
Episode awal september... (Maaf telat up)
Dear pembaca tercinta yang selalu setia menunggu Pocong Tampan up. Vie mohon dong, mohon banget, jangan bosen buat VOTE ya... pokoknya vote vote vote...
Di like juga tiap babnya, terus komen, terus kasih vote deh.
Happy Reading...
Selamat buat para pemenang Vote di agustus. Segera hubungi Vie ya via inbox instagram atau chat admin GC buat sampaikan wa nya ke Vie.
Sekali lagi terima kasih dukungannya.
***
"Kamu kenapa, Sya?"
"Astagfirullah... Pak Herdi ih ngagetin aku aja!" pekik Tasya.
"Lah, kan kamu yang panggil saya, masa kaget, sih!" balas pocong itu.
"Aku Tuh lagi deg-degan tau gak, perasaan aku ada yang sedang mengikutiku," ucap Tasya seraya melirik ke arah belakangnya.
Pak Herdi menoleh ke arah belakangnya dan mencoba mengamati.
"Ya, kan ada yang sedang mengikutiku?" Tasya mencoba menoleh ke belakangnya.
"Adanya tuh dua orang mabuk sedang menuju ke toilet, kamu salah paham kali bilang aja kangen sama saya jadi minta di temenin, ya kan?" Pak Herdi meledek ke arah Tasya.
"Idih pede banget jadi pocong," sahut Tasya.
"Ssttt tungguin sini ya, aku mau ke dalam dulu, tungguin please..." pinta Tasya.
"Gak mau! masa saya harus mengikuti kamu masuk ke sana, ogah!" protes Pak Herdi.
"IH sebentar doang, aku takut nih kalau ada penampakan lebih serem dari bapak," Tasya langsung melingkarkan tangannya di lengan Pak Herdi dan mengajaknya masuk ke dalam toilet.
"Malu, Sya! nanti kalau ada perempuan lain yang masuk sini gimana? mau di taruh mana muka saya?" ucap Pak Herdi mulai kesal.
"Terserah bapak, mau di taruh di kaki apa di kepala ya hak bapak. Tapi saran saya sebaiknya taruh mukanya ya di sini aja jangan jauh-jauh nanti tambah serem." ucap Tasya.
"Duh mules, tungguin bentar." Sebelum Pak Herdi berucap, Tasya langsung melangkah menuju bilik toilet menuntaskan hajatnya.
"Astaga, baunya Tasya...."
Pak Herdi langsung menutup kedua lubang hidungnya dengan kain kafan.
"Gak nyangka lebih busuk dari bau saya," gumam Pak Herdi.
"Sya, buruan... saya malu nih kalau ada perempuan yang masuk toilet," teriak Pak Herdi.
"Sabar, lagi ngeden nih! lagian juga mana ada yang bisa lihat bapak," sahut Tasya.
__ADS_1
"Iya, ya kecuali Anta dan kawan-kawannya belum ada yang bisa lihat saya, hihihi," ucap Pak Herdi.
Tak lama kemudian, Tasya keluar dari biliknya.
"Haaa.... leganya." Tasya langsung menuju cermin, dan membenarkan rambutnya serta dandanannya di hadapan cermin.
"Kenapa sih, jijik banget kayaknya ngeliatin aku?" tanya Tasya melirik pada Pak Herdi.
"Sumpah deh bau banget, ih malu-maluin aja!" sahut Pak Herdi.
"Ya maaf hehehe habisnya udah satu minggu belum buang air besar," aku Tasya seraya meringis.
"Kamu tuh ya, ampun deh jorok banget jadi cewek. Untung aja cantik."
"Apa? bapak bilang apa barusan?" Tasya menyodorkan telinganya untuk menegaskan pendengarannya barusan.
"Enggak, enggak bilang apa-apa kok." Pak Herdi langsung melompat keluar menembus pintu kamar mandi.
"Hmmm.... si Markonah ngapain nih ada di depan pintu toilet perempuan, pasti mau gangguin Tasya."
Pak Herdi menghembuskan nafasnya di wajah Mark yang memang saja benar sedang menunggu Tasya. Ia mengikuti gadis itu sedari tadi.
"Kok, merinding ya, bau banget lagi?" tanya Mark pada dirinya sendiri.
Tak lama kemudian, Tasya keluar dari kamar mandi. Ia terkejut kala melihat Mark sudah berdiri di sana.
"Apa yang kamu lakukan di sini? mau ngintip cewek di kamar mandi, ya?" Tasya langsung menunjuk ke arah wajah Mark.
"Sembarangan aja! sini kamu!" Mark langsung menarik tangan Tasya untuk mengikutinya.
"Udah diam aja, aku mau ngomong sama kamu," ucap Mark.
"Mau ngomong apa, sih?" Tasya masih berusaha melepaskan dirinya dari Mark.
Mark langsung membenturkan tubuh Tasya ke dinding.
"Ngapain sih kamu kesini? ngapain kamu ngikutin Logan?" tanya Mark.
"Suka suka hati aku lah, namanya diajakin makan gratis ya aku mau aja, wlek!" Tasya menjulurkan lidahnya ke hadapan Mark.
"Kamu, gak jadian kan sama dia?" tanya Mark penuh ingin tahu.
"Ih kok jadi kepo banget, sih!" cibir Tasya.
"Memangnya kamu gak denger ya berita tentang Logan?"
Tasya menggeleng. "Berita apa?"
"Dia itu dirumorkan membunuh gadisnya sendiri, kamu mau pacaran sama pembunuh?" ucap Mark memberitahu seraya menakuti Tasya.
"Ah masa, sih? aku gak percaya deh," sahut Tasya.
Tiba-tiba sesuatu jatuh terlihat dari leher belakang Mark. Belatung kecil itu merayap menggeliat menuju leher depan, membuat Mark langsung sigap meraihnya dari lehernya.
__ADS_1
"Apa itu, Mark?" tanya Tasya mencoba mencari tahu.
"Ah, tidak. Bukan apa-apa. Sekarang kau pergilah, jauhi Logan!" ucap Mark memberi peringatan.
Tiba-tiba Mark jatuh tersungkur ke lantai karena tak sengaja tersandung kaki Pak Herdi yang sengaja di letakkan melintang saat Mark berjalan menyusuri koridor sepi itu.
"Emang enak, sukurin!" Tasya langsung menepuk telapak tangan Pak Herdi dan langsung tersenyum meninggalkan Mark yang masih bingung dan bertanya-tanya kenapa ia bisa jatuh.
***
Tasya mencari keberadaan Logan, namun tak kunjung juga ia temukan. Akhirnya ia pergi ke taman belakang. Tampak Mitha sedang berbincang dengan raut wajah kesal bersama Logan.
Tasya memutuskan untuk berjongkok dan menguping dari balik semak-semak.
"Benarkah, itu Logan? apa benar kau membunuh Samanta, sahabatku?" tanya Mitha dengan suara lirih.
"Jadi, sekarang kau lebih percaya dengan gosip murahan itu? benarkah?" tanya Logan dengan wajah agak kesal mendengar tuduhan Mitha.
"Ya, habisnya para tamu undangan itu, sebagian ada yang membicarakan tentang gosip itu. Saat aku pindah ke negara Asia, mereka bilang Samanta meninggal saat pesta kelulusan, dan itu semua karenamu, benarkah itu?" tanya Mitha lagi.
"Sungguh aku tak tahu dengan gosip murahan itu, yang ku tahu Samanta meninggal karena bunuh diri di rumahnya," jawab Logan dengan bahasa yang tegas.
"Samanta memang menghubungiku, untuk pergi ke rumahnya, tapi saat aku sampai di sana, Samanta sudah tak bernyawa. Ia bunuh diri, bukan karena aku. Kalau memang aku pembunuh Samanta, pastinya aku sudah di penjara," ucap Mark menjelaskan.
Mitha sempat terdiam, entah dia harus percaya dengan ucapan Logan atau dengan gosip itu, yang jelas hati Mitha sangat sedih kala tau sahabatnya sudah tiada.
"Dimana pemakamannya? apa kau tau?" tanya Mitha.
"Dia di kremasi oleh ibundanya, lalu debu dari pembakarannya di bawa pulang oleh keluarganya ke Kota Bone," sahut Logan.
"Bisakah kau antar aku ke sana?" tanya Mitha pada Logan.
"Baiklah, aku akan mengantarmu."
Mitha dan Logan lalu pergi dari taman tersebut.
"Samanta, perasaan hantu di kamar nenek Rose juga namanya Samanta, kira-kira sama gak ya?" gumam Tasya.
Pak Herdi ikut berjongkok dan bersembunyi seraya memandangi Tasya dan sesekali mengangguk-anggukan kepalanya.
*******
Bersambung ya...
Mampir juga ke :
- Diculik Cinta
- With Ghost
- 9 Lives
- Gue Bukan Player
__ADS_1
- Kakakku Cinta Pertamaku
Vie Love You All... 😘😘😘