Makasih ya Pak, bulan depan kami kembali lagi dengan para karyawan mohon kerja samanya ya pak." ucap Tante Dewi pamit pada Pak Untung dan sekertaris nya.
***
"Ta jangan dimakan!" sahut Anita di dalam mobil.
"Kenapa?" bisik Dita.
"Ada racunnya tadi aku lihat sendiri apa yang sekertaris itu lakuin."
"Semua kotak ini ada racunnya?"
"Enggak, cuma buat kamu aja."
"Iya Ta, cuma buat kamu aja." sahut Andri.
"Kenapa mereka mau ngeracunin aku?" Dita masih berbisik duduk di paling belakang mobil Anan bersama Anan.
"Mungkin mereka takut kamu tahu sesuatu." ucap Anan.
"Jo nanti cari rest area yak!" perintah Anan pada Johan yang menjadi supir menuju pulang kali ini.
"Oke bos."
***
Di Vila Pak Untung.
"Yan kamu udah lakuin apa yang saya perintahkan?" tanya Pak Untung pada sekertaris nya.
"Sudah bos beres bentar lagi cewek itu gak bisa bicara apa-apa soal vila kita."
"Gak nyangka yak dia bisa lihat penampakan anak-anak saya itu."
"Mungkin dia berbeda bos." sahut sang sekretaris.
"Lalu bagaimana dengan makanan selanjutnya malam Jumat nanti?"
"Oh tenang bos, si Kardi udah dapat bayi berikutnya dari suster puskesmas, tapi kali ini biayanya naik, minta lima juta dia."
"Berikan saja, daripada mereka enggak makan bisa rugi aku nanti."
"Siap Bos."
"Yan, sebelum pulang, ehm kamu tau kan, ayok." Pak Untung tersenyum genit mencolek dada sekretaris nya itu.
Sekertaris itu tersenyum manja menuruti Pak Untung masuk ke dalam kamar yang semalam mereka tiduri.
***
__ADS_1
Johan menghentikan mobil Anan di rest area terdekat.
"Kenapa sih Nan?" tanya Tante Dewi.
Anan membisikkan sesuatu ke telinga tantenya.
"APA??" iyakah Ta?"
Dita mengangguk lalu membawa kotak bekalnya itu dan membuang isinya ke dalam toilet di rest area.
"Jon kamu gak papa kan?" tanya Dita pada Joni yang masih gelisah di depan toilet rest area itu.
"Eng-enggak Ta saya gak papa."
"Tenang aja Jon, dia gak ngikutin kamu kok." ucap Dita menenangkan Joni.
"Beneran Ta?"
"Iya udah tenang aja, yuk ke mobil." ajak Dita .
Di depan minimarket Shinta sudah bergelayut manja di lengan Anan, tak mau lepas dari Anan bahkan saat dia melihat Dita, Shinta makin sengaja menempel pada Anan.
"Mau aku bantu jambak gak Ta? gemes banget aku liat cewek centil kaya gitu." ucap Anita kesal di samping Dita.
"Biarin aja Nit, aku mau tau sampe mana dia berani ambil Anan dari aku."
"Gue demen nih." sahut Andri.
"Udah kamu buang Ta?" tanya Anan sambil berusaha melepas tangan Shinta.
"Udah." sahut Dita datar.
"Upssss sorry Ta gue gak sengaja." Shinta pura-pura tersandung lalu menyiramkan air soda di genggamannya pada baju Dita.
"Wah ngajak ribut nih cewek." Anita yang kesal mendorong Shinta kali ini sampai menginjak seekor kucing yang lewat dan tercakar oleh kucing itu pada bagian kakinya.
"Aduh... kucing sialan, perasaan kok gue ada yang dorong yak?" gumam Shinta.
"Aku bantu bersihin ya Ta, bentar kayanya Tante Dewi ada tisu basah deh." Anan menarik Dita menuju mobil dan mengambil tisu basah dari tas Tante Dewi.
"Buat apa Nan?" tanya Tante Dewi.
"Dita baju nya ketumpahan fanta, aku mau bersihin Tante."
"Ohh... " Tante Dewi memandang noda di kemeja biru dengan motif bergaris milik Dita.
"Sini tisunya Nan." Dita meraih tisu basah di tangan Anan.
"Aku aja yang bersihin yak."
"Gak usah aku aja Nan."
"Kenapa sih Ta, aku kan peduli sama kamu udah aku aja yang bersihin."
"Peduli sih peduli, tapi yang kamu bersihin itu bagian dada aku TAU...!!!"
Dita meneriaki Anan dan menepis tangan Anan dari area sensitif nya.
"Maaf Ta kelepasan hehehe." ucap Anan tanpa berdosa membuat Tante Dewi dan Johan terbahak-bahak memperhatikan sedari tadi.
"Alasan aja elu Tong emang dasar modus Luh." Andri menoyor kepala Anan.
"Tempe angus sialan, sini Lo jangan lari." Anan mengejar Andri.
"Itu si pak bos kejar siapa Bu?" tanya Johan.
"Ah udah cuekin aja udah biasa dia kaya gitu hehehe."
"Baek Baek Bu entar dikira stress si Pak Bos."
😁😁😁
***
To be continued...
__ADS_1
Happy Reading 😘😘