
Sebelum membaca klik like yak...
let's vote for me boleh yak...
apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...
Rate bintang lima jangan lupa...
thank u so much... love u all... 😘😍😊
***
Di bandara keberangkatan Aiko untuk kembali ke Jepang.
"Mami yakin mau pulang sendiri?" Tanya Anan.
"Mami aja bisa datang sendiri masa pulang gak bisa." Sahut Aiko.
"Mami udah minum obat kan? Anan takut mami capek di jalan."
"Sudah, kamu jangan khawatir kan mami."
"Mi, kurang dari dua bulan Anan akan pergi, Anan juga udah tau bagaimana Anan meninggal, maafin Anan ya mi belum bisa jadi anak yang baik buat mami." Anan memeluk maminya.
"Macan nya mami kok melow gini sih?"
"Anan minta maaf sama mami pokoknya." Anan menangis memeluk maminya.
"Mami takjub lho lihat kamu nangis, biasanya yang suka nangis si Manan."
"Anan juga gak tau mi kenapa jadi sering nangis."
"Ya udah mami pamit ya, pintu keberangkatan sudah dibuka."
"Iya mi hati-hati ya." Anan melambaikan tangannya.
Si kejauhan sana Aiko menoleh ke arah Anan yang masih melambai kepadanya.
"Harusnya mami yang minta maaf sama kamu nan, tapi aku gak boleh lemah demi kebangkitan sang ratu untuk kedamaian dunia ini." Gumam Aiko.
****
"Bete banget nih, sepi banget gak ada Anita." Gumam Dita di rumah besar keluarga milik Anan.
"Eh Bu Mey itu si Pia mau kemana?" Tanya Dita melihat pelayan yang bernama Pia hendak keluar menuju gerbang.
"Mau belanja bulanan non." Sahut Bu Mey.
"Aku ikut yak."
"Wah non gak boleh non kan nyonya rumah sini gak boleh belanja bulanan seperti kami para pelayan."
"Halah Bu, saya mah sama aja seperti kalian gak ada bos atau pelayan, aku bosen nih mau ikut boleh yak." Dita merengek menahan Pia pergi.
"Nanti kalau den Manan marah gimana?"
"Panggil dia Anan aja aku terbiasa panggil dia Anan hehehe, aku pastikan dia gak akan marah, kalau kalian gak bolehin aku nanti aku ngadu macem-macem biar dia marah yak?"
__ADS_1
"Jangan non, baiklah kalian diantar Pak Adi aja buat jadi supir kalian yak." Ucap ibu Mey yang dibalas dua acungan jempol oleh Dita.
"Ayo Pia kita belanja bulanan." Ajak Dita menggandeng Pia. Usia Pia mungkin lebih muda dari Dita dan terlihat sangat polos.
Dita dan Pia menaiki mobil yang sudah disiapkan Bu Mey.
"Kamu udah berapa lama Pia kerja di rumah besar?" Tanya Dita.
"Baru enam bulan non." Jawabnya.
"Kamu kenapa sih takut sama saya?"
"Eng anu, aku gak enak non duduk sampingan sama bos naik mobil pula."
"Lah meang biasanya kamu naik apa kalau belanja?"
"Naik ojek non."
"Oh..." Dita memandang rumah besar di sebrang rumah Anan.
"Misteri pocong keder belum kamu selesaikan nit, terus gimana kalau nanti malem ketemu dia lagi, duh kangen banget sama kamu Nit." Gumam Dita.
"Kenapa non?" Tanya Pia.
"Gak apa-apa cuma lagi berdecak kagum dengan rumah itu." Sahut Dita mencari alasan.
Sepuluh menit berkendara dari rumah besar menuju pasar swalayan tiba-tiba Dita melirik ke arah Pia.
"Kamu kenapa Pia?" Tanya Dita melihat Pia yang pucat dan menahan sesuatu.
"Anu non, aku mau muntah."
"Huu cah ndeso, naik mobil bagus dikit aja mabok." Ucap pak Adi dengan logat jawanya yang masih terlihat.
"Haha lucu ya pak, namanya juga gak kuat sama AC mobil." Ucap Dita.
"Maafin ya non, nganu saya gak kuat habisnya dingin banget non." Sahut Pia.
"Berarti kamu gak cocok ndok jadi orang kaya kalau gak kuat pakai AC." Sahut pak Adi.
"Ih pak Adi saya aja bukan orang kaya pak tapi kuat sama AC." Ucap Dita.
"Lho non itu bos kita ya non orang kaya toh sekarang."
"Saya masih biasa aja kok pak gak berasa saya itu kaya, yang kaya kan suami saya."
Ponsel Dita berbunyi tiba-tiba.
"Ya kapten, ada apa?"
"Pagi Ta, saudara Anwar sudah kami tangkap hari ini dan akan ada interogasi lebih lanjut, dia mengakui bahwa dia terlibat pembunuhan Maya namun dia bersikukuh tidak mengakui pembunuhan Pak Herdi."
"Hmmm jangan-jangan dia bohong."
"Ta, saya rasa dia tidak berbohong, tapi nanti saya akan tindak lanjuti lagi, dan kabari kamu, sementara tolong jaga pak Kevin ya, jika bukan Anwar orangnya maka ada orang lain yang masih mengincarnya ."
"Tapi kapten, pak Kevin tadi pergi ketemu klien sama Doni dan dijaga pak Herdi sih."
__ADS_1
"Bisa kamu hubungi Doni ta?"
"Oke saya hubungi Doni, saya kirim nomor telepon nya sama kapten ya." Dita mengakhiri hubungan ponselnya dengan kapten Jihan.
"Kenapa non?" Tanya Pia.
"Enggak apa-apa Pia." Dita menekan nomor Doni dari ponselnya.
"Halo kak, ada apa ya?" Tanya Doni dari seberang sana.
"Kamu dimana Don?"
"Di cafe Dixie kak." Jawab Doni.
"Sama om Kevin kan?"
"Dia ke toilet."
"Aduh kamu jangan sampai kehilangan pak Kevin karena bahaya masih mengancam dia." Ucap Dita.
"Tenang aja kak, kan ada pak Herdi."
"Don mendingan kamu samperin om Kevin sekarang, nanti hubungi aku lagi ya, oh iya GPS kamu aktifin terus share lokasi kamu ke kapten Jihan, aku kirim nomornya ke kamu ya."
"Kak Dita kenapa sih panik banget selow aja."
"Udah sih buruan samperin om Kevin!" Dita menutup ponselnya.
"Non udah sampai." Ucap Pia setibanya di parkiran pasar swalayan tempat dia biasa berbelanja.
"Oh iya Pia, ayo turun." Sahut Dita.
Sudah setengah jam Dita menemani Pia berbelanja bulanan sesuai daftar namun hatinya tak tenang.
"Kok Doni belum telpon juga yak?" Dita akhirnya memutuskan menghubungi Doni kembali namun ponselnya tak terjawab. Akhirnya Dita menghubungi Anan menceritakan percakapan nya tadi dengan Kapten Jihan.
"Aku jemput kamu ya, kita ke cafe Dixie." Ucap Anan dari ponselnya.
"Oke, buruan ya Yanda, perasaan aku gak enak banget." Ucap Dita cemas.
"Non gak apa-apa?" Tanya Pia.
"Kamu nanti pulang sama pak Adi ya, aku dijemput suamiku." Sahut Dita.
"Tapi non gak apa-apa kan?" Tanya Pia lagi lebih meyakinkan dirinya.
"Aku gak apa-apa Nit, eh Pia."
Dita lalu menghubungi ponsel Tante Dewi namun kotak suara yang menjawabnya akhirnya Dita meninggalkan pesan untuk Tante Dewi.
"Mungkin Tante lagi di ruang operasi makanya hapenya di matiin." Gumam Dita.
Sekilas Dita melihat sosok yang dikenalnya di sebrang parkiran pasar swalayan. Sosok itu seperti linglung dan tak tahu arah. Dita memicingkan matanya memastikan pandangannya tak salah.
"ANITA...!!"
****
__ADS_1
To be continued... Happy Reading....
Jangan lupa tengok ke "9 Lives" 😘😘😘😘