
Hantu anak kecil itu kini berada disamping Dita berdiri, menunduk, dan basah kuyup. Hantu anak perempuan itu mengangkat wajahnya yang pucat pasi memandang Dita dia menangis, meneteskan darah dari kedua matanya....
"Tolong aku kak..." lirih nya.
***
Wahana tempat Dita bekerja kembali kedatangan Bapa Polisi meskipun tak seramai kemarin, kali ini hanya dua orang dan beruntung Wahana Kolam Pak Herdi tak di liburkan karena murni kecelakaan dan kelalaian sang ibunda menurut keterangan polisi.
Anak perempuan itu menangis di tepian kolam membuat bulu kuduk merinding mendengarnya.
"Hantu baru tuh?" Anan berdiri disamping Dita memandangi bocah itu.
"Dia itu dia... emmm Nan maksud Aldo apa sih masa dia ngebunuh anak itu buat gantiin dia disini sih?"
"Tumbal maksud kamu..?"
Anan mengalihkan tubuhnya duduk di teras.
"HAH.. Tumbal...?"
Dita mengikutinya duduk disamping Anan.
"Iya mungkin aja kan, setiap ada yang mati terus tenang mereka harus cari pengganti sampai datang target tumbal berikutnya."
"Tunggu masih belum paham, biar kenapa ada target tumbal berikutnya ?"
"Biar usaha nya maju lah, apalagi ini wahana mau renov kan tambah permainan seluncur tuh di ujung sana, buka cabang wahana baru pula di luar kota."
"Jadi... maksud kamu Pak Herdi cari tumbal buat usaha, ah masa sih, kamu mah ngarang."
"Aku gak nuduh dia ya, pemilik wahana ini kan bukan dia doang, ada si ibu siapa tuh namanya, Devi iya Devi atau pemegang saham lain yang gak pernah kesini."
"Iya juga ya Nan."
"Aaarrgghhhh."
kepala Anan terasa sakit saat itu.
__ADS_1
"Kamu kenapa?"
"Kok kepala aku sakit ya kaya kebakar panas banget."
Dita berdiri lalu membantu memijit kepala Anan yang duduk di kursi teras itu.
Anan memeluk Dita rasa sakit pada kepala nya tak tertahan.
"Jangan-jangan kamu mulai inget lagi, terus ternyata kamu matinya kebakar gara-gara alat oplas nya rusak terus mukanya gosong hiiiyyyyy. Please yak jangan tampakin wajah kamu yang hangus kebakar itu lho, nanti aku gak suka."
"Hahaha dasar bodoh...!!"
"Nan jangan nengok ke atas ya?"
Dita makin menenggelamkan wajah Anan di perut depannya.
"Kenapa memangnya?"
"Aku takut muka kamu berubah serem pas nengok ke atas."
Anan menggigit perut Dita gemas.
Dita menjambak rambut Anan menjauh dari perutnya dan ditengoknya wajah Anan.
"Alhamdulillah masih cakep.."
Kedua mata Dita dan Anan bertatapan.
Deg...
Tolong jantung tenang dulu ya jangan lompat-lompat. Bikin Anan ke geeran aja nih entar duh...
"Aku gak geer yak, kamu aja yang gak mau ngaku kalo suka sama aku."
Dita melepas tangan Anan yang dari tadi melingkar di pinggang nya.
"Emmm apaan sih, gak jelas!" sahut Dita kesal.
__ADS_1
Lalu menoleh memperhatikan sosok yang tiba-tiba berdiri di hadapannya.
"Kak... aku dingin..."
Suara gadis kecil berwajah oriental itu kini sudah ada di depan Dita dengan kondisi wajah pucat, basah kuyup banyak air menetes dari pakaiannya ditambah tercium anyir di indera penciuman Dita.
"Astagfirullah... ngagetin kamu dek, kamu gak bawa ganti baju ya tadi dari rumah jadi basah kuyup gitu."
"Dasar pinter...!" Anan menoyor Dita.
"Lah kan aku nanya, kali aja bawa biar bisa aku gantiin bajunya terus kalo udah kaya gini gimana?"
"Lah emang penampakan dia kaya gitu Ta."
"Tapi kasian Nan nanti masuk angin dianya muntah-muntah demam, aku gak bisa ngerokin."
Anan menepok jidatnya.
"Kakak gak takut sama aku?" tanya bocah itu menarik ujung kaos Dita.
"Beuhhh kalo kamu doang mah ngapain takut, kakak udah sering liat yang lebih serem dari kamu."
Dita mengambil handuk dari dalam rumah mencoba menyeka air dari tubuh bocah itu.
"Sini kakak elapin, emmm tambah cantik kan mukanya gak basah." ujarnya menyeka air di wajah bocah itu.
Lalu Dita beralih ke rambut anak itu Dita mendapati banyak rambut yang jatuh, tunggu bukan rambut namun belatung yang berjatuhan jatuh dari kepala anak itu, air di bagian tempurung nya lengket yang ternyata darah mengental mengalir dari sana. Dita tak sengaja menarik rambut anak itu yang copot terlihat luka bernanah dengan belatung berukuran besar yang melambai bergeliyat jatuh ke tangan Dita.
Anak itu tertawa menyeramkan menahan tangan Dita dengan kedua tangannya dengan tatapan mata sadis terpancar di sana.
"Yah... mulai lagi deh kalian para penampakan sok - sokan mau nakutin."
Dita menghela nafas panjang setelah menahan nafasnya lama karena bau bangkai amis yang tercium di hadapannya.
Anan tertawa melihat Dita di genggaman anak itu, sengaja membiarkan Dita di genggaman anak itu.
***
__ADS_1
Tobe continue...
Happy Reading guys....