
Sebelum membaca klik like yak...
let's vote for me boleh yak...
apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...
Rate bintang lima jangan lupa...
thank u so much... love u all... 😘😍😊
***
Sekilas Dita melihat sosok yang dikenalnya di sebrang parkiran pasar swalayan. Sosok itu seperti linglung dan tak tahu arah. Dita memicingkan matanya memastikan pandangannya tak salah.
"ANITA...!!"
Perempuan yang mirip Anita itu menoleh pada Dita.
"Kamu siapa ?" tanya nya.
"Aku Dita, Nit, aku sahabat kamu." pekik Dita mengguncang ke dua bahu Anita lalu memeluknya.
"Aku itu Tasya, bukan Anita." ucapnya.
Dita mengamati sosok perempuan yang bernama Tasya di hadapannya itu dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Gak, gak salah lagi kamu itu Anita, sahabat ku." ucap Dita.
"Ih si teteh yak, saya tuh Tasya baru datang dari desa xx saya tuh kemari mau ngelamar kerja tapi saya kecopetan, terus nyasar." ucap Tasya.
"Kok mirip banget apa jangan-jangan Anita punya kembaran yak?" gumam Dita.
"Teh halo halo kenapa atuh bengong?" tanya Tasya.
"Non Dita, ada tuan Anan." Pia menghampiri Dita di sebrang jalanan saya, Anan sudah menunggu di dalam mobilnya.
"Iya Pia sebentar." ucap Dita.
"Siapa tadi nama kamu?"
"Tasya teh."
"Kamu bingung kan? mau kemana juga gak tahu? dari pada kamu nyasar nanti di culik belum lagi nanti kamu ketemu preman terus di perkosa di mutilasi di ambil organ tubuhnya."
"Stop teh stop! ngeri atu dengernya, maksud teteh apa sih?"
"Nah daripada kamu gak jelas mau kemana mending ikut aku." ajak Dita.
"Kalau teteh yang mau nyulik saya gimana?"
Ada raut curiga di wajah Tasya.
"Lihat baik-baik tampang ku cantik gini, isteri tuan muda yang ganteng banget nih di dalam mobil, masa iya aku mau nyulik kamu." Dita bertolak pinggang.
__ADS_1
Sekarang gantian Tasya yang mengamati Dita dengan seksama dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Eh si non Dita ini orang nya baik hati, cantik, tidak sombong gak mungkin dia bakal jahat sama kamu." ucap Pia menambahkan.
"Nah cakep... besok aku kasih bonus gaji kamu pia." Dita menepuk bahu Pia.
"Alhamdulillah..." ucap Pia mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.
"Jadi...?" tanya Dita ke arah Tasya.
"Kalian bener ya, gak akan nyulik aku." ucap Tasya penuh ancaman bercampur ketakutan.
"Iyaaa udah sih ayo ikut." Dita menarik lengan Tasya agar mengikutinya.
"Hai Yanda, maaf ya udah lama nunggu." ucap Dita membuka pintu mobil Anan.
"Gak papa Bun, dan kyaaaaaa....!! itu Anita nongol lagi." pekik Anan.
Anan terkejut melihat sosok perempuan yang mirip bahkan memang wajahnya dan bentuk tubuhnya sama dengan Anita bagai sepasang kembar atau pinang di belah dua tanpa alat kapak untuk membelah saking sama mulusnya.
"Ya kan mirip banget sama Anita, tapi dia Tasya Nan ngakunya dari desa kecopetan dia bingung mau kemana." sahut Dita.
"Sumpah mirip banget, ini Doni bakalan seneng sih." sahut Anan.
"Oh iya lupa aku mau nyamperin Doni di cafe Dixie." Dita menoleh pada Pia dan Tasya.
"Pia, ini si Tasya kamu bawa pulang, suru istirahat di kamar tamu, nanti pinjemin dia baju kamu dulu ya, kayaknya muat deh, aku ada perlu sama Anan." ucap Dita.
ucap Pia.
Tasya memandang Dita yang masuk ke mobil Anan lalu pergi menyusuri jalanan yang penuh dengan lalu lalang kendaraan itu.
"Ayo, tunggu apa lagi?" Pia menarik lengan Tasya.
"Aku... aku... takut teh."
"Kamu tahu gak, rumah bos itu besar sekali, kamu bisa kerja jadi pembantu apa tekun kebun disana, bos kita tuh orang baik. Kalau kamu masih ragu dan gak mau ikut ya silahkan paling nanti di culik terus di..."
"STOP..! iya aku ikut." Tasya menghentikan ucapan Pia, Tasya paham bahwa Pia akan berkata sama dengan perkataan Dita tadi. Tasya mengikut Pia masuk ke dalam mobilnya. Semoga pilihannya benar, batin Tasya sepanjang jalan.
***
Anan dan Dita sampai di cafe Dixie.
Namun ia tak melihat Doni dan Om Kevin.
"Coba aku tanya pelayan ya, ngeliat mereka apa enggak." ucap Anan.
"Memang kamu ada fotonya?" Dita menahan lengan Anan.
"Ada nih foto pernikahan kita ada mereka." Anan memperlihatkan layar ponselnya pada Dita.
"Oh iya bener." Dita berjalan mendampingi Anan masih melingkarkan tangannya di lengan Anan.
__ADS_1
"Maaf boleh tanya mas, tadi lihat dua orang ini gak?" Tanya Anan pada salah satu pelayan.
"Ummm saya sih gak begitu inget pak, coba saya tanya sama temen saya ya." ucap nya lalu memanggil salah satu temannya mendekat.
Pelayan perempuan itu mengamati Anan dengan berdecak kagum.
"Gak salah lihat kan gue, ada pangeran masuk cafe kita cuy." ucapnya.
Dita makin melingkarkan lengannya lebih erat. "Ini suami saya mba." ucap Dita mencoba mempertahankan apa yang dia miliki. Ada senyum bangga di wajah Anan meski menahan tawanya dengan perkataan Dita barusan.
"Oh suaminya, maaf Bu cuma kagum." sahutnya.
"Saya belum ibu-ibu ya, setua itukah saya di panggil ibu." gumam Dita.
"Udah sih, kamu kan ibu dari anak-anakku nanti." bisik Anan di telinga Dita membuat wajah Dita bersemu merona.
"Baiklah kembali ke topik awal mas." ucap Anan.
"Eh iya pak, nih Mia Lo masih inget pelanggan hari ini yang mukanya mirip di foto gak?" tanya pelayan pria itu.
"Eh ini mah yang ganteng tadi, dia gue godain bareng si Naya, hehehhe tadi sih pergi keluar bertiga sama ibu-ibu agak gemuk." ucap pelayan yang bernama Mia itu.
Anan dan Dita saling melihat satu sama lain.
"Siapa ya Nan kira-kira?" tanya Dita menoleh ke Anan.
"Mana aku tau, coba hubungi lagi." perintah Anan ke Dita.
"Aku coba hubungi Doni sama om Kevin yak, kamu tanya in Tante Dewi." ucap Dita mengeluarkan ponselnya.
Anan juga langsung menghubungi Tante Dewi di ponselnya.
"Gimana sih Nan, masa Doni jagain Kevin aja gak becus lagian kenapa keluar segala lagi ketemu klien." ucap Tante Dewi dari sebrang sana.
"Ini aku lagi coba nyari ke cafe tadi Tante." sahut Anan.
"Ya udah aku ikut nyari juga, aku hubungi kapten Jihan dulu." Tante Dewi menutup ponselnya.
"Gimana Bunda?" tanya Anan ke Dita.
"Gak ada yang bisa aku hubungi, gimana nih." Dita tampak cemas.
"Pak maaf jadi cuma nanya orang nih gak mau minum dulu kita ada menu baru dan promo diskon member lho pak." pelayan pria itu menyela Anan dan Dita.
"Gak usah mas, nih ya semua makanan para tamu yang disini sekarang saya yang bayar, nih kartunya."
Anan menyerahkan kartu hitam tanpa limit ke tangan pelayan yang langsung melongo itu.
***
To be continued...
Happy Reading... Main juga ke 9 Lives 😘
__ADS_1