
Sebelum membaca jangan lupa ya di Like, Vote, and rate bintang lima ya...
Happy Reading 😊😘
*****
Sesampainya di rumah sakit milik keluarga Anan.
"Kamu bawa Tasya ke IGD ya yanda, tolong periksa lukanya, aku mau ke om item dulu." Ucap Dita menuju pohon besar di sudut parkiran rumah sakit.
"Om Lee... Om Lee..." Dita memanggil om item di pohon besar tempatnya bersemayam.
Sebuah kepala besar dengan wajah berbulu lebat muncul dari balik dedaunannya yang rimbun.
"Ah jangan panggil saya Lee dong Ta, kan saya jadi malu." ucapnya.
"Hehehe ya udah aku panggil om item kaya biasa aja ya, aku mau titip jagain Tasya ya, aku mau pergi sama Anan." Ucap Dita.
"Ta, kamu hati-hati ya, saya takut terjadi sesuatu pada kamu, nanti yang kasih saya makan siapa hehe."
"Oh... jadi khawatir sama aku cuma gara-gara makanan?"
"Ya gak gitu juga Ta, kan saya sayang sama kamu, saya mau kamu kembali kesini sehat, selamat, tanpa kekurangan satu apapun ya." Ucap om item.
"Aamiin... pokoknya jagain Tasya ya, aku udah order ayam goreng enak buat om nanti drivernya datang langsung anter kesini."
"Asik... oke kalau begitu makasih ya Ta, kamu hati-hati ya." ujar om item.
"Dah om..." Dita melambai pada om item lalu pamit pergi menghampiri Anan.
"Doni udah bisa di telpon?" tanya Dita pada Anan.
"Coba tanya Tasya tadi dia yang hubungi." anan menunjuk ke dalam ruang instalasi gawat darurat.
"Sya, kamu udah hubungi Doni?" Dita masuk ke dalam ruangan dan langsung menghampiri Tasya.
"Udah Ta, nanti dia langsung kemari, dia ada di terminal katanya." sahut Tasya.
"Pokoknya kalau kamu sampai ketemu maminya Anan, kamu harus segera bersembunyi." Ucap Dita memperingatkan Tasya.
"Siap Ta, kamu hati-hati ya di jalan, jaga calon keponakan saya yang lucu-lucu ini dengan baik."
Ucapnya.
"Pasti, nanti aku hubungi dari nomor baru aku ya, aku pamit Sya." Dita memeluk Tasya dengan erat.
"Saya sayang banget sama kamu Ta." Ucap Tasya sambil memeluk erat Dita.
"Aku juga sayang banget sama kamu." Dita membalas ucapan Tasya.
"Kayak pasangan aja ih pake pelukan ucap sayang hehehe." ucap suster yang bertubuh gemuk sehabis mengobati Tasya sambil melirik dengan wajah smirk.
"Eits ini istri saya lho." Anan datang merangkul bahu Dita.
"Eh maaf pak, saya pikir siapa, saya sampai gak ngenalin kalau ini istri bapak." sahut suster itu.
Anan hanya memandangi suster itu dengan wajah kecut.
"Ayo Ta kita berangkat sekarang!" ajak Anan.
"Iya." Dita mengikuti Anan lalu keduanya pamit menghilang dari hadapan Tasya.
***
"Ini alamatnya bener kan rumah sakit keluarga, tulisannya 'taruh di pohon besar di pojok parkiran', mana gak ada satpam yang bisa ditanya lagi." Ucap seorang driver ojek online yang membawa satu ember kecil ayam goreng di tangannya.
Wajahnya bingung dan menoleh ke kanan dan ke kiri mencari si pemesan, namun tak di temukan. Dia menghubungi lagi si pemesan.
"Halo, mbak Dita ya? ini saya mau anter makanan, masa iya di taro di bawah pohon?" tanyanya via sambungan telepon.
"Bener pak, taro aja disitu, kan di pohon besar itu ada tapi yang di semen kayak buat duduk gitu, nah bapak taro aja disitu, nanti tip nya saya kasih melalui aplikasi ya pak." sahut Dita dari ponselnya.
"Gak takut di makan kucing mbak ini ayamnya?" driver tersebut masih penasaran dengan jawaban pertanyaan nya.
"Enggak pak! nanti om saya yang ambil ayamnya, bapak taro aja disitu, saya takut kalau bapak ketemu om saya nanti bapak syok terus kabur ngibrit hehehe." sahut dita.
wah jangan-jangan om nya nih mbak serem lagi, badan gede, apa preman, apa jangan-jangan orang gila, ijin gue taro aja lah di pohon sini, bodo lah kalau di makan kucing.
"Pak, halo... Pak..."
"Iya mbak, iya mbak, maaf saya bengong, ini saya taro di bawah pohon besar ya mbak." Ucap nya lalu menutup sambungan teleponnya dan bergegas meletakkan bucket ayam goreng itu di bawah pohon.
Driver tersebut pun segera pergi setelah urusannya beres.
"Ahhhh wangi banget nih ayam... makasih ya Ta." Ucap om item yang segera meraih ayam tersebut dan membawanya ke dalam rimbunnya dedaunan di pohon tersebut.
***
"Kamu mikir apa?" tanya Anan yang sedang duduk di bangku pesawat dengan Dita disampingnya.
__ADS_1
"Aku mikirin kamu..." Dita meletakkan kepalanya di bahu Anan sambil memeluk lengan Anan dengan erat.
Kecupan hangat mendarat di ubun-ubun kepala Dita.
"Kamu pikirin anak kita aja, kamu harus selalu bahagia supaya anak-anak kita lahir dengan bahagia." Ucap Anan.
"Tapi kebahagiaan Aku itu kamu, kalau kamu gak ada nanti di sisi aku, sama aja aku gak akan bahagia." tetesan air mata dita membasahi lengan Anan.
"Kamu masih inget gak gimana pertemuan kita dulu, terus aku selalu deket sama kamu, selalu ada buat kamu?" tanya Anan makin mendekatkan kepalanya ke atas kepala Dita.
"Iya aku inget, tapi itu kan dulu..." sahut Dita.
"Anggap aja saat raga Manan tak bisa lagi ku gunakan, maka aku akan muncul sebagai pocong paling tampan buat Anandita ku tersayang." Anan menggenggam tangan Dita dengan erat.
Ucapan Anan mungkin bermaksud menenangkan Dita tapi sekaligus membuat Dita sangat merasa sedih jika hal tersebut sampai terjadi terlebih lagi Dita makin takut jika sosok Anan malah menghilang.
Perlahan Dita terlelap di sisi Anan dalam penerbangannya menuju ke Kota Angsa.
***
Ponsel Mami Aiko berbunyi, seseorang menghubunginya dengan bahasa jepang yang fasih.
"Apa kau benar-benar tak tahu bagaimana mencari suamimu?" tanya si suara misterius itu.
"Aku benar-benar tak tahu karena kehilangan jejak anakku, dan aku juga sudah memeriksa lukisan Kemuning tapi menghilang, entah kemana ia di sembunyikan." sahut Aiko.
"Kau cari kawannya yang bernama Tasya juga Doni yang bekerja sebagai resepsionis di kantor Anan, si rumah sakit milik suamimu." ujarnya.
"Apa mereka ada disana?" tanya Aiko.
"Kemungkinan mereka ada disana, kau tahu kan apa yang harus kau lakukan untuk mendapatkan informasi mengenai keberadaan suamimu, karena Dita pasti akan melakukan apa saja untuk menyelamatkan para sahabatnya.:
"Baiklah akan segera ku laksanakan." Aiko menutup ponselnya.
"Bu mey...!" Aiko memanggil kepala pelayan di rumahnya itu.
"Ya nyonya ada apa?" Tanya Bu Mey.
"Siapkan supir, aku akan menuju ke rumah sakit." Ucap Aiko.
"Baik nyonya."
"Bu Mey tunggu..."
Ibu Mey kembali menoleh kepada Aiko.
"Apa Diki menghubungimu?" tanya Aiko.
"Oh iya, dia pasti ikut Arjuna ke Amerika untuk pertemuan bisnis, baiklah kalau begitu terima kasih." Aiko mencoba berbohong setelah tak mendapatkan jawaban yang ia cari.
Bu Met segera pergi dari hadapan Aiko. Semoat terbersit di hatinya untuk menghubungi Diki menanyakan apa yang terjadi, kenapa nyonya Aiko mencarinya. Namun, Bu Mey mengurungkan niatnya.
***
"Ayo Sya kamu ikut aku!" Doni yang masih terlihat letih dan lelah sehabis perjalanan jauh langsung menarik lengan Tasya.
"Mau kemana? kan kata Dita aku tinggal di ruang kerja pak bos aja." sahut Tasya.
"Tadi pak Bos udah menghubungi aku, dia bilang sebaiknya jangan tinggal disini."
"Kenapa Don?" tanya Tasya.
"Pokoknya jangan disini, ayo ikut aku!" Doni membantu Tasya berjalan dan membawanya menuju ke suatu tempat.
"Ini dimana Don?" tanya Tasya saat tiba di sebuah rumah kos putri.
"Rumah kakakku Shinta." Ucap Doni.
"APA? rumah nenek mampir eh maaf rumah Shinta mau ngapain kita kesini?" Tanya Tasya.
"Kamu tinggal disini lah, aku tinggal di seberang sana, tempat kos putra, gak mungkin juga kan kita tinggal bareng." Ucap Doni menunjuk kos putra di seberangnya.
"Tapi Don..."
"Udah kamu nurut aja, ini perintah pak Bos dan Kak Dita."
Doni mengetuk pintu kos Shinta, kebetulan hari itu dia mendapat jatah libur.
"Kamu ngapain kesini? loh ngapain si gembel itu kesini?" Shinta yang membuka pintu langsung mencaci.
"Eh sembarangan gembel, saya tuh Tasya bukan gembel." Ucap Tasya dengan nada tinggi.
"Ih tetep aja gembel si mata gue!"
"Udah dong jangan ribut, aku mau minta tolong sama kakak, aku mau titip Tasya tinggal disini, ada urusan darurat yang mengharuskannya tinggal sama kakak, kalau tinggal sama aku di kos seberang sana pasti gak boleh. " sahut Doni melerai keduanya.
"Tuh kan gembel, buktinya gak punya tempat tinggal, udah gitu pake ngerayu adek gue lagi biar bisa numpang hidup sama gue kan?" Shinta makin meledek Tasya.
"Eh sembarangan kalau bicara, asal tahu aja ya saya juga ogah tinggal sama kamu, ih sebel saya mah sama kamu mending tinggal sama kuntilanak daripada sama kamu." Tasya bertolak pinggang menantang Shinta.
__ADS_1
"Heh berani kamu ya, sini maju!" Shinta berusaha meraih rambut Tasya dan ingin menariknya saking tak kuat menahan emosi yang sudah tersulut di pagi hari itu.
"Udah kak, dengerin dulu, nih lihat nih." Doni memperlihatkan layar ponselnya pada Shinta.
"Ah masa sih? coba gue cek." Shinta bergegas mencari ponselnya di dalam kamar kosnya.
"Bener kan udah masuk uangnya?" tanya Doni saat Shinta kembali ke hadapannya.
"Udah sih, lumayan juga, okelah boleh batasnya satu minggu, setelah itu dia gak boleh tinggal sama gue." Shinta masuk ke dalam kamar kosnya.
"Kenapa Don, kok dia gak jadi marah?" tasya menarik ujung kaus di punggung Doni.
"Kak Dita transfer uang sepuluh juta ke rekening kak Shinta buat nampung kamu. " sahut Doni.
"Astagfirullah ya ampun mending aku nge kos sendiri paling sejuta sebulan daripada sama dia seminggu sepuluh juta, idih Dita gimana sih pikirannya." Tasya menggerutu dengan kesalnya.
"Kak Dita gak mau kamu sendirian." sahut Doni.
"Tapi nyebelin banget Don, mana matra banget lagi tuh nenek lampir... eh maaf Don, tapi emang nyebelin kan kakak kamu?" Tasya membalas lirikan Doni.
"Udah sana kamu masuk, mandi dulu ya, habisnya agak asem gitu." Doni mencubit pipi Tasya dengan gemas.
"Ih biar saya asem juga kamu suka kan?" Tasya melirik Doni.
"Hmmm sembarangan... bukan suka lagi Sya, udah cinta malah." sahut Doni.
"Ih lebay... Udah sana!" Tasya mendorong punggung Doni.
"Kamarku yang disana ya yang telat di seberang kamar kak Shinta lurus dari sini." tunjuk Doni.
"Iya iya, dah sana tidur dulu urusannya udah beres kan?"
"Wah iya rese banget tuh Cindi, masa Sya aku harus masuk ke dalam lubang di dalam gua."
"Lubang di dalam gua, kok saya bingung ya bayanginnya, tuh gua kan berlubang terus ada lubangnya lagi, pusing ih." Tasya menggaruk kepalanya meski tak gatal.
"Bukan gitu, ada gua terus aku masuk situ terus ada lubang di dalamnya, lubangnya di tanah aku masuk ke situ, bau banget sumpah mana becek gitu, tapi di dindingnya itu banyak batu permata." Ucap Dini menjelaskan.
"Terus kamu ambil permatanya?"
"Ya enggak lah aku gak mau mati kaya Cindi, idih amit-amit!" pekik Doni.
"Terus resenya dimana? kan emang tugasnya gitu kembaliin tuh batu permata."
"Ya rese lah, dia ngilang gitu aja sama si Jojo, hak pamit, terus aku di tinggal, aku keder lah, sampe ketemu pasar demit di gunung situ, untung bisa keluar sama abang Jo." sahut Doni kesal.
"Pantes ya bau kamu kaya ada bangke-bangkenya gitu dari tadi hihihi." Tasya meledek Doni.
"Ih peluk juga nih."
"WOI...! mau masuk gak? gue mau tidur lagi nih." Shinta menegur keduanya setelah lumayan kesal juga berdiri mengintip dari balik tirai menyimak pembicaraan Doni dan Tasya tapi tak menceritakan tentang Dita dan Anan yang menitipkan Tasya dengan jumlah uang yang lumayan untuk bayar kos sepuluh bulan.
"Sana tuh masuk, jangan lupa mandi!" Ucap Doni.
Tasya melambaikan tangan padanya lalu masuk ke dalam kamar kos Shinta.
"Saya pinjem kamar mandi ya kak? mau numpang mandi juga ya, pinjem sabun sama sampo juga ya kak?" tanya Tasya.
"Hmmm..." Shinta mengangguk.
"Kak, pinjem handuk juga ya, sama ada sikat gigi yang baru gak?" tanya Tasya lagi melongok dari dalam kamar mandi.
"Ada di samping kulkas." sahut Shinta.
"Boleh pinjem baju juga gak kak, tadi lupa bawa?" tanya Tasya lagi.
"IYAAAAAA....!!!"
Shinta berteriak di hadapan Tasya.
"Awas luh pinjem-pinjem lagi!" ancam Shinta.
Tasya hanya tertawa cekikikan setelah membuat Shinta kesal.
*****
Bersambung guys…
Jangan lupa main ya ke cerita terbaru ku
“WITH GHOST”
ramaikan disana.
Baca juga :
- Kakakku Cinta Pertamaku
- 9 Lives
__ADS_1
- Gue Bukan Player
Vie Love You All… 😊😘