Pocong Tampan

Pocong Tampan
Musim Kedua - Di Dalam Lift


__ADS_3

Tambahan UP, spesial dari Vie.


Votenya juga harus nambah ya buat Pocong Tampan.


Dear readers tersayang... Jangan lupa sebelum membaca di Like and komentar di babnya. Kalau sudah habis membaca jangan lupa juga buat Vote pakai poin kalian buat dapetin Giveaway dari Vie. Rate bintang lima juga ya.


Terima kasih and Happy Reading. 😘😊


*******


"Kita ke rumah sakit sekarang!" pinta Dita menepuk bahu Anan.


"Anta ikut ya," pinta Anta.


"Anta sama Tante Dewi aja, biar Bunda sama Yanda yang ke sana," ucap Tante Dewi menahan Anta.


"Ya udah deh."


"Tungguin aku dong, aku bawa nasi sama telur sambel ini buat makan di perjalanan," seru Tasya lalu bergegas menyusul Anan dan Dita menuju ke dalam mobilnya.


"Buruan...!" balas Dita berseru pada Tasya.


Anan menyalakan mesin mobilnya lalu melaju dengan kecepatan lebih dari biasanya agar bergegas sampai ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Dita melihat Mark tengah berlari menuju sepeda motornya dan melaju pergi.


"Itu, Mark!" seru Dita.


"Ah, sial..." ucap Anan yang memukul mobilnya kesal.


"Aku sama Tasya ke dalam buat lihat Doni, kamu hubungi polisi buat cari Mark, sebelum dia kabur jauh," pinta Dita.


"Oke, Bunda."


"Yanda, kamu hati-hati ya."


Dita menetap kepergian Anan. Tasya menepuk bahu Dita, "Ayo, Ta!" ajak Tasya.


Keduanya melangkah cepat menuju kamar perawatan Doni. Saat keduanya memasuki lift, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh penampakan hantu. Sosok hantu wanita itu tak berkepala. Pada bagian lehernya terlihat robekan daging yang masih meneteskan darah ke pakaiannya yang menggunakan seragam suster rumah sakit itu.


Tasya langsung bergidik ngeri dan bersembunyi di belakang tubuh Dita. Ia juga memanggil Pak Herdi agar muncul dan menemaninya.


"Hmmm... giliran kayak gini aja saya di panggil," ucap Pak Herdi menggerutu.


"Hehehe... habisnya serem, Pak. Silahkan Pak di hadapi Mbaknya," ucap Tasya.


Pintu lift tertutup menuju lantai lima.


"Hadeh, nasib ibu hamil ketemu kayak gini mulu nih bikin sawan dedek bayi aja, dek kelak kamu jangan penakut kayak Tante Tasya, ya." Dita mengelus - elus perutnya sendiri saat berbicara.


"Ih Dita mah... tapi kan emang beneran nakutin," sahut Tasya menepuk punggung Dita, lalu ia menyembunyikan lagi wajahnya di balik punggung Dita itu.


Tiba-tiba lift tersebut terhenti di pertengahan antara lantai tiga dan empat.


"Astagfirullah, dia pakai mati lagi lift-nya," ucap Dita.


Hantu perempuan tanpa kepala itu lalu bergerak maju menghampiri Dita dan Tasya.


"Mundur woi, jangan deket-deket!" seru Pak Herdi memberi perintah pada hantu perempuan itu.


"Kalian lihat kepala saya, tidak?" tanya hantu itu.


"Enggak lah, enggak liat, mana kita tahu ya, Sya?" Dita menoleh pada Tasya.


"Ho oh mana kita tau, makanya kalau punya kepala di simpen baik-baik," sahut Tasya, namun gadis itu memejamkan matanya tak mau melihat hantu yang menyeramkan itu.


Dita menoleh pada Tasya, "Dih, kirain berani. Taunya tuh mata masih merem aja."


"Eh liat tuh, itu kepalanya di tenteng di belakang badannya tuh!" tunjuk Pak Herdi.

__ADS_1


"Mana? masa sih?" Dita melongok ke arah belakang hantu wanita tersebut.


"Astaga, iya bener itu kepalanya, Mbak itu kepalanya di pegangin aja di belakang," seru Dita.


"Oh, iya saya sampai lupa hehehe." Ia mengangkat kepalanya lalu memasang kembali di atas lehernya.


"Sya, lihat deh!" ucap Dita menoleh pada Tasya dan bergeser di samping gadis itu.


"Enggak mau! serem!" sahut Tasya masih dengan mata terpejam.


"Yeeee, gak serem, makanya lihat dulu," ucap Dita menarik tangan Tasya yang menutupi wajahnya sendiri. Sementara di samping Tasya, Pak Herdi sudah tertawa sampai terbahak-bahak dan terduduk lemas di lantai lift karena tawanya.


"Kenapa pada ketawa sih?" tanya Tasya yang perlahan-lahan memberanikan diri menurunkan kedua tangannya untuk melihat hantu tersebut.


"Ya ampun, itu Mbak-nya kenapa?" pekik Tasya.


"Nah makanya, lucu kan? Mbak ngerasa ada yang aneh, gak?" tanya Dita.


"Aneh kenapa? harusnya kamu takut dong sama saya, kenapa malah tertawa seperti itu?" tanya hantu wanita dalam lift itu.


"Ya habisnya, hahaha kamu mah ada-ada aja, makanya coba perhatiin ada yang aneh, gak?" sahut Dita menahan tawanya seraya menaruhnya di bahu Tasya.


Hantu wanita itu lalu menoleh ke arah cermin.


"Saya kan gak kelihatan, mana saya tau ada yang aneh," ucap Hantu wanita tersebut.


"Kok, jadi gak takut ya kalau nemu hantu lemot macam gini, hehehe." Tasya tak tahan juga untuk tertawa.


"Kalian kenapa sih, kok pada ketawain saya, nanti saya marah, lho. Saya kan serem..." ucapnya.


"Gimana mau serem kalau kamu kayak gitu, Mbak. Coba perhatiin di bagian dada kamu!" ucap Dita memberi perintah.


Hantu wanita itu menundukkan kepalanya lalu mengamati bagian dadanya yang berubah rata.


"Lho, kok dada saya hilang, itu kan hasil operasi mahal untuk membesarkan bagian itu, ini kemana hilangnya," ucap Hantu wanita itu makin terlihat panik.


Pak Herdi, Tasya dan Dita saling bertatapan satu sama lain, lalu sepakat untuk kembali tertawa berbarengan.


"Lagian Mbak-nya gak sadar apa kalau pasang kepalanya terbalik, hahahaha..." tunjuk Dita.


Hantu itu meraba bagian tubuh belakangnya dengan kedua tangannya.


"Oh iya, terbalik taru kepalanya, nih dada saya masih ada hehehehe," ucapnya dengan wajah tersenyum senang.


Krek krek krek.


Hantu wanita itu kembali melepas kepalanya.


"Wah kalau adegan ini mah gak lucu," gumam Tasya lalu bersembunyi di balik Pak Herdi yang lebih dekat dengannya.


Hantu wanita itu sudah kembali ke tubuh normalnya.


"Mbak, ini lift-nya nyalain dong, kita mau buru-buru nih," pinta Dita.


"Tapi ini bukan kehendak saya, emang lift-nya mati sendiri," sahut hantu wanita itu.


"Nah lho, coba Sya pencet tombol help minta tolong cepetan, kirain gara-gara hantu ini lift-nya mati," ucap Dita.


Tasya segera melakukan perintah Dita.


"Pak, tolongin dong, lift-nya mati nih..." Tasya berteriak di speaker yang terdapat di dinding lift tersebut.


"Halo, di sini dengan bagian keamanan, ada berapa orang dalam lift, Nona?" sahut salah satu petugas rumah sakit.


"Ada empat."


"Tasya, ada dua," potong Dita.


"Oh iya, eh salah Pak, di dalam sini ada dua perempuan nih, buruan Pak, panas nih..." seru Tasya.

__ADS_1


"Baiklah, bertahan sebentar ya, kami akan segera mengirim bantuan ke sana."


"Hmmm lama lagi, deh. Duh jadi khawatir sama Doni, semoga dia gak kenapa-kenapa," gumam Tasya.


"Pak Herdi aja duluan ke sana," seru Dita.


"Gak bisa, saya kan dipanggil buat jagain kalian di sini," sahut Pak Herdi.


"Duh, makin panas deh ditemenin dua makluk gaib," gumam Dita seraya mengibaskan tangannya mulai terasa hawa gerah di tubuhnya yang mulai berkeringat.


"Kalian mau kemana?" tanya Hantu itu.


"Mau ke supermarket Mbak, belanja." Dita menoleh dengan lirikan tajam pada hantu wanita itu.


"Tapi ini kan rumah sakit? emang bisa belanja?" tanyanya.


"Ya ampun, udah tau ini rumah sakit masa iya beneran ditanggapi candaan saya, Mbak." Dita menepuk dahinya sendiri.


"Oh, bercanda..."


"Mbak-nya ngeselin ya, kok lemot-lemot gitu bisa jadi suster ya?" celetuk Tasya.


Pak Herdi menahan tawanya mendengar penuturan Tasya barusan.


"Saya bukan suster, kok."


"Lah terus ngapain pakai baju suster?" tanya Dita.


"Kalian mau dengerin cerita saya, gak?" tanya hantu itu.


"Hmmm... sebenarnya mah gak mau ya?"


Dita menoleh pada Tasya dan Pak Herdi yang mengangguk bersamaan.


"Tapi terpaksa deh sembari nunggu bantuan datang, coba ceritain, Mbak!"


"Oh iya nama aku Tata, aku tuh buronan debt collector."


"Lalu kenapa di kejar sama debt collector, pasti hutang kartu kreditnya banyak ya terus gak bayar?" Dita mencoba menerka dan ternyata di jawab anggukan oleh hantu tersebut.


"Lalu saya bersembunyi ke dalam rumah sakit ini dan menyamar menjadi suster tapi sialnya, saya mengalami kecelakaan, lift ini mati, lalu saat terbuka setengah, saya berusaha untuk keluar, tapi lift ini keburu jatuh dan kepala saya terjepit, terus..."


"Terus jangan di lanjutin, saya gak mau membayangkan lift ini jatuh juga kayak waktu kamu mati, Tasya coba minta tolong lagi, buruan..." Dita berseru dengan paniknya.


Tasya malah menangis ketakutan membayangkan lift itu jatuh.


"Ya, dia pake nangis lagi," sahut Pak Herdi.


"Awas Pak minggir, sini aku aja yang minta tolong," ucap Dita menggeser Pak Herdi.


Dita memijit tombol speaker di hadapannya, lalu menarik nafas dalam dan berteriak dengan kencang.


"TOLONG....!!!"


******


Bersambung...


Mampir juga ke :


- 9 Lives


- Diculik Cinta


- With Ghost


- Forced To Love


- Kakakku Cinta Pertamaku

__ADS_1


Vie Love You All... 😘😘


__ADS_2