
Jangan lupa di Like, Komen dan pastinya Vote ya.
Episode tambahan untuk mengobati rindu kalian pada Pocong Tampan.
(Aseeeeeekkk... bisa ae Thornya...)
Happy Reading.
*******
Tante Dewi menggenggam tangan Anta, keduanya menuju taman pemakaman tempat Dita dan Anan. Kandungan Tante Dewi mulai membesar. Usianya sudah berjalan tujuh bulan.
Anta pun mulai mengikhlaskan kepergian orang tuanya meski awalnya berat. Toh terkadang sosok Anan dan Dita kerap hadir di mimpi Anta dan bermain dengannya atau sekedar berbincang bersama.
Anta juga tak merasa kesepian karena selalu ada Tante Dewi, Tasya dan Doni yang selalu menemaninya. Ditambah dengan kehadiran beberapa hantu dan Ratu Sanca yang kini menjadi penjaga Anta.
Gadis itu menggenggam seikat bunga mawar merah di tangannya. Sementara Tante Dewi menggenggam seikat mawar putih di tangannya.
"Bu, kok lagi hamil pergi ke makam, nanti bayinya sawan lho, belum lagi nanti diikutin sama hantu," tegur salah satu pengunjung perempuan yang melihat Tante Dewi dengan kondisi tengah berbadan dua.
"Oh gak apa, Bu. Berdoa aja supaya gak digangguin," sahut Tante Dewi seraya tersenyum.
"Dibilangin gak percaya, nanti kalau ada hantu nemplok aja, biar tau rasa," gumam Ibu tersebut lalu pergi menuju motor bebeknya.
Anta masih menatap ibu tadi, dia tersenyum pada hantu anak kecil yang bergelayut manja di leher wanita tadi yang kini sudah melaju dengan motor bebeknya.
"Kenapa, Nta?" tanya Tante Dewi yang merasa langkah Anta tak bergerak juga mengikutinya.
"Ibu tadi lucu, dia bilang katanya awas nanti kita di nemplokin hantu, padahal dia sendiri yang udah gendong hantu hihihi..." sahut Anta.
"Cukup ya Anta, jangan ceritain Tante kayak begituan, serem ah, terus kalau ketemu temen-temen dunia lain di sini jangan diajak pulang, awas lho," ancam Tante Dewi.
Keduanya kemudian sampai di hadapan makam Anan dan Dita yang terletak berdampingan. Anta dan Tante Dewi meletakkan bunga mawar tersebut seraya mengirimkan doa pada keduanya.
"Hai, Bunda, Hai, Yanda, besok Anta mau daftar di sekolah TK terus Anta lanjut masuk SD terus SMP terus..."
"Sampai kuliah," celetuk Tante Dewi.
"Hehehe... iya. Jangan ganggu apa, Anta mau curhat," ucap Anta.
Tante Dewi melanjutkan bacaan surat yasin yang tertunda untuk Anan dan Dita. Sementara Anta melanjutkan sesi curahan hatinya sampai ia puas menceritakan semua kegiatannya hari itu.
Tante Dewi menatap gadis kecil di sampingnya itu dengan senyuman.
__ADS_1
***
Selepas dari taman pemakaman kedua orang tuanya, Anta mengajak Tante Dewi untuk mampir ke sebuah pameran aneka buku dan alat tulis sekolah. Di sana ia bertemu dengan Andri yang sedang bekerja sebagai brand ambasador pameran tersebut.
"Hadeh... bisa gak sih gak ketemu sama nih orang," ucap Tante Dewi.
"Wuidih sinis banget si Tante, nanti naksir lho sama aku," sahut Andri dengan penuh percaya diri.
"Hei jangan panggil saya Tante ya, saya bukan adik ibu atau bapak kamu," ucap Tante Dewi dengan ketusnya.
"Terus aku manggil apa dong? manggil sayang gitu?" Andri mencoba menggoda Tante Dewi entah kenapa aura ibu hamil di sampingnya itu makin terlihat cantik di matanya.
"Berani panggil sayang, nih tas melayang nih," ancam Tante Dewi seraya mengangkat gas kecilnya ke hadapan wajah Andri.
"Ih biasa aja dong! eh Anta kemana ya?" Andri bari sadar kalau Anta menghilang.
"Lah Anta mana, tuh kan gara-gara kamu nih, ayo.
cari!"
Keduanya lalu dengan paniknya mencari Anta bahkan sampai melapor ke bagian penjaga keamanan pameran.
Sementara itu,Anta sedang berada di sebuah stand pameran yang menjual macam-macam buku baru maupun buku obralan.
"Nek, buku ini harganya berapa?" tanya Anta pada seorang wanita paruh baya yang berpakaian batik serta berkaca mata sedang menjaga stand pameran tersebut.
"Buku itu, wah bagaimana kau bisa melihat buku itu?" tanyanya.
"Lho kan kelihatan, Nek. Makanya aku tanya harga buku ini berapa, apakah di jual?" tanya Anta lagi.
Nenek itu tersenyum dan mengusap lembut dagu Anta.
"Sudah satu minggu aku berjualan di sini dan baru kau yang dapat melihat buku itu, ambilah nak, itu gratis hadiah untukmu," ucap wanita paruh baya itu seraya tersenyum dan makin memperlihatkan kerutan di wajahnya.
"Tapi, Nek, kita kan baru bertemu dan kata Bunda Anta tuh gak boleh menerima pemberian orang lain yang baru di kenal," ucap Anta.
"Duh anak baik, pantas saja buku ini memperlihatkan dirinya padamu, gunakanlah buku ini dengan bijak."
"Anta... Kamu tuh ya main hilang aja, dari tadi Tante cari kamu tau gak," ucap Tante Dewi menegur Anta.
"Hehehe maaf Tante, oh iya Anta mau beli buku ini sama Nenek tapi katanya gratis Anta gak usah bayar," ucap Anta.
"Nenek yang mana?" tanya Tante Dewi.
__ADS_1
"Nenek yang..."
Sosok wanita paruh baya itu telah menghilang begitu saja dari tempat si nenek itu berdiri tadi.
Seorang pria bertubuh gemuk menghampiri Anta dan Tante Dewi.
"Ada yang bisa di bantu, mau beli apa?" tanyanya.
"Ummm... tadi ada nenek-nenek di sini, terus Anta mau beli buku ini," ucap Anta.
"Wah kayaknya bukan buku dari sini deh, dan gak ada penjual nenek-nenek di sini," ucap lelaki itu.
"Ya udah yuk Anta, kita cari makan, Tante laper nih," ajak Tante Dewi menarik lengan Anta.
"Tapi Tante, ini bukunya belum bayar," sahut Anta.
"Mau bayar ke siapa neneknya aja hilang, kan kata kamu tadi dikasih gratis, ya udah anggap aja lagi beruntung dapat hadiah," ucap Tante Dewi.
"Waduh gawat sayang, aku gak bisa menemukan Anta," ucap Andri yang baru saja tiba di hadapan Tante Dewi dengan nafas tersengal-sengal sehabis berlari.
"Lah ini Anta, emang gak liat, kurang gede apa ini anak?" Tante Dewi mengangkat tangan Anta.
"Anta... ya ampun Om Andri udah cari kamu kemana-mana tadi," ucap Andri memeluk Anta.
"Haish gak usah peluk lama-lama modus banget sih!" ketus Tante Dewi.
"Hmmm sama anak kecil aja cemburu, mau dipeluk ya?" Andri bangkit lalu merentangkan tangannya di hadapan Tante Dewi sekali lagi untuk menggoda wanita tersebut.
"Mau dipeluk?"
Andri mengangguk menjawab pertanyaan Tante Dewi.
"Najong...!!"
Tante Dewi lalu menarik tangan Anta memasuki sebuah kedai makanan yang menjual mie ayam dan bakso itu.
"Aih... makin gemesin aja itu si Dewi, jadi tambah sayang..." ucap Andri lalu melangkah menghampiri Tante Dewi dan Anta.
Ia malah lupa akan pekerjaannya demi menemani Tante Dewi dan Anta.
*******
Bayar tulisan Vie dengan VOTE dong, mau ya mau ya, pleaseee... 😁😁😁
__ADS_1