Pocong Tampan

Pocong Tampan
Club' House


__ADS_3

Jangan lupa klik like dan vote sebelum membaca ya terima kasih... 😊😉


***


"Walaikumsalam... selamat datang Tante Dewi..." Dita merentangkan tangannya menyambut Tante Dewi yang baru saja membuka pintu.


"Eh jadi malu, Tante ulang yak."


Mundur keluar menutup pintu kembali lalu membuka pintu dengan mengucap salam.


"Wah... wangi banget masak apa Ta?"


"Masak cumi balado sama sop daging." Dita membuka tudung saji yang baru ia beli di pasar tadi.


"Kamu beli pake uang siapa?"


"Uang aku Tante tadi bos aku kirim uang pesangon, besok juga aku mau kerumah keluarga almarhumah temen aku kasih uang pesangonnya."


Dita jadi sedih menginat kebersamaan nya bersama Anita.


"Aku makan dulu nih yak, enak banget kayanya, mulai besok tiap hari kalo kamu masu masak aku kasi duit belanja yak."


Andri yang disudut pintu sana memandangi Tante Dewi dengan tatapan yang berbeda.


Dita memperhatikan tatapannya dari tadi.


"Tante maaf nih Dita mau tanya, seberapa kenal sih Tante sama Andri dokter forensik itu."


"Uhuk uhuk minum Ta."


Tante Dewi menenggak segelas air putih sekaligus.


"Duh enak banget makanannya sampe gak kerasa udah kenyang, aku mandi dulu yak." ucapnya lalu pergi kedalam kamarnya.


"Ada yang salah ya sama pertanyaan ku Nan?"


"Coba tanya si tempe angus." sahut Anan.


Andri tiba-tiba menghilang dari pandangan Dita.


"Lah bocah kemana yak tau-tau ngilang." Dita menyuapi Anan dengan sup dagingnya.


***


"Tante aku mau ..."


"Ta bisa gak jangan tanya soal Andri."


Tante Dewi menjawab ketus sambil membaca majalah.


"Enggak tante, aku cuma mau minta ijin, boleh pergi ke X club' house gak?"


"Kamu sendirian? malem-malem gini mau clubing kesana ngapain? ditawar om om loh."


"Aku gak sendirian kok, kan ada Anan, sama Andri sama Jen juga?"


"Andri...??"


"Iya, Tante."


"Sejak tadi dia ada disini?"


"Ada, tapi sekarang kemana yak gak ada kayanya." Dita celingukan mencari Andri.


"Jangan deh Ta, tetep aja kamu tuh kelihatannya sendiri, siapa pula lagi itu Jen."


"Temen Anan, dia cukup tau tentang club' house kali aja aku bisa dapet info dari sana."


"Jangan deh Ta, Tante malah takut kamu kenapa-kenapa."

__ADS_1


"Tapi Tante..."


"Oke kita kesana."


" Tante temenin aku?"


"Iya, ayo kita kesana."


Tante Dewi berganti baju dan mengambil kunci mobilnya serta tas kecil yang diselempangkan di bahunya.


Tring... pintu lift terbuka. Hantu Bani sudah meringis tersenyum menyambut Dita dan Tante Dewi.


"Hai.. kok anak kecil malem-malem sendirian disini?" tanya Tante Dewi ke Bani membuat Dita heran namun diam tak menjelaskan takut Tante Dewi ketakutan.


"Aku lagi main terjun payung Tante, mau main?" ucap Bani.


"Enggak usah, kapan-kapan aja yak kita mau pergi." sahut Dita.


"Yah... kirain mau main."


pintu lift lantai sepuluh terbuka dan Bani keluar di lantai itu sambil melambai kan tangannya.


"Kapan-kapan main yak, dah kakak dah Tante." ucap Bani.


"Dah..." sahut Tante Dewi.


"Tante emmm gak jadi deh."


"Kenapa sih si Dita heran Tante, eh anak tadi kaya pernah lihat dimana yak?"


"Ya disini lah Tante barusan."


"Oh iya yak tetangga jauh mungkin pernah ketemu sebelumnya."


Takut enggak yak kalo aku bilang Bani hantu nanti pingsan lagi.


Dita dan Tante Dewi keluar di lift basement. Dilihatnya Jen sedang memeluk lengan Anan di parkiran sana membuat Dita geram, lalu melempar salah satu sepatunya kearah Anan.


"Kamu ngapain Ta?" tanya Tante Dewi heran.


"Eh perasaan Dita liat tikus gede banget jadi aku timpuk, eh gak kena."


"Mana tikusnya?" tanya Tante Dewi.


Nih didepan aku Tante gede banget.


batin Dita sambil melotot ke arah Anan yang merapat kan kedua telapak tangannya meminta maaf.


"Enggak ada ya, salah liat aku berarti."


"Kok dia ikut Ta?" tanya Andri.


"Mau nemenin aku."


"Kenapa Ta? oh kayaknya aku harus biasa ya liat kamu suka ngomong sendiri." sahut Tante Dewi menyalakan mesin mobilnya lalu meluncur menuju X club'house.


***


Antrian di klub house tidak begitu panjang karena bukan hari weekend jadi Dita dan Tante Dewi tak perlu waktu lama untuk masuk kesana.


"Hai cantik..." suara-suara pria hidung belang terus saja berseliweran menggoda Dita dan Tante Dewi.


"Itu James, temennya Anan." Tunjuk Jen pada laki-laki keturunan bule yang duduk merangkul perempuan berpakaian minim dengan segelas wine di tangannya.


"Kenal Nan?" tanya Dita.


Anan menggeleng. "Aku gak tau aku gak inget."


Tiba-tiba James memperhatikan Dita yang sendirian karena Tante Dewi pergi ke toilet saat itu, Andri mengikuti dibelakang Tante Dewi. James menghampiri Dita.

__ADS_1


"Hai, sendirian aja?" tanya James.


"Enggak kok, aku sama Tante aku lagi ketoilet." sahut Dita.


"Baru pertama kali ya kesini?"


Dita mengangguk.


"Pantes baru liat, mau minum enggak?"


"Enggak usah udah kembung."


"Hahahahha elo lucu, gue James." ucapnya mengulurkan tangan kanannya.


"Gue Anan."


James agak mengernyitkan dahinya mendengar nama Anan.


"Anandita." Dita membalas uluran tangan James.


"Ok Anandita mau ke tengah, kita dance,?"


"Enggak ah gak bisa dance."


"Gue ajarin."


"Gak usah makasih." Dita melihat Tante Dewi melambaikan tangannya pada Dita.


"Sorry ya aku dipanggil tanteku ."


"Tunggu, gue boleh minta nomer telpon lo?"


Dita menggeleng pergi dari hadapan James namun tak lama kemudian dia kembali.


"Mana hape kamu?" tanya Dita.


James mengulurkan hapenya ke Dita lalu Dita menyimpan nomer ponselnya di ponsel James lalu pergi berlalu dari James.


"Elo jadi suka kan sama James? dia tuh gampang banget bikin cewek-cewek klepek-klepek sama dia." ucap Jen.


"Emang iya Ta? kamu suka yak?" ada nada kesal dipertanyaan nya.


"Suka-suka aku lah." sahut Dita menggoda Anan.


"Pulang yuk Ta, aku dateng bulan nih, gak bawa pembalut." ucap Tante.


"Oh oke deh, aku juga pusing disini."


***


Diperjalanan pulang terjadi kemacetan karena sebuah kecelakaan terjadi. Mobil taxi yang membawa dua penumpang tertabrak bus antar kota.


"Tante mau kemana?" tanya Dita menahan Tante Dewi yang hendak keluar.


"Aku kan dokter Ta, siapa tau aku bisa bantu."


Dita tak dapat menahan Tante Dewi akhirnya ia ikut turun mempersiapkan mentalnya jika menemui sosok hantu korban kecelakaan lainnya.


Benar saja supir taxi yang tergencet bus antarkota itu sudah tewas di tempat dan menampakkan dirinya, kepala belakangnya hancur tampak berongga dengan tangan kanan yang putus sampai ke siku, dari kepalanya mengalirkan darah menutupi mukanya. Dita berusaha untuk pura-pura tak bisa melihat penampakan supir taxi itu.


"Ta itu bokap nyokap gue." sahut Andri menunjuk penumpang di kursi belakang yang ditarik keluar oleh para penolong.


"Korban yang ini masih hidup, tolong segera telpon ambulance!"


perintah dokter Dewi mencoba memberi pertolongan pada ayah Andri yang tergeletak tak sadarkan diri sementara ibu Andri masih sadar terduduk lemas dan Dita langsung membantu untuk menopang tubuhnya.


***


To be continued...

__ADS_1


Happy Reading...


__ADS_2