
Sebelum membaca klik like yak...
let's vote for me boleh yak...
apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...
Rate bintang lima jangan lupa...
thank u so much... love u all... 😘😍😊
***
Taxi online yang Dita pesan melaju di keremangan malam jalanan ibukota. Anan memilih duduk di kursi belakang menemani Dita yang sudah masuk terlebih dahulu di kursi belakang mobil sedan itu. Namun Cindi yang diharapkan menjadi navigator di kursi depan malah memilih duduk disampingnya Anan, dia berdalih bahwa sang supir bisa mencapai rumahnya dengan mengandalkan GPS. Anita yang terlihat akhirnya memilih duduk didepan.
Cindi melingkarkan kedua tangannya di lengan Anan yang sulit di lepas oleh Anan. sementara Anan menggenggam tangan Dita dengan erat. Sayangnya Dita tak mau menoleh ke arah Anan karena Cindi, Dita hanya memandangi pemandangan jalanan yang lalu lalang dari jendelanya. Sesekali Dita menutup mata bahkan menunduk karena melihat penampakan - penampakan di pinggir jalan bahkan tengah jalan.
Pak supir mengamati adegan ke tiganya dari kaca spion dimana Cindi merangkul Anan manja namun Anan hanya memandangi Dita dan menggenggam tangannya.
"Seru nih cinta segitiga nih." gumam Pak supir sambil tersenyum tipis dan memandang Anita sekilas, kedua mata si supir dan Anita sempat beradu pandang.
Ponsel Dita berbunyi tertera nama Tante Dewi sebagai penelepon nya.
"Halo, iya Tante." ucap Dita disambut dengan nyanyian dua oktaf yang berkoar-koar dari Tante Dewi terkait mencari keberadaan dirinya dan Anan. Dita menceritakan kejadian yang menimpa suster Cindi kala berada di toilet mall. Setelah berdebat panjang main lempar ponsel antara Anan dan Dita agar berbicara dengan Tante Dewi akhirnya panggilan ponsel itu berakhir.
"Turun mana nih?" tanya Anan pada cindi yang ternyata tertidur pulas di bahu Anan.
"Cin, cindi, turun mana kita nih?" Dita mengguncang paha Cindi membangunkannya.
"Ini dimana?" tanya Cindi sambil menguap dan meregangkan tubuhnya.
"Pak supir bilang ini titik lokasi nya terus kita kemana nih?" tanya Anan.
"Maju dikit pak gang yang satunya."
Pak supir memajukan mobilnya kembali sekitar dua ratus meter dan berhenti di depan sebuah gang bertuliskan Gg.Munir.
"Oke sampe deh." ucap Cindi.
"Totalnya lima puluh enam ribu pak." ucap Pak Supir.
Anan mengeluarkan dompetnya dari sakunya dan meraih selembar uang seratus ribu.
"Ambil aja pak kembalinya." sahut Anan.
"Makasih ya Pak." ucap si supir.
Dita menoleh ke Anita menyuruhnya untuk turun. "Ini temennya ya mbak?" tanya si supir pada Dita.
"Yang mana pak?" tanya Dita.
"Ini yang duduk di samping saya?"
Anita melongo menatap Dita lalu menoleh lagi ke bapak supir itu.
"Bapak bisa liat saya?" tanya Anita.
__ADS_1
Supir itu tersenyum dan mengangguk.
"Eh jadi bapak bisa liat juga ya? gak takut pak? hehehe ayo Nit turun buruan." sahut Dita.
"Sudah biasa mbak sudah ndak takut, dari kecil saya bisa lihat mereka. Mbak, hati-hati ada yang ngikutin lagi kayanya tuh." Pak supir menunjuk ke arah hantu perempuan menyeramkan di toilet mall tadi.
"Lah dia nyampe juga kesini Ta." sahut Anita.
"Wah iya, gimana ya pak hantu itu ngikutin Cindi yang tadi pak, awalnya saya lihat dia lagi ngejilatin pembalut yang ada darah kotoran nya Cindi." ucap Dita.
"Sepertinya dia ketagihan mbak, mungkin bapak bisa bantu."
"Kenapa Ta kok masih pada di sini?" tanya Anan pada Dita.
"Tuh liat."
"Ya ampun masih aja dia ngikutin."
Dita mengangguk.
"Semua nya yuk jalan sebentar ke ujung sana rumah ku." ucap Cindi.
"Cin, pak Supir ini mau ikut kerumah kamu." ucap Dita.
"Mau ngapain?"
"Sepertinya dia bisa bantu kamu."
"Bantu gimana?"
"Kok bapak tau?"
"Kan tadi kamu bilang hantunya ngikutin kamu." celetuk Dita menggoda Cindi.
"Eh iya masih ngikutin aku ya?" Cindi mencoba bersembunyi mendekati Anan kembali.
"Lebih baik kita masuk kerumah neng." ajak Pak Sugeng.
"Ihhh jitak juga nih cewek." ucap Anita sebal menoleh ke belakang memperhatikan sosok hantu perempuan tadi yang masih mengikutinya. "Dita tungguin...." Anita berlari menyusul Dita.
Sesampainya di rumah Cindi, ibunya menyambut Cindi beserta ke dua adik perempuan nya yang kembar. Cindi rupanya anak yatim yang harus menghidupi ibu dan kedua adiknya. Ibu cindi juga seorang penjahit, dia mengingatkan Dita akan sosok ibundanya yang juga seorang penjahit dulu.
Pak Sugeng menjelaskan kedatangannya ke rumah Cindi karena hendak menolong Cindi. Jika tidak dihentikan hantu perempuan itu akan terus menghisap darah Cindi membuatnya sakit dan kurus namun penyakitnya tak akan terdeteksi oleh ahli medis. Ibunda Cindi mempersilahkan Pak Sugeng melakukan ritualnya.
"Orang pinter nih rupanya Pak Sugeng." bisik Dita.
"Masa iya pinter, coba tanyain IPK nya waktu kuliah berapa Ta?"
"Hisss apaan sih Anita mah, aku lagi serius nih merhatiin."
"Jangan serius-serius amat Ta, entar di tinggalin sedih, kalau udah di tinggalin terus rindu, eh jangan rindu deh nanti berat Ta terus hmmmpp hmppp." Dita membekap mulut cerewet Anita.
"Kakak ngapain sih?" tanya adiknya Cindi.
"Eh enggak ini lagi nepok nyamuk." Dita melepas bekapan nya di mulut Anita sambil berpura menepuk nyamuk. Kini Dita dan Anita fokus ke ritual Pak Sugeng.
__ADS_1
Hantu perempuan itu melingkarkan tangannya di leher Pak Sugeng berusaha untuk mencekiknya namun tak bisa. sementara Cindi terlihat kesakitan meremas perutnya. Disampingnya ibunda Cindi sudah siaga memegangi Cindi. Hantu itu akhirnya pergi setelah Pak Sugeng membakar pembalut yang Cindi pakai beserta celana dalam yang ia pakai dengan ucapan jampi jampi yang tak di mengerti. Hanya Tuhan dan Pak Sugeng yang tau pastinya.
"Nah pelajaran buat mbak Cindi dan mbak Dita kalau lagi datang bulan mohon jangan buang pembalutnya sembarangan atau kalau mau cuci bersih pembalutnya di rumah saja, jangan lupa doanya juga saat masuk kamar mandi karena hantu suka sekali berada di kamar mandi yang lembab dingin dan sepi karena kaum mereka sukanya tempat yang kotor-kotor." ujar Pak Sugeng.
"Saya enggak lho pak, sumpah saya suka nya yang bersih." celetuk Anita sambil mengibaskan kedua tangannya, Dita dan Anan menahan tawanya.
"Baiklah Bu saya pulang dulu, kalian mau bareng ?" Pak Sugeng menoleh ke Dita dan Anan.
"Boleh deh pak, saya mau ke stasiun." jawab Dita.
"Ngapain Ta ke stasiun?" tanya Anan.
"Masih jam delapan, aku mau naik kereta, boleh yak?" pinta Dita tiba-tiba manja pada Anan.
"Hmmm susah nolak kalau udah di tatap gini." Anan mencubit kedua pipi Dita.
"Huuu bucin akut emang!" Anita menepuk punggung Anan.
"Makasih ya Pak." ucap Cindi pada Pak Sugeng, lalu mengucapkan terima kasih pula pada Anan.
"Ta, makasih ya elo udah nemuin dan nolong gue di toilet tadi." ucap Cindi akhirnya.
"Kirain lupa dia bilang makasih sama kamu Ta." sahut Anita.
"Hussst gak boleh gitu Nit." bisik Dita.
Dan mereka semua pamit dari rumah Cindi.
"Mbak Dita temennya kenapa masih di sini?"
tanya Pak Sugeng.
"Saya maksudnya pak? saya Anita."
"Oh Anita, kenapa masih disini mau saya pulangin ke tempat selayaknya ndak?"
"Enggak-enggak urusan saya belum kelar pak."
"Enggak baik lama-lama disini kasian nanti sama mbak Dita."
"Makanya doain pak supaya Dita bisa merid jadi urusan saya kelar deh." sahut Anita melirik Anan dan Dita.
"Oh gitu toh, terus mas nya kenapa masih disini?" Pak Sugeng menoleh ke Anan.
"Kan saya belum pulang pak nemenin Dita ya masih disini lah pak."
"Maksud saya kenapa masih disini, di dunia manusia?"
Deg...
Dita dan Anan saling bertatapan...
***
To be continued... 😘😘😘
__ADS_1