Pocong Tampan

Pocong Tampan
Musim Kedua - Melahirkan


__ADS_3

Pocong Tampan is back... Musim Kedua....


Semoga tambah suka...


Sebelum membaca jangan lupa ya di Like, Vote, and rate bintang lima ya... Jangan bosen bacanya ya...


Happy Reading 😊😘


*****


Rumah besar milik keluarga Arjuna akhirnya di jual oleh Tante Dewi, terlalu banyak kenangan yang harus ia lupakan di sana. Rumah sakit keluarga milik Arjuna juga di jual kepada miss Suzuki. Tante Dewi ingin memulai sesuatunya tanpa embel-embel nama Arjuna Prayoga, sang kakak laki-lakinya. Tasya dan Doni masih bekerja di sana.


Akhirnya Tante Dewi dan Om Kevin Tinggal di apartemen Tante Dewi yang dulu. Sementara Dita tinggal di sebelah apartemen Tante Dewi bersama Tasya. Tante Dewi sementara ini masih enggan untuk bekerja kembali, karena ingin mengurus Om Kevin lebih baik. Dita membawa serta Pia untuk membantunya mengurus rumah, sementara Tasya bekerja di rumah sakit.


"Susi gak ikut Tasya ke rumah sakit?" tanya Dita pada hantu Susi saat membuka tirai jendela apartemennya.


"Aduh silau Ta, nanti gue meleleh kepanasan," sahutnya.


"Hahaha emangnya kamu drakula apa takut panas, idih ada-ada aja," ucap Dita sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Non, ngomong sama siapa?" tanya Pia yang merasa heran melihat Dita berbicara sendiri menghadap sofa tunggal samping jendela.


"Oh biasa say kalau lagi kangen sama Anan gini nih suka ngomong sendiri," sahutnya.


"Memangnya tuan Anan pergi kemana ya non?" tanya Pia lagi sambil membersihkan debu dengan kemoceng.


"Katanya sih ke negeri Ginseng," Jawab Dita.


Dita memandangi awan dari jendela apartemennya sambil mengelus perutnya yang sudah membesar. Menurut dokter perkembangan janin Dita di luar akal manusia, karena tidak seperti pada umumnya. Harusnya usia kandungannya sekitar empat sampai lima bulan tapi perkembangannya sudah seperti bayi delapan bulan.


"Aku mau jalan ke taman ya Pia," Ucap Dita.


"Saya temenin non." Pia bergegas menyelesaikan pekerjaannya.


"Gak usah, aku sendiri aja, kamu beres-beres aja di sini!" perintah Dita.


Dita meraih sweaternya lalu keluar menuju taman. Wanita hamil itu membunyikan gelang di tangannya.


"Taaaraaaa jin botol aku sampai..." ucap Dita sambil tertawa memandangi Pak Herdi.


"Kamu tuh ya, ngapain sih masih pagi udah panggil saya?" tanyanya.


"Mau minta temenin ke Taman hehehe," ucap Dita.


"Aduh jatuh deh harga diri para pocong, masa pagi-pagi gentayangan nemenin ibu hamil," sahutnya sambil menepuk jidatnya.


"Daripada gak ada kerjaan, gentayangan kaga jelas wleeekk."


Dita membuka pintu lift.


***


"Hai kucing, hai doggy ih lucu banget sih kalian," ucap Dita menyapa para hewan peliharaan yang sedang bermain di taman bersama tuannya.


"Segala binatang di sapa hadeeeh," celetuk Pak Herdi yang tiba-tiba melompat menginjak buntut seekor golden retriever. Anji*g itu langsung menyalak pada Pak Herdi dan mengejarnya. Pak Herdi berusaha melompat-lompat menghindari kejaran si golden itu.


"Hahahaha... lucu banget sumpah, bukannya ngilang malah lompat-lompat," Dita tertawa dengan puasnya melihat Pak Herdi di kejar anji*g.


"Kenapa neng kok ketawa sendirian gitu?" tanya seorang ibu yang melintas memperhatikan Dita.


"Eh enggak ibu itu tuh lucu banget anjin*nya lari-larian hahahaha," sahut Dita menunjuk ke arah Pak Herdi.


"Perasaan biasa aja gak ada yang lucu deh liat tuh hewan lari." ibu itu menggumam lalu pergi dari hadapan Dita.


"Hadeehhh sumpah cape ketawa ini,"


nafas Dita tersengal-sengal saking puasnya ia tertawa, lalu kontraksi hebat menyerangnya.


Dita berteriak sekuat tenaga membuat semua pengunjung taman berkumpul mengerumuninya.


"Wah ibunya mau melahirkan nih," ucap seorang anak muda yang sedang melintas.


"Iyalah dia mau melahirkan masa mau nyanyi, ayo cepet tolong dia, kita bawa ke rumah sakit, apa ke bidan kek," sahut perempuan muda di sampingnya.


"Gue gak bawa mobil, masa mau naik motor, di sini ada yang bawa mobil gak?" tanyanya.


"Tenang gue berentiin mobil dulu," ucap perempuan muda tadi lalu bergegas menghentikan salah satu pengemudinya.


"Hei, minggir!" ucap seorang pria dari dalam mobil.


"Pak tolingin ada yang mau melahirkan," ucapnya.


"Oke bawa ke dalam mobil saya!" perintahnya melongok ke luar jendela mobil.


"Ya ampun, cakep banget tuh laki, kaga salah gue berhentiin mobil ckckckck," gumam perempuan muda tersebut.


Pak Herdi yang dari tadi di samping Dita bergegas masuk ke dalam mobil untuk memangku kepala Dita. Namun, karena orang-orang yang mengangkat Dita tak dapat melihatnya akhirnya mereka memasukkan Dita dari arah lain sehingga Pak Herdi memangku kaki Dita. Pria itu lalu membawanya ke rumah sakit.


"Sabar ya bu, tahan saya coba ngebut nih," ucap si Pria pengemudi yang menolong Dita.


Pak Herdi sudah berada di samping Dita yang kesakitan dengan kontraksi yang menyerang perutnya. Dita menarik ikatan pocong Pak Herdi sekuatnya.


"Aduh sakit Ta, coba aja ada si menyan habis dia nih sama saya kalau nanti ketemu."

__ADS_1


"UDAH DIEM AJA SIH GAK USAH SEBUT ANAN, AKJ MAKIN KANGEN TAUUUUU..." Dita berteriak menarik ikatan pocong Pak Herdi.


"Bu... ibu gak apa-apa? kan saya dari tadi diem aja."


Si penolong itu menoleh ke arah Dita yang berbicara sendiri berteriak-teriak.


"Huh...Huh... gak apa-apa, mas, bang, bro, udah jalan aja cepetan!" pinta Dita.


"Iya ibu ini lagi cepetan, tapi macet maaf ya saya coba cari jalan tikus," ucapnya.


Dita makin meremas tangan Pak Herdi, sesekali memukul bahu Pak Herdi saking sakitnya.


"Ini bayi nyusahin banget sih mau lahir aja sampai nyakitin mamanya gitu huh," gumam Pak Herdi.


Dita langsung memelototi Pak Herdi saat menarik ikatan pocong pria itu lebih kuat lagi ke arahnya.


Pak Herdi langsung terdiam tak berani menarik Dita.


Mobil si pria penolong itu berhenti setelah sampai


Di Rumah Sakit tempat Dita dulu di rawat saat kecelakaan.


"Tolong suster, ibu ini mau melahirkan." ucap pria itu pada seorang suster jaga yang segera menghampiri Dita dan memindahkannya ke ruang bersalin.


"Baik pak, silahkan menuju bagian administrasi dulu ya pak, kami akan segera menolong istri dan anak bapak,' ucap suster tersebut.


Pak Herdi sempat melongo mendengarnya, dan mengibaskan kedua tangannya bahwa pria tersebut bukan suami Dita, tapi percuma.


"Tapi sus... ah sudahlah yang penting ibu dan anak itu selamat," ucapnya menuju meja administrasi.


"Saya harus nemuin Tasya nih mau kasih tau kalau Dita di sini, bisa gak ya? aku coba deh."


Pak Herdi lalu menghilang.


***


Di Rumah Sakit Keluarga tempat Tasya bekerja.


"Sya, ayo dong bantuin aku... kita bilang ke kak Shinta kalau Lee itu om item di pohon besar yang di parkiran," pinta Doni merajuk.


"Susah Don, kakak kamu tuh udah terlanjur banget, banget, bangeeeettt cinta sama om item jadi mau kita bilang apapun tetep aja ke tutup sama cinta butanya," sahut Tasya.


"Ya masa aku harus ngebiarin dia nikah sama makhluk gaib sih, hidih gak bisa kebayang deh." Doni bergidik ngeri.


"Tau ah, aku mau ke toilet," ucap Tasya lalu beranjak pergi ke toilet.


Saat berada di dalam toilet, tiba-tiba Pak Herdi muncul di hadapan Tasya yang sedang menjalankan pembuangan limbah kotoran yang tak terpakai dari ususnya alias bab.


"Kampreettt...!!!!"


"Aduh Tasya... sakit juga nih kaya Dita bisa nyentuh saya kamunya sekarang," Pak Herdi menggerutu.


"Lagian parah banget sih tau-tau muncul di dalam sini, bapak mau mesum ya?" Tasya melotot ke arah Pak Herdi sambil memakai celananya.


"Ya maaf Sya, kan fokus saya cuma mau ketemu kamu, soalnya penting nih," akunya.


"Penting gimana? kan biasanya bapak cari Dita," ucap Tasya sambil mencuci tangan di wastafel.


"Nah itu dia pentingnya ini soal Dita," ucap Pak Herdi.


"Ada apa sama Dita? ada apa? Dita kenapa?" Tasya mengguncang-guncang bahu Pak Herdi.


Seorang perempuan paruh baya masuk ke dalam toilet dan sempat heran melihat Tasya berbicara sendiri.


"Dita kenapa?" bisik Tasya.


"Ih jorok banget sih ini masa gak di siram bekas emasnya mana belepetan lagi di kloset!"


Ibu paruh baya itu mengomel saat menemukan bekas toilet yang tadi Tasya pakai belum di flush.


"HAH? tuh kan gara-gara bapak aku lupa siram, yuk kabur yuk." Tasya menarik lengan Pak Herdi sambil mengendap-endap menuju luar toilet.


"Jorok nih, kasian itu si Ibu nemu emas kamu," ucap Pak Herdi.


"Ya kan gara-gara bapak, kenapa tiba-tiba dateng ngagetin saya, terus saya langsung pakai celana dong daripada bapak liat punya saya wleeekkk," ucap Tasya.


"Ya kan tadi saya mau bilang kalau Dita lagi melahirkan," ucap Pak Herdi.


"APA MELAHIRKAN...???" Tasya berteriak dengan kencangnya.


Saat tersadar suaranya menarik perhatian ia menoleh ke kanan dan ke kiri.


"Syukur gak ada orang," gumam Tasya.


"Dita melahirkan dimana?" tanya Tasya memukul bahu kanan Pak Herdi saat bertanya.


"Duh jadi hantu aja dari tadi saya teraniaya mulu ya, perasaan waktu jadi manusia hidup saya sejahtera jadi bos," ucap Pak Herdi mengusap bahunya.


"Dita melahirkan dimana?" tanya Tasya lagi.


"Di Rumah Sakit Ibu dan Anak yang di sana itu," ucapnya.


"Bukannya bilang dari tadi, ayo sekarang kita kesana aku mau ijin aja," ucap Tasya lalu melangkah menuju meja kerjanya tadi, tapi ia kembali teringat sesuatu dan segera berlari.

__ADS_1


"Ada apa lagi sih..." tanya Pak Herdi.


"Lupa cebok....!"


sahutnya dari kejauhan sambil menoleh dengan wajah tertawa meringis ke arah Pak Herdi.


"Hadeeehhhhh.... "


***


Di Rumah Sakit Ibu dan Anak.


"Dita...? ini kamu kan nak? kamu apa kabar?" Suster Irma yang masih mengenali Dita menegurnya di ruang bersalin.


"Hai sus..ter... eeeiighhh sakit banget ini kabarnya aduuhh..." sahut Dita kesakitan.


"Tarik nafas, buang, tarik nafas lagi, buang, bentar ya aku cek, baru pembukaan dua sih Ta," ucap nya.


"Emang kebukanya...Huh... sampe angka ...huh.. berapa kan anaknya...Huh cumah huh satu..?" tanya Dita mencoba mengontrol nafasnya.


"Biasanya sih satu sampai sepuluh Ta," ucapnya.


"Haduh... lama banget." keluh Dita.


"Tapi kok Ta, ada cairan hijau ya yang keluar, saya takut kamu infeksi ketuban nih, bentar ya saya bilang sama dokter," ucap Suster Irma lalu meninggalkan Dita dengan suster lain.


Tak berapa lama seorang dokter ahli kandungan bernama Dokter Joko menghampiri si pria penolong tadi bersama suster Irma.


"Maaf anda suaminya pasien?" tanya dokter.


"Wah jadi ini suaminya Dita? duh ganteng banget ya," puji Suster Irma.


"Saya Sahid, tapi saya bukan..."


"Oh iya begini Pak Sahid, pasien mengalami infeksi ketuban yang mengharuskan pasien menjalani operasi secara Secar, saya harap bapak setuju untuk tindakan ini." ucap Pak Dokter Joko.


"Terserah deh dok, yang penting saya cepat pulang," sahutnya.


"Wah anda gak sabar juga ya rupanya, baiklah suster Irma akan memberikan beberapa berkas yang harus anda tanda tangani, saya akan menyiapkan pasien ya." Dokter Joko menepuk bahu Sahid lalu pergi.


"Silahkan tuan ikut saya!"


"Tapi sus, saya bukan... aduh pusing ini jelasinnya," ucap Sahid, seorang pemuda yang memiliki wajah keturunan timur tengah. Dia akhirnya pasrah menuruti Suster Irma dan akhirnya melangkah mengikuti suster tersebut sampai belum sempat menjelaskan siapa dirinya.


***


Tasya datang ke rumah sakit tersebut bersama PAK Herdi, tetapi tidak bersama Doni karena ia tidak boleh ikut ijin kerja menemani Tasya.


"Mbak, tau ibu hamil yang dibawa kesini gak?" tanya Tasya.


"Ibu hamil yang di bawa kesini banyak mba," sahut perempuan yang bekerja di resepsionis.


"Namanya Anandita, dia mau melahirkan di sini, pak bener kan Dita ngelahirin di sini?" Tasya menepuk bahu Pak Herdi.


"Sakit Sya, iya bener ke sini rumah sakitnya," sahut Pak Herdi.


"Mba maaf ngomong sama siapa ya?" Tanya mba resepsionis itu heran melihat kelakuan Tasya.


"Eh enggak mba, suka refleks ngomong sendiri gini," sahut Tasya.


"Tapi mba..."


"Jangan takut mbak saya gak gila kok, udah ketemu belum mba?" tanya Tasya.


"Tadi sih satu jam lalu ada pasien masuk IGD katanya mau melahirkan, sekarang di ruang bersalin, coba aja mbak tanya ke lantai dua dari lift kebuka nanti mbak belok kanan," ujarnya.


"Oke deh... makasih ya mbak."


Tasya bergegas menuju lift menuju lantai dua.


"Gak naik tangga aja Sya?" pinta Pak Herdi.


"Ogah ah ribet entar liat situ lompat-lompat kelamaan, belum lagi kalau keserimpet gimana tuh gelinding ke bawah, hadeh lama lagi deh," ucap Tasya dengan nada polos.


"Yeee lama-lama ngelunjak nih bocah," gumam Pak Herdi mengikuti Tasya.


*****


Bersambung...


To be continued...


Jangan lupa main ya ke cerita terbaru ku


“WITH GHOST”


ramaikan disana.


Baca juga :


-          Kakakku Cinta Pertamaku


-          9 Lives

__ADS_1


-          Gue Bukan Player


__ADS_2