Pocong Tampan

Pocong Tampan
Bu Eva (Part 2)


__ADS_3

Sebelum membaca klik like yak...


let's vote for me boleh yak...


apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...


Rate bintang lima jangan lupa...


thank u so much... love u all... 😘😍😊


****


Pak Herdi menyentuh bahu Dita dan tiba-tiba muncul di hadapan Bu Eva dan ajudannya itu.


"Ka...ka...kamu... kamu sudah mati, kamu sudah mati!" pekik Bu Eva.


"Ya aku memang sudah mati, lalu apa kau mau menembak ku?" tantang Pak Herdi.


"Ta...ta...tapi bagaimana kau bisa, kau bisa disini?" Bu Devi memundurkan langkahnya menuju anak buahnya Ken.


"Jadi kamu yang membunuhku kan, ketahuilah bukan cuma aku yang kau bunuh tapi beberapa napi lain juga ikut mati." bentak pak Herdi sempat mengagetkan Dita.


"Sabar cantik sabar kalau udah tua gitu ngomelnya suka ngagetin." Anan mengelus dada Dita.


"Nan tapi posisi nya itu jangan modus." bisik Dita. Pak Herdi sempat menoleh ke tangan Anan.


"Eh maaf." Anan buru-buru melepas tangannya dari Dita lalu menatap tajam ke arah pak Herdi.


"Apa lihat - lihat dah terusin lagi!" ucap Anan ke arah pak Herdi.


"Kamu maju Ken." ucap Bu Devi.


"Sa... sa... saya takut Bu sama pocong." sahut Ken pria berbadan besar itu.


"Badan gede doang tapi takut setan." ucap Bu Devi menggerutu.


"Lha ibu sendiri kenapa mundur begini, kenapa nyuru saya maju, badan ibu juga elbih gede dari saya." sahut si Ken.


"Eh berani kamu ngelawan saya yak?" Bu Devi bertolak pinggang.


"Saya gak berani Bu saya kabur aja." si Ken membuka pintu kantor pak Kevin lalu lari tunggang langgang ketakutan melihat pak Herdi.


"Saya gak akan tinggal diam ya, saya akan merebut harta milik keluarga saya yang sudah di ambil sama mama papa kamu, demi menolong Maya dari sekapan tumbal keluarga mu." Bu Devi pergi masih mengacung kan pistol ke arah Dita dan Anan.


"Kejar dong pak, tahan dia!" seru Anan.


"Tadi kan kamu lihat saya gak bisa pegang dia." jawab pak Herdi.

__ADS_1


"Ya terus masa penjahatnya di biarin kabur gitu."


"Kamu mau ngejar Nan? terus kalo di dor gimana?" tanya Dita melepas pegangan pak Herdi dari bahunya.


"Iya juga sih."


"Sekarang hubungi Tante Dewi kirim ambulance ke sini, aku cari Doni mungkin dia masih di dalam ruang arsip." Dita melangkah ke ruang arsip bersama pak Herdi.


"Halo, kirim ambulance Tante ke kantor om Kevin, kita udah ketemu nih, dan ternyata pembunuh si Herdi itu mamanya Maya sepupunya pak Herdi."


"Tapi Kevin gak apa-apa kan?" tanya Tante Dewi dari sebrang sana.


"Pingsan Tante mukanya penuh luka, kayanya habis dipukuli nih orang."


"Ya udah Tante segera kesana sama ambulance." Tante Dewi menutup ponselnya.


"Doni ketemu Nan, ini ke tembak di bahunya tolong tahan lukanya aku cari kain dulu buat ikat lukanya." ucap Dita


"Kak Dita, pak bos maafin Doni ya gak bisa jagain pak Kevin." ucap Doni lirih dan tersadar.


"Udah diem aja jangan banyak omong." ucap Anan.


"Tolongin pak satpam sama mbak resepsionis nya pak bos mereka ada di gudang samping lift." ucap Doni.


"Iya nanti aku tolong, yang penting kamu jangan banyak gerak dulu." ucap Anan.


***


"Kalian gak apa-apa kan?" tanya Tante Dewi cemas pada Anan dan Dita.


"Gak apa-apa Tante." sahut Dita.


"Bisa ikut dengan saya ke kantor agar memberikan kesaksian mengenai ibu Eva?" tanya kapten Jihan kepada Anan dan Dita selaku saksi perkara kejadian di kantor tersebut.


"Baik kapten." sahut Anan dan Dita.


"Tante kerumah sakit aja pastikan kondisi om Kevin dan Doni stabil yak." ucap Dita.


"Baiklah kalian berdua juga hati-hati ya." ucap Tante Dewi membiarkan Dita dan Anan masuk ke dalam mobil polisi kapten Jihan.


Dita melambai pada Tante Dewi dan kemudian dia terkejut karena di sampingnya telah hadir penampakan hantu resepsionis yang meninggal tadi.


"Nan, di sampingku." bisik Dita.


Anan menoleh ke samping Dita,


"Ngapain mbaknya disitu mau ngikut ke kantor polisi kali kasih kesaksian juga?" ucap Anan menunjuk mbak resepsionis itu.

__ADS_1


"Ya ada yang bisa dibantu?" kapten Jihan menoleh pada Anan dan Dita.


"Enggak kapten kita lagi ngobrol aja." sahut Dita.


"Oh kirain berisik-berisik mau nanya apa gitu." kapten Jihan tersenyum.


Dita menoleh lagi pada hantu disampingnya di name tag nya tertulis Marina.


"Oh namanya Marina." ucap Dita.


Hantu itu hanya menunduk, poninya menutupi kedua matanya, wajahnya tampak pucat pasi aura dingin terpancar dari tubuhnya. Apalagi Dita sempat menyenggol tangan hantu yang dingin itu.


"Eh Pak Herdi mana ya Nan?" tanya Dita.


"Tadi aku lihat lompat ke ambulance ikut km Kevin." sahut Anan.


"Oh bagus deh kirain ketinggalan."


"Ya kali ketinggalan dia aja yang gak di ajak tau - tau ngikut."


"Iya yak mana diem aja lagi mbaknya." Dita menoleh lagi namun hantu itu masih menunduk.


Kapten Jihan menoleh lagi ke Dita dan Anan sambil tersenyum.


"Eh aku mau ngomong apa ya Nan ke kamu, mau kasih tau sesuatu gitu ke kamu tapi apa ya ?" Dita mengetuk - ngetuk kan jari telunjuk ke kepalanya.


"Hayo mau ngomong apa paling juga ngomong aku cinta kamu kan?" Anan mencolek dagu Dita.


"Dih kamu mah, tau tempat kek di depan ada dua orang polisi, disamping ada hantu pula, main colek aja, lagian emang gak nyadar tuh orang-orang pada ngeliatin kita, dikata kita pasangan penjahat kali ya mentang-mentang naik mobil polisi duduk di belakang di pisah terali besi gini sama kapten Jihan." Dita mengoceh sampai membuat kapten Jihan dan rekan kerjanya yang fokus menyetir tertawa.


"Iya ya Ta, kok kita kaya pasangan kriminal gitu." sahut Anan


"Hahaha udah sih tenang aja lagian kalian kan bukan penjahat, emang adanya saya lagi bawa mobil patroli jenis gini soalnya." sahut Kapten Jihan.


"Dita baper Kapten tuh aku ditunjuk bocah tuh." Dita menunjuk bocah perempuan yang menunjuknya saat di lampu merah.


"Udah sih biarin aja."


"Ya kapten entar tuh anak mikir lagi kok cakep-cakep penjahat." sahut Anan.


Kapten Jihan dan rekannya malah makin tertawa .


***


To be continued...


Maaf kalau masih nemuin typo.

__ADS_1


Happy Reading... Di vote ya please... 😘😘


__ADS_2