
Sebelum membaca klik like yak...
let's vote for me boleh yak...
apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...
Rate bintang lima jangan lupa...
thank u so much... love u all... 😘😍😊
***
"Emang aku bohong, tapi aku serius mau nikahin kamu, ayo ikut aku!" Anan menarik tangan Dita ke dalam rumah sakit.
"Kamu apa-apaan sih Nan, lepasin aku!"
"Enggak mau! nah itu dia, Tante Dewi, Anan mau nikah sama Dita." ucap Anan pada Tante Dewi yang sedang bersama salah satu rekan kerja dari negara Australia. Map yang Tante Dewi pegang jatuh berserakan karena terkejut mendengar penuturan Anan. Dita dengan sigap mengambil map dan beberapa kertas yang jatuh itu.
"Kamu gila ya Nan, ada klien ini." bisik Tante Dewi sambil matanya melotot ke arah Anan.
"Anan tunggu di ruangan Tante dewi, ayo Ta." Anan menarik tangan Dita masuk ke ruangan Tante Dewi.
"Aku enggak mau nikah sekarang Nan, aku takut nanti Anita pergi, aku belum siap." rengek Dita.
"Lho kamu juga akan kehilangan aku dalam waktu dua bulan ini Ta, lalu setelah itu aku akan kembali seperti pocong waktu itu dan bagaimana seorang pocong seperti ku bisa menikah denganmu?"
"Tapi Nan, aku takut Anita pergi..."
"Lalu bagaimana dengan aku, kamu lebih khawatir Anita pergi daripada aku yang pergi!"
"Tapi..."
"Belum lagi di luar sana, manusia seutuhnya yang sempurna seperti lantas bos kamu di Herdi itu siap menikahi kamu ya kan?"
Dita hanya menunduk diam.
"Apa emang perasaan kamu bimbang ya? kamu bilang sayang sama aku tapi kamu berharap menikah sama si Herdi itu iya kah Ta?"
__ADS_1
"Anan, kalau aku lebih memilih menikah sama pak Herdi, udah dari tadi lamaran dia aku terima."
"APA? dia ngelamar kamu, kenapa kamu gak ngomong?"
"Ini aku ngomong."
"Harusnya kamu ngomong tadi pas ada dia biar ku hantam wajahnya sekalian."
ucap Anan makin geram.
"Ini kenapa sih, tadi aja minta menikah sekarang malah ribut?" Tante Dewi masuk ke dalam ruangan.
"Tante tau kan waktu aku di sini dengan tubuh Manan tinggal dua bulan, makanya aku mau menikahi Dita, eh dia malah mentingin Anita, dia takut Anita pergi, parahnya lagi jari ini dia dilamar sama si Herdi mantan bosnya itu?" Anan merebahkan bokongnya di sofa sambil menjelaskan.
"Herdi itu siapa?"
"Itu mantan bos Dita, narapidana yang baru pasang tangan."
"Oh yang dirawat disini, bukannya udah boleh pulang terus balik ke sel?" tanya Tante Dewi.
"Orang kaya seperti dia mah cepet lah bisa keluar tahanan dengan mudah."
"Iyalah Tante, aku cemburu aku takut, perempuan ini di ambil orang." Anan menunjuk Dita.
"Hahahhahah dasar kamu tuh ya, selalu kalau ingin sesuatu harus dapat dan dilaksanakan, jadi Ta, kamu mau nikah sama Anan? Tante Dewi menoleh ke Dita yang sedari tadi menunduk.
"Aku gak mau kehilangan Anita." Dita menggelengkan kepalanya berkali - kali membuat Anan makin marah dan menyobek -nyobek kertas majalah dihadapannya.
Anita mendengar pembicaraan Dita bersama Anan dan Tante Dewi dari luar ruangan, air matanya menetes tiada henti. Doni yang melihat Anita tak tega dan menghampirinya. Doni memeluk Anita.
"Aku enggak mau jadi penghalang kebahagiaan Dita Don, hiks hiks hiks... aku mau Dita bahagia sama Anan."
"Penghalang? memangnya kamu suka sama pak bos ?" tanya Doni dengan kepolosannya.
"Bukan itu maksud nya. Aku itu kembali ke sini dengan penampakan hantu ini karena mau jagain Dita sampai dia menikah, nah setelah Dita menikah aku akan hilang sama seperti Andri dan Sandra."
"Lalu apa hubungannya sama kebahagiaan kak Dita dan pak bos?"
__ADS_1
"Anan mau nikahin Dita sekarang, tapi Dita gak mau karena takut kehilangan aku, kan aku sedih sebagai penghalang mereka hiks hiks hiks."
"Cup cup cup, tenang ya, sekarang kamu bilang sama Dita kamu maunya Dita menikah segera apa nanti aja gitu?" Doni menepuk punggung Anita pelan.
"Aku maunya Dita bahagia, menikah sekarang juga enggak apa-apa kok."
"Ya udah sana masuk jelasin ke Dita." Doni mengetuk pintu ruangan Tante Dewi.
"Masuk!" suara Tante Dewi terdengar.
"Iya Bu maaf, ini saya mah anter Anita katanya mau ngomong sesuatu." ucap Doni menarik tangan Anita ke dalam ruangan.
"Anita? Anita yang temennya Dita? kamu bisa? ah sudah lah, saya juga gak mau sampai bisa lihat, Tante keluar dulu ya semuanya, tolong selesaikan pembicaraan kalian baik-baik." Tante Dewi menutup pintu ruangannya lalu pergi.
"Ta... Anan... maafin aku yak, aku enggak mau jadi penghalang kalian."
"Maksud kamu Nit?" tanya Dita.
"Menikahlah Ta, entah dalam waktu dekat atau lambat kamu juga akan menikah dan aku akan pergi. Lagipula aku memang sudah pergi kan seharusnya tapi aku kembali buat kamu, aku mau lihat kamu bahagia dan kebahagiaan kamu itu Anan." Anita menggenggam tangan Dita dan menyatukannya dengan tangan Anan yang sudah berdiri disamping Dita.
"Tapi Nit... aku bakal kesepian setelah kamu enggak ada nanti, belum hilang sedih aku ditinggal Andri sama Sandra ini masa aku harus ditinggal kamu lagi, aku enggak mau huhuhuhu." Dita menghamburkan dirinya memeluk Anita.
Anita menepuk - nepuk punggung Dita pelan. "Kan seharusnya memang aku sudah pergi, ada perjumpaan pasti akan ada perpisahan Ta."
"Dua bulan lagi lho Anan jadi manusia, nanti kamu enggak bisa lho honeymoon sama Anan punya baby aku kan juga mau liat baby kamu dari atas sana nanti."
"Iya kalau aku langsung hamil, kalo lama prosesnya." ucap Dita sambil menangis.
"Tenang Ta, kita buat setiap hari biar kamu cepat hamil." sahut Anan.
"Apaan sih, giliran kaya gitu aja cepet banget nyambungnya!" Dita menoleh ke Anan kesal.
"Hehehehe..." Anan menggaruk-garuk kepalanya salah tingkah.
***
To be continue...
__ADS_1
Happy Reading.... jangan lupa di vote dan tengok novel baruku juga ya di 9 lives tentang keseruan Zee si penyihir bersama makhluk aneh lainnya. 😘😘😘