
Sebelum membaca jangan lupa ya di Like, Vote, and rate bintang lima ya...
Happy Reading :D
*****
“Sebelumnya saya mau cerita dua hari lalu aku mimpi, tadinya aku gak berani cerita, tetapi sepertinya saya harus cerita sekarang. Saya bertemu
dengan perempuan yang mirip saya, namanya Anita.”
Ucap Tasya menepuk bahu Anan agar menggeser bokongnya dari ranjang di kamar tamu itu.
“Wah songong, untung gue lagi mau denger cerita lo, duduk
nih!”
Ucap Anan lalu duduk di lantai, di hadapan Dita.
“Kamu ketemu Anita Sya? Kok dia gak datang ke mimpi saya
ya?”
Dita tertunduk ingin menangis, Anan segera mengusap – usap
kedua paha Dita menenangkannya.
“Kamu kenal Ta?” Tanya Tasya.
“Iyalah kenal, dia itu sahabatnya Dita, emang ngomong apa
dia di mimpi kamu?” Tanya Anan.
“Dia bilang aku harus bantu Dita dan selamatkan kalian
berdua.”
“Terus dia ngomong apa lagi Sya?” Tanya Dita.
“Gak Cuma itu aja terus dia Cuma pegang kedua pipi aku
sambil bilang, kok aku kayak ngaca
katanya, hehehe… terus dia pergi.”
Ucap Tasya menjelaskan.
Tak terasa air mata Dita jatuh mentee di taangan Anan.
“Kok kamu nangis sih bunda?” Tanya Anan.
“Aku kangen Anita huhuhu… kenapa sih dia gak dating ke mimpi
aku huhuhu…”
Dita makin menangis keras sampai Anan memeluknya.
Lukisan nyai berpendar menandakan kehadirannya yang akan muncul di hadapan lukisannya.
“Ada apa gerangan kalian menggangguku, bukankah kalian sudah lupa padaku?”
Tanya sosok nyai dalam lukisan itu.
Tasya menunjukkan darah dalam mangkuk perak tadi ke nyai.
“Ini, saya siap memberikannya padamu.” Ucap Tasya.
“Hmmmm… sebenarnya ada darah yang lebih lezat yang menjadi perbincangan para kawan-kawanku, jika di dalam tubun nona muda ini, akan ada calon
ratu pengganti, dia akan menjadi pengganti Ratu Kencana Ungu, bukan begitu nona Dita?”
sosok nyai itu memutari Dita sambil tersenyum dan menghirup aroma tubuh Dita.
“Bukan…” sahut Dita,
“Udah deh kelamaan, mau gak darahnya Tasya? Kelamaan nih… mumpung Tasya mau tuh jarang-jarang lho ada perawan yang mau nawarin darahnya ke elo.”
Sahut Anan mengancam dengan gunting perak waktu itu yang di ambil nya dari laci.
“Huh… baiklah… berikan padaku mangkuk itu!”
“Segini cukup?” Tanya Tasya.
“Aku butuh lebih banyak dari ini, ya kurang lebih setengah gelas.” Sahut Nyai.
“Aih gila emangnya saya lagi donor darah apa?! setengah gelas itu banyak banget tau, apalagi kalau gelasnya kuli proyek yang gede-gede.”
Tasya menolak tegas.
“Terserah…” Sosok nyai itu mengancam ingin berlalu pergi menuju lukisannya kembali tapi Tasya menahan.
“Okelah bentar, sini pak bos guntingnya.” Tasya meraih gunting di tangan Anan.
“Tasya jangan…!!!”
Teriakan Dita terlambat, Tasya sudah menusuk telapak kakinya dengan gunting dan mengucurkan darahnya ke dalam mangkuk perak itu.
“Aduh ampun dah sakit banget lho ini…!!! Awas kalau sampai kamu bilang kurang saya tusuk kepala kamu pakai ini.” Ancam Tasya.
“Hahaha terima kasih cantik, panggil saya Nyai Kemuning," ucapnya lalu meraih mangkuk perak yang sudah terpenuhi setengahnya.
Dita buru-buru mengambil kotak p3k untuk membersihkan luka di kaki Tasya dan menutupnya dengan perban.
“Kamu nekat Sya.” Ucap Dita membersihkan kaki Tasya dengan alkohol lalu obat merah serta menutupinya dengan perban.
“Saya yakin kamu juga kan berlaku sama demi menolong sahabat kamu.” Ucap Tasya,
“Saya sahabat kamu kan Ta?”
__ADS_1
Tasya menatap Dita dengan senyuman hangatnya.
“Kamu akan selalu jadi sahabat aku sampai kapan pun, sama seperti aku menganggap Anita sahabat terbaik untukku, bahkan kalian itu sudah seperti saudara perempuan bagiku.”
Dita memeluk Tasya dengan erat.
“Baiklah akan ku ceritakan bagaimana aku bisa bertemu dengan Kanjeng Arjuna.”
Ucap Nyai Kemuning menyela Dita dan Tasya yang berpelukan.
#Flashback#
Hari itu Arjuna bersama kawannya yang bernama Edi pergi ke pulau menuju Gua Ratu Kencana Ungu.
“Disini aku bertemu Saraswati.” Ucap Edi.
“Kau yakin sang ratu akan memberikan apapun pada kita?” Tanya Arjuna.
“Apapun, apapun yang kau mau, tapi kau akan lebih beruntung jika kau bertemu sang Ratu,”
Ujar Edi sambil tersenyum dengan sang juru kunci yang menemani mereka di dalam gua.
Lalu Arjuna di tinggalkannya sendirian sampai bertemu dengan Nyai Kemuning yang menyambutnya datang. Arjuna yang terkejut dengan kedatangan Kemuning lalu mundur beberapa langkah.
“Apa yang kau inginkan? Harta, tahta atau wanita?” Tanya Kemuning sambil mengibaskan selendang kuningnya di wajah Arjuna.
“Bagaimana jika aku ingin mendapat ketiganya?”
Tanya Arjuna yang mulai serakah dan gelap mata di tengah kebangkrutan klinik yang baru dia rintis. Ayah dan ibunya meninggal dalam kecelakaan dan meninggalkan banyak hutang baginya.
Jalan yang di sarankan Edi ini, mungkin adalah jalan tercepat baginya mendapatkan yang ia inginkan tanpa dipikirkan lagi resiko di masa mendatangnya.
"Tentu saja kau bisa mendapatkan ketiganya." sahut Nyai Kemuning.
Sejak saat itu Nyai Kemuning menjadi istri gaib bagi Arjuna. Mereka hidup berdampingan saling menguntungkan. Sampai Arjuna jatuh cinta pada
Aiko dan membawanya pulang ke rumah.
Nyai Kemuning yang marah berniat untuk menyingkirkan Aiko, namun ternyata Aiko tak seperti manusia biasa yang dia kira. Aiko di bantu
kekuatan sektenya untuk mengurung Kemuning dalam lukisan. Nyai Kemuning hanya
akan bebas jika bertemu seseorang yang terpilih yang dapat membebaskannya dan
mendapat darahnya.
#Kembali ke kamar tamu rumah besar milik keluarga Anan.#
“Jadi, akulah yang membebaskanmu?” Tanya Dita yang di jawab anggukan oleh Nyai Kemuning.
"Ya , saat kau pertama kali tidur disini aura mu lah yang melepaskanku, serta darahmu waktu itu membangkitkanku."
“Kau tahu, firasatku buruk tentang Arjuna, ada sesuatu yang akan terjadi padanya.” Ucap Nyai Kemuning.
“Mungkinkah papi Arjuna dalam bahaya bersama mami Aiko, tapi sekarang papi berada di tangan tante Dewi.” Sahut Anan.
“Temukan tante sekarang Nan!” ucap Dita.
“Tapi ini udah malam Ta, besok pagi aku janji akan segera cari Tante dan Om Kevin serta Papi.”
Jawab Anan. Dita mengangguk mengerti.
“Sya sebaiknya kamu jangan di rumah ini, tinggalah di rumah sakit di ruang kerja Anan, nanti Doni akan menjagamu serta aku akan memerintahkan om item juga menjagamu, aku tak ingin kamu menemui mami Aiko, entah mengapa perasaanku tak baik akan hal ini, apalagi jika kamu tetap disini.”
Dita meminta Tasya untuk sembunyi pergi dari rumah besar ini sementara waktu.
“Baiklah besok pagi pasti Doni sudah pulang dari gunung, saya akan tinggal di ruang kerja pak bos.” Sahut Tasya.
Dita membantu Tasya berjalan menuju kamarnya. Mereka semua beristirahat sampai pagi menjelang.
***
Di sebuah desa tempat tante Dewi menyembunyikan Papi Arjuna, Pak Diki meletakkan dua cangkir teh panas ke atas meja.
“Dik…ki… “
Papi Arjuna berusaha berkomunikasi.
“Sebentar tuan saya ambilkan notepad tuan.”
Pak Diki masuk untuk mencari alat tulis yang biasa di
gunakan papi Arjuna untuk berkomunikasi.
“Ini tuan.”
Ucap Pak Diki seraya memberikan notepad tersebut dan membantu tangan Papi Arjuna untuk menulis.
“Anan”
“Maksud mas, mas mau ketemu Anan?” Tanya Tante Dewi.
Papi Arjuna mengangguk pelan.
“Bagaimana ini mas Kevin? Bagaimana kita bisa bawa Anan kemari jika kak Aiko sudah sampai disana?”
Tanya tante Dewi dengan perasaan cemas bercampur khawatir.
“Apa aku harus pulang dan membawa Anan serta Dita kemari?” Tanya Kevin.
“Tetap saja Aiko akan tau.” Sahut Dewi.
“Sebaiknya jika nyonya Aiko belum tiba di rumah besar, segera saja tuan Anan berangkat kesini tanpa ketahuan.” Ujar Pak Diki.
“Baiklah saya akan menghubungi Anan.”
Tante Dewi meraih ponselnya.
__ADS_1
“Oh tidak…! Aiko tau nomor ini.” Tante Dewi menepuk dahinya sendiri.
“Ah nyonya, ceroboh sekali anda!
Maaf sebelumnya.”
Pak Diki langsung menundukkan kepalanya meminta maaf karena tatapan tajam Tante Dewi benar-benar menyeramkan saat itu.
“Matikan ponselmu! kita hubungi dengan nomorku dan sebaiknya kita segera pindah dari desa ini, sekarang!” ujar Om Kevin.
“Ide yang bagus tuan saya akan menyiapkan semuanya.” Sahut Pak Diki masuk ke dalam.
“Kita pindah lagi, huffff…. Ini semua karena kakak ipar sial*n itu huh!” Tante Dewi mengutuk Aiko.
Mereka memutuskan terbang ke kota Angsa, yang memerlukan waktu tempuh selama dua jam dari desa tadi.
***
Ponsel Anan berbunyi di pagi buta itu.
"Anan kamu harus segera pergi ke Kota Angsa!" ucap Om Kevin dari seberang sana.
“APA?! KOTA ANGSA?! Sekarang, harus terbang kesana om?”
Tanya Anan saat dihubungi om Kevin via telepon.
“Kenapa Yanda?” Bisik Dita.
Anan menahan Dita berbicara dengan jari telunjuk yang menempel di bibir Dita.
"Ih sok manis banget sih." gumam Dita.
“HEH! Cepetan kesini jangan pakai lama, jangan pakai Tanya, dan jangan bilang siap-siapa, apalagi mami kamu. Bawa Dita juga !”
Sahut Tante Dewi yang merebut paksa ponsel Kevin dan langsung membentak Anan.
“Tapi ini kan masih jam empat pagi, mana kalau ke kota itu harus transit kan, butuh enam jam perjalanan.” Ucap Anan.
“Ini demi papi kamu Nan!”
“Papi?” Anan menoleh pada Dita.
“Iya papi kamu, udah jangan kelamaan, nanti kalau udah sampai sini hubungi nomor om Kevin aja dan jangan ke tante, oh iya kamu ganti nomor Dita juga ya, hape kamu jangan di bawa, terus hape Dita matiin gps nya, gak usah pakai Tanya, ini perintah!”
Tante Dewi menutup ponselnya.
“ Kamu dengerkan Ta?”
Ucap Anan karena sempat menekan tombol loud speaker agar Dita bisa mendengarkan.
“Kita ikuti perintah tante Nan, karena mungkin papi kamu dalam bahaya, atau malah kita.”
Ucap Dita yang segera mengambil tas dan memasukkan beberapa baju di dalam sana.
“Kalian mau kemana ini masih sangat pagi?” Tanya Bu Mey yang melihat Dita dan Anan terbutu- buru.
“Kami harus pergi buru-buru bu, nanti kita jelaskan setibanya di tempat tujuan, Yanda coba kamu bangunin Tasya, kita antar sekalian dia ke
Doni!”
Dita memberi perintah yang langsung dijalankan oleh Anan.
Kemudian setalah Tasya terbangun, Anan menyalakan mesin mobil dan mengendarainya bersama Tasya dan Dita tanpa mandi terlebih dahulu menuju rumah sakit.
Mobil taxi Aiko datang lima menit setelah mobil Anan pergi.
“Pagi bu…” Sapa mami Aiko pada Ibu Mey.
“Pagi Nyonya, ada gerangan apa nyonya datang sepagi ini?” Tanya Bu Mey.
“Dimana Anakku dan mantuku tersayang?”
Tanya Aiko sambil menaruh bokongnya di atas sofa ruang tamu.
“Lho. den Anan dan non Dita baru saja pergi.” Ucap Bu Mey.
Sontak, Aiko berdiri dari duduknya.
“APA?! Mereka pergi?”
Tanya Aiko dengan wajah geram yang terpancar di raut mukanya.
“Kemana mereka pergi?” Tanya Aiko.
“Saya gak di kasih tau nyonya, mereka bilang nanti akan memberi tahu setibanya mereka di tujuan.” Ucap Bu Mey.
Aiko menghubungi ponsel Anan dan Dita yang tiba-tiba mati tak bisa tersambung.
“Sial…” Aiko mengutuk dirinya sendiri dengan mengepal kedua tangannya.
*****
Bersambung guys…
Jangan lupa main ya ke cerita terbaru ku “WITH GHOST”
ramaikan disana.
Baca juga :
- Kakakku Cinta Pertamaku
- 9 Lives
- Gue Bukan Player
Vie Love You All…
__ADS_1