Pocong Tampan

Pocong Tampan
Ekstra Part 4


__ADS_3

Jangan lupa VOTE... Happy Reading...


******


"Bunda, Yanda..." Anta langsung berseru dan memeluk Anan dan Dita.


"Ka-ka-kalian..." Tasya langsung menangis memeluk Dita.


"Hai, Sya. Apa kabar?" tanya Dita.


"Kabar buruk, aku merasa buruk tanpa kalian," ucap Tasya yang tak bisa menghentikan tangisannya.


"Udah dong jangan nangis, Anta aja seneng kok ketemu kita, kok kamu malah nangis," ucap Anan.


"Kalian gak asik tau gak, datang ke dunia pasti cuma sebentar deh, kenapa sih gak menetap di sini aja seperti hantu lainnya," ucap Tasya.


"Ya gak bisa dong, Sya. Kita gak bisa melawan takdir. Eh liat Raja ganteng banget ya mirip banget sama Anan," ucap Dita.


"Iya dong ganteng, siapa dulu ayahnya," sahut Anan dengan bangganya.


"Bunda, nanti Raja aku beliin eskrim ya, kira-kura Raja suka rasa apa ya?" sahut Anta.


"Ya jangan dulu dong Anta, jangan dikasih eskrim dulu, Raja kan masih minum susu," ucap Dita.


"Oh iya hehehee kirain udah boleh makan es krim," ucap Anta.


"Eh Anta, kamu harus jadi kakak yang kuat buat Raja, kakak yang hebat yang selalu melindungi Raja, bukan cuma Raja tapi melindungi Tante Tasya, Om Doni, Tante Dewi dan Om Andri," ucap Anan.


"Oke, siap Yanda."


"Umm... kalau menurut Bunda ya, lebih baik Anta panggil Tante Dewi Mama aja, biar Raja juga panggil Mama, terus tiap bulan bawa Raja ke makam Bunda sama Yanda ya, biar kenal gitu," ucap Dita.


"Panggil Nenek aja kali Bunda," sahut Anta.


"Husstt mana mau Tante Dewi dipanggil Nenek, yang ada nanti dia ngamuk lho," sahut Anan.


"Hehehe... iya iya, Anta lebih takut lihat Tante Dewi ngamuk daripada lihat hantu," ucap Anta.


"Tasya, udahan dong nangisnya," pinta Dita.


Tasya mencoba menyeka air matanya namun tak bisa juga ia hentikan.


Seketika cahaya ungu menyilaukan berpendar menyinari ruangan tersebut. Bayi Raja sudah kembali terlelap di dalam inkubator di hadapan Tasya dan Anta.


"Yah, bentar banget Bunda sama Yanda kunjungannya, tuh Raja dengerin ya, nanti kita beli es krim kalau kamu udah gede," ucap Anta.


Tasya masih saja menangis seraya mengacak-acak rambut Anta.


***


Sementara itu, Anta menginap di apartemen Tasya dan Doni. Tasya menceritakan pertemuannya dengan Dita dan Anan saat menjenguk Raja pada Doni. Pria di hadapannya itu sudah berlinang air mata.


"Huhuhu... kenapa tadi aku gak ikut ketemu ya, aku kangen mau peluk Pak Bos, mau peluk Kak Dita."


"Iya, aku juga masih kangen, mana cuma sebentar aja munculnya," ucap Tasya.


"Liat Anta yuk, dia udah tidur apa belum, kan kalau aku lihat Anta bawaannya lagi liat Dita sama Anan," ajak Tasya menarik tangan Doni.


"Iya bener, mirip banget," ucap Doni.


Sampai di kamar yang sudah dipersiapkan untuk Anta, rupanya gadis kecil itu sedang mencari sesuatu sedari tadi.

__ADS_1


"Cari apa, Nta?" tanya Tasya.


"Buku Anta," sahut Anta.


"Buku kayak apa?" Tasya akhirnya ikutan mencari di sudut kamar juga bersama Doni.


"Buku yang dikasih nenek-nenek pas Anta di pameran, bukunya tebal, ada gembok di sisi kanannya. Sampulnya berbahan beludru warna biru, pokoknya bukunya cantik kayak Anta," ucap Anta.


Doni dan Tasya saling bertatapan.


"Perasaan dari rumah sakit tadi Anta gak bawa apa-apa deh," gumam Doni.


"NAH...!"


Doni dan Tasya yang terkejut saling berpelukan satu sama lain.


"Dih pada kenapa lagi?" tanya Anta.


"Kaget, Nta."


Sahut keduanya bersamaan yang dibalas dengan cekikikan meringis ala Anta.


"Anta inget, bukunya pasti ketinggalan di kedai bakso yang di pameran, ayo Om, Tante, anterin Anta, pleaseeee..."


Anta merengek seraya mengerjap-ngerjapkan kelopak mata lentiknya itu.


"Duh, udah jam sembilan malam tau, pasti udah tutup," sahut Doni mencari alasan.


"Iya, besok aja," sahut Tasya.


"Gak mau, kan pameran itu tutupnya jam sepuluh, pasti masih buka, pokoknya temenin ya Anta mohon," pinta Anta lagi.


"Haduh paling gak tega lihat bocah tengil ini merengek, untung cakep anaknya Dita sama Anan, beuhhh kalau enggak..."


"Ya enggak apa-apa, masa Anta kita gak diturutin, ayo cepet keburu malam!"


Doni akhirnya mengantar Anta menggunakan mobilnya, diikuti pula oleh Tasya.


Sesampainya di pameran tersebut, ternyata masih banyak stand yang belum tutup. Malah Doni menahan Tasya menutup kedua mata istrinya itu agar tahan tidak tergoda untuk berbelanja.


"Fokus ya sayangku, kita ke sini mau temenin Anta cari buku," ucap Doni.


"Tapi itu cakep banget tasnya, belum lagi rok itu lucu, terus itu juga dress-nya cakep banget."


Tasya masih sibuk menunjuk benda-benda incarannya di pameran tersebut.


"Anta, mana kedainya?" tanya Doni yang mulai susah menarik lengan Tasya agar mengikutinya.


"Bentar, kayaknya belok sini, nah itu dia ada kakek gak pakai bajunya," tunjuk Anta.


"Maksudnya?"


"Astagfirullah... itu beneran tukang cendolnya pakai jasa kakek itu, idih amit-amit, wleeekkk..." bisik Tasya yang melihat penampakan makhluk pesugihan di cendol tersebut.


"Mbak, jangan tutup dulu, Anta mau cari buku Anta yang ketinggalan," ucap Anta menahan seorang pelayan perempuan agar tidak menutup kedai.


"Buku apa ya?" tanya si pelayan itu.


"Buku Anta warna biru, cantik pokoknya kayak Anta," ucap Anta dengan senyum manisnya.


"Coba cari ke dalam," ucap si pelayan.

__ADS_1


"Rini, ini cendol gratis kata bos aku suruh bagi-bagi," ucap pelayan cendol di samping kedai bakso.


"Wah, makasih ya, kalian pada mau gak, gratis nih cendol paling enak hits di pameran ini," ucap si pelayan bakso menyerahkan dua cup cendol pada Doni dan Tasya.


Keduanya langsung menggelengkan kepalanya secara pasti dan bersamaan.


"Kenapa? ini enak lho."


"Enggak usah, Mbak. Kita kenyang," sahut Tasya.


"Yeay bukunya ketemu, makasih ya kamu baik banget udah jagain buku aku," ucap Anta pada hantu anak perempuan di dalam kedai tadi.


"Makasih? adiknya makasih sama siapa ya?" gumam si pelayan yang asik menyeruput es cendol miliknya.


Doni dan Tasya mati-matian menahan rasa mualnya dan berusaha mengalihkan pandangan, akan tetapi mereka malah melihat sosok hantu yang sedang bersama Anta.


"Hadeh... gak heran lagi sama si Anta," gumam Tasya menepuk dahinya sendiri.


"Anta, udah yuk pulang cepetan!" ajak Doni.


"Oke, dadah Anta pulang dulu ya. Oh iya, makasih ya Mbak nih buku Anta ketemu."


Anta melangkahkan kaki dengan riangnya seraya melompat kecil.


"Buku apa sih, perasaan tuh anak gak pegang buku apapun deh terus dia ngomong makasih sama siapa lagi, dih makin merinding aku," gumam si pelayan.


Padahal di sampingnya telah berdiri si kakek makhluk pesugihan tanpa mengenakan pakaian apapun sedang menjilati tangan si pelayan yang sedang memegang gelas plastik berisi cendol tersebut.


****


Seminggu kemudian, kondisi Tante Dewi membaik, ia kini sudah dipindahkan ke ruang perawatan VIP nomor 315. Di sampingnya Andri sedang merebahkan kepalanya seraya menggenggam tangan Tante Dewi. Pria itu selalu berada di samping Tante Dewi untuk menjaganya.


Ponsel Andri berdering.


"Aduh, maaf Bos, saya gak bisa tugas lagi di pameran, soalnya saya lagi jagain istri saya yang habis melahirkan," ucap Andri.


Dia akhirnya punya alasan palsu untuk menghindari Bos-nya. Bos di Agency Andri bernama Martha, seorang perempuan yang usianya sekitar empat puluh tahun. Sepuluh tahun lebih tua darinya. Dia juga sudah memiliki suami. Namun, hobi Martha adalah berkencan dengan para model di agency-nya.


Semua dia lakukan untuk membalas perbuatan suaminya pengusaha kaya yang juga suka main perempuan muda di luar sana. Dan kini, Andri merupakan target dari Bos Martha.


"Sudahlah Bu Bos, saya gak peduli dengan gosip yang nanti menerpa saya, kalau Bos mau keluarin saya dari agency silahkan aja," ucap Andri lagi.


Pria itu lalu memutus sambungan ponselnya dan menghela nafas panjang. Lalu sejurus kemudian, kedua bola mata pria itu tertangkap oleh tatapan Tante Dewi yang sedari tadi terbangun dan mendengarkan pembicaraan Andri dari ponsel.


Deg.


Keduanya saling bertatapan.


******


Bersambung di Ekstra Part berikutnya...


Hayo... Bayar cerita Vie pakai VOTE...


Jangan lupa pembaca tersayang Votenya ke sini dulu ya. Terima kasih.


Sssttt... spoiler....


Bantuin pilih Cover yuk... Nomor satu apa nomor dua ya?


__ADS_1



__ADS_2