Pocong Tampan

Pocong Tampan
Musim Kedua - Bertemu Tina


__ADS_3

Sebelum membaca jangan lupa ya di Like, Vote, and rate bintang lima ya...


Happy Reading semoga makin suka 😊😊😊


******


Malam itu Nyonya Kate meminta ijin untuk pergi ke kamar mandi polisi. Dilihatnya di sudut ruangan cairan pembersih kloset toilet tergeletak di sana.


"Jhon, Clara, aku kan datang pada kalian," ucap Nyonya Kate lirih. Lalu ia minum cairan pembersih toilet tersebut sampai habis.


Tina di hubungi oleh pihak kepolisian perihal kejadian yang menimpa Nyonya Kate. Sahabatnya itu tewas bunuh diri setelah meminum cairan pembersih toilet.


"Kenapa aku baru sadar kalau permintaan mu untuk makan pizza bersama adalah permintaan terakhirmu untuk berdua denganku wahai sahabat," ucap Tina lirih dengan bulir bening yang mengalir deras dari matanya. Isak tangis juga tak dapat ia tahan lagi sambil memeluk foto bersama Nyonya Kate semasa kuliah dulu.


Tina menghubungi kediaman Dita dan memintanya untuk datang ke pemakaman nyonya Kate. Namun, Tina memohon agar Dita tak memberi tahu Leona perihal kematian nyonya Kate.


***


Nenek Rose di makamkan di tempat pemakaman umum Blackgreen. Para kerabat dan sahabat datang silih berganti mengiringi kepergian nenek Rose. Setelah selesai menghadiri pemakaman nenek Rose, Dita mengajak Anan mengantarnya ke pemakaman Nyonya Kate.


"Sya aku titip Anta, dan Lily aku mohon tolong jaga Anta, kalian sebisa mungkin jauhi Leona, dan awasi dia, minta Jerry ikut mengawasi Leona," bisik Dita pada Tasya.


"Oke Ta, kalian hati-hati ya," pinta Tasya.


"Bunda, kenapa sih Anta gak boleh ikut, ini kan hari minggu," ucap Anta menahan Dita.


"Bunda cuma sebentar kok, nanti bunda pulang bawa mainan buat Anta," ucap Dita.


"Janji ya bunda," wajah polos Anta terpampang dengan senyum manis menatap Dita.


"Iya anak cantik..." Dita mencium kedua pipi Anta lalu pamit pergi bersama Anan.


Sesampainya di pemakaman Nyonya Kate yang tampak sepi tidak seperti pemakaman nenek Rose Tadi, Dita dan Anan di sambut oleh perempuan yang seumuran dengan nyonya Kate dan Tante Dewi. Perempuan yang bernama Tina itu memakai stelan jas warna hitam. Rambut panjang lurus berwarna coklat yang di kuncir itu terlihat berkilau. Wajahnya masih terlihat cantik.


"Anda pasti yang bernama nyonya Dita dan anda suaminya Tuan Anan, betul kan?" tanya Tina yang menyambut Dita dan Anan dengan jabatan tangan.


"Anda pasti ibu Tina," ucap Dita seraya menjabat tangan pengacara Tina itu.


"Iya saya pengacaranya keluarganya Tuan Jhon dan Nyonya Kate, setelah pemakaman ini, bisa kita bicara di tempat yang lebih nyaman, mungkin sambil makan siang?" tanya Tina.


"Boleh tentu saja, kita mau makan di mana?" tanya Dita.


"Bagaimana kalau di restoran pizza milik tuan Worm?"


"TIDAK...!!!"


Sahut Anan dan Dita bersamaan, bentakan suara mereka mengejutkan Tina.


"Lho kenapa ya, baru ini ada yang menolak pizza seenak milik restoran tuan Worm lho, apa kalian orang baru di sini dan belum mencobanya ya?"


"Tidak nyonya Tina, justru kami sudah mencobanya, dan sebenarnya... Ah susah menjelaskan sesuatu hal yang di luar nalar manusia," sahut Anan.


"Hmmm baiklah aku menghargai keputusan kalian, jadi kita mau makan di mana?" tanya pengacara Tina.


"Di restoran dekat sini saja," ucap Dita.


***


Ketiganya membicarakan mengenai awal mula Nyonya Kate mengadopsi Leona. Tina sendiri merasa tidak setuju dengan keputusan Nyonya Kate dan Tuan Jhon. Ada sesuatu yang aneh jika melihat kondisi anak-anak di Panti Asuhan Ceria yang raut wajahnya tidak terlihat ceria.


"Apa anda mengetahui sesuatu mengenai panti asuhan tersebut?" tanya Dita.


"Aku bergidik ngeri saat memasuki Panti Asuhan Ceria tersebut, wajah anak-anak tersebut tak seceria nama panti tersebut," ucap Tina.

__ADS_1


"Dan setahu ku, ternyata ada dua orang anak panti yang kembali karena orang tua asuh mereka telah tiada. Ku dengar dari kawanku yang mengurusi masalah pajak tanah di sana, dia bilang aset panti asuhan selalu bertambah seiring dengan kembalinya anak panti yang orang tua asuhnya meninggal. Mereka mendapat harta dari wasiat orang tua asuhnya," ucap Tina menjelaskan.


"Wah... bisa jadi mereka para anak panti itu di doktrin atau cuci otak untuk membunuh orang tua asuhnya dan mengambil harta mereka, bisa jadi kan bun?" tanya Anan menoleh pada Dita.


"Hmmm mungkin saja seperti itu. Aku jadi ingin tahu kondisi di sana ya yanda," ucap Dita.


"Janganlah bun, nanti kamu kenapa-kenapa lagi," sahut Anan mengunyah spaghetti di hadapannya.


"Oh iya sebenarnya, ini hal penting yang ingin saya bicarakan," Tina mengeluarkan map biru berisi surat-surat wasiat Nyonya Kate mengenai rumahnya.


"Ini bacalah!" Tina menyerahkan mau biru tersebut pada Dita.


"Apa ini, kenapa di sini tertulis bahwa rumah nyonya Kate berpindah tangan atas namaku?" tanya Dita menunjukkan isi kertas tersebut pada Anan.


"Iya ini nama kamu bun," ucap Anan.


"Iya itu memang nama Dita. Kate ingin memberikan rumah itu kepadamu, dia tak punya sanak keluarga lagi, dan dia tak ingin Leona menguasai harta warisan Tuan Jhon dan Kate," ucap Tina menjelaskan.


"Tapi mam..."


"Terimalah, aku yakin kau bisa merawat rumah itu dengan baik, Kate minta kau juga harus merawat kebun mawarnya dengan baik," ucap Tina.


Dita memandang Anan, rasanya ia tak layak menerima pemberian nyonya Kate.


"Terima aja bunda, sebagai wujud penghormatan kita pada mendiang nyonya Kate," ucap Anan.


"Silahkan tanda tangan di sini," Tina menunjuk kertas tersebut tempat dimana Dita harus membubuhkan tanda tangannya.


Dita dan Anan membaca surat wasiat tersebut secara seksama. Betapa beruntungnya seorang Dita saat membaca wasiat tersebut. Rumah itu akan menjadi milik Dita seutuhnya, di tambah dengan aset saham milik Tuan Jhon. Lima puluh persen untuk di sumbangkan dan lima puluh persen untuk Dita.


"Saya dua kali menerima ini, pertama dari Pak Herdi dan sekarang Nyonya Kate. Sebenarnya saya sedih sekali, kenapa saya harus mendapat harta di balik kematian seseorang," ucap Dita.


"Mungkin memang ini takdir mu, aku hanya menjalankan yang Kate inginkan," ucap Tina.


"Baiklah saya akan ke rumah kalian besok, untuk menemui Leona dan menjelaskan berapa yang bisa ia terima dari lima puluh persen aset Tuan Jhon," ucap Dita.


"Ini makanannya semua biar saya yang bayar," ucap Anan menuju meja kasir untuk membayar.


"Terima kasih ya," ucap Tina.


Setelah Anan kembali dari membayar, lalu Tina pamit dari hadapan Dita dan Anan. Perempuan itu masuk ke dalam mobil sport warna putihnya dan melaju pergi.


"Keren juga mobilnya," gumam Anan.


"Yanda, kita ke toko mainan ya, aku janji mau beliin Anta mainan," pinta Dita.


"Oke bun, apa sih yang enggak buat kamu dan Anta," Anan merangkul bahu Dita menuju parkiran mobil.


***


Sesampainya di rumah, Dita segera memberikan mainan yang dia beli untuk Anta yang semangat menuruni anak tangga menyambut bunda dan yandanya.


"Yeay... mainan baru..." ucap Anta dengan senangnya meraih satu set mainan perias wajah dengan tas koper warna merah muda.


"Ta, sini deh!" Tante Dewi menarik tangan Dita menuju teras belakang.


"Aku ke atas ya bun, mau mandi, ayo Anta ikut yanda!" ucap Anan.


Dita mengikuti Tante Dewi menuju teras belakang.


"Ta, besok aku yakin sama Om Kevin mau adopsi Leona, kamu setuju kan?" tanya Tante Dewi meminta persetujuan Dita.


"Aku sebenarnya tak setuju tante, tapi kalau memang tante tetap ingin seperti itu sebaiknya kita datangi panti asuhannya," ucap Dita.

__ADS_1


"Memang aku ingin sekali datang kesana, apa kau mau menemani? soalnya mas Kevin harus bertemu klien besok," ucap Tante Dewi.


"Hmmm... Aku akan tanya Anan dulu, aku ke atas ya tante mau mandi, ngomong-ngomong si Leona mana?" tanya Dita.


"Di kamarnya itu, mungkin dia sedih karena kini doa sendirian lagi tapi tenang saja sebentar lagi aku akan membahagiakan anak itu," ucap Tante Dewi.


"Hadeh..."


Kalau bukan tante kesayangan udah aku pentokin nih tuh kepala ke tembok, kesel ih sampe segitu sayangnya sama Leona ihhhhh...


Batin Dita, sambil meremas kedua tangannya di hadapan Tante Dewi.


"Kamu kenapa Ta?"


"Enggak tadi ada nyamuk lewat pengen remes-remes gemes hehehe," ucap Dita asal bicara.


***


Mobil sport warna putih itu sudah terparkir di halaman rumah milim Om Kevin di pagi hari itu.


"Wow, keren juga mobilnya," ucap Mark saat membuka pintu rumahnya untuk Tina yang membunyikan bel.


"Hallo, good morning, can I meet with Anandita?" sapa pengacara Tina.


"Oh sure, please coming,have a seat, i will call her."


Ucap Mark mempersilahkan Tina masuk lalu ia melangkah naik untuk memanggil Dita.


"Thank you..." Tina mendaratkan bokongnya di atas sofa ruang tamu itu.


Leona berdiri di sudut dapur memandangi Tina dengan tatapan tajam.


"Leona, siapa itu?" tanya Tante Dewi menyentuh kedua bahu Leona.


"Dia pengacara ayah dan ibu," sahut Leona.


"Oh iyakah, wah kalau begitu mungkin saja dia ke sini hendak bertemu dengan mu membicarakan masalah wasiat mu," ucap Tante Dewi.


Om Kevin yang baru saja keluar dari kamarnya dan hendak menuju dapur terkejut melihat Tina.


"Tina?" ucap Om Kevin.


"Kevin, is that you?"


Tina berdiri dari duduknya dan memandang om Kevin penuh lekat.


*****


Masih bersambung ya guys...


Jangan lupa main ya ke cerita ku lainnya.


- WITH GHOST (UP)


-          Kakakku Cinta Pertamaku


season 1 END


-          9 Lives (END)


-          Gue Bukan Player (END)


Vie Love You All 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2