Pocong Tampan

Pocong Tampan
Doni


__ADS_3

Sebelum membaca klik like yak...


let's vote for me boleh yak...


apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...


Rate bintang lima jangan lupa...


thank u so much... love u all... 😘😍😊


***


"Lepas Nan, gak liat Tante Dewi udah melotot tuh!" Dita berusaha melepas dirinya dari Anan.


"Iya iya aku lepas, eh ini siapa?"


Tanya Anan sambil memperhatikan wajah Doni yang kehilangan kesadaran nya karena melihat Anita.


"Oh katanya sih Doni, eh dia bisa lihat Anita lho Nan tadi mereka tabrakan terus pas dia tau Anita kakinya gak nampak dia pingsan hahahaha." Dita tertawa terbahak-bahak sampai Anan menutup mulutnya Dita karena terlalu lebar tertawa.


"Tau ih emang aku serem banget apa sampai dia pingsan." sahut Anita yang sekarang asik memainkan rambut Doni yang tebal dan kelimis penuh dengan olesan gel rambut.


"Ih tangannya nih masuk mulut aku tau." pekik Dita.


"Lagian lebar banget ketawanya, eh tangan aku udah cuci tangan belum ya, habis pipis tadi hehehe." Anan mencium tangannya sendiri.


"Ih... jorok!" Dita mengejar Anan berusaha memukulnya dengan bantal dan berlarian mengelilingi ruangan dokter Dewi.


"Hadeh dasar bocah!" gerutu Tante Dewi.


"Ta, dia sadar nih." Anita mengibaskan tangannya ke arah Dita lalu bersembunyi segera ke balik sofa.


Doni mengamati ruangan dengan seksama lalu memperhatikan Anan dari ujung kepala ke kaki begitu juga dia memperhatikan Tante Dewi memastikan kalau mereka nampak ke lantai.


"Hai.." sapa Tante Dewi.


"Ha..hai... aku dimana ya?" tanya Doni.


"Kamu di ruangan aku, kamu pingsan, ambilkan minum Ta!"


Dita langsung melaksanakan perintah Tante Dewi mengambil gelas plastik dan air dari galon. "Nih minum dulu." ucap Dita menyerahkan segelas air pada Doni.


Sambil minum Doni menengok ke kanan dan kiri mencari sosok Anita sepertinya.


"Elo cari siapa?" tanya Anan.


"Emmm tadi aku liat, emmm."


"Lihat aku yak?" Anita muncul dari balik sofa.


"Please jangan pingsan lagi ya aku baik kok, aku cantik kan, aku gak sombong juga tenang aja aku juga gak gigit." Anita memamerkan senyum manisnya pada Doni.

__ADS_1


"Ka..ka..ka..kamu kan hantu, mau apa deketin aku?" ucap Doni terbata-bata.


"Dia ngomong sama siapa Ta?" bisik Tante Dewi.


"Sama Anita."


"Oh... hah temen kamu yang hantu itu? haduh Tante keluar deh gak mau ikut-ikutan."


"Jangan takut sih, dia baik kok Tante." Dita menahan Tante Dewi.


"Bodo amat pokoknya gak mau ikutan." Tante Dewi langsung keluar dari ruangan nya.


"Sejak kapan kamu bisa lihat hantu Don?" tanya Dita.


"Sejak kecil kak, heh kenapa kamu ikutin aku?" Doni menunjuk Anita .


"Yee kamu yang nabrak aku tau siapa yang ikutin kamu pede banget sih." sahut Anita kesal.


"Iya Don, Anita ini temenku dia malah ngikutin aku bukan kamu, kamu mah baru ketemu tadi."


"Oh gitu, terus kakak ini juga bisa lihat hantu?" tanya Doni ke Anan.


"Hai gue Anan eh Manan, lupa kan tuh gue pemilik rumah sakit ini dan ya gue bisa lihat hantu."


"Terus kamu juga kan ya?" Doni menunjuk Dita.


"Ahhh akhirnya aku gak aneh sendirian."


"Maksud kamu?" Dita memicingkan matanya pada Doni.


"Panggil aku Dita aja gak usah pakai kakak hehehe tua banget kayanya."


"Kalau gue elo panggil gue Pak bos ya." ucap Anan bangga.


"Dih sombongnya." Dita mencibir Anan.


"Aku juga panggil aku Anita." ucap Anita namun Doni menjauh dari nya bersembunyi di balik Dita.


"Tenang dia gak jahat kok udah jinak, siapa tadi nama kamu?" tanya Dita.


"Aku Doni kak." sahut Doni masih bersembunyi di belakang Dita.


"Coba mundur jangan deket-deket kaya gitu." Anan menepuk bahu Doni agar menjauh dari Dita.


"Tapi saya takut pak."


"Biasanya gimana elo kalau ketemu hantu masa ketakutan mulu, cemen kalah nih sama Dita pacar gue." Anan memegang erat bahu Dita.


"Lepas gak Nan."


"Enggak wleeek."

__ADS_1


Anan makin melingkarkan kedua tangannya ke leher Dita.


Doni memperhatikan Anan dan Dita sambil tersenyum.


"Udah biasa mereka kayak gitu maklum saling bucin hehehe." ucap Anita ke Doni yang masih takut menjauh dari Anita.


"Udah dibilang jangan takut aku gak galak kok."


"Tapi aku emmm."


"Jangan takut Don, gak semua yang kaya Anita itu nakutin ." ucap Dita menepuk bahu Doni.


"Kaya aku Ta, maksudnya?"


"Udah gak usah dibahas, Doni mau ngapain ke rumah sakit ini?" tanya Dita.


"Aku mau ketemu kakak aku, dia mau tawarin aku kerja di rumah sakit ini."


"Kerja? mau kerja apaan Don? kan gue bos nya." sahut Anan.


"Sombong, sombong." celetuk Dita.


"Eh enggak kok cuma kasih tau aku bos di sini hehehe."


"Mau kerja apa Don, terus kakak kamu siapa?" tanya Dita kembali.


"Kakak saya namanya Shinta dia mau tawarin saya di bagian administrasi katanya."


"Shinta?" sahut Anita dan Dita bersamaan.


"Shinta dokter magang bukan? di bagian forensik?" tanya Dita.


"Iya kakak saya dokter magang di sini."


"Hmmmm ternyata adeknya si rese." sahut Anita.


"Maksudnya rese gimana ya?"


tanya Doni ke Anita.


"Enggak Don, enggak kenapa-napa hehehe, ya udah yuk aku antar ke Shinta, oh iya sebelumnya jangan bilang sama dia soal Anita ya!"


"Iya kalau kamu cerita in soal aku ke kakak kamu, emmm liatin aja nih ntar." ancam Anita.


"I..iya, dia juga gak akan percaya kalau saya cerita soal hantu."


"Ya udah ayo aku anter, eits khusus buat kamu diem aja ya disini gak usah ikutan nanti dia girang ketemu kamu." Dita mencegah Anan untuk ikut keluar ruangan Tante Dewi.


"Tapi jangan lama-lama yak, aku kangen nanti." ucap Anan manja sambil memberikan kecupan bibir nya dari jauh ke Dita.


"Ih... jijik banget sumpah."

__ADS_1


****


to be continued... 😊😊😊


__ADS_2