
Pak Herdi tiba bersamaan dengan ambulance yang datang ke wahana kolam renang miliknya.
Jenazah Aden dibawa pihak ambulance untuk di visum ke rumah sakit XX, Doni juga mengikuti jenazah Aden menuju rumah sakit dugaan sementara memang sepertinya Aden tersengat aliran listrik karena posisinya yang tak jauh dari pusat listrik wahana di belakang mushola.
"Ta sini deh ikut aku." Anita menarik Dita ke belakang pusat listrik.
"Liat tuh."
Anita menunjuk sesajen di belakang pusat listrik itu.
Dita menghampiri sesajen dan memeriksanya dengan seksama.
"Tadi aku liat Bu Devi pas aku mau masuk gerbang, ngapain coba? kayanya bener deh apa kata Doni soal dia Ta."
"Emmm tadi sih aku juga liat sekilas tapi ah cuma lewat aja kali."
"Tapi harus dicurigai Ta."
"Oke kita awasin dia, tapi jangan terlalu mencolok yang penting kita tahu gerak gerik dia lagi apa."
ucap Dita.
"Oke aku setuju, mulai sekarang kita awasin dia."
***
Hari itu wahana kolam masih saja tampak ramai tak ada gunjingan mengenai kematian Aden, semua tertutup rapat karena kejadiannya sebelum jam wahana dibuka.
Hanya saja Doni tampak murung bagaimana dia mempertanggung jawabkan Aden nanti ke keluarganya bahwa ia tak becus menjaga Aden.
"Neng Dita udah liat Aden?" ucap Kang Ujang mengagetkan Dita.
"Liat jenazahnya?"
"Arwahnya?"
"Oh belum Kang, kang Dita boleh tanya?"
"Tanya apa neng?"
"Apa Akang yang taruh sesajen di belakang pusat listrik dekat Aden meninggal?"
"Iya neng, kemarin akang yang taruh di beberapa titik sekitar wahana supaya arwah perempuan yang di rumah sama neng tenang."
Deg...
Padahal aku harap jawabannya bukan Akang, kenapa jadi Kang Ujang yang taro yak.
"Tapi arwah perempuan itu baik-baik aja kan neng gak gangguin neng Dita?"
"Oh enggak Kang, biasa aja dia aku juga jarang liat dia."
Dita mencoba berbohong padahal setiap hari ia berpapasan dengan Tania.
__ADS_1
"Saya kedalam dulu Kang, bentar lagi mau tutup mau buat laporan."
Dita permisi meninggalkan Kang Ujang di teras wahana depan ruang kerjanya.
"Apa perlu aku curigain Kang Ujang, ah masa sih dia kan cuma naro sesajen doang, supaya apa coba dia butuh tumbal, kalo Bu Devi mungkin iya karena dia pemilik sebagian saham wahana ini." gumam Dita.
"Hoi... dia bengong disini." Anita mengagetkan Dita yang sedang merenung didepan ruang kerjanya.
"Eh Nit, gimana Doni, udah tenangan dia?"
Tanya Dita.
"Lumayan lah, tapi dia belom berani bilang keluarganya."
"Lah terus kalau jasad Aden udah selesai visum dia harus siap dong bawa Aden ke kampung nya."
"Harusnya sih gitu, tapi dia bilang gak berani."
"Duh kasian Doni..."
"Ta, gimana kalo kita anterin pas nganterin jasad Aden?" tanya Anita.
"Bagus juga ide nya tapi..."
Jika saatnya Aden sudah tenang nanti pasti akan ada tumbal baru di wahana ini dan semoga bukan karyawan lagi maupun pengunjung juga.
"Ta, woi bengong Mulu, kesambet entar nih."
Anita menepuk bahu Dita.
"Mikir apaan sih, mikirin Pak Herdi yak?"
"Dih kenapa harus mikirin dia coba?"
"Ya kali kan dia belom balik tuh kayanya kasih keterangan di kantor polisi dah apalagi kamu tau kan susah juga nge lobi nya biar berita ini gak keluar wahana."
"Emang iya? pantesan dari tadi aku belum liat Pak Herdi."
"Tuhkan mikirin... hahahahha."
"Gak Nit, aku mikirin Bu Devi juga, gimana hasil pengamatan kamu?"
"Biasa aja sih, seharian gak ada yang aneh sejam lalu dia nyusul katanya mau tengok Pak Herdi kenapa belum pulang juga."
"Oh... bagus lah, yaudah sana siap-siap pulang, apa kamu mau nginep lagi di tempatku?"
"Gak ah aku mau ada acara si Nia ultah soalnya."
"Nia adikmu yang SMP itu? wah salamin yak, nanti kadonya belakangan nunggu gajian hehehe."
"Ah kamu mah sama nya sama aku nunggu gajian, oh iya baek-baek nih yak nanti pas tengah malem hiiyy."
"Kenapa lagi ni bocah?"
__ADS_1
"Iya baek-baek ketemu Aden ketok-ketok pintu rumah kamu hiyyyyy." Anita menggoda Dita.
"Terus... kalo aku ketemu mau di salamin?"
"Hahahaha boleh boleh... udah ah jadi merinding kan, siap-siap pulang ah."
Anita Anita dia gak tau aja kalo nanti tengah malem bisa aja aku beneran ketemu Aden hehehhee, oh iya jadi gak sabar ketemu Aden aku mau tanya kenapa dia sampe ke setrum gitu.
***
"Bener bukan kamu pelakunya?" Dita bertanya pada Tania yang masih asik menyisir rambutnya.
"Menurut mu hihihihi?" jawab Tania cekikikan.
"Udah deh jangan main teka-teki aku kan capek." Dita melirik belatung yang berjatuhan dari rambut Tania terlihat pula kepala Tania yang menunjukkan luka berongga penuh nanah dan darah kering.
"Hai... ngapain kamu masih disini gak bakal jelas dia mah dari tadi juga udah aku tanyain." ucap Anan merangkul bahu Dita.
"Iya nih heran, tiap nanya dia eh nanya balik, mana gitu tuh hiyy.." Dita menunjuk luka berongga di kepala Tania.
"Gak usah nakut-nakutin Dita mah udah kuat ya kan Ta?" ucap Anan melirik Dita.
"Ho oh iya udah kuat insya Allah, dikit... hehehe... makanya kalo keramas yang bersih biar gak belatungan kaya gitu." sahut Dita dibalas dengan tatapan Tania yang melotot memerah ke arahnya.
"Kabur Ta kabur..." ajak Anan menarik tangan Dita.
"Tuh liat..." ucap Andri menunjuk arah pintu luar.
"Kenapa Ndri?"
"Siapa lagi lah kalo bukan, yang tadi..."
Cekreeekkk... pintu depan Dita bergeser terbuka dengan sendirinya.
Dilihatnya sosok Aden sudah duduk menangis di halaman teras rumah Dita.
"Deketin Nan, ajak kesini." Dita bersembunyi dibalik tubuh Anan.
"Lah katanya udah kuat, kan yang kenal kamu sana lah panggil." sahut Anan.
"Enggak ah, kamu aja aku kan selalu mengikuti mu selalu ada di belakangmu menemani hari-harimu."
"Apaan sih lo Ta gak jelas gini mabok lem kali nih bocah ucapannya." Andri berdiri dari kursinya lalu menepuk-nepuk kedua tangannya.
"Oi hantu baru, piwwiiiittt yuhuuu sini cuy...!!"
Andri melambaikan tangannya ke Aden mengajaknya mendekat.
Aden menoleh ke arah Andri dan dia terkejut ketika ia melihat sosok Dita di belakang tubuh Anan yang ternyata bisa melihatnya.
***
To be continued...
__ADS_1
Happy Reading
Keep support yak... 😘😘😘