
Dear pembaca tercinta yang selalu setia menunggu Pocong Tampan up... Vie mohon dong, mohon banget... jangan bosen buat VOTE ya... pokoknya vote vote vote...
Di like juga tiap babnya, terus komen, terus kasih vote deh...
Happy Reading...
******
"Anta...!!!"
Tasya memanggil Anta dari kejauhan.
"Tuh kak Tasya!" Tunjuk Anta.
Doni segera menurunkan Anta dari gendongannya lalu ia berbalik badan tak mau melihat ke arah Tasya.
"Eh Tasya, apa kabar?" Shinta menegur sapa Tasya.
"Eh, ha-hai, hai kak!" Tasya menoleh pada Shinta yang sedang menggendong anaknya.
"Kamu sama siapa?" tanya Shinta yang menoleh ke arah Mark.
"Aku sama Anta," sahut Tasya.
"Itu lho, cowok cakep itu siapa?" Shinta menunjuk ke arah Mark.
"Oh ini, hehehe ini toh... ummm dia, dia hehehe dia pacar saya."
Tasya menarik tangan Mark dan melingkarkan tangannya di lengan Mark sambil meringis menepuk bahu Mark.
"Pacar itu apa sih kak?" tanya Anta menahan tangan Doni agar tak pergi.
"Gak usah pada dijawab, biar aja Anta masih kecil gak usah di jelasin!" ucap Tasya mencegah siapapun menjelaskan pada Anta.
"Jadi ini pacar kamu Mark?" tanya Mitha.
Mark menoleh ke Tasya yang mengedipkan matanya berkali-kali pada Mark.
"Hmmm gimana ya... aduh...!"
Cubitan di perut Mark datang dari tangan Tasya.
"Iya, iya, iya aku pacarnya."
Sahut Mark seraya menatap tajam ke arah Tasya.
"Ini kenalin suami aku," ucap Mitha yang menepuk punggung Doni agar berbalik badan.
"Hai aku Mark!"
Mark mengulurkan tangannya untuk di jabat Doni.
"Hai, aku Doni."
Doni membalas jabatan tangan Mark. Sempat menoleh ke arah Tasya, namun gadis itu langsung membuang mukanya ke arah lain.
"Siapa nama pacar kamu?" tanya Mitha.
__ADS_1
"Dia Tasya."
"Hai, aku Tasya." gadis itu hanya melambaikan tangannya ke Mitha sambil memaksakan diri tersenyum.
"Aku mau ke toilet ya," ucap Doni lirih melepas genggaman tangan Anta lalu bergegas menuju ke toilet. Laki-laki itu sempat menyeka air matanya saat menuju ke arah toilet.
Brug...
Doni menabrak Jerry sampai jatuh tersungkur.
"Maaf mbak gak sengaja," ucap Doni langsung buru-buru masuk ke dalam toilet.
Doni langsung menyalakan keran air di hadapannya. Ia seka seluruh wajahnya dengan air mengalir itu untuk menyembunyikan matanya yang memerah menahan air matanya agar tak mengalir kembali. Hatinya sakit saat melihat Tasya dengan orang lain. Padahal keinginannya saat itu kala bertemu Tasya adalah memeluknya. Namun apa daya takdir membuatnya harus berpisah dengan Tasya.
"Ini tisunya."
Suara misterius itu tersengar seraya menyerahkan selembar tisu ke arah Doni.
"Makasih ya pak," sahut Doni.
Setelah menyeka wajahnya dengan tisu ia lalu menoleh ke arah suara tadi, namun tak ada seorang pun di sana. Bulu kuduknya langsung meremang. Tubuhnya merinding kala tak melihat ada siapapun di kamar mandi itu selain dia.
"Horor nih kamar mandi," gumam Doni lalu bergegas keluar dari toilet pria itu.
***
"Hihihi padahal aku keluar dari kamar mandi cowok eh di panggil mbak, senangnya hatiku..." Jerry mengucap sambil berjalan dengan melompat kecil.
"Eh ngomong-ngomong pada kemana ya Tasya sama Anta, duh aku ditinggal nih jangan-jangan."
***
"Doni kenapa ya aneh gitu, apa jangan-jangan dia sakit perut ya kak?" tanya Mitha pada Shinta.
"Mungkin, coba sana kamu susul!" Shinta memberi perintah pada Mitha.
"Tunggu sini ya kak, aku susul Doni dulu."
Mitha melangkahkan kakinya segera menyusul Doni.
"Jadi... bagaimana Sya istrinya Doni, cantik kan?" tanya Shinta menoleh ke arah Tasya yang sedang membersihkan bekas permen kapas di bibir Anta dengan tisu basah.
"Cantik." Sahut Tasya tanpa menoleh ke arah Shinta.
"Cantiklah, udah gitu orang kaya lagi enggak kayak kamu. Enggak nyangka juga ya ternyata adikku itu bukan jodoh kamu," ucap Shinta tertawa sinis ke arah Tasya.
Mark yang baru saja memesan sekaleng soda dan meminumnya sedikit langsung terbatuk-batuk kala mendengar ucapan Shinta yang mengejutkan barusan.
"Padahal dulu kalian selalu berjuang bersama bahkan ku pikir cinta kamu sama Doni itu kuat ya, ternyata..." Shinta menghela nafas dalam.
"Ternyata kalau bukan jodoh ya gak bakal jodoh, ya kan?" Tanya Shinta pada Tasya.
"Maksud kamu apa sih kak? langsung aja tanya kamu sedih gak Tasya denger Doni meninggalkan kamu dan nikah sama perempuan lain, mau tanya itu kan?" Tasya menantang Shinta kali ini.
"Hmmm... Iya sih sebenarnya kepo juga sama yang satu itu, tapi berhubung kamu sudah punya pacar, sebaiknya gak usah di tanya ya perasaan kamu sedih apa enggak di tinggal nikah Doni."
Shinta melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Tasya. Ia memilih menyusul Mitha dan Doni ke toilet.
__ADS_1
"Ih... Tuh mak lampir nyebelin banget... mulutnya belum pernah kali ya di sumpel permen lolipop sepuluh biji iihhhh...!!!"
Tasya menghentakkan kakinya berkali-kali dengan gemas sambil meninju telapak tangannya sendiri.
"Tante, Anta mau dong permen lolipop sepuluh biji," ucap Anta sambil menarik ujung kaus Tasya.
"Hadeh... giliran makanan aja nyambernya cepet. Duh lupa kan sekarang kak Jerry dimana, Nta?" Tasya menoleh ke kanan, ke kiri, ke belakang mencari Jerry.
"Tuh kan kalian udah pada gede tapi dari tadi kerjaannya ngilang mulu, Anta kan capek nyarinya." Anta menggerutu sambil memajukan bibirnya dan bertolak pinggang.
"Cantik banget sih kayak bundanya," ucap Mark mencolek bibir Anta yang menggemaskan.
"Bantuin cari Jerry, yuk!" ajak Tasya.
"Kamu ngomong sama aku?" tanya Mark.
"Bukan! aku ngomong sama hantu nih... huaaaa!!!" Hantu perempuan yang lehernya hampir putus itu hadir di samping Tasya. Hantu itu tersenyum menyeringai ke arah Tasya karena gadis itu dapat melihatnya.
Tasya bersembunyi di balik tubuh Mark. Karena tak bersama Dita maupun Pak Herdi entah kenapa ia malah jadi penakut.
"Kamu lihat apa sih?" tanya Mark.
"Yah Om Mark gak bisa lihat ya, ada perempuan yang lehernya berdarah semua tapi tadi Anta udah tempelin permen kapas. Jadi tenang aja lehernya gak akan copot."
Anta maju menghadang hantu perempuan itu.
"Kalian pada ngomongin apa sih? perempuan lehernya berdarah, lehernya mau copot, maksudnya apa sih?" tanya Mark yang makin tak mengerti.
"Sudahlah kamu gak perlu tahu, lebih baik kamu gak usah lihat, gak enak soalnya tekanan batin tau kalau lihat hantu," ucap Tasya masih bersembunyi di punggung Mark lalu mendorongnya melangkah maju sembari menarik tangan Anta. Dia tak mau melihat ke arah hantu perempuan mengerikan itu.
"Hantu? hari gini ngomongin hantu? hahahhaha... kalau mau ngomongin hantu tuh masuk sana, ke wahana rumah hantu!" Ucap Mark menunjuk ke arah wahana rumah hantu di ujung taman fun fair itu.
"Ah... Anta suka... ayo kesana ya tante!" Anta bertepuk tangan dengan senangnya saat melihat wahana rumah hantu tersebut.
"Tapi cari Tante eh Om Jerry dulu, Nta." Sahut Tasya mencegah Anta untuk masuk ke sana sebelum menemukan Jerry.
"Tuh orangnya nongol!" Mark menunjuk ke arah laki-laki dengan gaya jalan yang feminim itu menuju ke arahnya.
"Syukurlah... ketemu juga." Gumam Tasya.
*****
Masih bersambung ya guys...
Jangan lupa main ya ke cerita ku lainnya.
- WITH GHOST (UP)
- Kakakku Cinta Pertamaku
season 1 END
- 9 Lives (END)
- Gue Bukan Player (END)
Vie Love You All 😘😘😘
__ADS_1