
Attention please...
3 episode menuju Giveaway ke dua, kenapa bukan tepat di episode 200 karena dari 200 episode yang aku buat bercampur dengan tiga pengumuman jadi nantikan di episode 203 yak.
Caranya kumpulkan poin mu untuk vote aku nanti aku undi berdasarkan vote terbanyak hadiahnya nanti aku kasih tau yak di episode 203 yak. 😉😊
Sebelum membaca klik like yak...
let's vote for me boleh yak...
apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...
Rate bintang lima jangan lupa...
thank u so much... love u all... 😘😍😊
***
"Oh Tasya, ada di kamar tamu."
"Kamar tamu yang mana? yang ada lukisan nyainya?"
"Iya non."
"Haduh Bu Mey." Dita langsung berlari menuju kamar tamu yang terdapat lukisan hantu si nyai. Anan juga langsung mengikutinya bersama Bu Mey.
Dita membuka engsel pintu kamar yang di tempati Tasya berulang-ulang namun terkunci.
"Gimana ini Nan gak bisa dibuka." ucap Dita penuh kecemasan.
"Coba awas aku dobrak." Anan mencoba mendobrak pintu kamar tersebut berkali-kali tapi susah terbuka.
"Nyai... tolong buka pintunya!" pekik Dita.
"Nyai siapa sih non?" tanya Bu Mey heran.
"Susah jelasinnya, Tasya... nyai... tolong buka pintunya." Dita makin mengetuk-ngetuk kamarnya.
"Kita coba dobrak berdua yuk Ta." ajak Anan mendobrak pintu kamar itu berdua Dita namun pintu itu langsung terbuka membuat Anan tersungkur ke atas kasur begitu juga Dita yang mendarat di atas Anan.
"Duh sakit Ta." ucap Anan.
"Kok aku gak sakit sih?" Dita berusaha berdiri lalu matanya berkeliling mencari Tasya.
"Iya lah gak sakit kan kamu jatuhnya di atas aku." sungut Anan.
"Hehehe maaf deh sayangku, Tasya mana nih sekarang?" Dita menghampiri pintu kamar mandi dan membukanya.
Hantu nyai menusukkan tusuk kondenya ke tangan Tasya yang tak sadarkan diri.
"Lepas gak! Nan lukisannya ancam dengan gunting waktu itu." perintah Dita.
Anan menuruti perintah Dita, sementara Bu Mey sudah tak sadarkan diri melihat penampakan nyai kala itu.
"Ah si ibu pakai pingsan disini lagi." Anan mengangkat Bu Mey ke atas kasur membaringkannya disana.
__ADS_1
"Kenapa nyai nyerang dia kaya waktu aku dulu?" Dita menjambak rambut nyai.
"Aduh duh sakit lepaskan, aku butuh darah." sahut nyai.
"Enggak boleh lepaskan temanku!" pinta Dita.
"Nyai lepaskan dia nanti aku ganti pakai darah ayam ya, please lepasin dia." pinta Dita.
"Bisa darah hewan lain gak?"
"Udah sih pakai nawar, darah ayam atau enggak sama sekali, noh liat Anan lagi apain lukisan kamu." tunjuk Dita.
"Iya iya baiklah darah ayam tak apa tapi yang segar ya." pinta hantu nyai.
"Iya besok, lepasin sekarang."
Hantu nyai langsung menghilang.
"Tasya kamu gak apa-apa kan?" Dita menepuk pipi Tasya.
Tasya yang sadar lalu memeluk Dita.
"Huhuhu tolongin aku, tolongin aku." ucap Tasya
"Udah udah, ini udah di tolong udah gak ada hantunya." ucap Dita menenangkan.
"Kok luka aku menghilang?" Tasya terheran-heran melihat luka di tusukan pada telapak tangannya lenyap.
"Wow it's magic, hebat ya sulapnya." Dita mencoba mencairkan suasana cemas tadi.
"Kok bau pesing yak?" Dita mengendus sesuatu.
"Maaf Ta tadi aku kelepasan hehehe." sahut Tasya.
"Astaga kamu ngompol? lah sama kaya Doni aja ini mah, ya udah ganti baju dulu ya, aku ambilin baju aku buat ganti kamu, kamu mandi dulu yang bersih." ucap Dita meninggalkan Tasya untuk mandi.
"Tapi aku takut Ta." Tasya menahan tangan Dita.
"Masa mau mandi berdua ih apaan sih, udah gak ada apa-apa kok tuh di kasur sana ada Bu Mey buat nemenin dah biar gak takut yak." tunjuk Dita.
"Ya udah deh, makasih yak."
Dita keluar dari kamar mandi menarik Anan.
"Ayo kita ke kamar, mau ambil baju buat Tasya." ajak Dita.
"Asik diajak ke kamar, berhubung udah sore mandi bareng yuk Ta?" pinta Anan.
Dita menoleh ke arah Anan dengan tatapan sinisnya.
"Huh modus! hayo deh." ucap Dita sambil berlari menaiki tangga menuju kamar mereka.
***
Setelah makan malam di teras belakang rumah besar Anan, Dita dan Tasya sedang duduk memandangi halaman belakang.
__ADS_1
"Aku kok kayak pernah ada disini ya?" gumam Tasya yang membuat Dita terkejut mendengarnya.
"Kamu itu berapa bersaudara sih Sya apa jangan-jangan kamu punya kembaran?" Dita menanyakan penuh hati-hati dan selidik.
"Ummm aku itu anak panti asuhan di desa, memangnya ada yang mirip aku teh?"
"Panggil Dita aja jangan teh apa kopi gak enak dengernya." sahut Dita.
"Sahabatku namanya Anita mirip banget sama kamu, semuanya mirip gak ada yang beda." ucap Dita memandang Tasya.
"Sekarang kemana sahabatnya teh, eh Dita?"
"Sudah meninggal huaaaaaaaa Anita aku kangen sama kamu Nit." Dita langsung menangis sesenggukan terduduk di lantai.
"Ih si Dita kenapa nangis kayak anak kecil gini." Tasya mencoba menenangkan Dita.
"Habisnya aku kangen sama dia dulu tuh baik manusia apa hantunya dia selalu nemenin aku, jagain aku."
"Hantunya? ih gak salah ngomong masa temenan sam hantu?"
"Lah kenapa salah tuh salah satunya." Dita menunjuk hantu Marina yang sedang berdiri di depan pintu.
"Aaaaaaaaaaa itu dari kapan disitu? ini kenapa rumah segede gini serem banget banyak hantunya." Tasya memeluk Dita menutup wajahnya dengan pundak Dita.
"Umm persis mirip Anita kalau ketakutan, kirain yang ini versi berani taunya sama aja penakut huh." Dita menggerutu.
"Saya mah Ta kalau liat penampakan gitu langsung dikasih air sama pa ustad, biar gak gelagapan, sekarang cari airnya dimana ya?"
"Buat apaan airnya?"
"Buat nutup mata batin saya, habisnya saya ketakutan terus Ta." rengek Tasya.
"Udah sih sekarang mah nikmatin aja kelebihan yang kita punya, terkadang mereka nampakin diri karena mau minta pertolongan, tanya dah sana sama Marina." Dita menunjuk Marina.
"Ih Dita mah makin takut kan saya nya, iya kalau minta tolong kalau ganggu ngejahatin gimana?" Tasya masih merengek mengguncang lengan Dita.
"Eh yang udah-udah nih manusia lebih jahat daripada hantu tau, nyebelin."
"Tetep aja Ta, nakutin." Tasya masih menutup wajahnya.
"Eh ada lagi yang kangen sama Anita, masalah yang belum Anita selesaikan sebelum dia pamit." ucap Dita.
"Maksudnya apa sih Ta, makin gak ngerti saya."
"Noh ada yang cariin kamu." Dita membalikkan bahu Tasya agar menoleh ke belakangnya.
"Aaaaaaaaaa... po...po...pocong...!" teriak Tasya sampai tak tahan mengompol melihat penampakan pocong berwajah hitam yang selalu meminta tolong agar ikatannya dibuka.
"Ah... pesing deh nih lantai, Doni... cepet sembuh apa... ni kamu urusin Tasya nih ajarin jangan ngompol mulu aarrghhh...!" pekik Dita kesal.
****
To be continued...
Happy Reading...
__ADS_1
Jaga kesehatan ya guys... 😘😘😘