
Dear pembaca tercinta yang selalu setia menunggu Pocong Tampan up... Vie mohon dong, mohon banget... jangan bosen buat VOTE ya... pokoknya vote vote vote...
Di like juga tiap babnya, terus komen, terus kasih vote deh...
Happy Reading...
******
"Whoaaaaa sumpah serem banget ih si Anta mah gak ada takut-takutnya."
Jerry menunjuk Anta yang masih berwajah bahagia saat keluar dari rumah hantu tersebut.
"Seru banget ya tante, aku mau masuk lagi mau ketemu hantu tadi yuk temani An...," ucap Anta.
"ENGGAK...!!!"
Tasya, Mark dan Jerry menyahut bersamaan memotong ucapan Anta.
"Yah..."
"Udah malam Anta sayang, besok lagi ya sama Bunda sama Yanda kamu aja!"
Tasya menggendong Anta mengajaknya pulang.
"Emang besok masih ada fun fair?" Tanya Anta.
"Masih..." Jawab Tasya.
"Ry tolong pegang Anta, aku mau ke toilet sakit perut nih!" ucap Tasya menurunkan Anta dan bergegas menuju toilet.
"Kok ada bau-bau busuk gak enak gini ya?" Gumam Mark.
"Maaf ya kelepasan buang gas!" Sahut Tasya dari kejauhan sambil tertawa.
"What the fu..." Mark langsung menjepit hidungnya dengan kedua jarinya. Begitu juga dengan Anta dan Jerry.
***
"Sya..." Doni menarik tangan Tasya saat hendak memasuki pintu kamar mandi. Langkah Doni tak gentar kali ini. Ia harus bicara pada Tasya.
"Aduh... kamu mau apa sih, nanti istri kamu marah sama saya, lepaskan tanganku!" pinta Tasya.
"Tapi Sya, kamu harus tau cerita sebenarnya kenapa saya sampai menikahi dia," ucap Doni.
Duuuttt...
"Tuh kan kelepasan, aku tuh sakit perut tau! lepasin tanganku! minggir atau ku keluarkan emas busuk di sini!" Ancam Tasya.
"Iya, iya maaf."
Doni melepaskan tangan Tasya dan membiarkan gadis itu masuk.
"Wleekk bau banget ih kentutnya Tasya." Gumam Doni sembari mengibaskan tangannya berkali-kali.
"Don... ayo pulang!" Shinta menegur Doni yang berdiri di depan pintu toilet umum di area Fun Fair tersebut.
"Ummm... sebentar kak...!"
"Ayo...!!!"
Setiap Shinta sudah berteriak dan memberi perintah, maka tak akan ada bantahan lagi dari bibir Doni. Ia menoleh ke arah pintu toilet wanita tersebut berharap Tasya segera keluar, tapi sepertinya gadis itu akan lama di dalam sana. Tasya tak kunjung juga keluar.
__ADS_1
***
Sementara itu di dalam restoran milik Anan, Dita sedari tadi bersikeras membuat Ratu Sanca untuk menangis namun tak bisa. Hati Ratu Sanca malah sedang senang saat itu. Setelah Dita memberi tahunya cara menggunakan TV besar untuk menonton acara manusia yang sedang ramai di tonton, ular besar tersebut malah asik menonton acara komedi di layar tv tersebut.
"Aku tak bisa menangis, bagaimana aku bisa menangis?" tanya sang Ratu.
"Oh iya aku lupa sebentar ya," ucap Dita lalu mengeluarkan ponselnya dan menyambungkan dengan layar TV.
Tontonan drama yang sedih terpampang di layar TV setelah Dita mencarinya di pencarian internet.
"Nah tonton tuh tv! aku temenin ya sambil ngiris bawang," ucap Dita dengan senyum jailnya.
Anan menahan tawanya. Kelakuan istri tercintanya itu memang selalu membuatnya terpana. Ada saja ide jail Dita untuk para lelembut tak kasat mata.
"Mau kemana pak?" Anan menegur Pak Herdi yang hendak melompat keluar.
"Saya melihat sesuatu tadi di luar, saya mau mengejarnya." Sahut Pocong tersebut.
"Aku ikut, yuk!"
Anan mengikuti Pak Herdi keluar.
Monster cacing yang bertanduk itu sedang melata di dinding luar restoran tersebut.
"WOI...!!!" Anan meneriakinya.
Monster cacing itu menoleh lalu tersenyum menunjukkan giginya yang tajam bagaikan gigi ikan hiu.
"Astagfirullah serem banget tuh gigi," gumam Anan bergidik ngeri.
"Menyan kamu ambil garam kasar di dapur kamu larutkan dengan air panas campur juga sama mutiara hitam, kamu minta sama Dita, terus bawa kemari, cepat!"
Perintah Pak Herdi.
"Buat masak! ya buat dia lah tuh mau aku siram air garam mutiara hitam." Ucap Pak Herdi dengan mata melotot menatap tajam ke arah monster cacing tersebut.
"Oh... tunggu bentar." Anan bergegas melaksanakan perintah Pak Herdi.
Anan menceritakan ide Pak Herdi pada Dita.
"Aduh si Ratu Sanca belum nangis lagi," ucap Dita.
"Haduh aku harus sedih dulu, aku belum bisa menangis..." Ratu Sanca berusaha mengedipkan matanya.
"Ah kelamaan, mana irisan bawangnya?" Anan meminta pada Dita.
"Sebentar, nih!" Dita mengulurkan irisan bawang pada Anan.
"Ratu Sanca, maaf banget nih ya maaf banget." Anan langsung menutup kedua mata Ratu Ular tersebut dengan irisan bawang.
"Aduh perih...!!! mataku...!!!"
Mutiara hitam langsung berjatuhan dari kedua mata Ratu Sanca.
"Kamu ambil garam kasar sama air panas bunda, aku ambilin mutiaranya." Anan memberi perintah pada Dita.
"Yanda kamu tuh ya bener-bener deh." Dita menggelengkan kepalanya lalu bergegas ke dapur.
***
Larutan yang di minta Pak Herdi sudah jadi. Anan segera membawanya ke tempat monster cacing tadi berada. Rupanya Pak Herdi sudah berduel dengan si monster dengan pertarungan sengitnya.
__ADS_1
Pak Herdi menunggangi cacing tersebut seperti menaiki banteng yang terus menggeliat dan mengguncang tubuhnya. Adegan tersebut malah terlihat menggelikan di mata Anan.
"Baru ini lihat pocong naik cacing, hahahaha..." Anan terus tertawa sambil memegangi perutnya yang terasa sakit saat tertawa. Perih dan gatal masih melanda di bagian perutnya yang luka.
"Menyan! buruan siram nih cacing!" Pak Herdi berseru.
"Oke...!"
Anan langsung menyiram setengah ember cairan tersebut pada monster cacing itu. Monster itu menggeliat lalu ukuran tubuhnya mengecil sampai sebesar tubuh kucing dewasa. Monster cacing itu membeku.
"Berhasil, woi tofu basi berhasil...!!!" Anan dan Pak Herdi saling berpelukan sambip berjingkrak-jingkrak dengan bahagianya.
Sadar sudah memeluk Pak Herdi, Anan langsung mendorong tubuh pocong itu menjauh.
"Idih saya juga gak mau kali peluk kamu huh...!" Pak Herdi mencibir.
"Gimana yanda, berhasil enggak?" Tanya Dita yang baru saja keluar dari dalam restauran menghampiri Anan dan Pak Herdi.
"Berhasil Ta..." Pak Herdi yang berada paling dekat dengan Dita langsung menyahut lalu memeluk Dita sambil melompat kegirangan juga.
"Jangan nyari ksssmpatan deh!" Anan menarik ikatan pocong milik Pak Herdi.
"Aduh... Kan saya cuma mau meluapkan kebahagiaan Menyan!" pekik Pak Herdi lalu meninju perut Anan yang sakit.
"Aduh...!!! wah cari mati nih pocong!" Anan kembali menyerang Pak Herdi.
"Saya udah mati wleeek...!!!" Pak Herdi menjulurkan lidahnya pada Anan.
Pertarungan Anan dan Pak Herdi di mulai. Mereka bergumul ria di lantai batu konblok tersebut.
"Astaga kalian ini ya... ayolah hentikan!" Dita berusaha melerai keduanya.
"Pada lepas gak?! aku semprot karbol nih!" Ancam Dita.
Anan dan Pak Herdi langsung berhenti dan melepas cengkeraman mereka masing-masing.
"Jangan dong bunda, nih olesin aku ya masih ada larutan tadi dikit." Pinta Anan mengangkat kaus bagian bawahnya menunjukkan lukanya pada Dita.
"Terus itu cacing mau di kemanain?" Tanya Pak Herdi.
"Kita bawa ke tempat tuan Worm, tadi aku lihat mobilnya masih ada deh, pasti dia masih di sana karena baru saja melepaskan monster ini," sahut Anan.
"Hmmm oke aku setuju, aku capek kayak gini terus, kita balas dengan ancaman sekali-kali," ucap Dita mengolesi luka Anan dengan bubuk mutiara hitam.
"Oke kalau gitu kita kesana sekarang, aku ambil plastik dulu buat kantongin tuh cacing," ucap Anan menuju ke dalam mencari plastik sampah.
"Oh iya aku lupa tadi kan lagi ngobatin matanya Ratu Sanca yang perih, haduh...!" Dita menepuk dahinya sendiri lalu bergegas menuju ke dalam juga.
*****
Masih bersambung ya guys...
Jangan lupa main ya ke cerita ku lainnya.
- WITH GHOST (UP)
- Kakakku Cinta Pertamaku
season 1 END
- 9 Lives (END)
__ADS_1
- Gue Bukan Player (END)
Vie Love You All 😘😘😘