
Sebelum membaca klik like yak...
let's vote for me boleh yak...
apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...
Rate bintang lima jangan lupa...
thank u so much... love u all... 😘😍
***
Andi menceritakan semua pengalamannya hari ini pada mamanya. Andi terlihat sangat senang bisa bersekolah dia juga bercerita tentang gang sempit yang katanya angker itu ke mamanya.
Setelah puas ia bercerita, lalu Andi pamit pada mamanya untuk ikut pulang bersama Dita dan Tasya.
"Makasih ya non sudah menjaga Andi dengan baik." ucap mama nya Andi.
"Iya Bu sama-sama, istirahat saja biar cepet sembuh ya." ucap Dita lalu pamit membawa Andi.
***
"Yakin ini hadiahnya aman?" tanya Tasya menoleh pada hadiah dari Shinta tadi.
"Ini kain Sya bukan benda tajam ya aman lah.". sahut Dita.
"Maksudnya gak ada unsur-unsur berbau jahat gitu hehehe."
"Gak boleh berburuk sangka, siapa tau aja Shinta emang udah sadar menerima kenyataan." Dita tersenyum pada Tasya.
Dita melihat om Kevin dan Tante Dewi berjalan berdua menuju ruangan Tante Dewi.
"Cie uhuy berduaan aja nih." Dita menggoda keduanya.
"Apaan sih ngeledek aja nih." ucap Tante Dewi agak kesal.
"Gimana Tante urusan tanahnya?" tanya Dita.
"Paling pengukuran ulang kalau emang ada pelanggan ya kita ganti rugi tapi kalau kita gak salah ya mereka dong ganti rugi."
"Oh gitu, lho Anan mana Tante?"
"Ada tadi di belakang lah kemana ya?" Tante Dewi menoleh ke kanan, kiri dan belakangnya mencari Anan.
"Tadi kan Anan ada Vin, kemana tuh bocah?" Tante Dewi menepuk om Kevin.
__ADS_1
"Tadi kan bareng kita, harusnya ada." sahut om Kevin.
Dita mengeluarkan ponselnya menghubungi Anan.
"Kamu dimana?" tanya Dita dari ponselnya.
"Aku nolongin Cindi nih gak bisa jalan katanya." sahut Anan dari seberang telepon.
"Iya lah gak bisa jalan kan dia bawa nenek grandong di kakinya, jadi kamu dimana sekarang tepatnya?"
"Lantai tiga nih depan ruang dokter Mega."
"Ya udah aku kesana." Dita menutup teleponnya.
"Aku titip Andi ya Tante, titip barang ini juga, ayo Tasya ikut aku nemuin Anan." Dita menyerahkan paper bag dari Shinta ke Tante Dewi.
"Anan kenapa Ta?" tanya Tante Dewi
"Lagi bantuin Cindi, di lantai tiga katanya, aku kesana dulu ya Tante." Dita menarik tangan Tasya agar mengikutinya.
Sesampainya disana Cindi memegangi kakinya yang sakit dan kaku sambil merengek pada Anan.
"Kok ada Dita sih?" tanya Cindi yang kecewa karena kedatangan Dita.
"Iya tau suami orang kan minta tolong doang Ta, beneran deh sumpah sakit banget kaki aku gak bisa jalan makin berat nyeri pedih gitu." jawab Cindi menjelaskan.
"Iyalah nyeri dan pedih kukunya aja nancep di kulit kaki kamu." tunjuk Dita.
"Kuku siapa Ta?"
"Udah deh kamu waktu pergi hiking ke tempat angker gak?" tanya Dita.
"Kenapa sih Ta perasaan biasa aja deh cuma jatuh di lubang gitu depan gua."
"Nah tu gua angker gak?"
"Ya mana aku tahu." sahut Cindi
"Kamu ke orang pinter gih ceritain semuanya ke dia soalnya kamu itu di gangguin makhluk halus yang gak keliatan." ucap Dita menunjuk nenek yang melingkarkan tubuhnya di kaki Cindi.
"Orang pinter? makhluk halus? ini apa sih aku gak ngerti lho."
"Di kaki kamu itu ada hantunya dia nempel terus di kamu." ucap Dita si Tasya pun ikut mengangguk tapi bersembunyi di belakang tubuh Dita ketakutan sedari tadi.
"Kalian ini bercanda kan pasti lagi mau nakutin aku." ucap Cindi tak percaya dengan perkataan Dita.
__ADS_1
"Dita gak bercanda Cin, aku juga bisa lihat penampakan nenek ini dari tadi." ucap Anan.
"Masa sih pak, wah kalau bapak yang ngiming sih aku jadi percaya." sahut Cindi sambil tersenyum manja ke arah Anan.
"Ih pengen aku getok nih pakai tiang infus tuh cewek giliran Anan yang ngomong di tanggapi percaya." ucap Dita kesal.
"Kalau pak bos yang ngomong tampangnya menjanjikan Ta, adem ngeliatnya hehehe." Cindi memandangi wajah tampan Anan.
"Minggir sini, ayo pulang lah udah sore, biarin aja Cindi disini nanti mau di periksa dokter Mega kan?" Dita menarik lengan Anan.
"Jangan dong Ta, tunggu sampai dokter Mega dateng ya." pinta Cindi.
Tak lama kemudian dokter Mega datang memeriksa keadaan Cindi yang tampak normal semua tapi cindi masih merasa kesakitan di kakinya.
"Udah aku bilangin nanti ketemu orang pinter biar kamu di obatin." bisik Dita.
"Dokter Mega kan orang pinter, jadi dokter itu berat lho sekolahnya harus pintar otaknya biar nyampe jadi dokter." sahut Cindi.
"Ah bodo amat lah, kamu tanya aja sama guru apa dosen tuh yang jelas-jelas orang pinter ya kan."
Cindi tertawa mendengarkan penjelasan Dita begitu juga dengan dokter Mega saat itu.
"Ayo pulang suamiku." ajak Dita menarik lengan Anan keluar dari ruangan dokter Mega.
***
Sesampainya di depan gerbang rumah besar Anan Dita sekilas melihat gerbang rumah dis eberangnya terbuka. Dita melihat ada sekelompok orang yang keluar dari dalam mobil box.
"Pada lihat gak? itu mobil box nya nurunin orang lho barusan." ucap Dita.
"Ah masa sih Ta, mana gerbangnya langsung ketutup gitu juga." ucap Anan menimpali. Tasya dan Andi juga ikut menoleh ke arah yang ditunjuk Dita.
"Serius Nan, tadi aku lihat orang-orang turun dari mobil box itu wah jangan-jangan mereka itu..."
"Mungkin karyawan nya kali lagi nurunin barang-barang." sahut Anan memotong ucapan Dita.
"Iya kali yak." ucap Dita akhirnya.
***
Crazy up neh buat kalian tercintah...
jangan lupa crazy vote buat Vie ya 😘😘😘
Happy Ramadhan... Happy Tasting...
__ADS_1