
Sebelum membaca klik like yak...
let's vote for me boleh yak...
apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...
Rate bintang lima jangan lupa...
thank u so much... love u all... 😘😍😊
***
Anan dan Dita bergegas mencari keberadaan Doni. Tante Dewi juga melapor pada kapten Jihan soal keberadaan Doni dan Om Kevin yang menghilang.
"Kita coba ke kantor om Kevin Ta, masih punya kartu namanya kan?" tanya Anan
"Ada, bentar ya yanda." Dita merogoh dompet dalam tas nya. "Ketemu..." ucap Dita dengan senangnya.
"Ya udah kita samperin ke kantornya." ajak Anan lalu mereka masuk ke dalam mobil Anan dan melaju ke arah kantor om Kevin.
****
Di rumah besar Anan, Tasya sampai di dampingi Pia dan Pak Adi.
"Ini siapa?" tanya Bu Mey.
"Temennya non Dita, Bu tadi disuruh ikut pulang sama kita, katanya kecopetan gak tau mau kemana lagi jadi non Dita suruh dia ikut saya." Pia mencoba menjelaskan.
Bu Mey melirik ke arah Tasya sambil mengamatinya dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Saya teh bukan orang jahat Bu, saya juga gak mau di bawa ke sini tapi non Dita sama pia nakut-nakutin saya kalau saya sendirian di luar sana jadi saya disuruh ikut Pia kesini." Tasya mencoba menjelaskan siapa dirinya.
"Kalau yang suruh kamu datang non Dita, baiklah saya percaya sama kamu." ucap Bu Mey.
Tasya terdiam dan menunduk.
"Ayo masuk !" ajak Bu Mey.
Tasya melepas sandalnya di depan teras persis seperti Dita saat masuk kerumah besar Anan. Bu Mey tertawa geli melihatnya.
"Pakai aja neng." ucap Bu Mey.
"Gak Bu, sandal nya kotor." Tasya tetap meninggalkan sandalnya ikut masuk ke dalam rumah dengan Bu Mey sambil mengamati keadaan lingkungan rumah besar.
"Kok kaya pernah ngerasa disini ya, tapi mana mungkin aku pernah ke rumah sebesar ini." gumam Tasya.
"Nah ini kamar kamu, silahkan masuk."
ucap Bu Mey.
"Makasih Bu, makasih banyak." sahut Tasya lalu masuk ke dalam kamar tamu.
Lukisan nyai terpampang di dinding.
"Cantik banget lukisannya kayak pernah lihat tapi dimana ya?" gumam Tasya.
Karena kelelahan Tasya tertidur di atas kasur yang empuk itu sampai terlelap.
__ADS_1
***
Kembali ke Anan dan Dita, kini mereka sampai di parkiran kantor pengacara om Kevin yang berada di sebuah gedung kaca berlantai sepuluh itu.
"Mewah ya tempat kerjanya." ucap Dita.
"Berati si om Kevin pengacara keren nih Ta." sahut Anan. "Yuk masuk." ucap Anan.
Dua orang receptionist menyambut Anan dan Dita.
"Cakep Nur cakep." bisik seorang yang bernama Ani pada Nur.
"Jaim dikit jaim." sahut Nur.
"Kamu tanya gih, aku duduk sini." ucap Dita.
"Selamat siang, mba ini kantornya bapak Kevin Sanjaya?" tanya Anan.
"Iya pak bener, disini ada empat kantor pengacara salah satunya pak Kevin."
jawab perempuan yang bernama Nur sedangkan Ani malah menatap kagum ke arah Anan tanpa bersuara apapun bahkan mungkin ratusan lalat bisa masuk ke dalam mulutnya yang melongo.
"Oh bener ya, lalu apa om Kevin tadi datang kesini?" tanya Anan lagi.
"Iya pak, sama Bu Eva." sahut Nur.
"Bu Eva?"
"Iya pak dia klien pak Kevin."
"Ada di lantai tujuh pak langsung ke kiri dari lift." ucap Nur.
"Makasih yak." jawab Anan.
"Pak boleh tau namanya siapa? buat isi data." Nur mencegah Anan pergi lalu Anan menuliskan namanya dan nama rumah sakit sebagai referensi kantornya.
"Sekalian nomor handphone pak tulis disini." ucap Ani akhirnya dengan semangat.
"Nomor telepon rumah sakit aja yak." sahut Anan.
"Yah nanti saya gak bisa chat nomor bapak dong." sahut Ani.
"Maaf gak bisa." Anan mengangkat tangan kanannya menunjukkan cincin pernikahan pada jari manisnya.
"Saya sudah menikah." ucap Anan.
Ani dan Nur langsung menunduk malu.
"Bunda sayang ayo kita cari om Kevin." ajak Anan meraih tangan Dita dan merangkul pinggangnya.
"Ada apaan sih kok mereka berdua pada ngeliatin aku?" tanya Dita.
"Kamu kan cantik jadi mereka takjub sama kamu." sahut Anan mencubit ujung hidung Dita.
"Dih so sweet banget sih." Dita tersenyum manja.
Lalu Anan dan Dita masuk ke dalam lift.
__ADS_1
"Padahal gue sih gak masalah lho sama laki orang, ya gak Nur." ucap Ani.
"Dih Lo aja sono, gue sih malu ngerebut laki orang, apalagi jelas-jelas lakinya sinis gitu tadi." ucap Nur sambil merapikan meja kerjanya.
"Tapi lihat dong Nur, cakep, ganteng, tajir pula tau ih gemes gue." Ani masih membayangkan wajah Anan.
"Dih malu-maluin aja lho, mending gue sama satpam si Edo daripada ngerebut laki orang." sahut Nur makin kesal dengan pernyataan Ani.
***
Pintu lift terbuka di lantai tujuh. Anan dan Dita heran kenapa meja resepsionis di lantai ini kosong.
"Kok gak ada yang jaga sih?" tanya Dita.
"Iya nih perasaan ada yang aneh." sahut Anan.
"Perasaanku jadi gak enak nih, aku panggil pak Herdi ya." ucap Dita bersiap menggoyangkan gelang di tangannya.
"Jangan Ta, kita aja gak usah bawa dia." cegah Anan.
"Ah kamu mah cemburu an aja ini genting tau, pak Herdi bisa bantu, please tahan ego kamu jangan cemburuan kan aku udah milik kamu." Dita menegaskan ucapannya pada Anan.
"Oke... panggil deh awas aja kalo dia gak bisa bantu nanti." sahut Anan menggerutu.
Dita memanggil pak Herdi yang langsung tiba tepat di sampingnya.
"Ini kan kantor si Kevin." ucap pak Herdi.
"Nah bener kita lagi cari dia sama Doni yang menghilang." jawab Dita.
"Udah deh gak usah basa-basi coba Lo cari dimana om Kevin sama Doni, ini juga masa meja gak ada yang jaga, kantor macam apa ini?" Anan menggerutu lagi.
"Lho biasanya ada dua yang jaga satpam sama si Tia, ini pada kemana ya?" tanya pak Herdi.
"Tuh kan ada yang aneh, perasaanku juga gak enak nih." tanya Dita.
"Emangnya Kevin ngapain sih kemari?" tanya pak Herdi.
"Kata resepsionis di bawah om Kevin ketemu sama klien yang namanya Bu Eva." Dita memberitahukan .
"APA? Tante Eva kesini?" sahut pak Herdi.
"Bapak kenal sama Bu Eva?" tanya Dita.
"Dia itu mamanya si Maya."
"Ah yang bener Lo, terus ngapain dia ketemuan sama om Kevin? mau apa gitu." Anan menepuk bahu pak Herdi.
"Nah mana aku tahu, coba kita ke ruangannya di ujung sana." pak Herdi melompat mendahului Anan dan Dita.
Di belakangnya Anan juga ikut melompat mengikuti pak Herdi sambil tertawa kecil.
****
To be continued... alias bersambung...
Happy Reading... Main ke 9 Lives 😘
__ADS_1