Pocong Tampan

Pocong Tampan
Musim Kedua - Pindah (Part 2)


__ADS_3

Sebelum membaca jangan lupa ya di Like, Vote, and rate bintang lima ya...


Happy Reading 😊😊😊


******


Arga memanggil nama Dita dari ujung koridor, dia bersama Sahid baru saja keluar dari apartemennya yang terletak dua hunian dari tempat tinggal Dita.


"Hai Arga, hai Sahid!" sapa Dita.


"Tuh kan bener, ini nih yang bikin perasaan gue gak gak enak," gumam Anan saat melihat Sahid dan Arga.


"Hai Sahid..." sapa tante Dewi.


"Halo tante apa kabar, kemaren aku lihat tante di parkiran, tapi tante buru-buru jadi aku gak panggil," ucap Sahid.


"Oh iya kah? ini siapa?" Tante Dewi mencolek pipi Arga.


"Anak saya, mamanya nitip di sini ada kerjaan," jawabnya.


"Tapi bukannya kalian sudah..."


"Iya, benar," Sahid memotong pertanyaan tante Dewi karena sudah paham.


"Mau kemana?" tanya Dita.


"Kita mau cari makan, kalian tinggal di sini?" tanya Sahid pada Dita.


"Iya, berati kita tetanggaan ya, wah beruntungnya," ucap Dita mencolek pipi Arga.


"Apes bun, beruntung dari mana?" celetuk Anan.


"Yanda..."


"Masuk yuk, kasian Anta nih, mau di taruh di kasur," ucap Anan.


Fei membuka pintu apartemen nomor 3 itu. "Mari masuk," ucap Fei.


Hawa panas dan bau pengap menyeruak kala ruangan itu terbuka. Fei langsung menyalakan air conditioner dan membuka tirai jendelanya agar cahaya dapat masuk.


"Ayo masuk, mampir dulu," ucap Dita dengan sopan pada Sahid dan Arga.


"Ngapain sih di ajak masuk, kan mereka mau cari makan tadi," sahut Anan dari dalam kamar merebahkan Anta di atas kasur yang empuk untuk gadis kecil itu.


"Maaf ya gak usah di dengerin, ayo masuk!" ajak Dita tetapi Arta tak mau melangkah ke dalam.


"Ayo Arga," ucap Sahid.


"Enggak mau, di dalam serem, ada tante menakutkan di dalam situ," rengek Arga.


"Tante menakutkan?" tanya Dita.


"Oh mungkin anak ini berhalusinasi, yah namanya anak-anak, kalau memang gak mau masuk jangan di paksa pak, mungkin dia lapar," sahut Fei seperti membunyikan sesuatu dari Dita.


"Maksud Arga ada hantu gitu?" tanya Dita yang di jawab anggukan oleh Arga.


"Ehmm bu mari saya tunjukan bagian rumah," Fei langsung menarik tangan Dita menuju dapur.


"Kalau pun ada hantu di sini, saya gak takut kok, tenang aja mbak Fei, hal tersebut tak akan merubah keputusan saya kok untuk menyewa tempat ini, saya tetap akan menyewanya," ucap Dita dengan senyumnya. Sementara tante Dewi berlindung di dekat Anan.

__ADS_1


"Tapi bu... emang gak ada apa-apa kok di rumah ini," ucap Fei meyakinkan.


Prang...


Sebuah panci jatuh ke lantai tiba-tiba membuat semuanya tersentak dari tempatnya berpijak. Arga makin memeluk Sahid ketakutan.


"Apa jangan-jangan ada tikus mbak?" tanya Dita.


"Eh enggak kok bu, gak ada tikus di sini, terus kalau mau pelihara hewan juga harus ijin dulu ya, itu pun cuma boleh kucing atau anji*g berukuran kecil," sahut Fei.


Bunyi piring pecah terdengar menyusul di dapur.


"Nah ada lagi, Jadi yang barusan itu apa?" tanya Dita.


"Eh mungkin angin atau jatuh tiba-tiba gitu bu, baik kalau begitu saya permisi ya bu, jika perlu bantuan bisa hubungi pihak penjaga di sini, atau ke saya juga boleh sih nanti saya tinggal suruh orang ke sini," ucap Fei lalu pamit.


"Yah dia takut juga..." celetuk Anan.


"Emang kamu berani?" tanya Dita.


"Hmmm... gak juga sih tergantung penampilannya kayak apa hehehe kalau hantunya cuma pucat doang ya gak takut kalau banyak darah luka-luka gak jelas ya lumayan takut lah," sahut Anan.


Tante Dewi mencubit lengan Anan.


"Kalau ngomong jangan sembarangan! namanya hantu mau cakep enggak tetap aja hantu nakutin," ucap Tante Dewi dengan lirikan tajamnya ke arah Anan.


"Hahahaha kalian ini, udah ayo Arga masuk!" ucap Dita memanggil Arga.


"Udah sih kalau gak mau masuk gak usah di paksa, mau cari makan kan? dah sana silahkan!" ucap Anan dengan ketus.


"Kamu sendiri ngapain di sini?" tanya Sahid.


Anan menunjukkan jari manis di tangan kanannya.


"Oh... selamat kalau gitu, ayo Arga kita cari makan!" ucap Sahid lalu pergi bersama Arga.


"Nan, dia itu udah nolongin Dita waktu melahirkan Anta, harusnya kamu jangan kayak gitu," Tante Dewi menepuk punggung Anan.


"Kalau aku gak kayak gitu, nanti dia ngerebut Dita dari aku gimana? jelas-jelas dia suka sama Dita," sahut Anan.


"Yanda ih cemburuan banget, kan aku udah milik kamu seutuhnya," Dita memeluk Anan dari belakang.


"Iya sih bunda tapi aku kan takut kehilangan kamu," sahut Anan berbalik badan dan mencium hidung Dita.


"Haduh... mulai deh bucin-bucinannya mana gak sadar lagi ada tantenya," ucap Tante Dewi dengan ketusnya.


"Lah kan ada om Kevin, bucin balik dong ke om Kevin," celetuk Dita.


"Heh kamu lupa apa? masa aku harus cium tubuh Doni sih biarpun di dalamnya om Kevin, berasa geli aja gitu lihat tampang Doni hiiiyy...!" sahut Tante Dewi memeluk dirinya sendiri.


"Hahaha iya bener juga ya, biarpun rohnya om Kevin, nanti kalau anaknya mirip Doni gimana ya?" Dita tertawa geli membayangkannya.


"Udah ah rese kalian, buatin tante minum dong Ta!" pinta Tante Dewi.


"Emang gula, teh, kopi udah di sediain apa?" tanya Dita.


"Oh iya iya, nunggu Tasya dong, coba kamu cek dulu!" pinta Tante Dewi.


Dita menuruti tante Dewi dan melangkahkan kakinya ke dapur.

__ADS_1


"Astagfirullah... jadi kamu yang tadi banting-banting panci, boro-boro ini piring di bersihin," ucap Dita dengan kesal.


Anan menghampiri Dita. "Kamu ngomong sama siap... pa aaaaaaaaaa!!" Anan berlari menghampiri Tante Dewi di sofa.


"Kenapa sih Nan?" tanya Tante Dewi dengan heran.


"Ha-han..."


"Hansip hehehe... pasti mau bilang hantu iya kan?"


"Ho oh tante..." sahut Anan.


"Cemen banget sih."


"Emang tante berani?"


"Yeee... dia belum tau aja, mana mungkin tante berani, takut lah!" sahut Tante Dewi membuat senyum Anan makin kecut.


Sementara di sudut dapur itu, perempuan menyeramkan dengan mata terbelalak hampir membuat bola matanya keluar sengaja ingin menakuti siapapun yang melihatnya. Dari mulutnya keluar busa yang terus menetes bercampur darah mengotori pakaian daster lusuh yang ia pakai. Hantu itu mendekati Dita mencoba menakuti Dita. Di tangannya memegang botol racun serangga, sesekali ia menenggaknya seperti meminum air soda.


"Gak usah serem-serem deh, kalau emang mau di copot tuh bola mata copot aja, aku gak takut, aku mah udah biasa lihat yang lebih serem dari kamu juga ada," ucap Dita dengan wajah sinisnya.


Hantu wanita itu malah berteriak dengan kencang ke wajah Dita memekakkan telinga Dita sampai menutup kedua telinganya dengan telapak tangan. Bau obat racun serangga menyerbak ke hidung Dita.


"Hueekkk bau banget, gak pernah gosok gigi ya?" tanya Dita kini menutup hidungnya.


Wajah hantu itu tampak kesal karena tak bisa menakuti Dita. Kali ini dia mencoba menggerakkan pisau dan mengincar tangan Dita untuk di tusuk. Dita langsung memanggil Pak Herdi yang datang langsung menangkap pisau itu.


"Jangan macem-macem ya sama Dita saya," ucap Pak Herdi.


"Nih kenalin penjaga aku yang paling ganteng, yang paling top di dunia perhantuan," ucap Dita dengan bangga.


"Mas Joon..." Hantu itu memeluk Pak Herdi dengan erat.


"Hei siapa anda main peluk aja!" ucap Pak Herdi mencoba melepas pelukan hantu wanita itu.


"Jangan tinggalkan aku huhuhuhu... Aku mohon jangan tinggalkan aku..." ucap hantu wanita itu dengan menangis tersedu-sedu.


"Jangan-jangan muka pak Herdi mirip lagi sama suaminya, kamu wanita yang bunuh diri minum racun serangga kan?" tanya Dita.


Hantu wanita itu mengangguk. "Namaku Michin," sahutnya.


"Oh Michin... pantes rada-rada otaknya sampe doyan banget minum racun serangga," gumam Dita.


"Ta... bantuin ini lepasin dia dari saya," pinta Pak Herdi.


Hantu Michin makin memeluk Pak Herdi dengan manjanya sampai membuat Dita tertawa geli melihatnya.


*****


Bersambung ya, hayo abis baca jangan lupa bayar pakai VOTE ya...


Jangan lupa main ya ke cerita ku lainnya.


- WITH GHOST


-          Kakakku Cinta Pertamaku (Season 2)


-          9 Lives (END)

__ADS_1


-          Gue Bukan Player


Vie Love You All 😘😘😘


__ADS_2