Pocong Tampan

Pocong Tampan
Musim Kedua - Makanan Bayi Lee


__ADS_3

Sekedar pemberitahuan Giveaway pulsa 25rb buat 4 orang pemenang masih terus ya berlangsung. Nanti awal bulan aku kasih tau pemenangnya, makanya kumpulin POIN kalian buat VOTE ke Pocong Tampan.


Terima Kasih...


Happy Reading 😘😊


******


Sementara itu di rumah sakit tempat Doni di rawat, Tasya tertidur di sofa dalam ruangan tersebut.


"Kamu makin cantik dan selalu cantik Sya di mata aku," gumam Doni yang tak henti-hentinya memandang wajah Tasya.


Terdengar bunyi perut yang kelaparan dari arah Tasya.


"Hmmm dia laper itu tapi pules tidurnya," gumam Doni. Kemudian ia turun dari ranjangnya dengan membawa selang infus dan cairan infus di tangannya.


"Sya, bangun... Sya bangunlah..." ucap Doni seraya menyentuh pipi Tasya.


"Hmmm..." sahut Tasya yang tak sadar meneteskan air liurnya sampai mengenai tangan Doni.


"Ya ampun, joroknya nih cewek," ucap Doni seraya mengusap air liur Tasya yang menetes dan membenarkan posisi kepala Tasya.


Doni tak tahan juga menyentuh bibir tipis Tasya dengan telunjuknya. Perlahan-lahan kemudian, ia dekat kan wajahnya ke arah Tasya. Ia tak tahan juga ingin memberi kecupan pada bibir gadis itu. Sedikit lagi menyentuh bibir Tasya, tiba-tiba Pak Herdi menarik rambut Doni ke belakang.


"Awwww sakit!" pekik Doni sampai membuat Tasya terbangun dan terkejut lalu mendorong tubuh Doni secara spontan.


"Aduh..."


"Eh maaf, Don. Lagian kamu ngapain sih ngagetin aku aja?" seru Tasya.


"Aku kan cuma mau bangunin kamu, tadi perut kamu bunyi, pasti kamu lapar, kan?" tanya Doni.


"Halah... bohong tuh! orang tadi dia mau cium kamu," sahut Pak Herdi.


"Ih enggak kok, ember banget sih punya mulut," sahut Doni menatap tajam ke arah Pak Herdi.


"Dih emang iya sih, ayo berani taruhan kalau kamu yang bohong nanti tukeran jadi pocong ya, berani gak?" tantang Pak Herdi.


"Gak mau ah, nanti tuker tubuh kayak Pak Anan sama kamu lagi, ogah," sahut Doni.


"Makanya ngaku, kamu coba cium Tasya, kan?" tunjuk Pak Herdi.


"Iya iya, aku ngaku, habisnya aku kangen buat cium bibir itu," sahut Doni mengaku seraya tersenyum pada Tasya dan menunjuk ke arah bi jr Tasya.


Plak!


Tamparan keras mendarat di pipi Doni.


"Aduh, sakit tau, Sya!" rengek Doni.


"Makanya jangan coba-coba, udah ah aku mau ke kantin mau beli makan dulu, kamu kalau butuh bantuan panggil suster aja," ucap Tasya lalu berdiri dan meraih tas kecilnya lalu disilangkan di bahunya.


"Yah, nanti kalau aku mau pipis yang bantuin pegangin punyaku siapa?" tanya Doni.


"Pegangin apa maksudnya?" Tasya dan Pak Herdi menoleh bersamaan ke arah Doni seraya menatapnya tajam.


"Pegangin infus ini maksudnya, hayo udah pada ngeres kan otaknya?" terka Doni.


"Idih amit-amit, tuh kan kamu bisa pegang sendiri, ya harusnya pegang sendiri lah," ucap Tasya dengan nada ketus lalu keluar ruangan menuju kantin rumah sakit. Pak Herdi melompat di belakang Tasya mengikuti gadis itu. Namun, sejenak ia hentikan langkahnya dan menoleh ke arah Doni seraya menjulurkan lidahnya.

__ADS_1


"Wleeeekkk...!"


"Pocong kampret!" seru Doni.


"Eh nanti ada pocong yang lain apa hantu lain, bisa repot aku," gumam Doni lalu meraih selimutnya menutup seluruh tubuh dan kepalanya.


***


"Bunda, masa tadi Lee makan daging mentah ih jijik," ucap Anta mengadu pada Dita.


"Hmmm Anta gak boleh ya makan daging mentah, harus dimasak biar gak ada kuman penyakit," sahut Dita.


"Iya lho, heran Tante, masa tuh bocah makan yang mentah-mentah, mana tadi pas nangis ih heboh, sakit tangan Tante digigit dia, nih."


Tante Dewi menunjukkan pergelangan tangan kanan miliknya yang digigit Anta.


"Hmmm wajar lah maklum aja kan Ayahnya bukan manusia," bisik Dita.


"Wah, anak monster apa setan?" tanya Tante Dewi ikut berbisik juga.


"Genderuwo."


"HAH?" pekik Tante Dewi.


Dita, Anta dan Anan langsung terkejut dan saling berpelukan bersama.


"Biasa aja dong Tante, kaget nih..."


"Habisnya kaget aku tuh, kok bisa sih nikah sama begituan?" tanya Tante Dewi.


"Bisalah orang si Shinta yang mau," ucap Dita kembali ke kursi makannya.


"Tadi sebenarnya Lee nangis gara-gara Anta hehehe..." ucap Anta mengaku.


"Habisnya Lee mau makan tikus putih punya Ratu Sanca, udah habis dua, ya udah Anta rebut aja, eh nangis," ucap Anta.


"Astagfirullah..." pekik Dita.


"Huek... huek...!"


Anan dan Tante Dewi bersahut-sahutan untuk memuntahkan isi perutnya di kamar mandi.


"Haduh, parah anaknya Om Item bener-bener bisa nakutin nih kalau udah gede, bisa gak ya di alam manusia kalau sifat Ayahnya lebih banyak nyangkut di dia," gumam Dita sembari beranjak pergi membuatkan Anan dan Tante Dewi teh manis hangat.


Tasya pulang ke rumah bersama Pak Herdi menggunakan taxi online dari rumah sakit. Gadis itu langsung membuka pintu rumah Tante Dewi seraya mengucapkan salam.


"Wuih yang lagi makan siang, kebetulan sekali, tapi kok tuh orang dua pada muntah emang lagi pada morning sickness?" tegur Tasya.


(Morning sickness : rasa mual dan muntah pada ibu hamil umumnya lebih intens terjadi di pagi hari.)


"Ini udah siang, masa iya morning sickness, lagian Anan mah cowok gak lagi hamil, yang hamil kan aku," ucap Dita menunjuk dirinya sendiri.


"Yee jangan salah ada juga yang bawaannya mual kapanpun di manapun ya kan, Tante?" Tasya menoleh pada Tante Dewi yang mengacungkan ibu jarinya.


"Tapi aku enggak deh, cuma lagi doang," sahut Dita.


"Tiap orang kan beda-beda, ada juga yang bawaan bayi eh malah Ayahnya yang ngidam, hayo..." ucap Tasya yang menoleh pada Anan.


"Tapi aku muntah gara-gara bayangin Lee makan tikus punya Ratu Sanca, coba tuh anak bayi enam apa delapan bulan masa makanannya tikus hidup hiiyy..." ucap Anan seraya meraih tes manis hangat dari Dita.

__ADS_1


"Makasih Bunda, I love you..."


"I love you too, Yanda."


"Emang iya? kata siapa?" tanya Tasya.


"Tuh kata Anta," ucap Dita menunjuk ke arah Anta.


"Iya, Tante. Dedek Lee itu sudah menghabiskan dua ekor tikus, terus yang ketiga Anta ambil paksa, Anta tarik buntut tikusnya dari dalam mulutnya, eh kepala tikusnya udah ketelen, terus Lee nangis." Anta menjelaskan dengan gamblangnya sambil meringis.


Kali ini, bukan cuma Anan dan Tante Dewi yang kembali mual dan muntah, akan tetapi si Tasya dan Dita pun jadi ikut menyusul menuju wastafel cuci piring.


"Huek... huek..."


Pak Herdi tak henti-hentinya tertawa terbahak-bahak sedari tadi.


"Anak kamu tuh, kalau ngomong gak disaring," keluh Tasya menyenggol bahu Dita.


"Ya namanya juga anak-anak, tuh Yanda tugas kamu tuh ngajarin Anta biar gak polos-polos banget kalau lagi ngomong," seru Dita.


"Tugas berdua lah, kan bikinnya berdua," sahut Anan.


"Pada kenapa sih, kok pada muntah perasaan gak ada bau busuk deh," tanya Anta dengan polosnya.


"Ih... anaknya Yanda, cakep banget sih!" ucap Anan dengan gemasnya mencubit kedua pipi Anta.


"Udah ya, jangan ngomongin tikus yang dimakan Lee lagi," pinta Tante Dewi.


"Iya, Bunda setuju," sahut Dita.


"Oh iya, tadi aku lihat Mark, di rumah sakit," ucap Tasya.


Semua mata kini memandang ke arah Tasya.


"Apa yang dia lakukan di sana? sekarang kan dia buronan polisi?" tanya Anan.


"Aku sih gak tau pasti dia ngapain di sana, habisnya aku kehilangan jejak dia," jawab Tasya.


"Aku tahu dia suka ke bagian mana kalau pas dateng ke rumah sakit," ucap Dita.


"Berarti ada kemungkinan dia tiap hari datang ke rumah sakit?" tanya Anan.


"Bisa jadi, karena dia selalu datang ke tempat pasien penderita kanker, katanya sih teman-temannya ada di situ," ucap Dita.


"Ya ampun, astaga, Doni kan ada di rumah sakit itu," pekik Anan seraya menjambak rambutnya sendiri dengan kedua tangannya.


******


Bersambung...


Mampir juga ke :


- 9 Lives


- Diculik Cinta


- With Ghost


- Forced To Love

__ADS_1


- Kakakku Cinta Pertamaku


Vie Love You All... 😘😘


__ADS_2