
Dear pembaca tercinta yang selalu setia menunggu Pocong Tampan up. Vie mohon dong, mohon banget, jangan bosen buat VOTE ya... pokoknya vote vote vote...
Di like juga tiap babnya, terus komen, terus kasih vote deh.
Mampir ke 9 Lives ya sama Diculik Cinta.
Butuh dukungan viewer, like, dan komen di sana. Bintang lima juga jangan lupa hehehe...
Happy Reading...
******
Tante Dewi terjatuh di kamar mandi secara tak sengaja dan membuat gempar semua penghuni rumah pagi itu.
Anan langsung menolong Tante Dewi dengan mendobrak pintu kamar mandi yang terkunci itu.
"Duh, tolongin Nan sakit banget pinggang aku," pinta Tante Dewi saat melihat Anan masuk ke dalam kamar mandi lalu menolongnya.
Dita tiba-tiba melihat cairan merah yang mengalir di kaki Tante Dewi.
"Tante lagi datang bulan?" tanya Dita.
"Enggak, Ta. Emang kenapa?"
"Itu darah apa dong di paha Tante?" tunjuk Dita.
Tante Dewi dan Anan langsung menundukkan kepalanya bersamaan untuk melihat cairan darah tersebut.
"Aaaaaaaaa..." Teriak Tante Dewi lalu menoleh ke arah Anan yang sedang memapahnya.
Anan yang ikut panik juga berteriak dengan kencangnya menatap Dita.
"Hush... jangan pada panik gitu ah, ayo kita ke rumah sakit sekarang!" ucap Dita.
Tasya langsung menyiapkan barang-barang Tante Dewi yang hendak di bawa ke rumah sakit.
"Ayo semuanya ikut! nanti sekalian diantar sama Yanda ke sekolah!" seru Anan.
Mereka semua mengantar Tante Dewi ke rumah sakit di pagi hari itu.
***
Sesampainya di rumah sakit, Tante Dewi langsung di lakukan ke ruang Instalasi Gawat Darurat dan langsung diperiksa oleh dokter jaga.
"Maaf, dengan keluarga Nyonya Dewi Maharani?" tanya seorang suster.
"Ya, kami keluarganya," ucap Dita.
"Maaf ibu seperti Nyonya Dewi mengalami pendarahan dan sebaiknya dirujuk ke dokter spesialis kandungan untuk mengetahui kondisinya," ucap Suster tersebut.
"Baiklah, saya segera mendaftar ke dokter spesialis kandungan," jawab Dita.
Setelah melakukan pendaftaran atau registrasi di rumah sakit tersebut, Tante Dewi dibawa ke ruangan dokter spesialis ginekolog yang sedang bertugas lagi itu.
"Tante Dewi, udah berapa lama gak datang bulan?" tanya Dita di sampingnya Tante Dewi yang didorong menggunakan kursi roda oleh Anan. Sementara Tasya dan Anta mengikuti di belakangnya.
"Tante lupa, soalnya datang bulan Tante kan gak teratur pernah dua bulan sekali lho tiap datang bulan satu tahun kemarin," jawabnya.
__ADS_1
"Hmmm... gimana kalau Tante beneran hamil?" tanya Dita.
"Ya bagus dong, emang Tante pengen banget punya anak," ucap Tante Dewi sambil mengusap perutnya.
Anan dan Dita saling bertatapan. Sebenarnya ada kesedihan ketika mendengar Tante Dewi hamil, perihal suaminya yang baru meninggal.
Kenapa saat suaminya pergi, Tuhan malah memberi kehamilan pada Tante.
Batin Dita seraya menatap ke arah Tante Dewi.
Seolah tau yang Dita pikirkan dari tatapannya, Tante Dewi lalu buka suara, "Waktu kamu hamil Anta juga tanpa ada Anan di samping kamu, ya kan? Jadi tenang aja, Tante pasti kuat menjalani kehamilan ini meskipun tanpa ada suami di samping Tante."
Dita meraih tangan Tante Dewi dan mencium punggung tangannya.
"Dulu aku juga gak sendirian, ada Tante sama Tasya. Sekarang juga Tante gak akan sendiri, ada kita semua di sini," ucap Dita lalu memeluk Tante Dewi dengan erat.
Bulir bening jatuh membasahi pipi keduanya. Begitu juga dengan Tasya yang sudah beberapa kali menyeka air matanya. Sementara Anan berusaha mengangkat kepalanya menatap langit-langit rumah sakit, meskipun matanya sudah berkaca-kaca.
Seorang suster memanggil nama Tante Dewi untuk masuk ke dalam ruang praktek Dokter Nicky.
"Selamat pagi, lho kok kamu lagi? nanti kamu ribut sama saya lagi di ruang praktek?" sapa Dokter Nicky. Dia masih ingat betul betapa posesif-nya Anan pada Dita saat melakukan pemeriksaan kandungan dengan Dokter Nicky.
"Tenang, Dok! bukan saya yang kali ini di periksa, tapi Tante saya," ucap Dita.
"Oh, kalau begitu silahkan masuk, tapi sebaiknya bapak itu di luar saja," ucapnya seraya menahan tawanya saat mengusir Anan.
"Iya, iya, saya di luar aja deh!" sahut Anan lalu menggendong Anta menuju ke arena permainan anak-anak di lantai tersebut.
Tasya dan Dita menemani Tante Dewi di ruang praktek. Dokter tersebut mengamati layar monitor seraya memeriksa perut Tante Dewi dengan bantuan USG empat dimensi.
"Wah janin anda sehat nih, usianya sudah menginjak kehamilan 12 minggu, tapi karena ada pendarahan dan habis terjatuh sebaiknya anda dirawat dulu ya, supaya bisa istirahat dan pemulihan. Nanti saya akan berikan obat penguat juga," ucap Dokter Nicky.
"Iyalah hamil, masa itu yang gerak-gerak roti bakar, ya bukanlah itu bayi," ucapnya seraya tertawa.
"Selamat ya, Nyonya..."
Tante Dewi lalu menangis dengan kencang.
"Kevin... huhuhu... Kevin...!"
Dita dan Tasya berusaha menenangkan Tante Dewi.
Akhirnya setelah pemeriksaan selesai, Anan mendaftarkan Tante Dewi untuk mendapatkan ruang perawatan.
Ponsel Tasya lalu berbunyi, ternyata Logan menghubunginya untuk segera ke sekolah. Hari ini adalah hari keberangkatan sekolah Anta untuk pergi kemping.
"Astaga, lupa kan tuh, Ta." Tasya menepuk dahinya sendiri.
"Sebaiknya Yanda antar Tasya sama Anta, biar aku di sini jagain Tante Dewi," ucap Dita.
"Oke, nanti setelah aku antar mereka, aku kembali lagi ke sini ya," ucap Anan.
"Oke. Oh iya Tasya kamu sudah hubungi Laura kalau restoran kita tutup sementara ini?" tanya Dita.
"Sudah, terus aku bilang kita mau cari karyawan baru buat gantiin Jerry. Sebenarnya sih kita masih bisa suruh Jerry sama Lily kerja di restoran, tapi nanti pelanggan takut semua lihat piring melayang, hehehe," celetuk Tasya.
"Ah, kamu ini mah, pokoknya selama kemping kalian gak boleh macam-macam. Dan Anta..."
__ADS_1
"Iya, Bunda," sahut Anta menjawab teguran sang Bunda.
"Jangan sampai bawa hantu pulang ke rumah!" ancam Dita.
"Tau nih, entar lama-lama Bunda kamu buka tempat kos buat para hantu lho," sahut Tasya melirik ke arah Anta.
"Iya, iya." Anta lalu memeluk sang Bunda sebelum pamit. Ia mencium punggung tangan sang Bunda dan juga punggung tangan Tante Dewi.
Tasya dan Anta lalu pamit di antar Anan menuju rumahnya untuk mengambil tas ransel mereka.
Setelah itu Anan mengantar Tasya dan Anta menuju sekolah. Sorakan demi sorakan menghujani kedatangan Tasya dan Anta. Karena ulah mereka yang terlambat membuat keberangkatan rombongan peserta kemping itu jadi tertunda.
Anta memeluk Anan lalu menciumnya sebelum pergi.
"Maaf ya Logan, tadi darurat soalnya Tante Dewi masuk rumah sakit," ucap Tasya.
"Tapi dia gak apa-apa kan?" tanya Logan.
"Dia hamil dan tadi itu ada sedikit pendarahan jadi perlu di rawat."
"Syukurlah kalau begitu, ayo naik ke dalam bis!" ajak Logan.
Setelah Tasya dan Anta duduk bersama di dalam bis, akhirnya dua bis rombongan kemping ke Gunung Hijau itu di berangkat kan. Anta langsung melahap roti cokelat dan susu kotak yang sudah di persiapkan Dita di dalam tas ransel Anta.
"Anta, nyium sesuatu gak?" tanya Tasya.
Anta mengendus-endus hidungnya dengan seksama.
"Cium apa sih, Tante?" tanya Anta gantian.
"Bau rada-rada asem gitu, apek banget, cium gak?" tanya Tasya.
Lalu Anta menaikkan tangan kirinya dan mencium ketiaknya sendiri.
"Bau, Tante. Bau asem kayak ketek Anta," sahut Anta.
"Astaga... Anta, kita kan belum mandi pas tadi di ajak ke rumah sakit," ucap Tasya seraya mencium kedua ketiaknya bergantian.
Anta langsung menepuk dahinya sendiri dan tersenyum meringis.
******
Bersambung...
Mohon maaf sekarang jadwal UP Pocong Tampan tak tentu yang penting tungguin aja upnya ya dengan tekan tanda love buat jadiin favorit.
Oh iya 9 Lives update lagi, cusss ditengok ya, dan mohon dukungannya di sana.
Mampir juga ke :
- Diculik Cinta (On Going)
- With Ghost (END)
- Gue Bukan Player (END)
- Kakakku Cinta Pertamaku (END - Musim Kedua hiatus 😁)
__ADS_1
Vie Love You All... 😘😘😘