
Sebelum membaca klik like yak...
let's vote for me boleh yak...
apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...
Rate bintang lima jangan lupa...
thank u so much... love u all... 😘😍😊
***
"Jadi... Anandita Mikhaela maukah kau menikah dengan ku?" Anan sudah berlutut di hadapan Dita.
"Gak afdol Nan, cincinnya mana?"
ucap Anita.
"Hmmm bener juga Nit, aku maunya cincin yang ada berliannya besar banget."
Anita, Doni dan Anan menatap Dita tak percaya dengan ucapan Dita barusan.
"Tapi bohong hehehe, aku sudah punya hati Anan, apalagi yang bisa buat aku bahagia di dunia ini selain Anan ku." Dita menarik tangan Anan yang sedang berlutut untuk berdiri.
"Aku mau... aku mau... aku mau..." ucap Dita penuh kebahagiaan lalu memeluk Anan.
"Ah... aku baper Don." Anita menepuk bahu Doni berkali - kali.
"Jadi kapan kita menikah?" tanya Anan meyakinkan.
"Minggu depan, kita cari tempat yang nyaman hanya kita-kita aja terus cincin, terus gaun dan jas buat kamu."
"Setuju..." sahut Anita.
"Oke aku setuju." Anan mencium kepala Dita.
"Oh iya bagaimana dengan papi dan mami kamu Nan?" tanya Dita.
"Aku takut ketemu papi Ta."
"Aku juga sih, tapi masa kita nikah diam-diam tanpa kasih tau mereka?"
"Hmmm kita omongin sama Tante Dewi yak."
"Oke aku setuju." ada kebahagian di hati Dita dan Anan meskipun ada kesedihan tersirat di hati Dita jika ia kehilangan Anan suatu hari nanti.
__ADS_1
"Aku diundang gak bos?" tanya Doni perlahan.
"Hahahha iya gue undang lah Don, kakak elu juga gue undang kalau perlu." sahut Anan.
"Yakin undang Shinta? nanti kalau dia ngamuk ngacak - ngacak meja makanan gimana?" ucap Anita.
"Kenapa kakakku bisa ngamuk?" Doni menoleh pada Anita.
"Kan dia patah hati Don, orang yang patah hati bisa nekat apapun di lakukan untuk meluapkan sakit hatinya."
"Kenapa kak Shinta patah hati kok bisa?"
Anita mengetuk kepala Doni.
"Sakit tau Nit." Doni mengusap kepalanya.
"Aku mau cari otak kamu sebelah mana, masih di kepala apa udah pindah." Anita tertawa di sambut dengan tawa Anan dan Dita.
"Apa nya yang lucu sih?" Doni mulai kesal tak mengerti.
"Lagian otak masih di kepala tapi gak dipake sih, eh Don jelas - jelas kakak kamu si Shinta itu naksir abis sama Anan, ya pasti patah hati lah kalau denger Anan mau nikah sama Dita."
"Oh... itu yak, kok aku sedih ya denger nya." ucap Doni kecewa.
"Emang masih ada ya yang setampan dan tajir kayak pak bos?"
"Masih ada yang tajir dari Anan tapi kalau setampan Anan mah hmmm gak bakalan ada hehehe." sahut Dita.
"Eh bisa aja tuan putri." Anan mencolek dagu Dita.
"Iya dong pangeran hati." wajah Dita makin bersemu bahagia.
"Kita cari Tante Dewi yuk." ajak Anan.
"Ayuk..." sahut Dita lalu bersama- sama keluar dari ruangan mencari Tante Dewi.
***
"APA? jadi serius kalian mau nikah?" pekik Tante Dewi akhirnya.
"Iya Tante aku serius." ucap Anan memohon restu dari Tante Dewi.
"Dita juga serius tante, udah yakin kok, Tante merestui kami kan?" tanya Dita.
"Ya Tante sih udah enggak mungkin nahan kalian, apalagi tipe seperti Anan, apapun yang dia mau itu harus di turuti." sahut Tante Dewi melirik Anan.
__ADS_1
"Nah itu Tante tau, terus gimana dong cara kasih tau papi sama mami, aku takut papi datang kesini terus gagalin rencana pernikahan aku sama Dita?" ucap Anan.
"Iya emang susah sih Nan, tapi mereka tetap harus tau."
"Eh coba liat berita!" sahut Anita menunjuk ke arah tv.
"Tunggu Tante bentar, lihat berita di tv!" ucap Dita menunjuk layar tv besar di hadapan nya.
"Berita apa tuh?" ucap Tante Dewi ikut menyimak layar tv.
"Beberapa napi meninggal karena keracunan." sahut Anan.
"Itu kan lapas xx tempat pak Herdi Ta." ucap Anita.
"Wah iya bener Nit, itu lapas tempatnya pak Herdi." Dita mencari remote tv dan memperbesar volume tv tersebut.
"Diberitakan jumlah korban meninggal mencapai sepuluh orang, para korban di duga keracunan makanan yang diberikan oleh salah satu pengunjung narapidana. Kepala Lapas menjelaskan ia akan menelusuri para pengunjung yang terekam kamera cctv untuk tindakan lebih lanjut. Berikut daftar sepuluh korban yang meninggal di Lapas XX atas kejadian tadi." ucap seorang reporter di depan lapas xx lalu terpampang daftar nama - nama korban yang meninggal.
"Herdiyansyah Tunggal Winata, Nan itu pak Herdi Nan, aku enggak salah lihat kan?"
"Iya Ta bener itu nama lengkap Herdiyansyah Tunggal Winata." sahut Anan mendekat ke layar tv.
Tubuh Dita terasa lemas dan ambruk di sofa belakangnya. "Baru tadi dia pamit sama aku, ternyata itu terakhir kalinya aku ketemu dia, hiks hiks hiks."
Anan memeluk Dita yang menangis sesenggukan sedih akan kematian Pak Herdi.
"Aku boleh ke lapas gak Nan? pak Herdi kan sudah tak punya keluarga lagi."
"Boleh Ta, ayo aku anter kita kesana."
Ponsel Tante Dewi berdering.
"Ya Shin, kenapa? oh oke ayo kita segera kesana." ucap Tante Dewi melalui ponselnya.
"Aku ikut Nan, Shinta barusan telepon kalau dia dan Tante akan melakukan otopsi para jenazah di lapas itu."
"Oke Tante, ayo pakai mobil Anan aja." ajak Anan, Dita, Tante Dewi dan Anita segera mengikuti Anan.
***
To be continue...
Happy Reading...
Jangan lupa di vote dan tengok novel baruku juga ya di 9 lives, ikuti tentang keseruan Zee si penyihir bersama para makhluk aneh lainnya. 😘😘😘
__ADS_1