
Jangan lupa klik like dan sempetin votenya... makasih ya... 😊😉😘
***
Ambulance tiba ditempat kejadian, Dokter Dewi sudah menyerahkan ayah Andri dan ibunya ke pihak medis dan langsung membawanya ke rumah sakit milik keluarga Anan. Andri sudah berada didalam ambulance menemani ibunya meski tak terlihat.
"Kita kerumah sakit Ta." ucap dokter Dewi menuju mobilnya dan bersiap menyalakan mesin.
Dita masih berusaha menghindari tatapan hantu supir taxi itu sampai berhasil masuk kedalam mobil Tante Dewi.
"Jangan liat jangan liat jangan liat please..." gumamnya.
"Liat apa Ta?" tanya dokter Dewi sembari menyetir.
"Supir taxi tadi Tante hiyyy serem."
"Kirain kamu udah kebal dengan segala penampakan."
"Yah takut lah Tante, kalo yang tampangnya biasa aja ya gak takut tapi kalo penuh darah nyeremin takut lah Tante." sahut Dita menutup wajahnya dengan Hoodie jaketnya.
"Harusnya kamu kerja di tim forensik kaya Andri, setiap hari ngebedah mayat dari yang utuh sampe yang gak utuh."
"Iya ya aku gak bisa bayangin gimana kerja kaya Andri begini aja udah stress gimana tiap hari ketemu penampakan yang berbeda dari mayat yang aku bedah hehehe."
"Itu tadi orang tuanya Andri Ta."
"Lho Tante tau juga?"
"Kamu tau juga?"
"Aku sih dikasih tau Andri, kalo Tante?"
"Aku memang tau kok, pernah ketemu sekali sama mereka tapi aku masih inget."
"Kok bisa Tante? aku jadi kepo nih.."
"Udah sampe Ta, aku langsung ke ruangan ayahnya Andri ya."
"Terus aku gimana Tante?"
"Terserah jagain mobil boleh, ikut masuk sini boleh." sahut dokter Dewi yang sudah menjauh ke dalam rumah sakit.
"Tukang parkir kali aku disuruh jagain mobil, nengok Andri yuk Nan."
"Oke." sahut Anan.
"Si Jenni mana?"
"Kayaknya lagi clubbing dia ketinggalan disana."
"Eh jangan deket-deket aku masih marah yak."
"Ehmmm cemburu yak, kan bukan aku yang mau, dia tuh pegang - pegang terus."
"Tapi situ diem aja huh."
Dita melepaskan tangan Anan yang sedari tadi berusaha menggenggam tangannya.
"Mbak jangan ngomong sendirian nanti kesambet lho." ucap pak satpam yang sedari tadi memperhatikan Dita.
"Enggak pak lagi ngomel aja sama hati saya." sahut Dita tersenyum malu.
***
"Gimana keadaan orang tua kamu Ndri?"
tanya Dita.
__ADS_1
"Ibu aku lagi diruang perawatan tapi untungnya cuma luka ringan, ayahku yang lagi dioperasi di dalem sama Dewi."
"Dokter Dewi?"
Andri mengangguk.
Dita tertidur di kursi tunggu pasien bersama Andri dan Anan. Kepala Dita sudah bersandar di bahu Anan terlelap dengan pulasnya.
"Dita kamu ngapain tidur disini?" dokter Dewi menguncang bahu Dita membangunkannya.
"Eh hoaaaammm ketiduran ya akunya." Dita merenggangkan tangan dan tubuhnya.
"Ta pinjem bahu kamu terus pegang dia." ucap Andri dan seketika dokter Dewi dapat melihat keberadaan Andri.
"A.. a .. Andri." dokter Dewi terduduk lemas di lantai saking kagetnya melihat Andri.
"Hai dew, maaf bukan maksud aku buat kamu takut."
ucap Andri tersenyum manis.
"Gak papa Tante, Andri udah jinak hehehe." ucap Dita berusaha menenangkan Dokter Dewi.
"Ka ka kamu mau apa?" tanya Dokter Dewi masih agak takut.
"Gimana kondisi ayah aku?"
"Tunggu Ndri aku lemes yak jadi media kamu." Dita kembali duduk di kursi tunggu pasien.
"Bentar Ta, masih mau ngobrol bentar aja."
"Aku lemes Ndri , kayaknya aku laper deh plus ngantuk."
"Yah Dita bentar Ta." Anan melepas tangan Andri dari pundak Dita.
"Kasian tuh capek dia Ndri." ucap Anan.
"Andri udah ilang Ta? tanya dokter Dewi.
"Masih nih, tapi aku capek Tante aku laper gak kuat nahan dia."
"Oh yudah gini aja, aku gak kuat liat dia."
"Dih emang gue serem banget yak, ampe gak kuat liat gue." sahut Andri.
"Emang elo nyeremin sih ada Angus angusnya gitu hahahaha." Ledek Anan.
"Ah sue dasar lontong kisut!"
"Udah ah berantem mulu nih." ucap Dita melerai Anan dan Andri.
"Siapa yang berantem Ta?" tanya Dokter Dewi.
"Anan sama Andri."
"Kok bisa?"
"Emang biasanya gitu Tante gak akur mereka kalo deket, kalo jauh aja kangen."
"Oh... iya Ta bilangin Andri, ayahnya mengalami pendarahan ringan di kepala tadi operasi nya berhasil."
"Alhamdulillah...." sahut Dita.
"Terus kemungkinan ayahnya Andri mengalami struk ringan, namun seiiring terapi dengan rutin nanti, kemungkinan bisa sembuh seperti sedia kala."
"Syukurlah..." ucap Andri mendekati dokter Dewi mendekatkan wajahnya lalu mencium kepala dokter Dewi.
"Makasih Bi." ucap Andri.
__ADS_1
Dokter Dewi merasa bulu tengkuknya berdiri dan merasa sesuatu menyentuh kepalanya.
"Modus banget loh cium-cium Tante gue" Anan meninju wajah Andri seketika.
Lalu Andri membalas Anan sampai mereka jatuh berguling-guling dilantai.
"Bodo amat lah terserah mau pada ngapain udah gak bakal lecet ini." ucap Dita menatap kesal kearah perkelahian Anan dan Andri.
"Tadi itu apa ya Ta, kok aku merinding sih."
"Emmm itu si Andri Tante tadi bilang makasih terus cium kepala Tante hehehe."
"APA...??!! sembarangan banget tuh bocah masih aja modus."
"Emang tuh, lagi gelut sama Anan hahaha."
Dita menunjuk Anan dan Andri dilantai.
"Gak ada lucunya Ta, kamu mah nakutin."
Dita masih tertawa melihat perkelahian keduanya.
"Dita...!!! ayo pulang...!!" Dokter Dewi menarik lengan Dita.
"Tanggung Tante seru dia pada guling-gulingan hahahhaha."
"Ih Dita ayooo...!!" Dokter Dewi menarik paksa lengan Dita kali ini menuju parkiran mobilnya.
***
Sesampainya dirumah...
Dita sudah bersiap untuk tidur namun dokter Dewi mengetuk pintu kamarnya.
"Kalo nanti Andri masuk rumah ku jangan kasih yak apalagi masuk kamarku!"
"Kok Tante tau dia suka masuk kamar situ?"
"Sekarang aku tanya, apa kamu yang nyalain candle aroma terapi di kamarku?"
Dita menggeleng. "Aku gak berani masuk kamar Tante kok, sumpah."
"Tuh kan pasti dia, karena dia tau aku suka lilin itu di nyalain, bener-bener yak bikin aku makin sebel aja sama dia."
"Iya nanti kalo ketemu aku bilangin Tante."
Dita melirik Andri yang sudah terbaring di sofa bersama Anan, sepertinya mereka sudah berdamai.
"Ya udah kamu tidur sana, besok kita berangkat siangan aja." Dokter Dewi berlalu masuk menuju kamarnya.
"Tuh makanya jangan gelatak kamar perempuan." ucap Dita ke Andri.
"Tau tuh jangan-jangan elo juga ngacak-ngacak bra sama CD Tante gue lagi." sahut Anan.
"Sial gue gak semurah itu nyari bra sama cd, gue mah langsung cari daleman nya dong, Nah jangan-jangan elo yang suka acak-acak CD sama bra nya Dita yak?" goda Andri.
"Eh sembarangan tempe angus, enggak Ta boong tuh."
"Ihhhh... kalian ini otaknya mesum semua, hiyyy..."
Dita menutup pintu kamarnya meninggal kan Anan dan Andri yang kembali bersitegang.
***
To be continued...
Happy Reading... 😘😉😊
__ADS_1