
Sebelum membaca klik like yak...
let's vote for me boleh yak...
apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...
Rate bintang lima jangan lupa...
thank u so much... love u all... 😘😍😊
****
Disebuah perkampungan di pinggir kota besar Shinta berada di rumah kayu dengan bilik klasik dengan seorang laki - laki tua.
"Berapa Mbah?" tanya Shinta menggenggam sebuah botol kecil berisi ramuan.
"Lima ratus ribu." sahut pria tua itu.
"Wah mahal banget mbah, diskon lima puluh persen deh." Shinta mencoba menawar.
"Itu khasiat nya ampuh, kalau mau harga diskon saya beri ramuan di bawah itu khasiatnya, mau?"
"Ya jangan dong Mbah, pakai kartu kredit bisa gak Mbah?"
"Bisa."
"Cicil enam bulan bisa Mbah?"
"Bisa" sahut pria tua itu sambil mengusap jenggot putihnya.
"Wuih keren ni dukun bisa cicilan CC hehehe, makasih ya mbah."
ucap Shinta senang dibalas dengan anggukan pria tua yang mengaku dukun sakti itu, lalu Shinta pamit pergi dari rumah dukun itu.
"Yess nanti tinggal gue siram nih air ke muka pak Manan langsung deh si bos kejar - kejar gue dan bilang Shinta I love you."
Shinta membayangkannya dengan senyum mengembang di wajahnya sambil berjalan menuju rumah sakit milik Anan.
***
"Ini enak banget sumpah ayam bakarnya juara." ucap Dita yang sudah menghabiskan porsi ke duanya itu.
"Mau nambah lagi Ta?" tanya Anan.
"Emang boleh Nan?"
"Ta inget bentar lagi nikah, mau perut nya buncit." larang Anita.
"Eh iya, gak jadi deh Nan."
"Enggak apa-apa Ta, kalau mau nambah, aku akan cinta kamu apa adanya asal kamu bahagia." ucap Anan tersenyum senang melihat Dita bahagia.
"Tapi kalau aku gemuk kaya mbak itu gimana?" Dita menunjuk ke arah wanita gemuk yang melintas di depan restoran dan seketika wanita itu menoleh ke Dita.
"Eh orang nya paham aku omongin." Dita menunduk malu.
"Ya jangan segitu Ta, nanti aku gak kuat gendong kamu nya."
"Tuh katanya cinta apa adanya."
__ADS_1
"Yah maksudnya, jaga kesehatan aja kalau terlalu gemuk kan gak baik gitu lho."
"Ya udah deh nih habisin Don." Dita menyerahkan piringnya pada Doni lalu berdiri menuju wastafel cuci tangan Anita mengikuti Dita.
"Tuh cewek gitu Don, paling sensitif kalau ngomongin berat badan, umur sama penampilan wajahnya, entar nanya deh kaya gini, sayang muka aku iteman yak, muka aku jerawatan yak, muka aku banyak keriputnya yak, bla bla bla bla." Anan mengoceh tak karuan di hadapan Doni.
"Hmmm pak, saya gak ikut - ikutan yak." Doni menunduk takut melihat sosok Dita sudah bertolak pinggang di belakang Anan.
"Perasaan enggak enak nih Don." ucap Anan perlahan sambil menoleh ke arah belakangnya.
"Eh cantiknya aku, udah selesai ya cuci tangannya, kalau gitu aku ya gantian mau cuci tangan." Anan mencoba berdiri namun Dita sudah memegangi kedua bahu Anan menahannya duduk.
"Tadi cerita apa?" ucap Dita manja.
"Enggak kok, aku cuma ngajarin Doni aja kalau sama perempuan harus baik, perhatian, sayang, yang tulus gitu." Anan mencoba berbohong.
Anita tertawa melihat kelakuan Anan dan Dita dihadapannya.
"Tadi perasaan sayup-sayup aku gak denger kamu ngomong gitu deh." ucap Dita.
"Eh buruan yuk, cari topeng sama baju hitam, sekalian beli gaun, jas aku sama cincin pernikahan kita, aku cuci tangan dulu yak." Anan langsung berdiri menuju wastafel.
"Apa Doni liat - liat aku?" Dita melotot ke arah Doni.
"Enggak kak, Doni mau ikut cuci tangan juga." Doni menyusul Anan segera.
"Hahahahaha sumpah kocak banget tuh cowok - cowok." Anita tertawa puas.
Setelah mendapatkan beberapa pakaian untuk Anan, Dita, Anita dan Doni yang serba hitam dan tiga buah topeng karena Anita tak usah pakai pada pesta nanti malam, serta sebuah gaun pernikahan sederhana, Dita menghentikan langkahnya di depan sebuah toko perhiasan.
"Itu cantik banget Nan." tunjuk Dita pada sepasang cincin emas berukir batik di permukaannya, cincin untuk perempuannya bermata berlian berukuran kecil terlihat sederhana namun unik dan mewah, sementara cincin untuk prianya tak bermata kan berlian.
"Emang jodoh sama nih cincin, pas banget lagi di jari kita." sahut Dita.
"Oke mbak aku ambil yang ini." ucap Anan pada mbak penjaga toko perhiasan itu.
"Kamu senang Ta?" tanya Anan.
"Seneng banget, makasih ya Nan untuk hari ini." Dita memeluk Anan mesra.
"Kapan ya aku dibeliin cincin kaya gitu Don?" bisik Anita ke Doni.
"Emang ada apa yang mau nikah sama hantu?" sahut Doni.
"Oh... makasih ya Don, udah ngingetin siapa aku." ucap Anita kecewa lalu pergi menjauh.
"Yah Nit, bukan, bukan maksud aku kaya gitu, maaf Nit." Doni menyusul Anita sambil membawa lima kantong belanjaan ditangannya yang cukup merepotkan.
"Maaf non, itu temennya kenapa yak?" tanya salah satu penjaga kepada Dita yang melihat Doni mengejar sesuatu yang tak terlihat.
"Bentar mbak, saya lihat jam di tangan saya dulu, wah jam tiga sore, sudah seharusnya dia minum obat mbak." ucap Dita menahan tawa.
"Harusnya jangan dibiarin keliaran Non."
"Oh tenang aja dia jinak kok gak galak kalau lagi kambuh, yuk Nan kita susul Doni." ajak Dita melingkarkan tangannya di lengan Anan dan keluar dari toko perhiasan itu setelah Anan menyelesaikan pembayarannya.
"Ih parah ya cyin punya temen sinting dibawa nge-mall."
"Iya yak, ih ngeri." para penjaga toko perhiasan saling bergunjing.
__ADS_1
***
"Hallo, kak Aiko." Tante Dewi menelpon maminya Anan dari ruang kerjanya.
"Iya kenapa Dew?"
"Bagaimana kabar kakak, apa lebih baik?"
"Aku merasa lebih baik, ada hal apa yang ingin kau bicarakan?"
"Ada yang ingin aku bicarakan, ini tentang Anan."
"Ada apa dengan Anan?" tanya mami Aiko dari sebrang sana.
"Dia baik - baik saja. Aku hanya mengabarkan dia akan menikah kak."
"Hah? menikah? dengan siapa?"
"Dengan perempuan baik hati bernama Dita, kakak tenang saja Dita ini sempurna di mataku apalagi di mata Anan." ucap Tante Dewi memuji Dita bangga.
"Oh sepertinya aku ingat pernah bertemu dengannya saat aku ingin memanggil jiwamu malah dia yang datang, kapan upacara pernikahan nya?"
"Minggu depan kak, tolong jangan beri tahu mas Arjuna, aku tak mau dia kemari dan memisahkan Anan dari raga Manan."
"Baiklah dew, sebenarnya aku ingin melihat Anan menikah, namun... sepertinya aku hanya bisa mendoakannya dari sini."
"Baiklah kak, aku akan mengirimkan foto perniakahan mereka nanti."
"Sampaikan salam ku pada pengantin, aku akan mengirimkan hadiah pernikahan pada mereka, aku jadi membayangkan tak sabar ingin mempunyai cucu."
"Hahaha iya kak, aku juga."
"Kau tak ingin menikah Dewi?"
"Ah biarlah aku sendiri saja dulu, nanti jika bertemu dengan jodohku, toh aku juga ingin menikah, oke kak kita akhiri pembicaraan kita ya kak, ingat jangan sampai mas Arjuna tau, jaga kesehatan kakak ya."
"Baik Dewi, terima kasih." Aiko mengakhiri sambungan teleponnya dengan Dewi.
"Bagaimana Mas, Anan kita akan menikah rupanya, apa harus ku ulur waktu sampai istri Anan hamil nanti? jadi kita masih punya keturunan setelah kedua anak kita ku tumbal kan, bagaimana mas?"
Aiko menatap suaminya yang berada di hadapannya, Arjuna duduk di kursi roda, dia tak mampu menggerakkan tubuhnya hanya bisa mengedipkan kedua matanya untuk merespon.
"Hah apa untungnya aku bertanya kepadamu, seandainya saja aku bisa mengakhiri hidupmu."
Aiko memandang langit yang mulai gelap di taman itu lalu ia mendorong kursi roda suaminya itu untuk pulang kerumah.
Air mata menetes dari kedua mata Arjuna saat perjalanan menuju rumahnya.
****
To be continued...
Crazy up... spesial buat pembaca setia Pocong Tampan yang tercinta... 😘😘😘
Jangan lupa crazy vote juga dong buat novel ini biar Vie makin semangat dan sering - sering crazy up buat kalian... Jangan lupa tiap bab juga di like lho jangan dilewatin yak...
Lanjut besok yak... Tengok novel ku lainnya yak ada 9lives yang baru Up lho...
Terima kasih, sehat selalu dan love you all...😘😘😘
__ADS_1