
Dear pembaca tercinta yang selalu setia menunggu Pocong Tampan up... Vie mohon dong, mohon banget... jangan bosen buat VOTE ya... pokoknya vote vote vote...
Di like juga tiap babnya, terus komen, terus kasih vote deh...
Happy Reading...
******
"Kalian tuh ya, masa Yerri di tinggalin sih!" Ucap Jerry menggerutu ke arah Tasya dan lainnya.
"Aku tuh cari Anta tadi dia hilang," sahut Tasya.
"Eh enak aja! yang hilang tuh tante Tasya tau..." celetuk Anta.
"Ih ni bocah yak!" Tasya mencubit kedua pipi Anta dengan gemasnya sampai membuat Mark tertawa.
"Apa ketawa ketawa?!" Tasya melirik ke arah Mark dengan tatapan tajamnya.
"Terserah saya lah mau ketawa apa nangis guru...!" Cibir Mark.
"Ih pusing deh Yerry dengernya pada berantem mulu, makan dulu yuk aku laper nih gara-gara Anta, aku muntahin semua isi perutku tadi." Jerry menuding ke arah Anta yang malah tertawa meringis ke arahnya.
"Ayo kita makan dulu!" Anta segera berlari menuju kedai makanan dengan menu masakan berbahan dasar seafood itu.
"Anta mau pee tante yeri... anterin dong!" Anta menarik tangan Jerry saat Tasya memesan menu makanan di kedai tersebut.
"Ya udah ayo buruan!" sahut Jerry menemani Anta menuju kamar mandi perempuan.
"Pada kemana?" tanya Tasya pada Mark.
"Ke toilet, Anta mau pee." Sahut Mark seraya memainkan ponselnya.
"Benar-benar sial nih aku," gumam Tasya seraya menundukkan wajahnya.
Mark menoleh ke arah belakangnya. Ternyata tak jauh dari sana, keluarga Doni sedang duduk di kedai sebelah.
"Cie ketemu mantan..." Mark mencibir Tasya.
"Maksud kamu?" Tasya menatap tajam ke arah Mark.
"Aku paham kok, si suaminya Mitha itu mantan kamu kan? tadi aku denger kok omongan kakaknya itu sama kamu, udah deh jujur aja!" Mark memberikan wajah smirk-nya pada Tasya.
Seorang pelayan kedai menyerahkan makanan yang Tasya pesan ke atas meja.
"Thank you."
Ucap Mark dan Tasya bersamaan. Tasya langsung melihat ke arah Mark dengan wajah cemberutnya.
"Anta mana sih lama banget?" Tasya menoleh ke belakangnya berharap Anta dan Jerry cepat kembali.
"Aku tahu kok rasanya dikhianati, sakit banget emang apalagi ditinggal nikah. Makanya semenjak itu aku malas banget pacaran aku benci sama perempuan." Mark bertutur begitu saja pada Tasya.
"Hmmm curhat ya? eh bentar kamu benci perempuan? jangan-jangan kamu tuh sekarang suka sama cowok ya? atau kayak macam Jerry? hiy..."
Tasya memeluk dirinya sendiri.
"Astaga kalau ngomong tuh di saring dulu!" Mark menimpuk Tasya dengan tusuk gigi yang ia gigit sedari tadi.
"Heh kalau kena mata aku gimana?" Tasya menangkap tusuk gigi itu.
"Idih bekas mulut kamu hiy jijik banget!" Tasya melempar kembali tusuk gigi itu, tapi Mark berhasil menghindar.
__ADS_1
"Aku tuh masih normal tau gak! sekarang aja aku lagi suka sama seseorang," ucap Mark.
"Perempuan kan orangnya?" Tasya menahan tawanya.
"Perempuan lah, dia tuh cantik, keibuan, baik hati banget, wajahnya tuh bikin kamu gak puas buat berhenti memandang." Mark membayangkan wajah Dita yang tersenyum padanya.
"Ih gak jelas senyum-senyum sendiri kayak gitu," ucap Tasya menimpali.
"Sayangnya dia punya suami..."
"APA?!"
Pekik Tasya tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan dari bibir Mark yang keluar begitu saja.
"Apaan sih berisik tau, tuh banyak yang nengok ke sini!" Sahut Mark.
"Ya habisnya kamu tuh ya, masa suka sama istri orang, emangnya gak ada perempuan lain apa?" Tasya bertolak pinggang dengan kesalnya.
"Kayak kamu gak aja, kamu kan masih suka sama suami orang, kelihatan tau!" Mark mencibir Tasya.
"Heh sembarangan..."
"Buktinya tadi kamu pura-pura jadiin aku pacar kamu buat nutupin perasaan sakit hati kamu kan sama dia?"
"Nah kamu sendiri jadiin aku pacar kamu pura-pura buat nutupin sakit hati kamu juga kan, berarti kamu suka dong sama Rihanna?"
"Itu beda, aku lakuin itu biar dia gak ngejar aku lagi biar lupain aku gitu."
"Nah sama kayak gitu, aku mau dia tuh gak suka sama aku lagi, kan dia udah punya istri. Aku udah ikhlas kok dia punya istri." Tasya menghela nafas dalam-dalam.
"Yakin...?"
"Nanya sekali lagi nih saus nyampe ya ke muka kamu!" Ancam Tasya.
"Jangan diliatin, suami orang tuh!" Mark menggoda Tasya lagi.
Tasya langsung membalasnya dengan tatapan tajam dan bersiap menekan botol saus ke arah wajah Mark.
"Iya, iya, iya, ampun maaf ya..." Mark menahan tawanya, melihat wajah Tasya yang marah-marah sedari tadi entah kenapa terlihat lucu di mata Mark.
Tak lama kemudian Anta sudah kembali dengan Jerry. Di tangannya Anta ada boneka beruang besar.
"Wah gede banget bonekanya dapat dari mana?" tanya Tasya.
"Ini Tante Yerry main lempar bola masa," sahut Anta.
"Habisnya aku penasaran sih, terus yang jaga standnya juga ganteng jadi aku main dulu deh hehehe." Jerry tertawa seraya duduk dikursinya.
"Hmmm pantesan lama ganjennya keluar sih," celetuk Tasya.
"Ya udah pada makan dulu tuh!" Ucap Mark.
Sementara itu di sisi lain sana, Doni juga sesekali memperhatikan Tasya. Shinta yang mengetahui hal tersebut segera menepuk punggung tangan Doni dan menatapnya tajam. Doni langsung menunduk dan menuruti perintah dari tatapan tajam milik kakaknya itu.
***
Masih di Fun Fair, sebelum pulang Anta merengek masih meminta semuanya untuk menemaninya bermain di wahana rumah hantu.
"Ngapain sih Nta, kayak gak ada permainan lain yang menantang aja sih," ucap Mark.
"Udah sih turutin aja, kamu mau dia nangis terus dia ngadu ke bunda sama yandanya, apalagi kalau dia ngadu sama semua penjaganya, habislah kau!" Sahut Tasya memberi peringatan pada Mark.
__ADS_1
"Semua penjaganya? maksudnya tuh kalian gitu?" Tanya Mark tak mengerti.
"Bukan penjaga yang lain, yang gak kelihatan manusia biasa," jawab Tasya.
"Hah? maksudnya hantu?" Mark masih berusaha bertanya tak mengerti.
"Udah sih percaya aja, belum pernah lihat penjaga rumah yang di kamar nenek Rose kan?" Sahut Jerry.
"Apalagi itu? hantu juga?"
"Iya..." Jerry menoleh pada Mark.
"Halah kalian tuh dari tadi ngomongin hantu aja mentang-mentang mau masuk rumah hantu." Mark mencibir Tasya dan Jerry saat bersiap memasuki wahana rumah Anta.
"Asik... Anta udah gak sabar nih!"
Anta bertepuk tangan dengan senangnya saat duduk di mobil berbentuk perahu yang akan membawanya masuk ke dalam wahana rumah hantu tersebut.
"WAAAAAA....!!!"
Mark berteriak dengan kerasnya saat lengannya di colek dengan manusia berkostum monster hijau dengan topeng wajah penuh darah yang mengelupas kulitnya.
"Ih ngagetin aja nih, katanya gak takut!" Tasya memukul tangan Mark yang tanpa sadar memegang lengan Tasya.
"Aku tuh kaget tau!" Mark mencoba berbohong.
"Halah..."
"Hai om hantu, hai tante hantu... ih lucu banget matanya mau copot gitu," ucap Anta penuh kebahagiaan saat melihat bentuk hantu yang mengerikan. Padahal di sampingnya Jerry sedang berjuang menutupi wajahnya ketakutan sambil berteriak sesekali.
Mark mengigit bibir bawahnya menahan takutnya agar tak berteriak lagi di samping Tasya yang juga sesekali berjuang menutupi wajahnya.
Tiba-tiba mobil perahu itu berhenti di tempat paling menyeramkan. Sosok berpakaian lusuh penuh robekan di kaosnya dan celana yang compang-camping menghampiri Anta.
"Hai Om!" sapa Anta.
Wajah sosok pria itu penuh luka sayatan. Begitu pula dengan sekujur tubuhnya yang penuh luka menganga dengan darah dan nanah bercampur jadi satu. Bau anyir darah dan aroma busuk sampai terhirup ke hidung.
Tasya dan Mark tanpa sadar sudah saling berpegangan lengan ketakutan di kursi belakang. Sementara Jerry sudah bersembunyi turun di samping kursi depan.
Mobil perahu itu lalu menyala kembali di atas lintasan yang seperti rel kereta. Anta yang terlanjur bersalaman dengan sosok menyeramkan tadi tak sengaja menarik lengan sosok menyeramkan yang ternyata hantu sungguhan itu dan membawanya.
"Eh tangannya putus nih tante."
Anta menunjukkan pada Jerry, Tasya dan Mark yang bersamaan teriak dengan kencangnya di dalam wahana rumah hantu tersebut. Mereka ketakutan saat melihat potongan tangan kanan milik hantu tadi.
*****
Masih bersambung ya guys...
Jangan lupa main ya ke cerita ku lainnya.
- WITH GHOST (UP)
- Kakakku Cinta Pertamaku
season 1 END
- 9 Lives (END)
- Gue Bukan Player (END)
__ADS_1
Vie Love You All 😘😘😘