
Sebelum membaca jangan lupa ya di Like, Vote, and rate bintang lima ya... Jangan bosen bacanya ya...
Happy Reading 😊😘
*****
Doni menghampiri Tasya diluar hotel mewah yang ia lihat itu. Doni meraih lengan Tasya dan menahannya pergi.
"Sya maafin kakak aku ya? kamu tersinggung ya?" Doni meraih lengan Tasya.
"Saya gak kesinggung kok sama dia, saya jijik Don." Sahut Tasya.
"Jijik kenapa sih." Doni mengusap bekas saus di bibirnya padahal cairan nanah dan darah yang menempel.
"Hueeeeeekkkk...!" Tasya tak kuat lagi langsung menembak ke arah kaki Doni.
"Tasya ih jorok... jijik tau kenapa kamu muntah di kaki aku sih?" Pekik Doni.
"Habisnya saya tuh makin jijik lihat kamu Don!" ucap Tasya lalu pergi ke pojok parkiran yang dilihat Doni tapi kebun pisang yang di lihat Tasya.
"Hueeeeek... hueeeekkkk...!!!" Tasya makin jadi memuntahkan semua isi perutnya yang di makan tadi.
"Mbak kok kita di muntahin sih? gak lihat apa ada pocong lagi pacaran gini?" sosok pocong pria menegur Tasya.
"Huaaaaaaa... maafin ya saya gak lihat." sahut Tasya.
"Haduh mana aku habis facial lagi sengaja pergi ke salon buat ketemu kamu mas eh muka aku malah kena muntah dia." sahut sosok pocong wanita satunya.
"Maaf mas cong, mbak dong, saya beneran gak lihat deh kalau pada mojok di...disini..." ucap Tasya dengan bibir gemetar.
"Sya kamu gak apa-apa kan?" tanya Doni menepuk punggung Tasya pelan.
"Gak apa-apa kok." Tasya mengusap bibirnya dengan ujung kaus yang ia pakai.
"Jangan-jangan kamu keracunan bakso lagi?" ucao Doni.
"Wah jangan-jangan hamil mas." sahut pocong perempuan di hadapan Tasya.
"P-po-po-pocoooong...!"
Doni gemetar ketakutan kala melihat pasangan pocong itu.
"Iya emang kita pocong, siapa bilang kita bencong huuuhhh." sahut si pocong pria.
"Eh tapi kalau kamu gak ketemu aku mungkin kamu jadi bencong hihihi." ucap pocong perempuan di sampingnya.
"Kok kamu gitu sih beb, nanti aku minta putus nih."
"Jangan dong, nanti aku sama siapa a...?"
"Ya udah terusin lagi yuk pacarannya jangan mau kalah sama mereka."
Doni dan Tasya saling berpandangan.
"Aku gak nyangka deh masa di hotel semewah ini ada pocongnya ya Sya?" tabya Doni.
"Ini bukan hotel mewah don, ini keboooon." Tasya menepuk jidatnya saking kesalnya.
"Hahahhaha mabok ya mbak cowoknya, apa ngehalu saking pengen nya pacaran ke hotel mewah malah ke kebon wkwkwkwk." Ledek si pocong pria.
"Iya tuh halu ih hihihihi." sahut si pocong wanita.
"Maksudnya kebon gimana sih Sya?" tanya Doni masih heran.
"Kamu baca ayat kursi deh berkali-kali nanti kamu bisa lihat semuanya." ucap Tasya.
"Aku baca ya." Doni menahan nafas panjang lalu "Bis..."
"Tunggu....!" cegah si pocong pria.
"Kenapa?" Tanya Doni menoleh pada dua pocong itu.
"Kalau mau ngaji kita kabur dulu cyiiinnn...!" kedua pocong itu langsung melompat dengan kencangnya dan menjauh pergi.
Doni membaca ayat kursi.
"Alloohu laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum, laa ta’khudzuhuu sinatuw walaa naum. Lahuu maa fissamaawaati wa maa fil ardli man dzal ladzii yasyfa’u ‘indahuu illaa biidznih, ya’lamu maa baina aidiihim wamaa kholfahum wa laa yuhiithuuna bisyai’im min ‘ilmihii illaa bimaa syaa’ wasi’a kursiyyuhus samaawaati wal ardlo walaa ya’uuduhuu hifdhuhumaa wahuwal ‘aliyyul ‘adhiim.”
"Kok jadi kebon pisang Sya?" tanya Doni yang langsung terkejut melihat sekelilingnya.
"Kamu tuh kena imajinasinya om item tau gak!" ucap Tasya sambil menunjuk dada Doni, mendorongnya pelan.
"Ah masa sih, kok bisa? ngapain om item ada disini?" tanya Doni.
Tasya menarik lengan Doni dan membawanya ke dalam restoran tempat om item dan Shinta sedang menikmati makan malamnya.
"Tuh lihat tuh!" tunjuk Tasya ke atas meja agar Doni melihat menu makanan yang tadi ia makan.
"Waaaaaaaa...." Doni langsung berlari keluar dan memuntahkan semua isi perutnya yang menjijikkan tadi karena sempat ia makan dengan lahap.
"Tuh kan apa aku bilang, muntahin semua Don, muntahin." Tasya memijit leher belakang Doni.
"Jadi tadi aku makan itu semua Sya?" tanyanya.
"Perlu dijawab? Iyalah kamu makan semua... dengan lahap, mau nambah gak?" Tasya meledek Doni.
__ADS_1
"Enggak lah! gila aja kalau aku nambah, aku harus kasih tau kakak Shinta siapa itu Lee sebenarnya." ucap Doni.
"Eh jangan! emangnya kamu berani menghadapi om item? lagi pula dia kan disuruh Dita buat jagain saya." Tasya mencegah Doni menahan lengannya.
"Ah iya ya, bener juga, kan aslinya lumayan serem tuh, mana kak Shinta kepincut banget sama dia duh gimana ya kasih tau kak Shinta?" gumam Doni sambil berjalan mondar-mandir.
Doni akhirnya memutuskan menunggu Shinta dan Om item selesai makan di depan kebun pisang bersama Tasya.
Shinta keluar sambil menggandeng Lee dengan mesra, senyum kebahagiaan terpancar dari wajahnya.
"Pada ngapain sih disini?" tanya shinta.
"Nungguin kak." sahut Doni.
"Lagian bukannya nunggu di dalam aja sambil makan, eh gimana Don enak kan makanannya? nanti kapan-kapan kesini lagi ya?" ucap Shinta dengan mata berbinar .
"Hiyyy gak mau ah kak aku kapok." Sahut Doni dengan wajah kesal.
"Kamu kenapa sih? pasti ketularan si gembel ini deh." ucap shinta menunjuk Tasya.
"Sudah jangan ribut lagi, gak usah ribut lagi, kalian tunggu disini ya, aku Ambil mobil dulu ya." Ucap Lee.
"Iya baby, buruan ya." sahut Shinta melepas pegangannya dari Lee.
"Nih bentar lagi kamu bakalan lihat mobil mewah ala om item." bisik Tasya .
Doni langsung terkejut terbelalak matanya kala melihat mobil mewah milik Lee berubah menjadi gerobak reot yang om item bawa.
"Nah kan lihat kan? yuk nikmatin aja gerobaknya." ucap Tasya dengan suara pelan yang berjalan di samping Doni menuju mobil mewah ala om item.
"Serius tadi kita naik itu Sya?" tanya Doni.
"Serius lah, pokoknya nikmatin aja hahahhaha." Tasya berbisik sambil tertawa.
"HEH...! ngomongin gue ya?" tanya Shinta.
"Idih ge er pede banget ih...!" Tasya mencibir.
"Udah ih ribut mulu! siapa juga lagi yang ngomongin kakak." sahut Doni.
"Eh Don, satu lagi, Nanti kalau ada anak kecil yang lihat kita terus ketawa ya udah kita dadah dadah aja." Ucap Tasya menahan tawanya menertawakan Doni.
***
Anan dan Dita sampai di sebuah rumah sederhana berlantai satu dengan halaman cukup luas dan terlihat asri malam itu.
Berhubung Dita merasa sangat lelah dan tertidur maka Anan membopong tubuh Dita ke kamar yang sudah di siapkan Tante Dewi. Anan meletakkan Dita di atas ranjang lalu mengikuti Tante Dewi yang mengajaknya menemui papi Arjuna.
Anan menepuk papinya yang sedang duduk di kursi rodanya menatap ke arah bulan di teras belakang yang terdapat kolam ikan kecil sangat pot bunga yang berjejer rapih.
"Papi..." Anan memeluk papinya meski sebenarnya Anan sangat tidak menyukai sosok ayah di hadapannya itu sedari kecil, namun Anan hang sudah mengetahui latar belakang masa lalu papinya itu mulai memaafkan.
"Ma-ma-maafin Papi ya Nan." ucap sang papi makin memeluk Anan dengan erat.
"Yanda... ini tusuk kondenya gerak sendiri." Dita datang langsung mencari Anan dengan memegang tusuk konde milik nyai kemuning di dalamnya.
"Kamu udah bangun Ta? tadi kan pules banget." Ucap Tante Dewi.
"Udah tante, jadi gak ngantuk hehehe." jawab Dita.
"Pi, ini kenalin istri Anan." Anan menarik tangan Dita menghampiri papinya.
Dita mencium punggung tangan milik papi Arjuna.
"Nama saya Dita om, eh papi." ucap Dita.
Arjuna mengusap dengan lembut kepala Dita.
Nyai Kemuning tiba-tiba keluar dari tusuk konde itu lalu menghampiri papi Arjuna.
Arjuna menatap kemuning dengan rasa rindu yang teramat dalam. Tangannya mencoba menggapai tangan Kemuning. Lalu Kemuning menghampiri Arjuna dengan berlutut, agar Arjuna dapat menyentuh wajahnya.
"Aku merindukan dirimu kakandaku." ucap nyai Kemuning sambil terisak, tangisnya tak dapat terbendung lagi.
"Arjuna ngomong sama siapa sih Dew?" bisik Om kevin di telinga tante dewi.
"Sssttf kalau gak bisa liat diem aja, kita mengamati, nyimak aja." sahut Tante Dewi dengan balasan berbisik juga.
"Emang kamu bisa lihat?" tanya Om kevin.
"Enggak, udah sih nyimak aja." Sahut Dewi.
"Apa kau yakin akan melakukannya?" tanya Nyai Kemuning pada lelaki di hadapannya itu dan Arjuna pun mengangguk.
"Baiklah aku akan melakukannya." ucap Nyai Kemuning.
Tiba-tiba ia menghilang lalu masuk ke dalam tubuh Arjuna.
"Aku akan membantu Arjuna untuk berdialog lebih baik, jadi kalian dengarkan penuturan dia baik-baik, akan tetapi..." ucapan Nyai Kemuning terhenti.
"Apa nyai? ada hal apa yang ingin kau sampaikan?" tanya Anan.
"Setelah ini Kang Mas Arjuna akan pergi selamanya karena ia memutuskan untuk mengorbankan nyawanya demi... Kamu." ucap Nyai Kemuning menoleh pada Anan.
"Papi..."
__ADS_1
Bola mata nyai kemuning berubah.
"Ananta anakku, maafin Papi ya nak." ucap Papi Arjuna.
"Papi kenapa ngorbanin diri buat Anan?" tanya Anan sambil berlutut di hadapan Arjuna yang duduk di kursi rodanya.
"Harus Nak, waktu mami memutuskan untuk mengorbankan kalian, papi gak bisa berbuat banyak, mami malah meracuni papi agar lumpuh seperti ini. Kali ini papi sudah putuskan untuk menukar papi dengan kamu."
"Maksud papi?"
"Papi akan pergi bersama Kemuning menuju dunia kegelapan, membebaskan Manan juga dari sana semampu papi agar dia kembali ke tempat yang selayaknya untuk Manan dan tubuh ini akan hancur."
"Jadi Anan juga akan pergi pi, atau kembali menjadi arwah gentayangan lagi?" tanya Anan.
"Anan akan bisa tetap berada disini nak, karena papi sudah menukarkan diri papi untukmu serta memutus pengabdian Kemuning pada keturunan papi karena papi telah mengorbankan diri papi, hanya saja butuh kekuatan Ratu kencana Ungu untuk membuat mu mengalami reinkarnasi kembali. "
"Bagaimana caranya membujuk sang ratu untuk menuruti perintah papi?"
"Bukan papi yang harus meminta tapi istrimu." Papi Arjuna menatap Dita
"Dita yang harus memohon permintaan pada Ratu?" tanya Anan.
"Ya karena dialah keturunan sang Ratu." ucap papi Arjuna membuat Dita terkejut dan menatap Arjuna dengan heran karena ucapannya.
"Aku keturunan sang Ratu?" tanya Dita.
"Iya nak, begitu juga dengan Anan karena dia merupakan keturunan Ratu Masako yang dititipkan ditubuh Aiko. Namun, setelah pertempuran itu Ratu Masako menghilang dan konon kabarnya dia membutuhkan media yang cocok untuk kembali ke dunia." ucap Arjuna menjelaskan.
"Anan gak ngerti pi, bukannya aku anak mami sama papi, aku kembar sama Manan?"
"Kalian memang kembar, hanya saja seharusnya mami hanya mengandung satu Anak, tapi Ratu Masako menitipkanmu di rahimnya, jadi mami mengandung di usia 4 bulan kandungannya.
"Dan dia mengincar anak aku dan Anan pi sebagai medianya." sahut Dita.
Anan menoleh pada Dita, memandangi wajah Dita dan perut Dita bergantian. Rasanya memang sulit untuk memilih Dita atau anaknya nanti.
"Lakukanlah yang terbaik."
ucap papi Arjuna menepuk kedua bahu Anan berkali-kali lalu pamit pergi. Kini dia sudah tak bernafas lagi.
Anan langsung menangis memeluk papinya itu begitu juga dengan Tante Dewi yang langsung menangis memeluk kakak tercintanya itu.
Kemuning keluar dari jasad Arjuna, dia berdiri di hadapan Dita.
"Aku akan membawa ruh dari Arjuna, pengabdianku dengannya dan keturunannya telah berakhir." ucap Nyai Kemuning pada Dita, lalu ia pamit pergi.
***
Pagi itu, hujan rintik-rintik mengiringi pemakaman Papi Arjuna. Embun pagi masih membasahi rerumputan, pohon dan bunga disekitar pemakaman, membuat cuaca masih terasa dingin.
Anan masih enggan beranjak dari gundukan tanah merah yang basah penuh dengan taburan bunga di hadapannya.
"Yanda balik yuk, hujannya makin lebat." ajak Dita yang sedari tadi memayungi Anan.
"Iya, ayo kita balik." sahut Anan lalu berdiri meraih payung di tangan Dita menuju mobil yang di dalamnya sudah ada Om Kevin dan Tante Dewi.
"Kita kembali ke ibukota?" tanya Om Kevin.
"Sebaiknya begitu." Tante Dewi menjawab.
"Gimana kalau ada mami?" tanya Dita.
"Gak apa Ta, mau gak mau, siap gak siap, kita tetap akan menghadapi kehadiran mami dengan pengikut sektenya." sahut Anan.
"Baiklah... cepat atau lambat kita juga akan ketemu sama mami." ucap Dita.
Om Kevin melajukan mobil yang di sewanya ke sebuah tempat penyewaan mobil untuk mengembalikan mobilnya. Lalu mereka menuju bandara dengan taxi online yang Anan pesan.
"Aku gak nyangka tau mas kalau Aiko sejahat itu." ucap tante Dewi saat berada di bandara menunggu Dita dan Anan yang sedang memesan tiket.
"Ya, siapa yang menyangka kalau seseorang yang kita kira baik malah bersifat jahat, sedangkan orang yang kita kira jahat malah bersifat baik." sahut OM Kevin.
"Berarti sekarang ini kita harus berfikir gimana caranya bisa ngejagain Dita dari kakak Aiko dan melindungi Anan agar tak pergi." ucap tante Dewi.
"Iya, Aku akan selalu bantu kamu untuk menjaga mereka dan kamu juga." om Kevin menggenggam tangan Tante Dewi dengan erat.
*****
Bersambung guys…
Jangan lupa main ya ke cerita terbaru ku
“WITH GHOST”
ramaikan disana.
Baca juga :
- Kakakku Cinta Pertamaku
- 9 Lives
- Gue Bukan Player
Vie Love You All… 😊😘
__ADS_1