Pocong Tampan

Pocong Tampan
Musim Kedua - Tetangga Baru


__ADS_3

Dear pembaca tercinta yang selalu setia menunggu Pocong Tampan up... Vie mohon dong, mohon banget... jangan bosen buat VOTE ya... pokoknya vote vote vote...


Di like juga tiap babnya, terus komen, terus kasih vote deh...


Happy Reading...


******


Ibu Dewi?" sapa wanita yang menggendong anak tersebut dengan senyum sumringah menghampiri tante Dewi.


"Shinta? apa kabar kamu?" sapa Tante Dewi seraya mencium pipi kiri dan kanan Shinta secara bergantian.


"Baik."


"Itu Doni kan?" tanya Tante Dewi.


"Iya bu, itu Doni sama istrinya," sahut Shinta.


"Maaf saya menyela, jadi kalian sudah saling kenal?" tanya Tina.


"Iya kami sudah saling kenal, dulu kami bekerja di rumah sakit yang sama," jawab tante Dewi.


"Iya betul, ibu Dewi ini dulu atasan saya pemilik rumah sakit, dia tuh dokter terhebat yang pernah saya temui," puji Shinta.


"Ah kamu bisa aja, oh iya ini anak kamu namanya siapa?" tanya Tante Dewi.


"Ini namanya Lee," Shinta mengangkat tangan anaknya sembari menyapa tante Dewi.


"Hai Lee, ayahnya mana? aku kan gak datang waktu kamu menikah tempo hari?" tanya Tante Dewi.


"Ayahnya ya, hmmm hilang ditelan bumi," sahut Shinta dengan ketusnya.


"Hmmm maaf ya, bukan maksud saya mengungkit masalah kamu, oh iya itu si Doni kenapa langsung masuk rumah gitu sih bukannya memperkenalkan istrinya di ajak ke sini," Tante Dewi menggerutu dengan sikap Doni yang terlihat aneh.


"Aku gak tau ya, coba nanti aku suruh ke sini sama istrinya," jawab Shinta.


"Lalu kenapa pindah ke negara ini?" tanya Tante Dewi lagi masih penasaran.


"Mitha istrinya Doni, pindah kerja ke sini, dan dia juga memberikan Doni pekerjaan di sini jadi kami menurut, lagi pula karena kami sudah tak punya apa-apa lagi di kampung. Kami sudah banyak berhutang budi padanya," ucap Shinta.


"Oh begitu..." Tante Dewi mengetuk dagunya sendiri dengan jari telunjuknya.


"Oh iya bu kalau begitu aku ke rumah dulu ya bu, soalnya kita masih capek habis perjalanan jauh tadi," ucap Shinta lalu pamit dari hadapan Tante Dewi dan Tina.


"Kalau begitu aku pamit ya," ucap Tina.


"Aku tak ingin makan bersama kami, sebentar lagi Kevin pulang, ku dengar dia teman kuliah mu ya dulu?" tanya Tante Dewi.


"Iya, lalu apa ada hal lain yang ia ceritakan pada anda?" tanya Tina.


"Maksudnya?"


"Tak ada maksud apa-apa kok, aku hanya bertanya saja, iya kami hanya teman, hanya teman kuliah."

__ADS_1


"Kamu mau menceritakan padaku bagaimana Kevin dulu?"


"Maaf sepertinya aku harus pergi, aku masih harus bertemu dengan rekan kerja lain, ini surat sewa mereka dan cek pembayarannya untuk sewa selama satu tahun," ucap Tina seraya menyerahkan satu map berwarna merah yang berisi beberapa dokumen.


"Oke, baiklah terima kasih ya, dan ku harap kapan-kapan kita bisa makan bersama dan bercerita," ucap Tante Dewi.


"Hmmm..."


Tina pamit dari hadapan Tante Dewi dan segera masuk ke dalam mobilnya lalu melaju meninggalkan rumah Om Kevin, sang mantan yang sebenarnya belum bisa ia lupakan.


***


Tasya yang sedang membersihkan toilet melihat sosok bayangan putih di depan pintu toilet lantai dua tersebut.


"Perasaan baju Dita warna ungu, baju Anta seragam sekolah, kalau si Ratu Sanca warna hijau, lalu putih-putih itu apa ya?" gumam Tasya.


Sebuah tangan berkulit pucat merayap dari balik pintu kamar mandi tersebut.


"I-itu, itu ta-tangan siapa ya..." Tasya merapatkan tubuhnya ke dinding di belakangnya.


Makin lama tangan tersebut makin panjang terlihat sampai siku. Tasya makin panik dan ketakutan lalu membanting pintu toilet dengan kerasnya saat menutupnya dengan segera.


"AWWW....!!!" Terdengar suara teriakan dari depan pintu toilet tersebut.


"Kok suaranya kayak kenal ya?" gumam Tasya.


"Ya kenal lah, kan ini saya, Sya..." ucap Pak Herdi yang meringis kesakitan.


"Lagian aneh sih, masa udah jadi hantu masih ngerasain sakit, dih enggak ada harga dirinya buat nakutin," gerutu Tasya seraya meniup tangan Pak Herdi.


"Kalau mau meringankan sakit saya gak usah pakai ngeluh. Lagian mana saya tahu kalau saya bisa di sakitin sama kamu, kan biasanya yang bisa nyentuh saya atau mukul saya cuma Dita sama Anan."


Pak Herdi memandangi Tasya yang masih sibuk meniup tangannya, padahal menurutnya tangan itu sudah tak terasa sakit lagi sedari tadi.


"Jangan lihat aku seperti itu..." gumam Tasya.


"Lho kenapa memangnya?"


"Malu pak, perasaan saya jadi deg degan," sahut Tasya.


Pak Herdi menarik tangannya dari Tasya.


"Saya ngeri kalau kamu bilang deg degan gitu," ucap Pak Herdi.


"Ngomong-ngomong, bapak ngapain ke sini? emangnya di panggil Dita?" tanya Tasya.


"Dari tadi kuping saya bunyi terus kepanggil gitu, apa karena tangan Dita gerak ya, terus kepikiran saya?" tanya Pak Herdi.


"Nah ini dia pocongnya, kan saya panggil bapak dari tadi, lho kok jadi nyamperin Tasya," ucap Dita yang datang dari arah belakang Pak Herdi.


"Eh Dita, saya juga gak tau sampai sini, pas muncul ada Tasya lagi sendirian saya godain aja, saya takuti hehehe," pak Herdi mengaku sambil tertawa.


"Idih... ganjen gak baik tau godain anak perawan, hayo jangan-jangan..."

__ADS_1


"Apaan sih Ta," ucap Tasya memotong ucapan Dita seraya pergi dari hadapan Dita dan Pak Herdi.


"Kamu kenapa panggil saya?" tanya pak Herdi.


"Bantuin yuk bebenah hehehe kurang tenaga nih," pinta Dita sembari meringis ke arah Pak Herdi.


"Astaga... benar-benar saya gak ada harga dirinya sebagai hantu kalau bersama kamu dan Anta ckckck..." pak Herdi menggerutu seraya menggelengkan kepalanya.


"Udah sih yang ikhlas, katanya akan selalu ada buat aku, buat Anta, akan selalu menjagaku, membantu ku kapanpun aku butuhkan..." pinta Dita.


"Ya sih... tapi masa hantu di jadiin pembantu juga macam saya..." gerutu Pak Herdi tapi tetap menyerah menuruti perintah Dita.


***


Sore itu tuan Worm datang ke halaman restoran milik Anan. Ia berkeliling area restoran sambil menaburkan sesuatu dari dalam kantong kain berwarna hitam yang Ia raih dari sakunya.


"Menurut si Paijo, rekanku yang berasal dari negeri asia tenggara, tanah makam korban kecelakaan ini cukup ampuh untuk menghancurkan usaha lawan maupun kawan. Aku harap saat pembukaan besok tak ada satupun yang akan datang membelinya." ucapnya seraya menaburkan tanah tersebut mengelilingi area restoran.


Makhluk cacing besar yang mempunyai kaki dan tangan itu muncul di samping Tuan Worm.


"Aku akan memerintahkan saudara kembarku yang terkenal bodoh untuk menjaga tempat ini tepat di pintu utama, agar tak ada satupun pengunjung yang tertarik memasuki restoran ini," ucap cacing besar itu.


"Baiklah aku tentu saja akan setuju, pokoknya aku percayakan kehancuran restoran ini pada saudara kembarmu," ucap Tuan Worm.


"Maaf tuan bisa saya bantu, anda sedang apa ya di sini?" tanya salah satu penjaga keamanan di area tersebut.


"Ummm itu, ummm ini, ummm oh iya saya menjatuhkan cincin saya, jika anda melihatnya tolong segera beritahu saya ya," ucap Tuan Worm mencoba berbohong.


"Oh... mau saya bantu tuan?" tanyanya seraya menawarkan bantuan.


"Oh boleh kenapa tidak," sahut Tuan Worm seraya masih menaburkan tanah tersebut secara berkeliling.


Senyum jahat tersinggung di wajah tua tuan Worm. Sebentar lagi restoran saingannya ini akan mendapatkan kerugian teramat besar bahkan terancam bangkrut lalu tutup begitu saja. Bayangan yang menggiurkan tersebut membuat tuan Worm makin merasa bahagia, bangga, dan merasa sudah sukses akan pekerjaannya yang baru saja ia lakukan.


"Rasakan tuan Anan, siapa suruh kau menantangku, sekarang rasakan akibatnya, kau akan mengalami pujian yang tidak menyenangkan nantinya.


*****


Masih bersambung ya guys...


Jangan lupa main ya ke cerita ku lainnya.


- WITH GHOST (UP)


- Kakakku Cinta Pertamaku


season 1 END


- 9 Lives (END)


- Gue Bukan Player (END)


Vie Love You All 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2