
Sebelum membaca klik like yak...
let's vote for me boleh yak...
apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...
Rate bintang lima jangan lupa...
thank u so much... love u all... 😘😍😊
***
"Pak Manan gak papa kan?" Dokter Shinta tiba-tiba datang masuk keruang perawatan menghampiri Anan dan memegang kedua tangan Anan.
"Gak papa Shin, ini udah di obati." ucap Anan dengan senyum yang membuat para gadis-gadis itu makin terpesona lalu melepas tangan Shinta setelah melihat lirikan tajam dari Dita.
"Maaf ya, pak Manan sedang ku obati, Bu dokter bisa keluar dari ruangan ini." ucap Cindi dingin.
"Saya kan juga mau ngecek kondisi Pak Manan." sahut Shinta ketus.
"Tapi maaf Dok, udah selesai kok, bapak juga butuh perawatan, sebaiknya silahkan keluar." ucap Cindi tak kalah ketus.
"Terus, kalau aku keluar kamu mau ngapain?" tanya Shinta ke Cindi dengan tatapan juteknya.
"Saya juga bentar lagi keluar, tapi saya mau memastikan kondisi Pak Manan stabil."
"Maaf-maaf saya udah gak papa kok, saya mau tidur boleh gak kalian semua pergi." potong Anan melerai keributan Shinta dan Cindi.
"Bapak yakin gak apa-apa, mau saya ambilkan minum apa cemilan gitu pak?" tanya Cindi.
"Aku aja yang ambil gimana Pak?" Shinta maju menghadang Cindi.
Dita dan Anita malah tersenyum cekikikan melihat pertarungan Shinta dan Cindi.
"Gak usah saya mau tidur mohon maaf ya."
jawab Anan mencoba rebahan pada ranjang rumah sakit di ruangan itu.
"Ayo, ayo hush hush semuanya keluar bapaknya mau istirahat." sahut Dita menggiring Cindi dan Shinta ke luar ruangan.
"Kamu mau kemana Ta?" tanya Anan.
"Aku mau ke ruang Tante Dewi, mau rebahan di sana."
"Sini aja Ta, temenin aku, emang kamu gak ngantuk apa? aku aja ngantuk banget ini." rengek Anan.
"Nah aku aja yang nemenin ya Pak?" pinta Cindi begitu pula dengan Shinta yang kembali lagi ke dalam ruangan meminta menemani Anan.
"Hadeh... tau ah Nan tuh dayang-dayang kamu aja yang nemenin sampe pegel nih akunya."
__ADS_1
Dita berjalan menahan perih di kaki nya menuju ruang dokter Dewi meninggalkan Anan yang berusaha mengusir Cindi dan Shinta dari ruangannya.
"Serius Ta itu Anan kamu tinggalin?" tanya Anita.
"Aku ngetes Nit, harusnya kalau dia setia sama aku ya dia usir lah cewek-cewek centil itu."
"Hahaha kalau aku mah udah sewot Ta aku bisa smack down tuh cewek-cewek."
BRUG...!
"Awww sakit juga pantat ku." Anita tersungkur ke lantai karena tertabrak dengan pria yang tiba-tiba datang dari arah lain.
"Kok, kamu bisa terpental Nit?" Dita masih bingung dengan terpental nya Anita.
"Kamu gak apa-apa kan?" pria itu menghampiri Anita dan menolongnya berdiri.
"Hah kok bisa?" Dita masih melongo menutup mulutnya.
"Taeyong aaaahhhh kok bisa liat aku?" Anita terpana melihat sosok tampan pria itu yang mirip Taeyong nya NCT.
"Apa oyong? saya Doni." sahut pria itu.
"Doni kamu manusia?"
"Iya saya Doni, saya manusia nih kaki saya napak, emangnya kaki kamu gak na... waaaaaaaaa."
Doni mundur beberapa langkah terbentur ke dinding.
"Aku napak kok nih kaki nya perban semua maklum abis joging 2 hari di rel hehehe."
ucap Dita menunjukkan kakinya yang diperban.
"Lalu dia itu.." raut wajah Doni makin panik pucat dan lemas.
"Hai aku Anita." sapa Anita pada Doni dengan senyum manis merekah di wajahnya.
Doni tak sadarkan diri seketika.
***
Ruang kantor dokter Dewi.
"Ini kenapa di bawa kesini sih Ta?" Tante Dewi memberikan aroma kayu putih pada hidung Doni.
"Aku bingung hehehe kasian satpamnya keberatan angkat dia tadi, masalahnya kalau aku bawa ke IGD terus ditanya pingsan gara-gara liat hantu repot kan Tante urusannya, jadi ya aku bawa kesini hehehe." Dita mengipasi wajah Doni.
"Sadar tuh Ta." Tante Dewi memasang senyum manisnya.
"Aaaaaaaaaa...." Doni tak sadarkan diri kembali.
__ADS_1
"Muka aku serem ya Ta, cuma merah-merah habis perawatan doang sih sampai segitunya dia pingsan."
"Bukan Tante yang dia takutin tuh Anita di belakang Tante."
"Pantesan kok dari tadi hawanya merinding yak." Tante Dewi berpindah tempat.
"Ngomong-ngomong Anan mana Ta?"
"Tidur di ruang perawatan tadi, sama fans fans nya kali." sahut Dita kesal.
"Fans?"
"Iya si dokter Shinta sama suster Cindi."
"Cieeee... cemburu dong kamu nya hahahhaa."
"Apaan sih Tante, alay lebay nih.
"Tapi cemburu kan?"
"Iya lah, siapa sih yang gak cemburu pacarnya di godain cewek-cewek, ups jangan bilang-bilang ya Tante nanti Anan ke geeran."
"Aku udah denger kok." Anan tiba - tiba datang memeluk Dita dari belakang.
"Ups lupa bilang Ta kalo Anan nya udah dateng hehehehe." ucap Tante Dewi tertawa kecil.
"Cie Dita...uhuy..." ledek Anita yang sedari tadi menusuk-nusuk pipi Doni dengan telunjuknya.
"Apaan sih, lepas gak malu tau." Dita mencoba melepas pelukan Anan.
"Gak akan aku lepas. Bilang I love you dulu."
goda Anan makin memeluk Dita dari belakang.
"Ih apaan sih, lepasin." rengek Dita.
"Yakin mau ngelepasin aku?"
"Enggak sih aku gak mau ngelepasin kamu, tapi jangan gini juga malu tau."
"Hadeh ini berdua alay banget sih pacaran depan Tante gak ada malunya, Tante kan jadi pengen."
"Dih Tante, pengen apaan nih?" goda Anan.
"Pengen nimpuk kalian." bantal sofa tepat melayang di wajah Anan dan lemparan kedua tepat di kepala Dita.
"Lepas gak Nan." ancam Tante Dewi.
***
__ADS_1
To be continued...