Pocong Tampan

Pocong Tampan
Musim Kedua- Leona


__ADS_3

Dear pembaca tercinta yang selalu setia menunggu Pocong Tampan up... Vie mohon dong, mohon banget... jangan bosen buat VOTE ya... pokoknya vote vote vote...


Di like juga tiap babnya, terus komen, terus kasih vote deh...


Happy Reading...


******


"Anta, tante Tasya mohon, jangan bilang soal cacing, ulat atau apalah itu yang nempel di dinding sama pak guru Logan ya," ucap Tasya.


"Hmmm... okay, tapi jangan bawel kalau Anta minta nambah ya," ucapnya.


"Hadeh... oke lah terserah kamu aja," ucap Tasya pasrah menuruti Anta.


Logan datang berbarengan dengan menu makanan yang sudah Anta pesan.


"Astaga, kalian makan segini banyak habis?" tanya Logan.


"That's not me, her, her, her..." Tasya menunjuk Anta yang sudah melahap puding dan milkshake milonya. Anta mendongak meringis ke arah Logan menunjukkan tatapan manisnya.


"Gak apa-apa kok, asal dihabiskan semuanya." ucap Logan seraya memotong pizza di depannya. Satu irisan segitiga pizza beef rasher dengan irisan keju mozarella siap mendarat ke dalam mulutnya. Logan mengunyah pizzanya dengan nikmat.


"Tunggu bentar, itu apa ya?" Tasya menunjuk cacing-cacing yang menggeliat di dalam pizza tersebut. Salah satu cacingnya sempat menyembul ke luar dari mulut Logan.


"Apa? kenapa? maksud kamu apa sih?" tanya Logan.


"Ummm... perasaan ku saja kali," gumam Tasya sambil mengunyah garlic breadnya.


"Ini pizzanya, cobalah ini pizza terenak dan terkenal dari resep ayahku, sayangnya aku tak bisa menuruni bakat ayahku memasak," ucap Logan seraya menyerahkan potongan pizza ke piring Anta dan Tasya.


"Terima kasih," ucap Tasya bersiap memotong pizzanya dengan garpu dan pisau.


"Tunggu tante, itu..." Anta menunjuk para cacing yang menggeliat tak menentu siap di santap Tasya.


"Tuh kan bener, tadi ada cacingnya," Tasya langsung membanting irisan pizzanya.


"Maksud kalian apa? pizza ini ada cacingnya?" tanya Logan tak mengerti.


"Iya om, eh pak guru, ini pizza ada cacingnya hiiyy..." ucap Anta.


"Hahaha kalian ini konyol, mana ada cacing, ini tuh irisan keju tau," ucap Logan lalu mengunyah pizza tersebut.


Tasya yang langsung mual melihatnya langsung pergi menuju kamar mandi.


"Anta gak jadi ah makan pizza nya mau makan roti, puding, sama susu cokelat aja deh," ucap Anta.


***


Anan berhasil mengikuti petunjuk jalan melalui aplikasi peta di ponselnya menuju Panti Asuhan Ceria.


"Itu pasti panti asuhannya," gumam Anan yang menepikan mobilnya di depan sebuah gerbang berukuran sedang.


"Benar nih, ini kan mobil Tante Dewi sama punya Tina," gumam Anan lalu turun dari mobilnya mencari Dita.

__ADS_1


"Tuan Anan," sapa Tina yang sudah berdiri di luar rumah bersama anak-anak yang lain.


"Dita mana? Tante Dewi juga mana?" tanya Anan.


"Menyan! lihat rumahnya bergerak! Dita dan Dewi ada di dalam sini!" Pak Herdi berteriak dari dalam rumah.


"Yanda...!!! bakar kalungnya...!!!" Dita berteriak dari dalam sana. Rumah panti asuhan itu bergerak memasuki bumi seiring dengan tanahnya yang bergetar.


"APA... KALUNG APA?!" Anan berusaha menstabilkan berdirinya karena ada dua orang anak yang masuk ke dalam tanah tertarik oleh gerakan rumah tersebut.


"Kalung ini, kalung ini Nan, bakar kalung ini!" Tina menyerahkan kalung tersebut pada Anan.


Anan segera meraih kalung tersebut dan membakarnya dengan gantungan korek gas yang ada di dalam mobilnya.


Rumah itu terbakar dengan kobaran api besar langsung melahap semuanya. Namun, Dita dan Tante Dewi terlempar ke udara. Anan bersiap menangkap Dita, sementara Pak Herdi berhasil menangkap tante Dewi.


"Bunda gak apa-apa kan?" tanya Anan.


"Yanda..." Dita langsung memeluk Anan dengan erat di gendongannya.


"Tante Dewi mana?" tabya Dita yang langsung turun dari gendongan Anan.


"Tuh sama tofu basi," tunjuk Anan.


"Kalian gak apa-apa kan?" tanya Tina.


"Aku gak apa-apa tapi Tante Dewi masih pingsan tuh!"


"Astaga... itu nyonya Dewi melayang ya?" tanya Tina yang hampir limbung saking terkejutnya ia melihat Tante Dewi melayang.


"Oh iya lupa maaf," pak Herdi langsung melepas tante Dewi begitu saja.


"Tofu basi...!!! Tante gue main dijatuhin aja!" pekik Anan yang buru-buru menolong Tante Dewi.


"Duh... panta* Tante kok sakit ya," gumamnya sambil meringis.


"Kamu kok tadi melayang sih?" Tina langsung menghampiri tante Dewi.


"Aku? aku melayang? ini ngomong apa sih?" gumam Tante Dewi.


"Udah gak usah di lanjutin lagi, sebaiknya kita menghindar dari sini, yanda segera hubungi polisi setempat," pinta Dita.


Anan melangkah segera menuju mobilnya mencari ponselnya untuk menghubungi polisi.


"Gak ada sinyal bunda," ucap Anan.


"Kita tinggalkan dulu deh tempat ini sebelum rumahnya makin meledak," ucap Dita.


"Bagaimana dengan anak-anak itu?" tanya Tina.


"Kita bawa aja semua sampai kantor polisi, lihat saja mereka tampak bingung dan pandangannya kosong tak tahu harus apa," ucap Dita.


"Kamu benar, kita jahat kalau kita tinggalkan mereka begitu saja ya di sini," sahut Tina menyetujui saran Dita.

__ADS_1


"Tunggu! Leona mana ya?" tanya Tante Dewi.


"Tante... ayolah sadarlah, Leona itu gak baik buat di jadiin anak asuh," nada suara Dita mulai kesal.


"Bukan gitu, tadi tas tante sama dia, kunci mobil, handphone, dompet semua ada di tas," ucap Tante Dewi.


"Yah terus gimana dong, mana muat satu, dua, ummm dua belas anak itu ikut kita dalam dua mobil, kalau mobil Tante gak bisa nyala?" tanya Dita.


"Apalagi mobil ku, cuma muat dua orang," sahut Tina.


"Ikut aku Nan, kita akalin mobilnya," ucap Pak Herdi melompat di depan Anan.


"Kelamaan ih pakai lompat segala emang gak bisa tuh ujung kaki di keluarin terus jalan?" Anan mencoba menghina pak Herdi sambil tertawa.


"Kalau bisa juga dari kemarin udah saya bolongin emang nyatanya saya harus begini, tukar lagi yuk Nan?"


"Enggak mau!" sahut Anan melangkah cepat menuju mobil Tante Dewi. Ia mencari besi untuk mencongkel pintu mobilnya.


"Lama, pecahin aja kacanya," Pak Herdi menimpuk kaca mobil Tante Dewi.


"Ya ampun mobil aku kenapa kacanya pecah sendiri?" Tante Dewi berteriak tak menyangka.


Anan masuk ke dalam mobil bersama pak Herdi yang mencoba menyalakan mesin mobil dengan cara mengakali seperti pencuri mobil yang pernah ia lihat di tv.


"Nah bisa kan..." ucap Pak Herdi dengan nada bangga.


"Oke deh sip, bangga gue punya pocong kayak elu!" Anan menepuk punggung Pak Herdi.


"Sebenarnya suami anda sedang menggerutu apa gimana sih?" tanya Tina pada Dita, sedari tadi dia heran dengan sikap Anan yang seolah-olah berbicara sendiri karena tak bisa melihat kehadiran Pak Herdi.


"Hehehe biasa emang suka ngomong sendiri kalau lagi kesel," sahut Dita asal.


"Ta, kok tante berasa ada yang minta gendong ya, leher tante berat banget kayak ada tangan bergantung di sini?" ucap Tante Dewi yang tak bisa bergerak.


"Astagfirullah... " pekik Dita sembari menunjuk ke sesuatu yang menempel di Tante Dewi.


"Duh kok bau gosong ya Ta, perasaan gak enak nih..." ucap Tante Dewi yang kini mulai gemetar.


"Ada apa sih?" tanya Tina yang tidak bisa melihat sosok berbadan hangus yang menempel di tubuh tante Dewi itu.


******


Masih bersambung ya guys...


Jangan lupa main ya ke cerita ku lainnya.


- WITH GHOST (UP)


- Kakakku Cinta Pertamaku


season 1 END


- 9 Lives (END)

__ADS_1


- Gue Bukan Player (END)


Vie Love You All 😘😘😘


__ADS_2