Pocong Tampan

Pocong Tampan
Kesalnya Dita


__ADS_3

Sebelum membaca klik like yak...


let's vote for me boleh yak...


apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...


Rate bintang lima jangan lupa...


thank u so much... love u all... 😘😍😊


***


"Ibu bangun Bu, ibu gak apa - apa kak?" Dita menepuk pipi ibu janitor itu perlahan-lahan.


"Kalian sih berantem aja!" ucap Dita kesal.


"Tapi dia kan gak bisa lihat saya Ta, dia kaget sama ucapan kamu." sahut pak Herdi.


"Iya Ta gara-gara kamu dong." sahut Anan.


"Kok Anan nyalahin aku sih, kamu aja berantem sama yang gak kelihatan hayo." ucap Dita kesal.


"Ya gak nyalahin kamu juga sih Ta, maaf deh."


"Terus ini gimana ibunya gak bangun, ayo angkat!" perintah Dita.


Anan membantu Dita mengangkat ibu pembersih rumah sakit itu ke atas deretan kursi tunggu pasien.


"Bu... Bu... bangun Bu." Dita menepuk pipi ibu itu lagi perlahan.


"Bentar ya Ta, mohon maaf nih ya mohon maaf sebelumnya." Anan mengeluarkan uang seratus ribuan selembar mendekatkan uang itu kepada ibu tersebut.


"Anan ih gak sopan banget!" bentak Dita.


"Tau nih orang tua di gituin." pak Herdi menoyor kepala Anan.


"Nih ya, gak Andri gak dia demen banget sama kepala gue." Anan menarik kaki pak Herdi yang terikat sampai jatuh terjungkal.


"Ih si Anan yak kasian kan sakit tuh pak Herdi di jatuhin gitu."


"Lah dia udah mati Ta." sahut Anan.


"Tenang Ta, aku gak apa - apa kok." pak Herdi gantian menarik kaki Anan membuatnya jatuh tengkurap.


"Lo tuh ya bener - bener minta di gali makam Lo abis itu gue bakar kafan Lo mau?" ancam Anan yang sudah berdiri menarik leher pak Herdi dari belakang dan menjatuhkan nya kelantai.


"Smackdown...!!!" teriak Anan.


"Astagfirullah... kenapa cowok - cowok yang pada bikin hati aku cenat cenut masih pada bocah gini sih." Dita menutup kedua wajahnya.


"Apa kamu bilang Ta?" ucap pak Herdi dengan suara parau karena lehernya tertahan oleh tangan Anan.


"Emang dia ngomong apa?" tanya Anan karena tak mendengar ucapan Dita.


"Dia bilang cowok - cowok yang bikin hati dia cenat cenut berarti aku juga dong? aw aw aw, lepas Nan."


"Emang iya Ta kamu bilang gitu?" tanya Anan ke Dita kali ini.


"Eng ... enggak kok cowok nya cuma satu." Dita mencoba mencari alasan.


"Eh ibunya sadar."

__ADS_1


Anan melepas pak Herdi kali ini langsung berdiri bersikap normal di depan ibu itu.


"Ibu gak apa-apa kan?" tanya Dita


"Neng tadi bukannya ngomongin pocong pada berantem yak?" tanya ibu itu.


"Ibu salah paham salah denger kayaknya." ucap Dita.


"Ibu udah makan belum?" tanya Anan.


"Sarapan udah pak, tapi makan siang mah belum."


"Cocok, nih buat ibu beli makan siang." Anan menyerahkan selembar uang ratusan ribu tadi.


"Buat saya pak?"


"Iya buat ibu, maaf ya Bu."


"Maaf atas apa pak?"


"Saya buat ibu pingsan hehehe."


"Tapi tadi..."


"Udah Bu terima aja." sahut Dita memotong ucapan ibu itu.


"Makasih ya non, pak." ucap ibu itu.


"Kami pamit ya bu, ayo Nan." ajak Dita menarik tangan Anan meninggal


"Aku ikut ya Ta." sahut pak Herdi yang mengikuti dari belakang. Anan meledek pak Herdi dengan cara melompat - lompat.


"Kalian pada ngeledek saya ya?" tanya pak Herdi kesal.


"Enggak kok pak, olahraga sekalian hehehe, nanti aku beliin bapak baju ya biar gak lompat-lompat."


"Udah biarin aja, kan dia udah tua tuh biar sehat Ta lompat - lompat."


"Apa kamu bilang tua?"


"Eits stop yak, pusiiiiiing dengernya." Dita melerai keduanya.


***


Tring ...


"Jiaaahhh kakek nya masih disini?" pekik Dita langsung bersembunyi di balik Anan saat masuk ke dalam lift.


"Tadi mah aku bawain perban ya lupa terus nih kasian kan tangannya berdarah terus." hantu kakek itu menyeringai menertawakan Anan.


"Gak lucu Nan, kakeknya makin galak." bisik Dita.


"Permisi maaf ya jangan mendekat." pak Herdi menghalangi hantu kakek itu.


Tring... pintu lift terbuka Dita langsung berlari keluar di ikuti Anan.


"Thanks pak Herdi." ucap Dita.


"Sama-sama Ta kan aku akan selalu jagain kamu."


"Eh jaga ya mulut Lo." tunjuk Anan ke sesuatu yang tak terlihat oleh beberapa orang disekitarnya.

__ADS_1


"Bapak maaf saya gak ngomong apa-apa kok pak." ucap seorang staf rumah sakit yang kebetulan berada di dekat Anan.


"Bukan bukan Lo, tenang aja." Anan masih memandang tajam pada pak Herdi.


"Nan, sweet banget sih kalau kamu posesif gini tapi liat - liat dong, masa iya kamu cemburu sama dia." bisik Dita.


"Ya cemburu lah Ta, jelas - jelas dia suka sama kamu terus kamu juga kayaknya suka sama dia, iya kan?" tanya Anan ada nada kesal terdengar dari ucapannya.


"Oke fine, aku jujur dulu memang aku pernah suka sama dia." jawab Dita.


"Aku denger Ta." sahut pak Herdi.


"Eh Lo bisa mundur gak!" pekik Anan membuat seseorang yang lewat disampingnya menengok segera menghindar.


"Maaf ya maaf." Dita langsung menarik tangan Anan menuju ruangan Tante Dewi.


"Kamu belum lanjutin omongan kamu Ta."


"Nanti aja lanjut ngomongnya, kalau kamu emosi sama pak Herdi lama-lama kamu dibilang gila nanti." Dita masih menarik lengan Anan.


"Cie makin mesra aja nih." ledek Joni dan Johan bersamaan ketika mereka melihat Anan dan Dita melintas.


"Yoi dong, ini Dita semangat banget narik gue." ucap Anan sombong.


"Wuidih mbak Dita agresif bener." ledek Joni.


"Au amat lah." Dita melepas tangan Anan lalu masuk ke ruangan Tante Dewi.


"Pak Manan." Shinta memanggil Anan sambil berlari.


"Kenapa Shin?" tanya Anan.


"Ini aku bawa kue brownies buat bapak, dimakan ya pak." Shinta menyerahkan kue itu pada Pak Herdi.


"Makasih ya, nanti aku makan." ucap Anan.


"Cobain sekarang dong pak, aku mau tau reaksi bapak cobain kue buatan aku." rengek Shinta.


"Oke aku makan."


"Dokter Shinta, anda di panggil keruang mayat sekarang!" ucap seorang suster.


"Iya sus bentar." Shinta menoleh ke suster yang memanggil nya.


Shinta menoleh lagi ke Anan. "Gimana pak rasa kuenya?" tanya Shinta penasaran.


"Enak kok." sahut Anan.


"Pak di makan yak harus di habiskan!"


"Oke nanti dihabiskan." ucap Anan.


"Aku pamit ya pak, daaah." Shinta pamit menuju ruang mayat.


"Yess bentar lagi pak Manan bertekuk lutut di hadapan gue." gumam Shinta lalu menoleh ke Anan sebelum dia masuk lift dan tersenyum senang. Anan membalas senyuman Shinta kala itu.


****


To be continued...


Hai hai hai... Pembaca tercintaku... jangan lupa yak tengok novel 9 lives dan dukung aku yak please kasih like dan komen ke novel baru aku. Kasih vote apalagi boleh banget. makasih banyak semuanya... Love you all...

__ADS_1


__ADS_2