Pocong Tampan

Pocong Tampan
Musim Kedua - Anta Sekolah (Part 2)


__ADS_3

Sebelum membaca jangan lupa ya di Like, Vote, and rate bintang lima ya...


Happy Reading 😊😊😊


******


"Jason, kamu gak boleh marahin Anta kayak gitu, kan kamu yang nabrak?" tegur Ibu Lin pada anak kecil blasteran negara di eropa.


"Ada cetan bu, itu di camping Anta ada cetan..." Masih menunjuk samping Anta, hantu dalam cermin di rumah Anta ternyata mengikuti Anta sampai ke sekolah.


"Udah ya Jason, gak ada apa-apa di samping Anta," ujar Ibu Lin.


"Iya..." sahut Anta sambil meringis menunjukkan giginya yang belum utuh berjejer di dalam mulutnya.


"Anta kamu lagi nyuapin siapa tadi?" tanya Ibu Lin.


Anta menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


"Makannya udah rapih?" tanya Ibu Lin.


"Iya," sahut Anta.


"Ya udah di beresin yuk, terus cuci tangan bareng sama anak-anak yang lain," ucap Bu Lin menggandeng Anta.


Tiba-tiba kursi Anta bergeser dengan sendirinya membuat Bu Lin menoleh.


"Ah... perasaan aku aja kayaknya," gumam Ibu Lin.


***


"Oh tragis juga ya jadi Pak Herdi," ucap Anan saat berada di pasar tradisional bersama Dita.


"Lebih tragis lagi aku," sahut Dita yang sedang memilih daun selada segar di hadapannya.


"Tragis kenapa?" tanya Anan di samping Dita.


"Tragis lah karena punya suami lupa sama istri sendiri," ucap Dita tak mau memandang Anan.


"Rese banget itu suami kamu, terus kamu masih cinta gak Ta sama dia?" tanya Anan.


"Cinta lah, cinta banget malah," sahut Dita.


Anak terdiam...


"Bungkus nih,udah aku pilihin cakep-cakep," ucap Dita pada Anan setelah menyerahkan pilihan seladanya pada si penjual.


Anan membayar belanjany.


"Udah semua kan? sarapan yuk, Anta juga masih satu setengah jam selesai sekolahnya," ajak Dita.


"Oke deh mau makan apa?" tanya Anan.


"Bubur ayam ada gak ya?" tanya Dita.


"Ada, bubur dengan sup ayam di kedai cina sana," sahut Anan.

__ADS_1


"Yuk kesana," ucap Dita.


***


Di rumah sakit tempat Om Kevin dan Doni di rawat, keduanya masih bertukar ruh di dalam tubuhnya. Doni memutuskan untuk tinggal sementara di rumah Anak hari itu karena Om Kevin belum boleh pulang. Ia merasa kakinya tak bisa di gerakkan untuk berjalan.


"Kamu apain sih Don ini kaki kamu?" keluh om Kevin memukul kedua kakinya yang masih terasa kebas.


"Duh mana aku tau pak, lagi pula badan bapak ini lho cepet banget capek nya," sahut Doni dengan nada kesal.


"Sssttt berisik banget sih pada berantem aja, nih aku baca artikel ada kuil yang punya air mancur harapan, nah siapa tau kalau kita kesana harapan kalian untuk bertukar tubuh kembali jadi kenyataan, gimana mau ke situ gak kita coba?" ucap Tante Dewi.


"Boleh tuh bu, sekarang aja kita kesana, saya udah gak betah nih ada di tubuh pak Bos," sahut Doni.


"Ih apalagi saya, ogah banget ada di sini, tapi gimana saya jalan, badan saya aja lemes gini ada di tubuh kamu," gerutu Om Kevin.


"Udah sih mas sabarin dulu, kita ikuti terapi dokter nanti kalau udah lebih baik nah baru kita ke kuil itu," ucap Tante Dewi.


"Ya udah gitu aja," sahut Om Kevin.


"Oh iya Don, besok kamu datang pake jas rapih ya, mas Kevin mau teleconference sama rekan bisnisnya," ucap Tante Dewi.


"Yah saya menghafal lagi aja dah," gerutu Doni.


"Kamu mau di gaji gak?"


"Iya iya mau bu," Doni langsung menyahut secara cepat.


"Ya udah kami beli makanan Don saya laper nih bosen makanan rumah sakit," pinta om Kevin.


"Siap pak!"


"Iya pak iya di jagain, badan saya juga tuh pak jagain," ucap Doni lalu mengambil cepat uang yang baru saja di keluarkan tante Dewi dari dompetnya lalu bergegas pergi keluar kamar perawatan om Kevin.


Doni berkaca di pintu lift memandang tubuh Om Kevin di cermin itu.


"Untung ganteng, lebih ganteng malah dari aku, beuh kalau gak ganteng udah aku sayat nih muka bikin codet," gumam Doni memandang pintu lift.


***


"Nan gak jadi makan di sini ah," ucap Dita saat mengantri masuk sebuah rumah makan bergaya oriental itu.


"Kenapa sih, ini rame banget loh antrian kita juga satu lagi udah bisa masuk terus makan ke dalam sana," sahut Anan.


"Gak mau ah, aku jijik," ucap Dita.


"Tempatnya bersih kok, nyaman kenapa jijik sih?"


"Kamu inget gak makan di warung bakso dulu yang mangkuknya di jilatin sama hantu penglaris?" tanya Dita membisikkan ucapannya di telinganya Anan.


"Emang pernah? kok aku lupa ya?"


"Ah lupa kan aku tuh kalau kamu gak inget," Dita memukul bahu Anan.


"Awww sakit Ta, kalau gak inget2 ya lupa kan sama aja, lagian kenapa sih?"

__ADS_1


"Tuh lihat baik-baik ke dalam sana di pojok dekat dapur," bisik Dita saat posisinya sudah di depan pintu masuk dan dapat mengintip ke dalam restoran di dekat dapurnya.


"Itu orang boncel ya lagi ngapain tuh?" tanya Anan yang melihat makhluk kerdil setinggi Anta, berambut panjang sampai terseret menyapu lantai itu.


"Perhatiin baik-baik, ih kalau kamu belum ngerti juga aku lari duluan nih, jijik," ucap Dita.


Anan makin maju dan masuk ke dalam restoran menarik paksa tangan Dita yang sebenarnya masih enggan untuk masuk. Si pelayan mempersilahkan Anan dan Dita untuk duduk di meja yang baru saja di bersihkan.


Anan masih mengamati makhluk kerdil itu yang ternyata sedang meludahi bubur dan kuah sup ayam yang hendak di sajikan kepada tamu. Air ludahnya berwarna kuning pekat seperti nanah dan bercampur darah saat di jatuhkan ke dalam mangkuk.


"Ga gak jadi makan yuk!" Anan langsung menarik Dita keluar dari rumah makan tersebut.


"Lho pak mau kemana?" tanya si pelayan heran.


"Lupa bawa dompet, maaf ya..." Anan berteriak dari kejauhan saat menarik tangan Dita pergi.


"Makanya aku bilang apa, pantes aja yang beli sampai rela antri keluar, taunya pakai pesugihan, ternyata ada juga pesugihan di sini ih jijik," ucap Dita.


"Itu nyari kayak gitu dimana ya kali aja kalau kedai aku nanti pakai kayak gitu laku," sahut Anan dengan nada bercanda.


"Aku aja sini yang ludahin, di jamin dah..."


"Di jamin apa? Di jamin enak ya?" tanya Anan dengan nafas masih tersengal-sengal.


"Di jamin muntah, pada kabur semua apalagi kalau pas ngeludahin, pake air liur lagi batuk terus kentel," Dita tertawa cekikikan setelah mengucapkan kata-kata joroknya.


"Jorok Ta, ih gak nyangka ih jorok...!!" cibir Anan.


"Makan bubur kacang hijau aja yuk di stand depan tuh, kayaknya enak," Dita menarik lengan Anan ke arah penjual bubur kacang hijau.


Tiba-tiba seorang anak laki-laki menabrak perut Dita.


"Awww..." ucap Dita memegang perutnya.


"Maafin arga ya kak," ucap Anan tersebut dengan wajah memelas.


"Heh anak kecil kalau jalan lihat-lihat dong, main nabrak aja!" Anan menyentak bocah laki-laki itu.


"Udah sih Nan biarin aja, namanya juga anak-anak dan dia juga gak sengaja, udah minta maaf pula kok," ucap Dita menenangkan Anan.


"Arga...! kamu tuh ya dari tadi lari terus, maafkan anak sa... Dita...?"


Seorang pria maskulin mengenakan kemeja biru dan kaca mata hitam menegur Dita sambil membuka kaca matanya.


******


Bersambung ya, hayo abis baca jangan lupa bayar pakai VOTE ya...


Jangan lupa main ya ke cerita ku lainnya.


- WITH GHOST


-          Kakakku Cinta Pertamaku (Season 2)


-          9 Lives (END)

__ADS_1


-          Gue Bukan Player


Vie Love You All 😘😘😘


__ADS_2