
Dear pembaca tercinta yang selalu setia menunggu Pocong Tampan up... Vie mohon dong, mohon banget... jangan bosen buat VOTE ya... pokoknya vote vote vote...
Di like juga tiap babnya, terus komen, terus kasih vote deh...
Happy Reading...
******
"Kenapa sih kamu selalu menoleh ke belakang?"
Tanya Logan yang sedari tadi sekilas memperhatikan Tasya di dalam mobilnya.
"Oh enggak kok, aku cuma denger sesuatu di kursi belakang, takutnya ada tikus gede banget." Tasya melirik ke arah Pak Herdi yang menatapnya tajam di kursi belakang.
Duk..!!!
Pak Herdi menendang kursi Tasya dari belakang.
"Tuh kan ada bunyinya," Tasya menoleh lagi ke belakang dengan tawa kecilnya memandang Pak Herdi.
"Wah iya, jangan-jangan ada tikus ya suaranya gede banget," gumam Logan.
Tasya mencoba menahan tawanya.
Logan memasuki area parkir rumah sakit besar bertuliskan "Happy Hospital" di plang besar nama rumah sakitnya.
"Ayo turun, Sya!" Logan membukakan pintu mobil bagi Tasya.
"Terima kasih."
"Biasa aja senyumnya, gak usah pakai genit segala," celetuk Pak Herdi di samping Tasya.
Tasya menoleh pada pocong yang menggemaskan itu dan menatapnya tajam.
Pak Herdi menjulurkan lidahnya pada Tasya.
"Sya, ayo..."
"Oh iya baiklah."
***
Logan menemui ayah dan ibunya di rumah sakit tersebut. Namun, Logan terlambat sang ibunda sudah meninggal saat ia tiba di sana. Tuan Worm duduk meratapi kesedihannya kehilangan sang istri. Logan menepuk dan meremas pundak ayahnya lalu memeluknya. Mereka menangis sambil berpelukan.
Tasya menyeka air matanya. Ia turut merasakan kesedihan dari Logan dan ayahnya. Tasya melihat ibunya Logan yang terbaring di dalam kamar perawatan itu dengan dua mata terpejam sudah tak bernyawa. Wanita itu masih terlihat cantik untuk wanita seusianya. Wajahnya tampak pucat namun seolah-olah masih menyunggingkan senyum di bibirnya. Seorang suster menutupi wajah ibunya Logan dengan selimut putih sebelum membawanya ke kamar jenazah.
"Kau tunggu di sini ya, aku dan ayahku akan mengurus jenazah ibu," ucap Logan yang dijawab anggukan oleh Tasya.
Tasya duduk di kursi tunggu bersama Pak Herdi. Tak lama kemudian seorang wanita dengan seragam pasien rumah sakit duduk di samping Tasya.
"Astagfirullah ibu ngagetin aja... eh ibu kan..." Tasya kembali menoleh perlahan pada sosok wanita yang duduk di sampingnya.
"Ibunya Logan..." Tasya menggeser bokongnya berpindah duduk di samping Pak Herdi. Ia menarik kain kafan Pak Herdi untuk menutupi wajahnya.
"Kau bisa melihatku ya?" Tanya hantu ibunya Logan itu.
"Tolong jangan ganggu aku," pinta Tasya.
"Aku tak akan menganggumu, namaku Diana." Ucapnya seraya tersenyum.
__ADS_1
"Ha-halo ibu Diana." Tasya melambaikan tangannya dari balik tubuh Pak Herdi.
"Siapa makhluk di hadapanmu ini?" tanya hantu wanita itu.
"Aku? makhluk? apa maksudmu aku makhluk? aku juga hantu hanya memang bentukku unik seperti ini." Pak Herdi menunjuk dirinya sendiri.
"Oh... Aku baru tau ada hantu sepertimu hehehe..." Tawanya.
"Kau mau apa? pergilah ke tempat asalmu, alam kita sudah berbeda kan?" Tanya Tasya mengibaskan tangannya ke arah hantu Diana menyuruhnya untuk pergi.
"Makhluk di depanmu ini saja juga alamnya berbeda denganmu, tapi kau tak mengusirnya?"
"Wah kalau ini beda, dia kan penjaga saya," ucap Tasya memeluk kaki Pak Herdi menyembunyikan wajahnya.
"Hahaha kau itu lucu nak, oh iya apa kau pacar Logan?" Tanya hantu Diana mencoba menoleh ke wajah Tasya.
"Aku? aku hanya teman dekatnya," sahut Tasya.
"Hmmm aku pikir kau pacarnya. Logan-ku sangat kehilangan Samantha, setelah itu ia tak pernah dekat lagi dengan seorang perempuan. Kau mau menjaganya untukku?"
"HAH, APA...?!" Tasya terperanjat menoleh ke arah hantu wanita itu dari balik tubuh Pak Herdi.
Pak Herdi menoleh ke arah wajah Tasya menunggu jawaban gadis yang memeluk kakinya itu.
"Apa jika aku jawab iya kau akan pergi dengan tenang?"
Tanya Tasya yang menggeser tubuh Pak Herdi. Kini gadis itu berani melihat ke arah hantu ibunya Logan.
"Aku akan pergi, jika kau mau menjadi pasangannya Logan," jawabnya.
"Kalau Logan tidak menyukaiku, bagaimana?" Tanya Tasya.
"Heh heh mana bisa begitu..." Pak Herdi mencoba protes.
Tasya menepuk bokong Pak Herdi agar diam dulu.
"Apa aku boleh bertanya lagi sebelum kau pergi?" Tanya Tasya.
"Tanyalah..."
"Apa di rumahmu ada ritual sihir hitam atau semacamnya?"
"Kenapa kau tanyakan itu?"
"Aku hanya merasa saja, soalnya nenekku juga melakukan ritual sihir hitam, siapa tau aku bisa belajar dari Logan atau Tuan Worm," ucap Tasya mencoba berbohong.
"Aku tak tau pastinya. Tapi suamiku punya penjaga monster cacing yang membantu usahanya, hanya saja jika monster itu pergi maka aku akan pergi karena tubuhku sudah tak kuat lagi menjadi medianya."
"Lalu jika tuan Worm ingin mengembalikan monster itu apa dia butuh manusia lain untuk menjadi medianya lagi?"
"Aku tak tahu, aku harus pergi, cahayaku sudah datang, maafkan aku."
"Tunggu... kau belum... ah dia sudah pergi." Tasya menghela nafas panjang.
"Jadi sekarang siapa yang patut aku curigai, Logan atau ayahnya nih?" Tanya Tasya pada Pak Herdi.
"Entahlah, curigai saja keduanya." Sahut Pak Herdi.
Sementara itu dari kejauhan Mark yang berada di rumah sakit yang sama dengan tempat Tasya berada mengamati keanehan yang Tasya lakukan. Bagi Mark gadis itu hanya berbicara sendiri di koridor tersebut tanpa ada siapapun menemani.
__ADS_1
"Gadis yang aneh, apa jangan-jangan dia mulai gila ya hiiyyy..." Gumam Mark.
***
Saat di parkiran Rumah Sakit Happy, Mark tak sengaja menabrak Tasya karena ia terburu-buru berlari. Keduanya jatuh dengan bokong mendarat keras di aspalnya.
"Argghh sakit...!" pekik Tasya mengusap bokongnya. I Logan segera mengulurkan tangannya untuk membantu Tasya berdiri.
"Kamu tuh ya selalu aja buat aku sial, dasar gadis gila!" Tuding Mark.
"Heh sembarangan aja kalau ngomong, jelas-jelas ya kamu yang nabrak aku malah sekarang ngatain aku gila, kamu tuh yang gila!" balas Tasya.
"Heh sudah-sudah kalian ini apa-apaan coba, ini tuh tempat umum." Ucap Logan.
"Apa yang terjadi dengan ibumu kulihat ayahmu membawanya ke dalam mobil jenazah?" Tanya Mark yang ternyata mengenal Logan.
"Dia meninggal karena serangan jantung." Jawab Logan dengan wajah tertunduk lesu.
"Oh aku turut berduka cita ya, nanti aku akan ke rumahmu." Mark menepuk bahu Logan.
"Ibuku akan di bawa ke rumah duka, bukan ke rumahku. Kau datanglah kesana!" Ucap Logan.
"Kamu ngapain di sini?" Tanya Tasya.
"Andy, teman kuliahku mengalami kecelakaan, barusan aku menjenguknya. Apa kau pikir aku mengikutimu, hah?"
"Cih dasar..."
"Ayo Tasya bantu aku menyiapkan rumah duka untuk ibu!" pinta Logan menghentikan ucapan Tasya agar tak kembali bertengkar dengan Mark.
"Oke..." Sahut Tasya.
Pak Herdi menjahili Mark menjatuhkan motor besarnya seketika. Ia menendang motor Mark dengan gemas sambil tertawa.
"Aduh..." Pekik Mark yang kakinya tertindih stang motor besarnya.
"Kok jatuh ya?" Gumam Mark tak mengerti.
Tiba-tiba Mark melihat bayangan sosok Pak Herdi yang melambaikan tangannya sambil tersenyum di kaca spion.
"Astaga apa itu?" pekik Mark yang tak jadi mengangkat motornya sendiri. Akhirnya ia meminta bantuan seorang penjaga rumah sakit untuk membantunya mengangkat sepeda motornya.
*****
Masih bersambung ya guys...
Jangan lupa main ya ke cerita ku lainnya.
- WITH GHOST (UP)
- Kakakku Cinta Pertamaku
season 1 END
- 9 Lives (END)
- Gue Bukan Player (END)
Vie Love You All 😘😘😘
__ADS_1