
Hayo sebelum pada baca tolong ya tombol Likenya di pencet dulu, jangan lupa rate bintang lima. Lalu, kirimkan poin kamu untuk Vote, kirim koin juga boleh banget lho...
Happy Reading... 🥰😊
******
Malam itu Pak Herdi mengikuti Doni pulang ke rumahnya.
"Pak Herdi suka ya sama Tasya?" tanya Doni yang penasaran juga sama kedekatan Pak Herdi dan Tasya akhir-akhir ini.
"Saya tuh udah anggap Dita dan Tasya seperti adik saya sendiri, tapi kadang baper sendiri sama mereka," jawab Pak Herdi.
"Tapi gak suka, kan?" tanya Doni lagi.
"Suka lah," sahut Pak Herdi.
"Tapi kan Tasya jodoh saya Pak, jangan gitu lah."
"Urusin dulu tuh si Mitha, kenapa kamu pakai nikah sama dia, hayo...?"
"Ya, kan terpaksa Pak..."
"Tetep aja kamu gak punya pendirian dan keteguhan hati buat mempertahankan Tasya."
Doni sempat menundukkan kepalanya. Ia menghentikan langkahnya lalu menangis sambil berjongkok.
"Udah lah Don, ayo pulang dulu urusin yang ada di rumah kamu dulu," ajak Pak Herdi menarik lengan Doni.
Doni akhirnya menurut pada Pak Herdi dan menyeka air matanya.
"Pak Herdi tunggu sini ya, aku coba ke kamar dulu liat Mitha lagi apa, nanti pas aku ke luar dari kamar Mitha biasanya sosok laki-laki itu muncul dari loteng menuju kamar aku dan menggantikan aku," ucap Doni.
"Oke, jangan lama-lama," pinta Pak Herdi.
Pak Herdi menunggu Doni di kebun belakang. Bunga mawar yang tampak bermekaran itu mengeluarkan aroma yang wangi sekali menusuk ke rongga hidung.
Shinta dan anaknya keluar untuk membuang sampah. Usia anak Shinta memang berumur delapan bulan sekarang, namun ia sudah mampu berjalan sedikit demi sedikit. Lee mendekati Pak Herdi dan menatapnya dengan seksama.
"Halo..." ucap Pak Herdi memberikan senyum manis pada anak kecil menggemaskan itu. Lee tersenyum pada Pak Herdi seraya menarik kain kafan Pak Herdi.
"Duh, jangan ditarik gitu dong, nanti keliatan burung Om," ucap Pak Herdi mencoba mempertahankan kainnya dari Lee.
Lalu, tiba-tiba kaki Pak Herdi merasakan cairan hangat yang mengalir membasahi kakinya.
"Astaga... nih bocah main pipis sembarangan aja," ucap Pak Herdi, ia berusaha menggeser kakinya dari hadapan Lee yang masih terus saja tertawa menarik-narik kain kafannya. Lalu Pak Herdi merasakan sesuatu yang lembek terinjak di kakinya. Pak Herdi menoleh ke arah kakinya dan berteriak geram.
__ADS_1
"Kalau bukan bocah kecil, udah saya jitak kepala botak kamu dari tadi, udah pipis sembarangan eh ini pake buang hajat segala di kaki pocong, gak ada takut-takutnya kamu ya sama pocong," hardik Pak Herdi dengan kesalnya mengangkat kakinya dari kotoran si Lee.
"Lee, kamu ngapain di situ, masuk yuk!" ajak Shinta yang kemudian menghampiri Lee dan menggendongnya.
"Ya ampun, kamu dari tadi pipis ya, duh mana gak pakai popok lagi, haduh terus kamu kok pup sembarangan sih, ayo kita bersihkan dulu ke kamar mandi," ucap Shinta seraya mengangkat Lee menuju kamar mandi.
Shinta berpapasan dengan Doni yang baru saja menuruni tangga.
"Don," tegur Shinta.
"Ya, Kak."
"Tolong dong bersihkan kotorannya si Lee, tadi dia pup di kebun belakang pas aku buang sampah."
"Lagian, kenapa gak pakai popok sih?" tanya Doni.
"Mau di ajarin tanpa popok lagi tadinya, eh belum bisa juga ternyata, udah sana tolong bersihin!" seru Shinta.
"Oke, oke."
Doni langsung mencari plastik dan sapu kecil pembersih debu di dapur untuk membersihkan kotoran bekas Lee.
Sesampainya di kebun belakang, Doni langsung membersihkan kotoran bekas Lee. Namun, pandangannya kini tertuju pada bagian bawah kain kafan yang dipakai Pak Herdi.
"Itu kenapa, Pak? Kok ada noda kuningnya?" tunjuk Doni.
"What? Jadi bapak dikerjain sama Lee, dikasih harta karun gitu sama Lee?" tanya Doni seraya menahan tawanya. Namun akhirnya tawa itu pecah juga saat Pak Herdi menjawab dengan anggukan.
"Jadi gak nih saya bantuin? Kalau gak jadi saya pulang aja nih, mau nyuci kain kafan," ucap Pak Doni.
"Tunggu bentar, astaga perut saya sakit banget ketawa mili ini hahaha..." ucap Doni.
Pak Herdi berniat pergi meninggalkan Doni tapi pria itu langsung menahan Pak Herdi. Sayangnya, bungkusan plastik yang berisi kotoran milik Lee terjatuh dan terinjak oleh Doni.
Sontak Pak Herdi langsung tertawa terbahak-bahak menunjuk ke arah kaki Doni.
"Karma di bayar lunas, hahahaha... rasakan pembalasan saya tanpa perlu saya yang balas," ucap Pak Herdi.
"Aargghh bau banget lagi, mana si Lee doyannya makan daging, kan makin busuk nih tokay," gerutu Doni lalu pergi ke keran air di samping rumahnya untuk mencuci kaki. Begitu juga dengan Pak Herdi yang ikut mencuci kaki membersihkan bagian bawahnya.
Setelah semuanya bersih dan aman terkendali, Pak Herdi mengikuti Doni menuju kamarnya.
"Tuh denger kan bunyi berisik dari dalam kamar," bisik Doni.
"Iya, ya Don, mana dengernya jadi merinding semriwing gini lagi pake teriak dan mendesak segala. Emangnya Mitha diapain di dalam sana, ya?" tanya Pak Herdi yang juga berbisik.
__ADS_1
"Mana aku tau, Pak. Coba bapak ngintip masuk ke dalam!" ucap Doni mendorong bahu Pak Herdi.
"Ah enggak lah, saya kan hantu beretika, di mana harga diri saya coba kalau sampe ngintip orang lagi olahraga ranjang gitu," sahut Pak Herdi.
"Nah, itu kan tau Mitha lagi diapain, masa pakai nanya tadi, gimana sih?"
"Ya habisnya dia teriak gak jelas gitu," ucap Pak Herdi.
Setelah kesunyian mereda dari dalam kamar Mitha, lalu gagang pintunya bergerak memutar.
"Ngumpet pak, ngumpet takutnya dia bisa lihat bapak," ucap Doni.
Lalu dia dan Pak Herdi bersembunyi di balik dinding samping kamar Mitha dan kamar mandi lantai dua itu.
"Bener juga ya Don, dia mirip sama kamu tapi sebenarnya dia jelek lho Don," ucap Pak Herdi.
"Jadi dia makhluk gaib kan?" tanya Doni.
"Iya, dia seperti Jin dari berkulit putih albino, kepalanya botak, perutnya buncit, dia naik ke atas loteng tuh," ucap Pak Herdi.
"Nah, kan jadi Pak Herdi percaya kan kalau bukan aku yang menghamili Mitha, aku tak pernah mencoba sekalipun menyentuhnya," jelas Doni.
"Oke aku percaya, hanya saja bagaimana ya caranya supaya kita bisa tau siapa makhluk itu," gumam Pak Herdi.
"Pak Herdi mau kenalan sama dia?" tanya Doni.
"Ngapain kenalan, ogah amat cukup ingin tahu aja," jawab Pak Herdi.
"Gak usah lama-lama, Pak. Tuh sekarang juga bisa kenalan."
Doni menunjuk ke belakang Pak Herdi dengan tangan gemetar. Makhluk gaib yang dibilang Pak Herdi tadi sudah berdiri di belakang pocong tersebut.
******
Bersambung...
Mampir juga ke :
- 9 Lives (Jilid II - On Going)
- Diculik Cinta (On Going)
- With Ghost (END)
- Gue Bukan Player (END)
__ADS_1
- Kakakku Cinta Pertamaku (END - Musim Kedua hiatus 😁)
Vie Love You All... 😘😘😘